Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Emotional Eating: Menjadikan Makan sebagai Pelarian Stres Itu Tidak Baik

Bayu Kharisma Putra oleh Bayu Kharisma Putra
18 Februari 2021
A A
Emotional Eating yang Menjadikan Makan sebagai Pelarian Stres Itu Tidak Baik terminal mojok.co

Emotional Eating yang Menjadikan Makan sebagai Pelarian Stres Itu Tidak Baik terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Saya adalah orang yang cenderung susah bosan dengan makanan. Dari kecil sampai segede ini, hanya mi ayam dan es teh menu jajanan favorit saya. Separah-parahnya rasa mi ayam, tetap bisa masuk ke perut saya, dan keluar dengan sewajarnya. Pernah, dalam seminggu saya hanya makan mi ayam. Namun, perut saya tiba-tiba serasa dililit phyton, membuat saya sadar, boleh cinta, tapi nyruput sewajarnya dan secukupnya. Namun, saya tetap tak bisa menuduh mi ayamlah penyebab badan yang makin gemoy ini, ini salah yang jual. Mi ayam itu abadi, yang fana itu hubungan kamu. Setelah saya tahu ini ada hubungannya dengan emotional eating.

Saya pikir, saya orang yang tak mudah bosan dengan mi ayam. Tapi, ada hal yang akhirnya saya sadari. Seorang teman yang merupakan psikolog yang baru lulus, bercerita panjang lebar soal makan sebagai pelarian. Akhirnya, saya harus mengakui, saya sering mengalami emotional eating, dan mi ayam itulah yang sering jadi pelampiasan. Rupanya karena saking cintanya dengan mi ayam, sampai-sampai jadi pelampiasan. Sayangnya wagu rasanya jika penjual mi ayam yang saya salahkan. Intinya saya yang tambah gragas saat stres.

ADVERTISEMENT

Emotional eating adalah keadaan saat manusia menggunakan makanan sebagai sarana pelepas stres, bahkan saat tidak lapar.

Saat stres, tubuh dapat menurunkan nafsu makan akibat pelepasan hormon epinefrin. Tapi, saat stres dan uring-uringan berlangsung terus, tubuh melepaskan hormon kortisol, yang meningkatkan nafsu makan. Dan itu bahaya, kita tahu makan berlebihan itu gawat. Apalagi nggak lapar kok makan, ora ilok. Sudah pikiran mumet, eh masih ditambah badan yang nggak sehat. Pepatah “jiwa yang sehat, berasal dari tubuh yang kuat” jadi nggak guna.

Stres punya banyak pemicu, pekerjaan adalah salah satunya. Punya banyak kerjaan, kadang bikin kepala serasa kena sentil megazord, tapi nggak punya kerjaan lebih stres lagi, kepala serasa dikenyot ultraman. Emotional eating, atau para tetua menyebutnya “mbadogan”, kadang dianggap lumrah dan wajar. Saat seseorang sedih atau ada masalah, makan enak selalu jadi semacam obat.

Padahal itu hanya booster dopamin saja, alias masalah dan stres hilang untuk sementara, atau seolah-olah mak cling, hilang. Padahal, untuk mengobati stres, kita harus tahu dulu penyebab stres. Dan untuk tahu penyebab stres kita harus sadar bahwa kita sedang stres. Banyak yang nggak sadar, jika dirinya stres sehingga pikiran makin amburadul dan hati makin rapuh.

Stres juga tak serta merta muncul dari kesedihan. Jadi, mbak-mbak dan mas-mas, kalau sedang galau, patah hati, terjebak friendzone, digantungin, jangan buru-buru ngambil Indomie dan telur atau scroll gofood. Coba cari tahu dulu, ada hal lain yang bisa dilakukan tidak selain mengunyah dan mikirin makanan. Entah membaca, nonton Ikatan Cinta, nonton AoT, bisa juga ngaji online, atau melaksanakan Dasadarma dan 10 Program pokok PKK. Pokoknya, jangan langsung nyari makanan. Saya misalnya, kini saat stres, bukan mi ayam yang saya cari, tapi dzikir, karena saya lumayan saleh. Ehm.

Menurut teman saya itu, dan banyak pakar lain, terkadang menikmati kesedihan dan kegalauan juga penting, biar nggak jadi stres. Kata orang bijak “Rasakke, kapok!” eh, nggak gitu.

