Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Generasi Sandwich Adalah Takdir Bajingan yang Bikin Muak: Saya Baik pada Keluarga Bukan karena Cinta, tapi karena Sudah Lupa Hidup Sebenarnya untuk Apa

Diha Maulana Yusuf oleh Diha Maulana Yusuf
24 Mei 2026
A A
Generasi Sandwich Bajingan Bikin Saya Tak Lagi Cinta Keluarga (Unsplash)

Generasi Sandwich Bajingan Bikin Saya Tak Lagi Cinta Keluarga (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai bagian dari Generasi Sandwich, saya kuliah sambil bekerja full time. Saya melakukan itu sejak semester satu dan baru di tahun ketiga ini, berani resign. 

Saya memberanikan diri mengambil keputusan heroik sekaligus paling naif. Motivasinya mulia: ingin punya waktu lebih banyak untuk belajar, berorganisasi, dan yang paling klise, ingin memahami diri sendiri. 

Saya pikir, dengan beralih ngojol, saya bisa mengatur waktu. Pagi narik sampai jam kuliah, sore lanjut sampai malam. Fleksibel. 

Namun, setelah menjalaninya, ternyata tidak ada yang benar-benar berubah. Hidup tetap terasa seperti milik orang lain. Bahkan, ada sesuatu yang hilang. Dan hilangnya itu justru membuat saya bingung.

Dua tahun sebelumnya, saya bekerja dengan bahan bakar yang meluap-luap, dendam masa lalu dan ambisi gila untuk kaya. Saya ingin berteriak pada diri sendiri di masa lalu bahwa saya bisa memperbaiki kemiskinan dengan kerja keras. 

Setiap rupiah yang saya tabung adalah simbol perlawanan terhadap nasib menjadi bagian dari Generasi Sandwich. Tapi sekarang? Semuanya menguap. Kebencian, pemicu, bahkan ambisi untuk jadi “orang kaya” itu juga ikut hilang. Saya benar-benar lupa semuanya.

BACA JUGA: Generasi Sandwich Nggak Butuh Dukungan, Kami Butuh Uang, Uang yang Banyak

Menjadi bapak-bapak Generasi Sandwich di tubuh mahasiswa

Secara administratif, saya adalah mahasiswa tahun ketiga. Seharusnya, saya sedang pusing memikirkan teori ekonomi pembangunan, magang, karier, atau sibuk ikut lomba esai. Tapi secara mental, saya seperti bapak-bapak Generasi Sandwich berusia 45 tahun yang resah karena memikirkan tiga anak.

Baca Juga:

3 Hal Sederhana yang Membuat Kami Cleaning Service Bahagia

Bekerja Menjadi Akademisi di Surabaya Adalah Keputusan Bodoh, Kota Ini Cuma Enak untuk Kuliah

Setiap kali aplikasi ojol saya berbunyi atau saldo tambahan masuk, pikiran saya tidak pernah lari ke “Bulan ini beli buku apa ya? ” atau “Ada event dengan guest star bagus, datang ah.” 

Pikiran saya langsung tersedot ke lubang logistik yang tidak ada dasarnya bagi anggota Generasi Sandwich. Mulai dari adik sebentar lagi kuliah, membayar kos, memikirkan tiket, sampai dana emergency keluarga di kampung.

Aneh rasanya. Ketika teman-teman sebaya sedang sibuk mencari jati diri, saya justru kehilangan karena harus menjadi salah satu pilar hidup orang lain. 

Eh, keluarga itu bisa disebut orang lain nggak ya? Melompat terlalu jauh itu nggak enak. Dilempar terlalu jauh lebih tepatnya. Menjadi anggota Generasi Sandwich itu rasanya seperti melewati masa muda dan langsung mendarat di fase pengabdian tanpa batas.

Kebaikan yang mekanis

Banyak orang bilang Generasi Sandwich yang bertahan itu karena landasan cinta dan kepedulian yang kuat pada keluarga. No ya adik-adik. BIG NO. Saya mengiyakan itu agar terlihat seperti anak berbakti, tapi jujur saja itu bohong.

Saya tetap mengusahakan keluarga, memastikan adik-adik bisa sekolah dengan layak, dan tetap membantu orang tua bukan karena dorongan cinta yang hangat. Saya melakukannya karena sudah lupa cara menjadi egois. 

Merasa itu sudah jadi SOP tetap dalam hidup. Seperti robot yang diprogram untuk mengisi daya baterai perangkat lain sementara baterainya sendiri bocor.

Dulu, saya benci dan kesal setengah mati. Setiap pulang kerja tengah malam motoran sambil teriak-teriak nggak jelas di sepanjang jalan Ringroad. Bodo amat. Jalan sepi nggak ada orang juga. 

