Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Dugaan Polisi Salah Tangkap Pelaku Klitih: Kepada Siapa Kita Harus Percaya?

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
28 September 2022
A A
Dugaan Polisi Salah Tangkap Pelaku Klitih: Kepada Siapa Kita Harus Percaya?

Dugaan Polisi Salah Tangkap Pelaku Klitih: Kepada Siapa Kita Harus Percaya? (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Polisi salah tangkap pelaku klitih di Jogja. Kok bisa sih?

Anda masih ingat klitih? Jika iya, tentu Anda juga ingat kejadian klitih yang menewaskan Daffa Adzin Albasith di Gedongkuning. Tewasnya anak anggota DPRD Kebumen Madkhan Anis masih menyisakan proses hukum terhadap pelaku. Lima tersangka saat ini sedang menjalani proses pengadilan di Pengadilan Negeri Yogyakarta.

ADVERTISEMENT

Sayangnya, ada dugaan maladministrasi, kekerasan, hingga salah tangkap terhadap lima tersangka ini.

Sedikit ringkasan, pada Minggu (3/4/2022) dini hari Daffa mengalami penyerangan oleh orang tidak dikenal. Pelaku menggunakan gir motor yang diikat pada sabuk untuk menyerang korban. Secara singkat, rombongan pelaku membleyer (menarik tuas gas) yang dianggap mengejek oleh kelompok korban. Kelompok korban kemudian mengejar kelompok pelaku yang ternyata sudah menunggu di area Gedongkuning.

Dalam proses hukum, polisi menangkap lima terduga eksekutor. Salah satunya adalah Ryan Nanda Saputra. PBHI Jogja pun menjadi penasehat hukum dari Ryan. Arsiko Daniwidho Aldebarant menilai versi yang disampaikan pihak kepolisian adalah “cocoklogi” alias dikait-kaitkan. Pihak penasehat hukum tersangka ini menyampaikan bukti yang menunjukkan cocoklogi ini.

Bukti pertama adalah beberapa CCTV yang menunjukkan terduga pelaku berada di lokasi lain saat kejadian. Salah satunya CCTV di Hiswana Migas depan bekas STIE Kerjasama (kini menjadi lokasi Pasar Rakyat Gumregah). Dalam rekaman CCTV ini, terlihat jelas bahwa rombongan terduga pelaku klitih sedang berada di depan Hismawa Migas saat kejadian di Gedongkuning berlangsung.

Perkara barang bukti, penasehat hukum juga menemukan kejanggalan. Bukti gir motor KLX dan sabuk ini diperoleh dari salah satu bengkel yang dikenal terduga pelaku. Dan dipastikan bahwa gir serta sabuk ini bukan sebagai alat eksekusi korban.

Lha, terus kepiye? Persidangan sudah bergulir dan terduga pelaku saja belum jelas keterlibatannya. Memang benar, terduga pelaku ikut dalam perang sarung yang dibubarkan polisi sebelum kejadian. Namun, pelaku sendiri tidak berada di area Gedongkuning saat kejadian. Penasehat hukum sendiri menyatakan penangkapan pelaku pada awalnya untuk menjelaskan kejadian perang sarung ini.

Baca Juga:

Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

Kenapa orang Jogja malas wisata naik gunung ke Gunung Merapi?

Arsiko sendiri menyayangkan dugaan salah tangkap sendiri. Anggota PBHI ini memang melawan segala bentuk kejahatan jalanan termasuk klitih. Namun bagi Arsiko, keadilan juga harus ditegakkan. Jangan sampai ada salah tangkap dalam proses penanganan klitih. Dalam menangani kasus Ryan selaku tersangka, Arsiko sendiri bersedia karena keyakinan bahwa Ryan bukan pelaku. “Kalau benar pelaku klitih, yo aku wegah mas,” ujar Arsiko saat diskusi dengan saya via telepon.

Saya juga sepakat. Jangan sampai klitih menimbulkan dua korban: korban penyerangan dan korban salah tangkap.

