Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Indonesia Lepas dari Resesi, Emang Bener Gitu, ya?

Rezky Yayang Yakhamid oleh Rezky Yayang Yakhamid
7 Agustus 2021
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Ada yang beda dari rilis Badan Pusat Statistik (BPS) tanggal 5 Agustus 2021 kemarin. Untuk pertama kalinya, setelah perekonomian empat kuartal dihantam Covid-19, Indonesia mencatatkan lepas dari resesi. Lho, lho, sek, isih nggak ngeh. Indonesia dinyatakan mengalami resesi pada kuartal ketiga 2020 setelah dua kuartal berturut-turut, yakni pada kuartal kedua dan ketiga, perekonomian Indonesia mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif) secara year on year, gampangnya sih dibandingkan kuartal yang sama pada tahun sebelumnya.

Bentar, deh. Jadi, selama empat kuartal ekonomi Indonesia mengalami kemunduran? Pada kuartal pertama 2020, perekonomian masih tumbuh secara y-o-y pada angka 2,97%. Meskipun tumbuh, pertumbuhannya mengalami penurunan dari yang biasanya di kisaran angka lima koma. Hal tersebut merupakan warning awal bagi pemerintah meskipun Covid-19 belum masuk Indonesia kala itu. Setelah itu, seiring masuknya Covid-19 dan pemberlakuan pembatasan di berbagai daerah, perekonomian menjadi lumpuh dan mengalami pertumbuhan negatif. Pada kuartal kedua, perekonomian pada angka negatif 5,32, kuartal ketiga pada angka negatif 3,49, kuartal empat pada angka negatif 2,19, dan kuartal pertama pada angka negatif 0,71.

Pada rilis BPS 5 Agustus lalu, pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua dinyatakan sebesar 7,07% secara y-o-y. Lho, kok, bisa dari negatif naiknya sampai tujuh angka, bahkan lebih besar dari angka sebelum pandemi, lima koma? Gini, lho. Pertumbuhan ekonomi secara y-o-y yang menjadi indikator resesinya suatu negara dihitung berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini dibandingkan tahun lalu pada periode yang sama. Rumusnya gini:

Maaf ya, Mylov, kalau rumusnya nggak tepat-tepat banget penulisannya. Maklum, bukan anak ekonomi. Intinya, t1 adalah periode yang akan dihitung dan t0 adalah periode pembandingnya. Coba kita cek ya, bener nggak sih BPS ngitungnya? Data PDB yang digunakan adalah PDB menurut lapangan usaha atas harga konstan (tanpa memperhatikan inflasi) dengan tahun dasar 2010. Bisa dilihat di laman bps.go.id.

Tuh, kan bener, kalau nggak percaya hitung saja, deh, sendiri pakai kalkulator. Kalaupun ada perbedaan koma, itu karena saya menggunakan pembulatan saat menggunakan data PDB. Lha, kok bisa sih tinggi banget pertumbuhannya, padahal masih pandemi gini, pembatasan di mana-mana. Wah, BPS ngadi-ngadi, nih.

Hmmmm 🤔 https://t.co/kEOgUEXKBQ

— Badan Pusat Statistik (@bps_statistics) August 5, 2021

Kalau cermat sedari awal membaca tulisan ini, pasti langsung ngeh kenapa bisa gitu. Sekali lagi, deh, biar ngeh nganunya di mana. Pertumbuhan ekonomi y-o-y dihitung berdasarkan perkembangan PDB terhadap PDB tahun sebelumnya pada periode yang sama. Berarti, pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua 2021 dihitung berdasarkan perkembangan PDB kuartal kedua 2021 terhadap PDB kuartal kedua 2020.

Terus, masih inget nggak pertama kali pertumbuhan ekonomi kita minus itu kapan? Ya pada kuartal kedua tahun 2020 juga, minusnya cukup besar pula. Saat diajari berhitung pecahan saat kelas tiga SD dulu, semakin kecil penyebut, maka semakin besar nilai pecahan tersebut. Sama dengan perhitungan pertumbuhan ekonomi (yang rumusnya sudah saya cantumkan), semakin kecil nilai PDB pada tahun pembanding (2020), maka semakin besar pula nilai pertumbuhan ekonominya. Bukan PDB kita yang berkembang cukup pesat, tapi memang pembandingnya yang terlalu kecil.

