Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Harus Ada Aturan Wajib Baca Buku untuk Guru. Segera! Kalau Nggak, Pendidikan Kita Jalan di Tempat

Naufalul Ihya Ulumuddin oleh Naufalul Ihya Ulumuddin
9 April 2024
A A
Harus Ada Aturan Wajib Baca Buku untuk Guru. Segera! Kalau Nggak, Pendidikan Kita Jalan di Tempat

Harus Ada Aturan Wajib Baca Buku untuk Guru. Segera! Kalau Nggak, Pendidikan Kita Jalan di Tempat (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau guru artinya digugu dan ditiru, guru harus lebih dulu memberi teladan sebagai insan yang rajin membaca buku agar bisa ditiru oleh siswanya.

Beberapa hari yang lalu, saya baru selesai membaca buku pendidikan yang sangat bagus. Judul bukunya adalah “Sistem Pendidikan Finlandia”. Buku tersebut ditulis oleh akademisi asal Indonesia yang mengajar di sana, yaitu Dr. Ratih D. Adiputri. Singkatnya, buku itu menceritakan tentang bagaimana sistem pendidikan di Finlandia, sistem pendidikan terbaik di dunia, itu dijalankan.

Setelah membaca buku itu, saya menyadari satu hal tentang alasan mengapa pendidikan di Indonesia masih begini-begini saja (baca: buruk). Hal itu nggak jauh dari kualitas guru yang masih tergolong rendah. 

Sebagai guru, saya sendiri menyadari itu. Kompetensi dan wawasan guru sebagai pendidik di Indonesia masih jauh dari kata kompeten. Maka dari itu, guru harus terus berusaha membaca banyak hal agar wawasan bertambah dan terus bertumbuh.

Sayangnya, lingkungan yang kurang mendukung budaya membaca (baca: sekolah), sering kali memberikan hambatan-hambatan untuk guru muda seperti saya rutin membaca buku. Selain itu, lingkungan kerja sebagai guru ternyata jauh dari budaya membaca. Kawan-kawan saya di sekolah justru sangat minim yang punya budaya membaca.

Setelah coba saya kaitkan dengan kualitas dan sistem pendidikan di Finlandia, jelas jauh. Dan akan terus semakin tertinggal jauh kalau nggak ada niatan berbenah. Selama para pendidik di Indonesia tak bergegas membangun budaya membaca, maka kualitas pendidik dan pendidikan kita hanya akan begini-begini saja. 

Guru di Indonesia memiliki masalah literasi serius

Berdasarkan pengamatan saya selama 2 tahun menjadi guru, jarang sekali melihat ada guru yang punya budaya literasi. Dari 10 orang, paling hanya 2-3 orang yang punya semangat literasi tinggi.

Saya sering memancing beberapa guru untuk diskusi beberapa buku. Banyak yang menghindar, dan hanya sedikit yang mau merespons hasil bacaannya. Padahal kalau sudah urusan gibah, semuanya nimbrung. Duh, gelap. 

Baca Juga:

Tradisi Tahunan Datang, Sekolah Kembali Sibuk Merayakan Siswa Lolos PTN, sementara yang Lain Cuma Remah-remah

Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Lebih Menjanjikan daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” Selama Bertahun-tahun

Bahkan, nggak sedikit yang secara gamblang mengakui kalau dirinya nggak suka baca buku. Bukan hanya nggak suka, mereka juga ogah untuk mulai membaca buku. Benar-benar nihil niat mencoba baca buku. Mereka merasa lebih suka mendengar dan menonton daripada membaca. 

Padahal menurut Dr. Karlina Supelli, membaca buku harus punya ruang sendiri di benak para pendidik. Sebab, banyak bongkahan ilmu di dalam buku yang tak tersaring dalam konten-konten video maupun suara. Para pembicara webinar pun saya yakin ilmunya tetap bersumber dari buku, selain dari pengalaman pribadi mereka. Jadi, buku tetap harus menjadi ruang utama bagi guru dalam mengakses pengetahuan-pengetahuan baru. 

Sayangnya, nggak banyak guru yang menyadari itu. Kebanyakan lebih senang mengikuti webinar daripada membaca buku. Maksud saya, bukannya nggak boleh ikut webinar, tapi setelah webinar selesai, ya mbok lanjutkan membaca buku sehingga kultur literasinya nampak di kalangan guru.

