Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Penyesalan Menyepelekan Petuah Rajin Menabung dari Ortu, padahal Kebiasaan Itu yang Menyelamatkan di Tengah Kondisi Ekonomi yang Bikin Cemas

Iqbal AR oleh Iqbal AR
13 Juni 2026
A A
Penyesalan Menyepelekan Petuah Rajin Menabung dari Ortu, padahal Kebiasaan Itu yang Jadi Penyelamat di Tengah Kondisi Ekonomi yang Bikin Cemas Mojok.co

Penyesalan Menyepelekan Petuah Rajin Menabung dari Ortu, padahal Kebiasaan Itu yang Jadi Penyelamat di Tengah Kondisi Ekonomi yang Bikin Cemas (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada satu petuah dari orang tua yang dari dahulu hingga sekarang masih menempel di kepala, yakni berhemat dan rajin menabung. Ketika saya dapat rezeki berupa uang, berapapun jumlahnya, orang tua saya selalu bilang, “Duite dihemat, ojo lali ditabung.”

Petuah atau imbauan orang tua saya untuk berhemat dan rajin menabung tentunya bukan tanpa alasan. Kita tahu bahwa berhemat dan menabung itu adalah semacam survival skill yang harus dimiliki oleh setiap manusia. 

Orang yang punya kemampuan untuk berhemat dan menabung tentunya akan bisa bertahan lebih lama ketimbang orang yang nggak punya keduanya. Orang tua saya tentunya pengin anaknya punya kemampuan itu.

Alasan selanjutnya, saya dan orang tua saya bukan berasal dari keluarga yang berada. Ayah saya berasal dari keluarga petani, dan ibu saya berasal dari keluarga pensiunan ABRI dengan pangkat menengah. Nggak ada yang dari keluarga kaya berlebihan. Lalu ayah saya kerjanya jadi hanya jadi pegawai hotel, dan ibu saya jadi ibu rumah tangga. 

Jadi, berhemat dan menabung benar-benar jadi kunci hidup keluarga saya.

Baca juga Bisnis Pengepul Minyak Jelantah: Ide Usaha yang Nggak Populer tapi Bisa Untung Jutaan per Bulan.

Petuah sejak saya kecil hingga sekarang

Dari sekian banyak petuah orang tua, berhemat dan rajin menabung ini boleh jadi petuah pertama dari orang tua yang bisa saya ingat. Boleh jadi pula petuah ini jadi yang pertama yang diberikan kepada saya. Sebab, sedari saya kecil, saya kayak nggak pernah absen mendengar petuah ini dari orang tua saya.

Ketika dulu saya masih dapat “salam tempel” Lebaran, atau ketika saya masih disangoni sama kakek-nenek, om-tante, atau teman kerja ayah, kalimat pertama yang keluar dari orang tua saya adalah uangnya dihemat. Jangan lupa ditabung. 

Baca Juga:

Pekerja dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan 

Fenomena “makan” tabungan yang ramai di medsos kini saya alami sendiri, betapa menyesakkan hidup di tengah ketidakpastian

Boleh dipakai jajan atau dipakai buat beli mainan, tapi jangan semuanya. Harus ada yang ditabung. Biar nanti kalau pengin beli apa-apa, nggak bingung uangnya dari mana.

Petuah untuk berhemat dan menabung ini ternyata nggak hanya muncul ketika saya masih kecil. Ketika saya sudah dewasa, sudah bisa cari uang sendiri, petuah untuk berhemat dan menabung masih saja keluar dari mulut orang tua saya. Tiap dapat uang dari fee menulis atau proyekan lain, orang tua saya selalu mengimbau agar uangnya ditabung.

ADVERTISEMENT

Petuah rajin menabung yang dulu kerap saya sepelekan

Sayangnya, petuah untuk berhemat dan rajin menabung ini kerap saya sepelekan. Apalagi waktu saya masih kecil, khususnya saat SD, petuah dari orang tua nyaris nggak pernah saya gubris. 

