Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

3 hal langka di Madura, tapi umum di Jogja, sudah seharusnya Madura belajar pada Jogja!

Abdur Rohman oleh Abdur Rohman
16 Juli 2026
A A
Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya Mojok.co kota pelajar madura

Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya sebetulnya sudah yakin bahwa akan ada perbedaan 180 derajat saat saya, sebagai orang Madura, mencoba hidup di Jogja. Tanpa mengunjungi saja, berbagai data dan cerita yang saya dengar tentang Jogja kerap membuat saya tercengang. Apalagi kalau saya mengunjunginya langsung, mungkin saya akan keberatan jika harus pulang kampung ke Madura.

Nah, saat semester 5 sebagai mahasiswa, saya akhirnya sempat mengunjungi Jogja selama 3 hari untuk mengikuti sebuah pelatihan. Dan betul, tinggal di sana, terutama bertemu dengan orang-orangnya, sungguh tampak sekali perbedaannya dengan di Madura. Bahkan, menetap tiga hari di sana makin mengubah pandangan saya. Maksudnya, saya mulai percaya bahwa agaknya masih ada harapan kok kalau negara ini insyaallah bisa menjadi lebih baik ke depannya. Berikut saya jelaskan!

ADVERTISEMENT

#1 Imam masjid punya gelar Ph.D

Kebetulan waktu itu, saya berkunjung ke Jogja saat Ramadhan. Saya berangkat dari Bangkalan untuk mengikuti pelatihan dari salah satu LSM di sana. Nah, pada malam hari, ada perbedaan yang cukup jauh saat pelaksanaan tarawih di rumah saya dan ketika saya di Jogja, yakni ada sesi penyampaian dakwah dari imam salat setelah tarawih.

Namun yang lebih mengherankan, dakwahnya begitu membara dan menyala. Tidak membuat saya ngantuk seperti biasanya kalau saya ikut pengajian. Di sana, yang ditunjukkan bukan cuma dalil, tapi juga kondisi real masyarakat kita sekarang.

Awalnya, saya mengira itu kebetulan saja. Yah, mungkin cuma 1 dari 1000 imam masjid di Jogja yang seperti dia. Tapi, pikiran itu berubah setelah salat Jum’at keesokan harinya. Khotbah yang dibawakan pada jama’ah tidak kalah membakar semangat dengan yang semalam. Sembari mendengarkan, beberapa kali saya sampai menggeleng-geleng kepala karena kagum.

Kalau bukan lagi salat Jum’at, mungkin saya akan mengepal tangan kiri dan mengangkatnya ke atas.

Nah, ternyata pas saya pulang, saya tak sengaja melihat banner yang menampilkan nama-nama jadwal imam masjid tersebut. Dan, tidak ada satupun yang tak punya gelar. Bahkan kebanyakan, gelarnya S3. Hwaaa, pantesan ya, Gaes!

Jujur, tak pernah saya temukan hal itu di Madura.

Baca Juga:

Mengapa banyak pengangguran di Jogja enggan merantau?

Lomba kebersihan kampung di Jogja hanya berefek sesaat, saat lomba mendadak bersih, selesai lomba kembali ke setelan pabrik

#2 LSM sangat bijak saat mencari pendanaan

Sebagai mahasiswa yang cukup aktif dalam dunia gerakan, saya sangat kagum bagaimana Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Jogja menjaga nafas kemanusiaannya. Mereka berbeda dengan sejauh pengalaman saya sebagai mahasiswa Madura waktu itu. Biasanya, organisasi saya kalau cari pendanaan ya dengan menggertak pejabat, terutama pejabat-pejabat yang cuma bikin kabupaten saya rusak.

Dengan cara itu, proker kami bisa jalan, pejabat itu pun merasa aman. Waktu itu saya berpikir, itulah jalan terbaik untuk menjadi agen perubahan. Dan memang seperti itulah kebanyakan LSM di tempat saya cara dana untuk program kerjanya.

Tapi, setelah berkunjung ke Jogja, saya mulai mengubah pikiran saya. Di sana, banyak LSM yang bener-bener ogah menggunakan cara demikian. Banyak LSM di Jogja yang cari dananya sangat bijak. Misalnya, mereka bekerja sama dengan LSM dari luar Indonesia untuk mendukung program mereka. Tentu saja yang saya maksud adalah LSM-LSM yang juga memiliki semangat kemanusiaan yang sama dengan mereka.

Sejak itulah saya percaya bahwa di dunia ini, masih banyak kok orang-orang yang mau berkorban demi kehidupan yang lebih baik. Tak perlu kita menjilat-jilat pada pejabat cuma buat minta duit!

#3 Di Jogja, demonstrasi isinya para akademisi

Pengalaman ini bukan saya rasakan sendiri, melainkan cerita dari teman saya yang sedang kuliah di Jogja. Tapi, saya sebetulnya sudah sering melihat berbagai postingan di media sosial yang memperlihatkan keterlibatan para akademisi saat ada demonstrasi di jalanan. Ya, ini adalah fenomena yang tidak pernah saya temukan di Madura, terutama di kabupaten saya, Bangkalan.