Kalau pendidiknya saja nggak bisa membangun budaya literasi, gimana siswanya? Yaaa jangan ngarep. 

Kualitas literasi para pendidik di Finlandia

Kalau mau berkaca pada kualitas guru di Finlandia, jelas nggak sebanding. Kalah telak. Itu pasti. Hanya saja, ada nilai penting yang bisa coba dimulai oleh para guru di Indonesia, yaitu budaya membaca mereka.

Para guru di Finlandia jelas harus menempuh pendidikan setingkat S-2. Tapi nggak berhenti di situ, mereka juga harus punya budaya membaca yang super. Sebab, siswa tingkat SMP di Finlandia bisa menghabiskan 4-12 buku dalam setahun. So, kalau pendidiknya nggak punya budaya baca yang cukup, akan digilas habis oleh siswanya, kan?

Akan tetapi, budaya literasi siswa di Finlandia juga merupakan akibat dari kualitas guru yang berliterasi. Selain itu, akses dan budaya berkunjung ke perpustakaan juga menjadi faktor kunci yang masih sulit direalisasikan di Indonesia. Tapi intinya, para guru di Indonesia harus mulai membaca buku kalau mau pendidikan kita bertumbuh.

Perlu ada aturan wajib membaca buku untuk kalangan guru

Menurut saya, mewajibkan guru untuk membaca buku akan jauh lebih efektif menghasilkan sistem pendidikan yang berkualitas, daripada membebani dengan banyak target wajib administrasi dan laporan pembelajaran. Kenapa? Sebab, inti dari kualitas guru adalah kesadaran dan pengetahuannya dalam mengajar.

Kesadaran mengajar itu hanya akan terus bertumbuh kalau pendidik punya budaya membaca yang kuat. Kalau punya budaya membaca yang kuat, berbagai pandangan dan wawasan baru akan ia terima sehingga cara berpikirnya akan cenderung terbuka alis nggak kolot. Para guru yang kolot jelas cuma bikin pendidikan kita jalan di tempat, bukan?  

Kalau guru hanya dibebani administrasi yang nggak berkaitan dengan pembelajaran, bagaimana mereka bisa bertumbuh?

Sejauh ini, meskipun ada beberapa beban administrasi yang mulai berkaitan dengan pembelajaran, sifatnya hanya formalitas. Mengejar penyelesaian tugas yang begitu banyak. Mengedepankan kuantitas, daripada kualitas. Misalnya di PMM. Guru diminta ikut banyak webinar, di-screenshot keikutsertaannya, dan di-upload sertifikatnya. Selesai. Apa yang didapat? Nggak ada. Hanya pengakuan dari sistem aplikasi yang rumit itu. 

Saran saya, segera terapkan aturan wajib membaca buku untuk kalangan guru. Minimal satu buku dalam satu bulan. Lebih-lebih 2 buku. Satu buku fiksi dan satu buku non-fiksi. Buku fiksi untuk hati dan buku non-fiksi untuk otak. Kata J.S Khairen sih begitu.

Sedikit demi sedikit lama-lama banyak juga yang dibaca

Tapi sebagai awal, satu bulan satu buku saja sudah cukup. Nggak usah banyak-banyak. Yang penting mau membaca secara berkualitas. Kalau berjalan baik, maka para guru bisa meningkatkan sendiri jumlah bacaannya.

Bacaannya tentu saja boleh apa saja. Boleh fiksi seperti novel, cerpen, dan puisi. Boleh juga buku non-fiksi, seperti buku keilmuan bidang studinya, self improvement, atau buku lainnya yang disuka. Ingat, yang penting guru baca buku dulu!

Untuk laporannya sederhana saja. Buatkan sistem pelaporan hasil bacaan di PMM setiap bulan sebagai bentuk absen kinerja. Mereka yang nggak memberi laporan dikasih teguran motivasi secara berkala.

Lebih dari itu, pihak cabang dinas pendidikan di setiap kabupaten juga bisa membuat program wajib bedah buku setiap 3 bulan sekali. Dengan begitu, hasil bacaan guru bisa didiskusikan secara terbuka. Pasti seru deh kalau lingkungan pendidikannya begini. Literasi hidup, guru dan siswanya berkualitas. Secara otomatis, pendidikan juga akan ikut berkualitas.