Pokoknya ketika saya dapat uang, ya harus dipakai buat jajan, main ke rental PS, atau buat beli mainan. Persetan dengan berhemat, persetan dengan menabung.

Waktu kecil saya memang malas menabung. Orang tua saya pernah membelikan saya celengan buat saya nabung. Saya hanya beberapa kali mengisinya, lalu nggak pernah saya isi lagi. 

Bahkan, ketika teman-teman SD saya pada nabung di sekolah (yang pakai buku tabungan itu), saya nggak ikut nabung. Sudah malas menabung, saya dulu juga boros pula. Pokoknya kalau dapat uang, pikiran saya langsung, “Buat beli apa, ya?” Nggak ada sama sekali pikiran buat menghemat uangnya, atau menabung uangnya.

Maka nggak heran kalau saya sering kena omel orang tua karena kelakuan saya yang boros dan malas menabung. Tapi, saya selalu beralasan, “kan ada ayah, kalau butuh apa-apa tinggal minta ayah.” 

Benar-benar anak nggak tahu diri memang. Sudah tahu keluarganya jauh dari kata kaya, malah boros dan malas menabung, ngomong kayak gitu pula.

Semuanya berubah ketika ayah meninggal dan perekonomian keluarga anjlok

Waktu berlalu dan saya jadi orang yang nggak terbiasa untuk menabung, meskipun sudah nggak terlalu boros lagi. Namun, tetap saja, kalau ada apa-apa, tinggal minta ayah. Kalaupun ayah belum punya uang buat membelikan sesuatu, ya tinggal tunggu ayah punya uangnya.

Lalu, semua itu berubah ketika saya kelas 3 SMP, ayah meninggal dunia. Hancur, runtuh semua dunia saya. Pun dengan dunia keluarga saya. Tembok kokoh yang selama ini saya pakai untuk bersandar, tiba-tiba hancur tak bersisa. Setelahnya, ekonomi keluarga anjlok, dan nggak ada lagi yang bisa saya jagakan. Nggak mungkin saya minta apa-apa ke ibu.

ADVERTISEMENT

Akibat peristiwa itu, saya mau nggak mau harus mengubah kebiasaan saya. Dan, kebiasaan yang sudah harus berubah adalah kebiasaan malas menabung. Saya harus mulai menabung, bahkan harus rajin menabung. Tentu saja nggak mudah, sebab sebelumnya saya nggak terbiasa dengan menabung. Tapi, mau nggak mau kebiasaan itu harus dimulai.

Baca juga Makanan Superindo Rp15 Ribuan Penolong Pekerja Miskin yang Kecewa akan Mahalnya Harga Warteg.

Menyesal mengapa nggak rajin menabung dan berhemat sejak dulu

Ternyata berhemat dan menabung itu nggak mudah. Godaannya banyak banget. Pengin beli ini, pengin beli itu. Belum lagi harga-harga kebutuhan makin naik, pendapatan malah nggak naik-naik. Tantangannya makin banyak. Makanya, sejak kelas 3 SMP sampai sekarang, saya masih kesusahan untuk rajin menabung. Bisa menabung, tapi makin hari makin susah aja rasanya.

Apalagi di masa sekarang, di bawah rezim busuk dan laknat yang perekonomiannya makin remuk ini, hidup jadi susah, nabung pun jadi makin susah. Apa yang mau ditabung? 

Lha wong gaji cuma lewat saja. Sudah keburu habis buat beli kebutuhan dan bayar tagihan. Orang yang dari kecil punya kebiasaan nabung aja mengaku kalau sekarang makin susah, apalagi saya yang baru mulai budaya nabung di tengah jalan. Ya dobel susahnya. 