Apa itu motivasi kerja keras dan kesuksesan buat Generasi Sandwich? Bullshit. Stop bicara takdir itu adil. Yang saya tahu hanya kuliah-kerja-tidur. 

Tapi sekarang, semua luapan itu sudah hilang. Saking lelahnya fisik dan pikiran, saya sampai tidak punya energi lagi untuk merasa benci atau dendam. Saya sudah terlalu lelah untuk marah.

Hidup untuk apa?

Pertanyaan “Hidup sebenarnya untuk apa?” biasanya muncul di kelas filsafat atau saat sedang melamun. Bagi saya, pertanyaan itu muncul setiap kali melihat saldo rekening yang cuma mampir hitungan menit sebelum hilang untuk memenuhi takdir sebagai Generasi Sandwich yang kelelahan.

Saya kehilangan ambisi bukan karena sudah merasa cukup, tapi karena tujuan hidup sudah lama tertutup oleh pikiran-pikiran “keluarga nanti gimana”. Saya tidak lagi tahu apa yang saya inginkan. 

Jika besok semua tanggungan ini hilang, saya rasa hanya akan berdiri mematung. Mungkin saya akan kebingungan ingin melangkah ke mana karena kedua kaki sudah terlalu lama berjalan untuk arah orang lain.

Mungkin ini adalah level tertinggi dari sebuah keletihan Generasi Sandwich. Ketika kita tidak lagi merasa menderita, tapi juga sudah tidak tahu caranya merasa bahagia. Saya tetap menjadi “anak baik” dan “kakak hebat”, bukan karena saya berbakti, tapi karena sudah terlalu lupa bagaimana rasanya hidup untuk diri sendiri.

“Banyak anak banyak rezeki” adalah penipuan logika, jebakan Generasi Sandwich

Sekarang, setiap mendengar kalimat banyak anak banyak rezeki dari pengajian di kampung, rasanya ingin diam-diam pergi ke belakang lalu mematikan saklar biar bubar. Mending kita jujur dan jadi truth bitter. 

Narasi “banyak anak banyak rezeki” adalah scam terbesar bangsa ini. Karena ada redaksi hadisnya? Sori, Pak. Dulu ketika zaman perang, populasi itu kekuatan. Lah sekarang? Ekonomi sulit. 

Rezeki itu memang ada jalannya. Tapi kalian lupa bilang kalau jalan itu seringnya harus dilewati oleh anak-anak yang lahir duluan dan badannya remuk redam menjadi anggota Generasi Sandwich.

Orang tua kita mungkin benar bahwa untuk sekadar makan, Tuhan pasti kasih jalan. Tapi mereka cuma itu doang. Mereka nggak menghitung variabel lain. 

Misalnya, biaya pendidikan naik lebih cepat dari inflasi, biaya berobat yang mahal, biaya sosial di kampung, hingga dana darurat yang seringnya memaksa. Orang tua yang punya anak banyak tanpa kesiapan finansial, bukan sedang menjemput rezeki, itu mah outsourcing tanggungan pada Generasi Sandwich.

Saya teramat sangat benci narasi tersebut karena menjadi korban dari optimisme buta. Saya jadi punya beban pikiran untuk membiayai “rezeki-rezeki” yang lain sementara saya sendiri tidak punya waktu untuk mengurus rezeki diri sendiri. 

Nyari uang itu capek, kawan. Sangat capek. Mengatakan rezeki sudah ada yang ngatur sambil terus meminta gendongan di punggung anak-anak Generasi Sandwich dan baru belajar jalan di dunia professional, adalah sebuah kezaliman yang dibungkus nasihat agama.

BACA JUGA: Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia

Memutus rantai derita Generasi Sandwich, bukan menyambung penderitaan

Untuk yang sudah menjadi bapak-bapak secara psikologis, bukan secara umur, yang hari ini merasa punggungnya hampir patah karena memikul beban dua generasi sekaligus, kamu tidak sendirian. Mari kita berani untuk jadi yang terakhir. 

Kita perlu berhenti menelan mentah-mentah romantisme “bakti tanpa batas” korban Generasi Sandwich. Apalagi jika itu hanya jadi kedok untuk menormalisasi kegagalan finansial generasi sebelum kita. 

Memutus rantai kemiskinan bukan sekadar soal bekerja lebih keras, tapi keberanian untuk berkata “cukup”. Khususnya kepada pola pikir boomer yang menjadikan anak sebagai investasi masa tua.

Kita rapatkan barisan untuk tidak mewariskan trauma finansial ini. Kita harus menjadi generasi yang lebih logis daripada sekadar optimistis. 