Baca Juga:

Sensus Ekonomi 2026 Cuma Hasilkan Sampah, Petugas BPS Dianggap “Intel Pajak” oleh Warga

Upin Ipin Serial TV yang Tampak Aman untuk Anak-Anak, tapi Aslinya Bisa Merusak kalau Ditonton Tanpa Dampingan Orang Dewasa

Jadi, ekonomi Indonesia udah pulih seperti sebelum pandemi belum, sih? Nah, untuk menjawab pertanyaan yang ini kita perlu menghitung pertumbuhan ekonomi dengan pembanding PDB pada kuartal keempat 2019. Kenapa? Pada kuartal keempat 2019 adalah keadaan terakhir sebelum pandemi mulai menyebar di dunia serta ekonomi Indonesia masih stabil dengan pertumbuhan pada angka lima koma.

Sudah! Meski sudah, saat ini baru menyamai PDB pada kuartal keempat 2019 (kondisi sebelum pandemi) dan hanya mengalami pertumbuhan sedikit, yakni sebesar 0,108%. Berikut grafik PDB atas dasar harga konstan menurut lapangan usaha tahun 2019-2021 yang digunakan sebagai dasar perhitungan pertumbuhan ekonomi.

PDB yang secara kuartalan tumbuh pada kuartal kedua 2021 memberikan angin segar kembalinya dan bangkitnya perekonomian Indonesia pasca-pandemi. Bagi pemerintah, jangan senang dan puas dulu atas ekonomi yang telah kembali. Jangan lupa, kuartal ketiga 2021 diiringi dengan PPKM Darurat dan PPKM Level 4.

BACA JUGA Panduan Memahami Resesi Ekonomi Indonesia yang Baru Diumumkan dan tulisan Rezky Yayang Yakhamid lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 15 April 2026 oleh

Tags: BPSIndonesiaKeuangan Terminalresesi ekonomi
Rezky Yayang Yakhamid

Rezky Yayang Yakhamid

Tukang ngolah data, juga suka bermatematika.

ArtikelTerkait

makelar kontrakan jogja bapak kos terminalmojok

Bisnis Makelar Kontrakan: Bisnis Digital Sederhana dengan Keuntungan yang Cukup Menjanjikan

15 Juli 2021
merah putih

Merah Putih Tetap Berkibar di Papua

2 September 2019
Final AFF: Yang Bertanding Indonesia vs Thailand, yang Menang Pejabat yang Cari Muka

Final AFF: Yang Bertanding Indonesia vs Thailand, yang Menang Pejabat yang Cari Muka

29 Desember 2021
tas siaga bencana mojok

Tas Siaga Bencana yang Selalu Dianggap Sebelah Mata

3 Agustus 2021
angka kemiskinan, orang miskin temennya orang miskin

Mencari Angka Kemiskinan Tidak Berbanding Lurus dengan Makan Gorengan

20 Agustus 2019
musik wakatobi

Terstruktur Sistematis Dan Masif : Ketika Musik Wakatobi Berjaya di Negerinya Sendiri

28 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan buku fisik tidak akan lenyap hanya karena buku digital merajalela Mojok.co

Alasan buku fisik tidak akan lenyap hanya karena buku digital merajalela

15 Juli 2026
Situbondo, Tempat Tinggal Terbaik dan Kota Sederhana yang Saking Sederhananya, Nggak Ada Apa-apa di Sini

Potensi Besar, Hasil Dipertanyakan: 3 Alasan Warga Situbondo Wajib Kecewa dengan Daerahnya yang Gitu-gitu Aja

13 Juli 2026
Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya Mojok.co kota pelajar madura

3 hal langka di Madura, tapi umum di Jogja, sudah seharusnya Madura belajar pada Jogja!

16 Juli 2026
Desa Jangkar, Desa Paling Nyaman di Bangkalan Madura. Menetap Sehari, Langsung Ingin Datang Lagi

Desa Jangkar Bangkalan: desa paling anomali di Madura saat musim kemarau, tapi bikin desa lain cemburu

12 Juli 2026
Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout Mojok.co

Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout

17 Juli 2026
4 jajanan tradisional Bandung yang bikin orang Semarang gagal paham. Nama dan tampilan mirip, tapi rasanya jauh berbeda Mojok.co

4 kuliner Bandung yang bikin orang Semarang gagal paham. Nama dan tampilan mirip, tapi rasanya berbeda

16 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.