Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Fenomena Pemuda Citayam: Kalau Nggak Good Looking, Nggak Boleh Banyak Gaya, Gitu kan Maksudnya?

Paula Gianita Primasari oleh Paula Gianita Primasari
15 Juli 2022
A A
Fenomena Pemuda Citayam: Kalau Nggak Good Looking, Nggak Boleh Banyak Gaya, Gitu kan Maksudnya?

Fenomena Pemuda Citayam: Kalau Nggak Good Looking, Nggak Boleh Banyak Gaya, Gitu kan Maksudnya? (Joshua Chun via Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Jika Anda tak menarik, atau nyeleneh tapi nggak good looking, sebaiknya nggak usah berekspresi, atau bahkan punya sikap. Setidaknya, itu yang saya pahami dari komentar netizen terkait ekspresi pemuda Citayam di SCBD.

Tengok komentar netizen tentang cara berpakaian mereka. Tengok komentar netizen tentang muka-muka pemuda tersebut. Banyak yang tak menyenangkan, dan itu sebenarnya tak mengagetkan. Sebab ya, dari dulu kayak begitu, nggak ada yang berubah.

Entah kenapa, saya nggak bisa memahami kritikan terhadap cara berekspresi pemuda Citayam. Andaikan sense fashion mereka memang nyeleneh dan (mungkin) norak, atau muka dengan baju nggak sinkron, ya terus kenapa gitu lho?

Padahal kita bisa melihatnya dengan lebih sederhana: itu cara berekspresi. Selama tak ada hukum yang dilanggar, ya sudah, tak ada masalah. Perkara style mereka nggak sesuai selera kalian, ya nggak apa-apa. Kan selera, subjektif. Kalau mereka pede dan bahagia, ya sudah, kan?

Saya juga heran terhadap komen yang mengarah ke body shaming. Komen-komen tersebut kok agak nganu ya. Sebegitu bencinya kalian ke orang yang punya cara yang beda dengan kalian?

Saya nggak bisa memungkiri, banyak orang yang (secara nggak sadar) menganut “keadilan sosial bagi rakyat good looking”. Selama mereka good looking, mereka akan dimaafkan. Kalau nggak good looking, mau kau menyelamatkan dunia sekalipun, yang akan dibahas adalah kondisi mukamu yang biasa saja itu.

Contoh paling baru ya pemuda Citayam itu. Sense fashion mereka dianggap nggak mashok ya karena mereka dianggap nggak menarik. Mukanya khas kabupaten lah, bau matahari lah, norak lah, jamet lah dan sebagainya, dan sebagainya.

Padahal itu cuman cara berekspresi. Cara mereka meraih eksistensi di masa muda mereka. Kenapa muka mereka dibawa-bawa?

Baca Juga:

Derita Punya Wajah Kurang Good Looking: Dari Kehilangan Percaya Diri hingga Berakhir Pengangguran Selama 8 Bulan

4 Privilese yang Kamu Rasakan Ketika Tinggal di Surabaya Timur

Tapi, coba kita berandai-andai kalau Jefri Nichol bergaya macam anak Citayam. Place your bet, semua orang bakal mengelu-elukan Jefri Nichol. Dia akan disanjung, seakan-akan dialah jangkar perdamaian dunia.

Ketidakadilan terlihat jelas di sini. Good looking privilege punya peran vital. Kalau masih nggak percaya, saya kasih contoh yang lebih konkret.

Beberapa tahun silam, banyak influencer yang mengangkat konsep secondhand fashion sebagai OOTD mereka. Sebagian dari mereka juga masih eksis hingga saat ini, bahkan memperoleh centang biru di Instagram meski saat ini tidak lagi aktif OOTD dengan barang dari flea market. Salah satu yang konsisten dan populer mengkampanyekan sustainable fashion dengan memanfaatkan barang bekas adalah Diana Rikasari.

Diana yang telah lama berkecimpung dalam dunia fesyen memang merupakan sosok yang kreatif. Tak heran, ia sering diajak berkolaborasi dengan brand ternama hingga memiliki lini bisnis sendiri di industri fashion.

Diana Rikasari, secara fisik berpenampilan menarik, plus berpendidikan tinggi. Maka dari itu, orang pasti akan berpikir dua kali untuk mengkritiknya meski selera fashionnya hora umum. Terlebih, pengalaman Diana cukup lama yakni sejak era blogging di awal 2000-an lalu. Sebelum menghujat, orang sudah keder duluan.

Berbeda dengan apa yang didapat oleh para remaja Citayam. Sama-sama eksentrik dalam bergaya, mereka malahan kerap mendapat sindiran.

