Ada satu ironi yang mungkin hanya bisa dipahami kalau kita tinggal di Solo. Ketika ribuan siswa dari berbagai pelosok Indonesia mati-matian mengejar kursi di kampus-kampus Solo, justru tidak sedikit anak Solo yang sejak awal sudah memasang target: pokoknya harus kuliah di luar kota.
Seolah-olah, kuliah di kota sendiri itu kurang bergengsi. Padahal, orang dari luar memandang Solo sebagai kota yang nyaman untuk belajar.
Biaya hidup relatif murah, ritme kehidupan tidak terlalu melelahkan, makanan masih ramah kantong, dan pilihan kampusnya juga tidak sedikit. Mulai dari UNS, UMS, ISI Surakarta, hingga berbagai kampus swasta lainnya, semuanya menjadi tujuan ribuan mahasiswa baru setiap tahun.
Lucunya, anak Solo sering kali justru melihat semua itu sebagai sesuatu yang biasa saja. Barangkali karena terlalu dekat. Seperti pepatah, rumput tetangga memang selalu tampak lebih hijau.
Ingin hidup di luar Solo
Banyak yang ingin merasakan hidup di Yogyakarta, Bandung, Surabaya, atau Jakarta. Alasannya beragam. Ada yang ingin mandiri, mencari pengalaman baru, memperluas relasi, atau sekadar ingin merasakan atmosfer kota lain. Tidak ada yang salah dengan keinginan itu. Justru itu bagian dari proses bertumbuh.
Akan tetapi, kadang ada alasan yang terdengar lebih sederhana, “Masa kuliah masih di Solo terus?”
Kalimat itu seolah menunjukkan bahwa merantau adalah pencapaian tersendiri. Seakan-akan kualitas seseorang naik hanya karena kuliahnya jauh dari rumah.
Padahal, kalau dipikir-pikir, anak-anak dari luar kota justru rela meninggalkan keluarganya demi bisa kuliah di Solo. Mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru, menghitung uang makan setiap hari, mencari kos, bahkan pulang kampung mungkin hanya beberapa kali dalam setahun.
Sementara anak Solo justru punya kemewahan yang sering tidak disadari: bisa kuliah di kampus bagus tanpa harus memikirkan ongkos pulang, tanpa biaya kos, dan masih bisa menikmati masakan rumah setiap hari.
Pilih kuliah bukan karena gengsi
Tentu, bukan berarti semua orang Solo harus kuliah di Solo. Dunia memang terlalu luas jika kita hanya berputar di kota sendiri. Merantau bisa menjadi sekolah kehidupan yang tidak diajarkan di ruang kelas.
Akan tetapi, yang perlu diubah adalah cara pandangnya. Jangan sampai memilih kuliah di luar kota hanya karena takut dianggap kurang keren kalau tetap tinggal di Solo. Sebab, kualitas pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa jauh kita meninggalkan rumah.
Yang membuat seseorang berkembang bukan nama kotanya, melainkan bagaimana dia memanfaatkan kesempatan selama kuliah. Ada yang merantau tetapi waktunya habis untuk rebahan di kos. Ada pula yang tetap kuliah di Solo, tetapi aktif berorganisasi, magang, membangun usaha, hingga mengikuti berbagai kompetisi.
Pada akhirnya, Solo memang kota yang unik. Ia cukup nyaman hingga membuat banyak orang ingin datang, tetapi justru terlalu akrab bagi sebagian warganya sendiri.
Mungkin memang begitu sifat manusia. Kita sering menganggap biasa sesuatu yang setiap hari kita lihat, sementara orang lain rela menempuh ratusan kilometer untuk mendapatkannya.
Jadi, kalau kamu orang Solo yang ingin kuliah di luar kota, silakan. Dan. kalau kamu memilih tetap kuliah di Solo, tidak perlu merasa tertinggal. Karena pada akhirnya, kampus hanyalah tempat belajar. Yang menentukan masa depan bukan koordinat kotanya, melainkan bagaimana kita mengisi tahun-tahun selama menjadi mahasiswa.
Penulis: Diyah Ayu Sekar Jagad
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 6 Kebiasaan Warga Solo yang Awalnya Saya Kira Aneh, tapi Lama-lama Saya Ikuti Juga.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