Di Jogja, mulai dari sastrawan, budayawan, dosen, bahkan rektor ikut meramaikan demonstrasi mahasiswa. Betul bahwa mahasiswa adalah manusia dewasa, tapi kehadiran para akademisi saat ada demonstrasi membuat aksi semakin bernyawa. Mereka ikut bersuara bahwa negara ini sedang tidak baik-baik saja.

Haduh, hal ini berbeda dengan kasus di Bangkalan Madura. Akademisinya bukannya ikut demonstrasi, malah lebih sering foto bareng politisi sambil ketawa-ketiwi. Bahkan, universitas sering kali jadi tempat tamasya para penguasa. Aneh sekali!

Yah, demikianlah perbedaan mencolok kehidupan di Jogja yang saya rasakan sebagai mahasiswa dari Madura. Artikel ini bukan berarti saya tidak betah di tanah kelahiran saya ya, tapi hanya menyayangkan, kok bisa dunia gerakan bisa seperti itu di tempat tinggal saya. Maka dari itu, dalam hal ini saya tak malu berpendapat bahwa Madura seharusnya banyak belajar dari Jogja. Sekian!

Penulis: Abdur Rohman
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Suara Hati Orang Madura yang Didiskriminasi di Surabaya, Tapi Lebih Dihargai Orang Jogja

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 Juli 2026 oleh

Tags: demonstrasi di JogjaJogjaLSMLSM di Jogjamadura
Abdur Rohman

Abdur Rohman

Seorang warga sipil Bangkalan dengan selera yang kontradiktif: mencintai segala jenis olahan mie, namun memiliki alergi akut terhadap mie-literisme.

ArtikelTerkait

Sri Sultan HB IX, Sultan Paling Sakti Sekaligus Raja Sakti Terakhir Tanah Jawa

Sri Sultan HB IX, Sultan Paling Sakti Sekaligus Raja Sakti Terakhir Tanah Jawa

12 Februari 2024
4 Pekerjaan Sampingan Paling Cuan di Jogja yang Wajib Mahasiswa Tahu

4 Pekerjaan Sampingan Paling Cuan di Jogja yang Wajib Mahasiswa Tahu

29 Agustus 2025
Transum Jogja Terlalu Busuk, Malu Sama Orang Jakarta (Unsplash)

Pemerintah Jogja Sebaiknya Segera Memperbaiki Transportasi Umum dengan Mencontoh Jakarta karena Jogja Semakin Meresahkan

19 Juli 2025
Rute Trans Jogja Nggak Ramah Warga Daerah Pelosok, Memang Perlu Evaluasi dan Pembaruan Mojok.co

Rute Trans Jogja Nggak Ramah Daerah Pelosok, Memang Perlu Evaluasi dan Pembaruan

8 Juni 2024
4 Tipe Mahasiswa yang Cocok Kuliah di Kota Semarang, Nggak Sembarang Orang Sanggup  Mojok.co jogja

Meski Banyak Orang Mencerca Kota Lumpia, Saya Memilih Menetap di Semarang ketimbang Jogja, Kota yang Pernah Saya Tinggali Belasan Tahun

9 Juli 2024
Nggak Ada Wedding Organizer di Madura karena Orang Madura Nggak Butuh

Nggak Ada Wedding Organizer di Madura karena Orang Madura Nggak Butuh

29 Agustus 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Malang pernah terkenal dengan solidaritas masyarakatnya yang tinggi. sayang, solidaritas itu kini bisa dengan mudah dibeli

Malang pernah terkenal dengan solidaritas masyarakatnya yang tinggi. sayang, solidaritas itu kini bisa dengan mudah dibeli

12 Juli 2026
Tahlilan di Sumatera beda dengan Jawa, tidak 7 hari penuh dan dihadiri perempuan Mojok.co

Tahlilan di Sumatera beda dengan di Jawa, tidak 7 hari penuh dan dihadiri perempuan

13 Juli 2026
5 Tanda Warung Bebek Madura yang Sudah Pasti Enak: Makin Sederhana, Makin Enak!

Pedoman Kuliner Warung Bebek Madura, Saya Tuliskan karena Banyak yang Tertipu Tampilan Luarnya

13 Juli 2026
8 keresahan guru agama, pekerjaan tidak maksimal karena dianaktirikan Kemendikdasmen Mojok.co

8 keresahan guru agama, pekerjaan tidak maksimal karena dianaktirikan Kemendikdasmen 

11 Juli 2026
4 jajanan tradisional Bandung yang bikin orang Semarang gagal paham. Nama dan tampilan mirip, tapi rasanya jauh berbeda Mojok.co

4 kuliner Bandung yang bikin orang Semarang gagal paham. Nama dan tampilan mirip, tapi rasanya berbeda

16 Juli 2026
3 Kebohongan tentang Lembang yang Perlu Diluruskan

Bukan cuma soal dingin, ini 4 kejanggalan di Lembang yang bikin wisatawan Semarang heran

15 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.