Iya, saya tau, Diana Rikasari emang punya segudang prestasi dan keunggulan. Jadi, nyacatin dia tentu saja hal bodoh. Tapi, di sinilah problemnya muncul: apa harus berprestasi, good looking, dan punya keunggulan untuk nggak dicacatin? Apakah harus punya wajah rupawan agar opini didengar? Apakah harus punya wajah glowing agar bisa diterima?

Kenapa nggak begini aja: bukannya memang sebaiknya manusia diterima, didengarkan, serta tidak dicacatin, terlepas dia punya keunggulan atau tidak? Saya tahu common sense is not so common, but, come on.

Andaikata para remaja Citayam yang wara-wiri di Sudirman tersebut good looking, bisa jadi akan berbeda pula opini yang beredar di masyarakat. Sangat mungkin, akan banyak dukungan dan apresiasi yang akan mereka peroleh daripada sekadar caci maki.

Padahal, fenomena Citayam itu mirip Harajuku, yang sempat bikin sedunia gandrung pada beberapa waktu yang lalu. Istilahnya, kita punya Harajuku sendiri. Yang artinya, mata dunia akan melihat kita, dan kita punya kesempatan yang lebih luas. Tapi, alih-alih menjual potensi, kita malah saling jegal gara-gara muka.

Kita mungkin nggak bisa lepas dan nggak akan bisa lepas dengan bias good looking ini. Kalau memang buat kalian yang jelek nggak usah banyak gaya, ya gapapa. Bebas. Cuman nih, apakah kalian yakin puas dengan pemikiran medioker kayak gitu?

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Universitas Brawijaya dan Penerapan Keadilan Sosial bagi Rakyat Good Looking yang Keblinger

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 15 Juli 2022 oleh

Tags: Citayamgood lookingharajukujefri nicholPrivilese
Paula Gianita Primasari

Paula Gianita Primasari

Mahasiswa doktoral UNDIP jurusan Manajemen Pemasaran asal Semarang.

ArtikelTerkait

Inilah Wajah Asli Citayam, Daerah yang Sedang Jadi Sorotan Seantero Indonesia

Inilah Wajah Asli Citayam, Daerah yang Sedang Jadi Sorotan Seantero Indonesia

26 Juli 2022
3 Keunikan Kota Depok yang Bikin Warganya Ngelus Dada. Tak Ada yang Lebih Tabah dari Warga Depok

3 Daerah di Kota Depok yang Sebaiknya Jangan Ditinggali, Semuanya Macet Tanpa Obat!

2 September 2024
jamu

Kalau Para Artis Rajin Mengonsumsi Jamu, Tentu Tak Ada Alasan Menggunakan Sabu Untuk Stamina Lagi

25 Juli 2019
5 Privilese Orang Desa yang Nggak Dimiliki Orang Kota Terminal Mojok

5 Privilese Orang Desa yang Nggak Dimiliki Orang Kota

30 Juni 2022
Seandainya Saya Adalah Putri Tanjung terminal mojok.co

Seandainya Saya Adalah Putri Tanjung

19 Januari 2022
toilet mal

Toilet Mal Sebagai Tempat Favorit Untuk Bercermin: Soalnya Selalu Terlihat Good Looking, sih

18 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Hapus Tradisi Jimpitan, Ini Satu-satunya "Pajak" yang Tidak Dibenci Warga

Jangan Hapus Tradisi Jimpitan, Ini Satu-satunya Pajak yang Tidak Dibenci Rakyat

5 Juni 2026
Profesi Quality Control: Salah Sedikit Dimaki, Benar Terus Dianggap Nggak Kerja

Profesi Quality Control: Salah Sedikit Dimaki, Benar Terus Dianggap Nggak Kerja

3 Juni 2026
Derita Mahasiswa Jurusan Manajemen, Kena Label Nggak Masuk Akal, Mulai dari Sultan hingga Dicap Murahan Mojok.co

Derita Mahasiswa Jurusan Manajemen, Kena Label Nggak Masuk Akal, Mulai dari Sultan hingga Dicap Murahan

4 Juni 2026
Bahaya di Gamping Sleman- Ketika Anak Muda Pesimis Hidup (Unsplash)

Bahaya yang Saya Lihat di Gamping Sleman: Ketika Anak Muda Pesimis dengan Kondisi Ekonomi dan Lari ke Judol Sebagai Pelampiasan

1 Juni 2026
4 Hal yang Bakal Saya Rindukan setelah Lulus dari UM Malang kkn

UM BBM: Program KKN ala UM Malang yang Punya Banyak Celah dan Penuh Masalah!

7 Juni 2026
5 Rahasia yang Perlu Diketahui sebelum Membuka Warung Madura, Eksklusif dari Juragannya Langsung

Warung Madura Terlalu Percaya Diri, padahal Warung Tetangga Bisa Menggulingkannya Kapan Saja

6 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.