Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Film

Film Horor “Songko” Memberi Kesegaran yang Menakutkan dari Cerita Rakyat Minahasa dan Membebaskan Kita dari Kebosanan Horor Jawa

Iqbal AR oleh Iqbal AR
23 April 2026
A A
Film Horor “Songko” Memberi Kesegaran yang Menakutkan (Unsplash)

Film Horor “Songko” Memberi Kesegaran yang Menakutkan (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Ketika tembang “Lingsir Wengi” terdengar di telinga, masih ada perasaan semriwing yang menjalar. Rasa takut seakan-akan di belakang kita ada sesosok hantu perempuan berambut panjang, dengan pakaian putih kusam, yang siap meneror dengan suara tawanya yang mengerikan. Semua itu karena film horor “Kuntilanak” (2006) yang disutradarai oleh Rizal Mantovani.

Di film tersebut, tembang “Lingsir Wengi” yang dinyanyikan oleh Samantha (Julie Estelle) menjadi semacam lagu untuk memanggil kuntilanak. Film horor tersebut seakan “sukses” menjadikan tembang “Lingsir Wengi” sebagai tembang mistis. Ini membuat tembang “Lingsir Wengi” benar-benar berubah dari makna dan esensi asalnya.

Miris, tapi ya mau gimana lagi. Kami, sebagai orang Jawa, juga bingung. Sebab film horor dan budaya Jawa ini memang seakan-akan selalu melekat. Daya tariknya juga kuat, terlihat dari jumlah penonton yang membeli tiket dan hadir di bioskop.

BACA JUGA: 4 Fakta Lagu Lingsir Wengi yang Sering Bikin Kalian Takut Nggak Jelas

Daya tarik budaya Jawa sebagai latar cerita film horor

Tembang “Lingsir Wengi” dan film Kuntilanak hanyalah secuil contoh dari betapa menariknya budaya Jawa sebagai latar cerita film horor. Sebab ada buuaanyak banget film-film horor Indonesia yang mengangkat budaya Jawa sebagai latar belakang cerita. 

Sejak era 80-an, film-film horor berlatar budaya (atau legenda) Jawa memang sudah banyak bermunculan. Beberapa film Suzzanna seperti “Bangunnya Nyi Roro Kidul” dan “Nyi Blorong” sama-sama menjadikan budaya dan legenda Jawa sebagai latar cerita. 

Tren ini nyaris nggak pernah putus. Mulai dari trilogi “Kuntilanak”, “Keramat”, hingga yang masih cukup baru semacam “Mangkujiwo”, “Sewu Dino”, “Primbon”, dan “Sengkolo: Petaka Satu Suro”.

Demi untung, budaya Jawa terus diperas, dieksploitasi lagi, bahkan diubah seenak udelnya sendiri. Asalkan keperluan mistisisme dalam layar lebar bisa terpenuhi. Maka nggak heran kalau ada kalimat, “Film horor Indonesia kalau mau untung, pakai saja budaya Jawa.”

Baca Juga:

Nonton Film Horor di Mall “Mati”: Pengalaman Unik di Mall Hermes Place Polonia Medan

Review Film Abadi nan Jaya: Layak Dipuji meski Biasa Saja dan Cenderung Basi

Masalahnya, penggunaan budaya Jawa sebagai latar cerita film horor ini makin ke sini makin berlebihan, bahkan makin ngawur. Apalagi di era 2000-an sampai sekarang, budaya Jawa seakan asal tempel saja. 

Asal dapat horor dan mistisnya, nggak peduli dengan esensi aslinya. Yang penting latarnya rumah joglo, bahasanya medok, ada alunan gamelan, dan ada pemeran yang pakai setelan kebaya atau surjan lurik.

Film horor “Songko” yang menyeramkan

Kemarin, saya baru menonton trailer salah satu film horor berjudul “Songko”. Film yang mengambil latar tanah Minahasa era akhir 80-an ini menceritakan seorang perempuan bernama Mikha (Annette Edoarda) dan keluarganya. Mereka diusir oleh warga karena ibu tirinya, Helsye (Imelda Therinne), dituduh sebagai jelmaan Songko yang meneror warga.