Saya jadi sadar bahwa hidup hemat dan rajin menabung itu krusial banget. Melihat gimana berantakan dan freestyle-nya hidup saya sekarang, saya jadi ada perasaan menyesal mengapa nggak membiasakan hidup hemat dan rajin menabung dari dulu. 

Mengapa saya nggak manut sama petuah orang tua saya dulu. Hidup hemat dan rajin menabung itu berguna banget, apalagi di situasi hidup yang sekarang ini.

Andai saja saya dulu manut sama petuah orang tua saya untuk hidup hemat dan rajin menabung, mungkin hidup saya sekarang bakal lebih tertata. Mungkin akan tetap susah karena sekarang kita hidup di bawah rezim busuk dan laknat, tapi saya akan lebih paham gimana cara mengatur keuangan dan cara bertahan hidup lebih lama. Gitulah, pokoknya.

Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Strategi Nongkrong di Usia 40, Perlu Pertimbangkan Pilihan Tempat sampai Ritual Minum Obat.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Juni 2026 oleh

Tags: ekonomikondisi ekonomiMenabungrajin menabungskill bertahan hidup
Iqbal AR

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.

ArtikelTerkait

Harus Punya Tabungan Rp20 Juta di Usia 25 Tahun, Fresh Graduate UMR Jogja Cuma Bisa Nangis Mendengarnya Mojok.co

Harus Punya Tabungan Rp20 Juta di Usia 25 Tahun, Fresh Graduate UMR Jogja Cuma Bisa Nangis Mendengarnya

21 Mei 2024
ATM Setor Tunai Bikin Saya Rajin Nabung Terminal Mojok

Berkat ATM Setor Tunai Saya Jadi Rajin Menabung

1 Maret 2021
panduan memahami resesi ekonomi indonesia 2020 data bps pengumuman bps survei ketenagakerjaan kuartal III 2020 mojok.co

Panduan Memahami Resesi Ekonomi Indonesia yang Baru Diumumkan

5 November 2020
5 Hal yang Sering Ditutup-tutupi Soal Bank Syariah BSI

5 Hal yang Sering Ditutup-tutupi Soal Bank Syariah

19 Agustus 2022
Kelemahan Menabung Emas di Pegadaian yang Nggak Disadari Banyak Orang Mojok.co

Kelemahan Menabung Emas di Pegadaian yang Perlu Disadari Banyak Orang

12 Agustus 2024
Menakar Pentingnya Punya Dana Pensiun walau Masih Muda terminal mojok.co

Krisis Ekonomi Membayangi, Jangan Dengarkan Lagu-lagu Orba ‘Ayo Menabung’!

29 Mei 2020
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Memangnya kenapa kalau orang kabupaten minta gaji tinggi? Nggak boleh gitu mereka sejahtera?

Memangnya kenapa kalau orang kabupaten minta gaji tinggi? Nggak boleh gitu mereka sejahtera?

16 Agustus 2026
Pengalaman ikut trail run, olahraga yang dahulu saya anggap aneh, tapi akhirnya ketagihan juga Mojok.co

Pengalaman ikut trail run, olahraga yang dahulu saya anggap aneh, tapi akhirnya ketagihan juga

20 Agustus 2026
Tegalrejo, kecamatan uderrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita Mojok.co

Tegalrejo, kecamatan underrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita

20 Agustus 2026
5 hal berkesan selama jadi peneliti lapangan yang bikin saya bersyukur telah memilih pekerjaan ini (Mojok.co)

5 hal berkesan selama jadi peneliti lapangan yang bikin saya bersyukur telah memilih pekerjaan ini 

16 Agustus 2026
Nostalgia Stasiun Kabat Banyuwangi yang pernah berjaya pada masanya Mojok.co

Nostalgia Stasiun di Kecamatan Kabat Banyuwangi yang pernah berjaya pada masanya

19 Agustus 2026
Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju langsung dicap nakal (Unsplash)

Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju sedikit saja langsung dicap nakal

15 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.