Saya sebetulnya sudah yakin bahwa akan ada perbedaan 180 derajat saat saya, sebagai orang Madura, mencoba hidup di Jogja. Tanpa mengunjungi saja, berbagai data dan cerita yang saya dengar tentang Jogja kerap membuat saya tercengang. Apalagi kalau saya mengunjunginya langsung, mungkin saya akan keberatan jika harus pulang kampung ke Madura.
Nah, saat semester 5 sebagai mahasiswa, saya akhirnya sempat mengunjungi Jogja selama 3 hari untuk mengikuti sebuah pelatihan. Dan betul, tinggal di sana, terutama bertemu dengan orang-orangnya, sungguh tampak sekali perbedaannya dengan di Madura. Bahkan, menetap tiga hari di sana makin mengubah pandangan saya. Maksudnya, saya mulai percaya bahwa agaknya masih ada harapan kok kalau negara ini insyaallah bisa menjadi lebih baik ke depannya. Berikut saya jelaskan!
#1 Imam masjid punya gelar Ph.D
Kebetulan waktu itu, saya berkunjung ke Jogja saat Ramadhan. Saya berangkat dari Bangkalan untuk mengikuti pelatihan dari salah satu LSM di sana. Nah, pada malam hari, ada perbedaan yang cukup jauh saat pelaksanaan tarawih di rumah saya dan ketika saya di Jogja, yakni ada sesi penyampaian dakwah dari imam salat setelah tarawih.
Namun yang lebih mengherankan, dakwahnya begitu membara dan menyala. Tidak membuat saya ngantuk seperti biasanya kalau saya ikut pengajian. Di sana, yang ditunjukkan bukan cuma dalil, tapi juga kondisi real masyarakat kita sekarang.
Awalnya, saya mengira itu kebetulan saja. Yah, mungkin cuma 1 dari 1000 imam masjid di Jogja yang seperti dia. Tapi, pikiran itu berubah setelah salat Jum’at keesokan harinya. Khotbah yang dibawakan pada jama’ah tidak kalah membakar semangat dengan yang semalam. Sembari mendengarkan, beberapa kali saya sampai menggeleng-geleng kepala karena kagum.
Kalau bukan lagi salat Jum’at, mungkin saya akan mengepal tangan kiri dan mengangkatnya ke atas.
Nah, ternyata pas saya pulang, saya tak sengaja melihat banner yang menampilkan nama-nama jadwal imam masjid tersebut. Dan, tidak ada satupun yang tak punya gelar. Bahkan kebanyakan, gelarnya S3. Hwaaa, pantesan ya, Gaes!
Jujur, tak pernah saya temukan hal itu di Madura.
#2 LSM sangat bijak saat mencari pendanaan
Sebagai mahasiswa yang cukup aktif dalam dunia gerakan, saya sangat kagum bagaimana Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Jogja menjaga nafas kemanusiaannya. Mereka berbeda dengan sejauh pengalaman saya sebagai mahasiswa Madura waktu itu. Biasanya, organisasi saya kalau cari pendanaan ya dengan menggertak pejabat, terutama pejabat-pejabat yang cuma bikin kabupaten saya rusak.
Dengan cara itu, proker kami bisa jalan, pejabat itu pun merasa aman. Waktu itu saya berpikir, itulah jalan terbaik untuk menjadi agen perubahan. Dan memang seperti itulah kebanyakan LSM di tempat saya cara dana untuk program kerjanya.
Tapi, setelah berkunjung ke Jogja, saya mulai mengubah pikiran saya. Di sana, banyak LSM yang bener-bener ogah menggunakan cara demikian. Banyak LSM di Jogja yang cari dananya sangat bijak. Misalnya, mereka bekerja sama dengan LSM dari luar Indonesia untuk mendukung program mereka. Tentu saja yang saya maksud adalah LSM-LSM yang juga memiliki semangat kemanusiaan yang sama dengan mereka.
Sejak itulah saya percaya bahwa di dunia ini, masih banyak kok orang-orang yang mau berkorban demi kehidupan yang lebih baik. Tak perlu kita menjilat-jilat pada pejabat cuma buat minta duit!
#3 Di Jogja, demonstrasi isinya para akademisi
Pengalaman ini bukan saya rasakan sendiri, melainkan cerita dari teman saya yang sedang kuliah di Jogja. Tapi, saya sebetulnya sudah sering melihat berbagai postingan di media sosial yang memperlihatkan keterlibatan para akademisi saat ada demonstrasi di jalanan. Ya, ini adalah fenomena yang tidak pernah saya temukan di Madura, terutama di kabupaten saya, Bangkalan.
Di Jogja, mulai dari sastrawan, budayawan, dosen, bahkan rektor ikut meramaikan demonstrasi mahasiswa. Betul bahwa mahasiswa adalah manusia dewasa, tapi kehadiran para akademisi saat ada demonstrasi membuat aksi semakin bernyawa. Mereka ikut bersuara bahwa negara ini sedang tidak baik-baik saja.
Haduh, hal ini berbeda dengan kasus di Bangkalan Madura. Akademisinya bukannya ikut demonstrasi, malah lebih sering foto bareng politisi sambil ketawa-ketiwi. Bahkan, universitas sering kali jadi tempat tamasya para penguasa. Aneh sekali!
Yah, demikianlah perbedaan mencolok kehidupan di Jogja yang saya rasakan sebagai mahasiswa dari Madura. Artikel ini bukan berarti saya tidak betah di tanah kelahiran saya ya, tapi hanya menyayangkan, kok bisa dunia gerakan bisa seperti itu di tempat tinggal saya. Maka dari itu, dalam hal ini saya tak malu berpendapat bahwa Madura seharusnya banyak belajar dari Jogja. Sekian!
Penulis: Abdur Rohman
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Suara Hati Orang Madura yang Didiskriminasi di Surabaya, Tapi Lebih Dihargai Orang Jogja
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