Baca Juga:

4 kesalahan pembeli saat menyantap cuanki yang membuat rasanya kurang nikmat 

Dosa pengusaha kuliner, pakai foto makanan hasil AI hingga pembeli merasa tertipu

Kadang, merasakan dan menyelenggarakan waktu untuk kesedihan dan kekecewaan itu perlu. Kalau mau nangis, nangis aja, ambyar yo pancen ambyar, terima saja. Jadi, jika kita bahagia, bahagia kita lebih afdol rasanya, lebih berharga. Belajarlah ilmu ikhlas dari Pak Haji, seperti Bang Fandi. Itu kata para ahli, karena sebenarnya susah juga menerapkan hal itu, abot sanggane.

Jadi, agar tak terjadi emotional eating atau pelarian lain yang nggak perlu, kita harus meminimalisir stres. Memang harus sadar dan tahu diri dulu, apa sih pemicu stres kita. Daripada nyari pengalihan, kan lebih baik mengalihkan diri dari stres. Ibarat kata, sedia Indomie sebelum lapar di tengah malam. Sebab tanpa kita sadari, makin bertambahnya umur, ternyata pemicu stres juga makin bertambah.

Menghindari stres itu sulit, tapi bisa dilakukan.

Yang terpenting, kita tahu kesehatan raga dan jiwa harus diusahakan, tentu dengan penuh kesadaran. Emotional eating, baiknya juga jangan dijadikan alasan gragasnya, kemaruknya kita. Tapi, boleh juga, untuk mengganti alasan “Besok mau diet, sekarang puas-puasin dulu”. Halah, pret!

BACA JUGA Lima Makanan Yang Perlu Dihindari Para Jomblo dan tulisan Bayu Kharisma Putra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 17 Februari 2021 oleh

Tags: KulinerPsikologistres
Bayu Kharisma Putra

Bayu Kharisma Putra

Hanya salah satu dari jutaan manusia yang kebetulan ditakdirkan lahir dan tumbuh di bentangan khatulistiwa ini. Masih setia memegang identitas sebagai Warga Negara Indonesia, menjalani hari-hari dengan segala dinamika.

ArtikelTerkait

Bertahun-tahun Merantau di Kediri Bikin Saya Sadar, Nggak Semua Orang Cocok Hidup di Daerah Ini Mojok.co surabaya

Bagi Mahasiswa Asal Surabaya yang Merantau ke Kediri, Catat 3 Hal Ini agar Kalian Tidak Menderita Selama (Setidaknya) 4 Tahun di Kota Ini

16 September 2024
Nasi Krawu, Makanan Khas Gresik yang Seringnya Dilupakan Orang

Nasi Krawu, Makanan Khas Gresik yang Seringnya Dilupakan Orang

8 Maret 2024
takut akan ketinggian

Takut Akan Ketinggian itu Mengganggu Aktivitas

3 Oktober 2019
3 Kuliner di Tegal yang Tak Biasa dan Wajib Dicoba Bagian 2 terminal mojok.co

3 Kuliner di Tegal yang Tak Biasa dan Wajib Dicoba Bagian 2

5 Januari 2022
8 Kuliner Legendaris di Solo yang Sering Disebut dan Beneran Enak  Mojok.co

8 Kuliner Legendaris di Solo yang Sering Disebut dan Beneran Enak 

28 Juni 2026
cabe sambal

Petualangan Pemula dalam Menikmati Sambal

19 Mei 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout Mojok.co

Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout

17 Juli 2026
Motor matic itu kutukan yang selalu rusak kalau saya punya uang (Unsplash)

Saya curiga, motor matic punya indra penciuman terhadap saldo rekening karena selalu rusak ketika saya punya uang

16 Juli 2026
Alasan orang tua tetap menyekolahkan anaknya di SD negeri di tengah pamor SD swasta yang kian moncer Mojok.co

Alasan orang tua tetap menyekolahkan anaknya di SD negeri di tengah pamor SD swasta yang kian moncer

20 Juli 2026
Sendang Senjoyo dulu jadi primadona, kini banyak orang nggak sudi buat ke sana!

Sendang Senjoyo dulu jadi primadona, kini banyak orang nggak sudi buat ke sana!

19 Juli 2026
Alasan buku fisik tidak akan lenyap hanya karena buku digital merajalela Mojok.co

Alasan buku fisik tidak akan lenyap hanya karena buku digital merajalela

15 Juli 2026
Kenapa orang Bali jarang liburan ke pantai? (Unsplash)

Kenapa orang Bali jarang liburan ke pantai, padahal tinggal deket pantai?

18 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.