Tuduhan ini muncul setelah warga dikejutkan dengan kematian perempuan-perempuan muda secara misterius. Namun, setelah Mikha dan Helsye beserta keluarganya diusir keluar desa, warga nyatanya masih terus mendapatkan teror dari Songko. Terornya bahkan makin parah, dan makin luas. Warga nggak menemukan jalan keluar, dan situasinya makin runyam.

Songko, dalam budaya orang Minahasa, adalah sosok menyeramkan yang meneror dan membunuh gadis remaja dengan cara menghisap darah mereka. Tujuannya beragam. Ada yang ingin menambah kekuatan atau ilmu, ada pula yang berdasar dendam. Dari trailer-nya saja, film ini menyeramkan. Bahkan sekilas lebih seram ketimbang beberapa film horor dengan latar budaya Jawa.

Sosok ini diberi nama Songko karena tiap kemunculannya kerap mengenakan songkok atau penutup kepala, mirip peci. Wujudnya menyeramkan, kerap muncul memakai jubah panjang dan lusuh, serta berambut panjang. Posturnya tubuhnya bungkuk. Wajahnya juga nggak pernah jelas. Sekilas memang mirip kuntilanak.

Nah, dalam menjalankan terornya, Songko ini kerap nangkring di pohon-pohon besar di waktu petang (magrib) hingga dini hari untuk mencari mangsa. Kalau sudah ketemu mangsanya, Songko ini bakal mengepakkan tangannya, sambil mengeluarkan suara “koook, koook” (agak mirip suara gagak), lalu menyergap mangsanya dari belakang. Setelahnya, Songko bakal membawa mangsanya terbang, lalu menjatuhkannya dari ketinggian.

Angin segar

Nah, kisah teror seperti inilah yang bakal coba diangkat ke layar lebar. Songko nggak hanya sekadar bercerita soal hantu-hantuan saja. Songko juga mengangkat bagaimana sebuah kepercayaan satu masyarakat, bisa menjadi teror mencekam yang sangat mempengaruhi hubungan masyarakat.

Sebab di film horor ini, akan tergambar bagaimana pasca teror Songko, warga saling bermusuhan satu sama lain. Warga saling tuduh, saling nggak percaya. Hubungan antar warga hancur. Persaudaraan mereka putus. Kepercayaan hancur. Tentu saja semua ini hadir dalam balutan horor yang mencekam dan mengerikan.

Mendalami ceritanya, saya merasa bahwa hadirnya film “Songko” ini seakan jadi angin segar dalam dunia film horor Indonesia. Seperti kita tahu, dominasi budaya Jawa sudah membosankan, berlebihan, dan bahkan memuakkan.

BACA JUGA: Film Horor Indonesia Overdosis Eksploitasi Agama Islam dan Jawa untuk Menakut-nakuti semata Biar Laku

Tersampaikan sesuai makna aslinya

Ketika tulisan ini saya buat, film “Songko” memang belum tayang. Tapi saya punya cukup keyakinan bahwa film ini nantinya bakal tersampaikan dengan baik. 

Sutradara dan penulisnya adalah Gerald Mamahit, orang asli Minahasa. Risetnya juga mendalam, nggak main-main. Gerald dan tim produser bahkan sampai riset langsung ke masyarakat Minahasa di Manado dan Tomohon, termasuk ke tokoh-tokoh adat, untuk menulis cerita ini.

Melihat keseriusan Gerald Mamahit dan tim, saya juga punya harapan bahwa film horor “Songko” ini nggak hanya tersampaikan dengan baik saja, tapi juga tersampaikan sesuai makna aslinya. Unsur kedaerahannya, dalam hal ini adat, budaya, dan kepercayaan masyarakat Minahasa, nggak perlu sampai dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangi untuk alasan apapun. Termasuk untuk alasan horor atau mistisisme sekalipun. 

Saya nggak mau nasibnya kayak budaya Jawa dalam film horor Indonesia. Budaya Jawanya diperas habis, ditambahi ini itu, dikurangi esensi dan makna utamanya (bahkan dibuang dan dilupakan), hanya untuk dapat kesan horor dan mistisnya. 

Ya semoga harapan saya bisa terbayar dengan tuntas saat filmnya tayang 23 April. Semoga juga “Songko” ini bisa jadi bukti bahwa kalau mau bikin film horor dengan latar budaya daerah, elemen budayanya nggak perlu dimodifikasi, dan nggak perlu over eksplorasi. Sampaikan secara utuh dan apa adanya saja.