Punya anak bukan untuk menjemput rezeki yang tidak pasti, tapi untuk memastikan manusia baru itu, punya hidup yang lebih merdeka dari kita. Jika hari ini kita dipaksa menjadi martir, setidaknya jadilah martir yang menutup pintu menuju kondisi bajingan ini rapat-rapat. 

Biar Generasi Sandwich kita saja yang babak belur, generasi di bawah kita tak perlu lagi mengenal apa itu hidup yang terasa milik orang lain. Biarkan penderitaan ini berhenti di kita. Semata supaya anak-anak kita nanti bisa benar-benar mengenal arti “hidup”, tanpa harus lebih dulu lupa caranya bernapas untuk diri sendiri. Kita adalah tembok terakhir.

Penulis: Diha Maulana

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Generasi Sandwich Bukan Pahlawan, Kami Adalah Tumbal Romantisasi “Bakti Anak” yang Terpaksa Menjadi Dana Pensiun Berjalan Bagi Orang Tua yang Gagal Menabung

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 24 Mei 2026 oleh

Tags: dana daruratdana pensiunderita Generasi Sandwichgenerasi sandwichGenerasi Sandwich adalahGenerasi Sandwich artinyaGenerasi Sandwich itu apakarierojek onlineojolprofesi
Diha Maulana Yusuf

Diha Maulana Yusuf

Mahasiswa Ekonomi yang tertarik dengan isu-isu di masyarakat. Berasal dari pesantren dan sedang mencari titik temu antara studi ekonomi dan agama.

ArtikelTerkait

Ada yang Salah dengan Anggapan Lulus SMA Harus Kuliah, Lalu Kerja

Ada yang Salah dengan Anggapan Lulus SMA Harus Kuliah atau Kerja

6 Mei 2022
Solo, Tempatnya Driver Ojol Ramah dan Sopan yang Susah Ditemui di Jakarta

Solo, Tempatnya Driver Ojol Ramah dan Sopan yang Susah Ditemui di Jakarta

2 Mei 2024
uang tip ojek online

Tak Perlu Berikan Uang Tip ke Ojek Online, Biar Apa sih?

10 Juli 2019
Bagi Generasi Sandwich, Perencanaan Keuangan Nggak Semudah Kata Raditya Dika terminal mojok.co

Bagi Generasi Sandwich, Perencanaan Keuangan Nggak Semudah Kata Raditya Dika

12 Desember 2021
15 Istilah yang Sering Digunakan dalam Kegiatan Instansi Pemerintah PNS

Tidak Semua Orang Ingin Jadi PNS, dan Itu Tidak Apa-apa

13 Juni 2022
Segini Dana Pensiun yang Dibutuhkan Biar Bisa "Ongkang-ongkang Kaki" di Masa Tua Mojok.co

Segini Dana Pensiun yang Dibutuhkan Biar Bisa “Ongkang-ongkang Kaki” di Masa Tua

22 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jogja Aneh, Membiarkan Tukang Becak Mati dalam Kemiskinan (Unsplash)

Dosa Jogja kepada Tukang Becak Tradisional: Becaknya Dianggap Warisan Budaya, tapi Pengemudinya Dibiarkan Menua, Lalu Mati dalam Kemiskinan

21 Mei 2026
Pantai Menganti Kebumen Jawa Tengah, Pantai Indah tapi Berbahaya (Wikimedia Commons)

Pantai Menganti Kebumen, Pantai Terindah di Jawa Tengah, tapi Perjalanan ke Sana Adalah Simulasi Jantungan yang Dibungkus Liburan

22 Mei 2026
Tidak Sekadar Mengajar, Guru Les Online Wajib Menghibur agar Tidak Ditinggal Murid-muridnya Main Game Terminal

Tidak Sekadar Mengajar, Guru Les Online Wajib Menghibur agar Tidak Ditinggal Murid-muridnya Main Game

20 Mei 2026
Betapa Lelahnya Kuliah S2 Bareng Fresh Graduate: Nggak Dewasa, Semua Dianggap Saingan Mojok.co

Betapa Lelahnya Kuliah S2 Bareng Fresh Graduate: Nggak Dewasa, Semua Dianggap Saingan

19 Mei 2026
Kos Putri Tempat Tinggal yang Terlihat Ideal untuk Perempuan Perantau, tapi Aslinya Bikin Malas Mojok.co

Kos Putri yang Terlihat Ideal untuk Perempuan Perantau Aslinya Bikin Malas

18 Mei 2026
Kos Murah yang Diidamkan Berujung Penyesalan karena Tabiat Buruk Ibu Kos yang Suka Ngutang Mojok.co

Rasa Syukur Tinggal di Kos Murah Berubah Jadi Penyesalan karena Tabiat Buruk Ibu Kos yang Suka Ngutang

20 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.