Saya yakin, aturan wajib baca buku untuk guru ini bisa jadi langkah strategis untuk menghidupkan literasi di kalangan siswa. Kalau guru artinya digugu dan ditiru, maka untuk urusan literasi, guru harus lebih dulu memberi teladan sebagai insan yang berliterasi agar bisa ditiru oleh siswanya. Kalau nggak begitu, budaya literasi di kalangan siswa hanya akan menjadi omong kosong. Sekian. 

Penulis: Naufalul Ihya’ Ulumuddin
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Guru Merdeka Belajar Itu Hanya Ilusi, Nyatanya Hingga Kini Masih Berkawan Karib dengan Segunung Administrasi.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 April 2024 oleh

Tags: Baca BukuBukuguruLiterasiSekolahSiswa
Naufalul Ihya Ulumuddin

Naufalul Ihya Ulumuddin

Pegiat sosiologi asal Madura. Tertarik isu pendidikan, kebijakan sosial, dan keluarga. Cita-cita tertinggi jadi anak yang berbakti dan suami ideal untuk istri.

ArtikelTerkait

buku bajakan buku-buku baru buku musik mojok

Tips Supaya Beli Buku di Bazar Buku Nggak Jadi Momen Pemborosan

25 September 2020
3 Alasan Film Madre Nggak Setenar Filosofi Kopi meski yang Nulis Sama terminal mojok.co

3 Alasan Film Madre Nggak Setenar Filosofi Kopi meski yang Nulis Sama

10 Oktober 2021
Sisi Gelap Pemasangan Banner Daftar Siswa Diterima PTN oleh Sekolah

Sisi Gelap Pemasangan Banner Daftar Siswa yang Diterima PTN oleh Sekolah

29 Juli 2023
buruh

Buruh Membaca Buku, Apa Pentingnya?

5 September 2019
Bilangnya Disuruh Belajar di Rumah, tapi Malah Dikasih Banyak Tugas

Bilangnya Disuruh Belajar di Rumah, tapi Malah Dikasih Banyak Tugas

20 Maret 2020
Guru (dan Dosen) Bukan Dewa yang Selalu Benar dan Murid Bukan Kerbau (Unsplash.com)

Guru (dan Dosen) Bukan Dewa yang Selalu Benar dan Murid Bukan Kerbau

3 Oktober 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bantul Nggak Punya Bioskop, tapi Warlok Nggak Kekurangan Tontonan Menghibur karena Ada Jathilan hingga Lomba Voli Mojok.co

Hidup di Bantul Tanpa Bioskop akan Baik-baik Saja Selama Ada Jathilan hingga Tanding Voli

23 April 2026
Outfit Kabupaten, Hinaan Orang Kota pada Pemuda Kabupaten yang Nggak Adil, Mereka Juga Berhak Berekspresi!

Outfit Kabupaten, Hinaan Orang Kota pada Pemuda Kabupaten yang Nggak Adil, Mereka Juga Berhak Berekspresi!

25 April 2026
Kuliah S2 Itu Wajib Caper kalau Tidak, Kalian Cuma Buang-buang Uang dan Melewatkan Banyak Kesempatan Mojok.co

Kuliah S2 Itu Ternyata Mahal: SPP-nya Bisa Jadi Murah, tapi Akan Ada Biaya Tambahan yang Menghantam!

23 April 2026
Tanda-tanda Rumah Jamet Madura, Pasti Bising dan Jadi Titik Kumpul Satria FU

Tanda-tanda Rumah Jamet Madura, Pasti Bising dan Jadi Titik Kumpul Satria FU

27 April 2026
Sukabumi Belum Pantas Jadi Peringkat 6 Kota Paling Toleran, Soal Salat Id Aja Masih Dipersulit Mojok.co

Sukabumi Belum Pantas Jadi Peringkat 6 Kota Paling Toleran, Soal Salat Id Aja Masih Dipersulit

27 April 2026
Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co pasar rebo

Derita Orang Pasar Rebo, Jauh dari Jakarta Bagian Mana pun, Malah Lebih Dekat ke Depok!

22 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”: Definisi Rindu Itu Bersifat Universal
  • Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita
  • Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara
  • Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
  • Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka
  • Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.