Penulis: Iqbal AR

Editor: Yamadipati Seno 

BACA JUGA Saya Muak dengan Industri Film Horor yang Hanya (Bisa) Mengeksploitasi Budaya Jawa Seolah-olah Seram dan Mistis

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 23 April 2026 oleh

Tags: Film HororFilm Horor Indonesiafilm horor jawaFilm Indonesiafilm songkohoror jawakuntilanaklingsir wengiminahasasongkotomohon
Iqbal AR

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.

ArtikelTerkait

4 Film Boneka Arwah dari Berbagai Negara Terminal Mojok

4 Film Boneka Arwah dari Berbagai Negara

9 Januari 2022
5 Film Indonesia Bertema Ibu yang Cocok Ditonton di Hari Ibu terminal mojok

5 Film Indonesia yang Cocok Ditonton di Hari Ibu

22 Desember 2021
lingsir wengi ponggol setan hantu tuselak mojok

4 Fakta Lagu Lingsir Wengi yang Sering Bikin Kalian Takut Nggak Jelas

29 September 2021
5 Film Horor Netflix Terbaik di Bulan Maret 2023

5 Film Horor Netflix Terbaik di Bulan Maret 2023

4 Maret 2023
Suzzanna Malam Jumat Kliwon Itu Bukan Film Balas Dendam Setan, tapi tentang Ngerinya Utang!

Suzzanna Malam Jumat Kliwon Itu Bukan Film Balas Dendam Setan, tapi tentang Ngerinya Utang!

10 Agustus 2023
Femme Fatale Adalah Unsur yang Banyak Dipakai Film Horor Indonesia terminal mojok.co

Femme Fatale Adalah Unsur yang Banyak Dipakai Film Horor Indonesia

14 Desember 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Purwokerto Dipertimbangkan Orang Kota untuk Slow Living, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru Mojok.co

Purwokerto Jadi Tempat Slow Living Orang Kota, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru

22 April 2026
Resign demi Jadi Wirausaha Itu Memang Ceroboh, tapi Saya Nggak Menyesal sekalipun Bangkrut

Resign demi Wirausaha Itu Memang Ceroboh, tapi Saya Nggak Menyesal sekalipun Bangkrut

18 April 2026
Satria FU Sudah Tak Pantas Disebut Motor Jamet, Yamaha Aerox lah Motor Jamet yang Sebenarnya

Alasan Mengapa Satria FU Masih Digandrungi ABG di Madura, Membuat Pria Lebih Tampan dan Bikin Langgeng dalam Pacaran

23 April 2026
Bukannya Menghilangkan Penah, Berwisata ke Curug Cimahi Justru Bikin Tingkat Stres Meningkat

Bukannya Menghilangkan Penat, Berwisata ke Curug Cimahi Justru Bikin Tingkat Stres Meningkat

18 April 2026
6 Dosa Penjual Cilok yang Bikin Pembeli Kapok Jajan Lagi Mojok.co

6 Dosa Penjual Cilok yang Bikin Pembeli Kapok Jajan Lagi 

21 April 2026
4 Tabiat Tukang Parkir yang Disukai Pengendara. Sederhana, tapi Tidak Semua Tukang Parkir Bisa Melakukannya  Mojok.co

4 Tabiat Tukang Parkir yang Disukai Pengendara. Sebenarnya Sederhana, tapi Tidak Semua Tukang Parkir Bisa Melakukannya 

18 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • 4 Jenis Pengendara Motor di Pantura yang Harus Diwaspadai di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan!
  • Ujian Terberat Pengguna IndiHome yang Dikhianati Tawaran Palsu hingga Menggadaikan Kesetiaan ke WiFi yang Lebih “Gacor”
  • Belajar dari Mahasiswa Flores yang Merantau di Jogja Merintis Usaha Jastip Kecil-kecilan Hingga Untung Jutaan Rupiah Setiap Bulan
  • Hubungan Istimewa di Balik Pohon Gayam sebagai “Tanaman Peneduh” dan Candi Borobudur
  • Pengguna iPhone Ingin “Naik Kelas” Bikin Muak, Gaya Elite padahal Dompet Sulit
  • Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.