Fitur Story Twitter alias Fleet Sebaiknya Nggak Usah Ada, Terkesan Ikut-ikutan Banget – Terminal Mojok

Fitur Story Twitter alias Fleet Sebaiknya Nggak Usah Ada, Terkesan Ikut-ikutan Banget

Artikel

Istiqomah

Sebuah kabar membuat saya tersentak saat ada salah satu teman saya update story di Instagram, sebut saja Mr. O, dia sedikit sambat tentang Twitter yang meng-upgrade aplikasinya dengan menambahkan fitur story. Dia bilang kalau lama-lama bisa jadi Microsoft Excel akan ada fitur storynya juga. Tidak jauh beda dengan WhatsApp, Instagram, Facebook, dan sekarang Twitter. Sambil tertawa saya langsung komentar dan menanyakan kebenaran kabar itu dengan meminta bukti otentik soal story Twitter ini.

Setelah berhasil membuka akun Twitter sendiri, saya sedikit shock. Ternyata itu bukan hoaks. Ada lambang lingkaran-lingkaran khas update story dari orang-orang yang saya follow. Memang belum banyak sih yang kelihatan update story. Maklum saja, saya hanya mem-follow tidak lebih dari 224 akun. Followers saya juga tidak jauh berbeda dari angka itu. Hehe. Lagian banyak ataupun sedikit followers bagi saya tidak penting. Beli followers apa lagi. Mending uangnya buat beli cilok deh.

Saya sendiri bergabung dengan Twitter sejak Desember 2009. Kalau diingat-ingat, tahun 2009 saya sedang menikmati masa-masa indah di bangku SMA. Saat itu yang paling banyak digunakan adalah Facebook. Hanya dengan ketik 0.facebook.com, akun facebook secara gratis bisa langsung dinikmati. Walaupun tanpa gambar atau foto, teman-teman saya sudah senang. 

Tidak banyak teman saya yang punya akun Twitter. Hanya yang merasa punya HP canggih yang bisa install. Saya sendiri bukan termasuk orang yang punya HP canggih. Saya adalah penikmat warnet tatkala ada waktu luang untuk main Twitter. Orang yang punya akun twitter kala itu dianggap gaul dan keren. Entah apa tolok ukurnya. Pokoknya kalau saat ngobrol pembahasannya tentang cuitan di Twitter dan kita nyambung, itu sudah dianggap satu frekuensi pergaulan alias tidak gaptek.

Dari dulu sampai sekarang, Twitter adalah media sambat paling aman. Saat kita sedang mengeluhkan suatu hal, menulis cuitan di Twitter dijamin aman. Iya, aman dari orang tua, teman-teman unfaedah, dan bos senior kita di kantor. Kebanyakan mereka tidak punya akun Twitter. Kalaupun punya, pasti jarang digunakan. Yang penting saat ditanya punya akun twitter tidak, jawabnya punya dong. Walaupun hampir tidak pernah menulis atau sekedar me-retweet cuitan orang lain. Kosong dan hampa.

Semenjak tahu fitur story Twitter, saya langsung cepat-cepat ingin mencoba. Apakah ada perbedaan yang signifikan dari WhatsApp, Instagram, dan Facebook? Syukur-syukur sih story Twitter lebih canggih dari ketiga akun medsos itu. Ternyata oh ternyata bukan story namanya, tapi “fleet”. 

Mau update tulisan bisa, gambar atau foto bisa, video juga bisa. Kalau dibandingkan dengan ketiga medsos itu, gaya fleet di Twitter hampir sama dengan story di Facebook dan WhatsApp. Tapi, ada perbedaan yang tampak, yaitu saat kita update story di Twitter tidak bisa dihubungkan langsung dengan WhatsApp, Instagram, dan Facebook.

Walaupun secara keamanan update story di Twitter lebih dilindungi karena tidak bisa dihubungkan langsung dengan akun medsos lain, tapi kenyamanan saat bermain Twitter sedikit terusik. Yang biasanya bebas mau nulis apa saja tinggal tekan tweet, atau yang tadinya bebas mau me-retweet cuitan orang lain yang kita anggap keren, tiba-tiba kepikiran: Mau update story Twitter apa ya hari ini? Apalagi kalau tiba-tiba ada hasrat ingin melihat update story orang lain. Asli, itu menyita waktu banget.

Keputusan pengembang Twitter dengan menambahkan fitur story membuat saya heran dan kecewa.  Buat apa coba. Merasa tersaingi oleh WhatsApp, Instagram, dan Facebook yang kelihatan keren dengan fitur storynya? Atau sudah merasa ketinggalan zaman? Oh Twitter, kamu kenapa sih? Sekarang kelihatan sama seperti tiga medsos itu. Mana jati diri aslimu? Memang sih setiap orang punya hak masing-masing untuk memutuskan mau main medsos apa saja. Tapi, kalau semua terlihat sama, lama-lama juga bosan akan melanda. Bukankah perbedaan itu membuat hidup lebih berwarna?

Lagian saya juga heran, banyak pengembang berlomba-lomba bikin medsos dan memperbarui fitur-fiturnya. Orang Indonesia juga bisa melongo, sambil scrolling dan menghabiskan waktu untuk menggunakan semua medsos. Benar-benar jiwa konsumen sejati.

BACA JUGA Tok Dalang di Kartun Upin Ipin Adalah Simbah Idaman para Cucu dan tulisan Istiqomah lainnya.

Baca Juga:  Netizen Twitter Adalah Antagonis Paling Kejam dan Fakta-fakta Lainnya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
3


Komentar

Comments are closed.