Faisal, selaku ketua umum Serikat Buruh Semesta, juga sepakat dengan ini. Fenomena salah tangkap ini sangat berbahaya dan perlu mendapat perhatian dari warga Jogja. Karena ancaman klitih tidak hanya bacokan, tapi dituduh sebagai pelaku tanpa kejelasan. Bahaya klitih, jika fenomena salah tangkap ini sungguh terjadi, menjadi dua kali lipat.

Saya yakin kita semua benci dengan klitih. Kasus kejahatan jalanan yang khas Jogja ini bukan hal sepele. Ada nyawa orang yang ditumbalkan. Ada keamanan kita yang terusik. Siapa tho yang mau untuk pakai baju zirah saat keluar di waktu malam? Tentu kita merindukan Jogja yang adem ayem dan aman sentosa.

Tapi, jangan sampai kebencian membuat kita gelap mata. Jangan sampai muncul gerakan vigilante dalam melawan klitih. Dan lebih dari itu, jangan sampai hukum tidak tegak demi kepuasan kita dalam membenci klitih. Termasuk dalam insiden Gedongkuning ini.

Kosik tho, bukan berarti saya membela klitih. Tapi, kalau sampai ada salah tangkap, bukankah ini mencederai kepercayaan kita. Pelaku klitih juga makin merasa di atas angin. Merasa bisa bebas hukum karena sistem penanganan yang serampangan. Jika dugaan salah tangkap ini terbukti, lalu kemana lagi kita berlindung dari ancaman klitih?

Mas Daffa harus jadi korban terakhir klitih. Dan saya pikir, kami sebagai rakyat berhak menuntut: selesaikan klitih dengan serius. Tidak hanya menangkap pelaku, tapi juga melakukan tindakan preventif. Dan lebih dari itu, penanganan klitih harus dilakukan dengan mengedepankan keadilan. Jika keadilan saja tidak tegak, apakah klitih bisa musnah.

Duh Gusti, saya khawatir betul sekarang. Jangan sampai lahir gerakan vigilante karena keresahan masyarakat pada klitih yang tak kunjung usai. Sudah cukup Jogja disebut GTA lewat meme saja. Jangan sampai jadi kenyataan.

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Bicara Klitih di Yogyakarta dari Mantan Pelakunya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 28 September 2022 oleh

Tags: gedongkuningJogjaklitihpilihan redaksisalah tangkapvigilante
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

kenapa UMP Jogja rendah titik kemacetan di jogja lockdown rekomendasi cilok di Jogja Sebenarnya Tidak Romantis Jika Kamu Cuma Punya Gaji UMR dawuh dalem sabda pandita ratu tugu jogja monarki mojok

Jogja, Destinasi Wisata ‘Terbaik’ di Masa Pandemi

23 Desember 2020
10 Kuliner Khas Kampung Durian Runtuh dalam Serial Kartun Upin dan Ipin, Food Vlogger Harus Cobain!

10 Kuliner Khas Kampung Durian Runtuh dalam Serial Kartun Upin Ipin, Food Vlogger Harus Cobain!

17 Februari 2024
Sisi Gelap Alun-Alun Kidul Jogja yang Selama Ini Tidak Terdeteksi (Foto milik penulis)

Sisi Gelap Alun-Alun Kidul Jogja: Tumpukan Sampah di Tengah Ringin Kembar yang Luput dari Pandangan dan Merusak Estetika Tempat Wisata

9 Juni 2024
Sri Tanjung: Andalan Arek Jawa Timur yang Merantau di Jogja

Sri Tanjung: Andalan Arek Jawa Timur yang Merantau di Jogja

1 Juli 2022
Lampu Merah Simpang 5 UNY Samirono Jogja Nggak Guna, Lalu Lintasnya Masih Ruwet Mojok.co

Lampu Merah Simpang 5 UNY Samirono Jogja Nggak Guna, Lalu Lintasnya Masih Ruwet

9 Juli 2025
Perempatan Jetis, Perempatan Paling Berpendidikan di Jogja Sejak Masa Kolonial

Perempatan Jetis, Perempatan Paling Berpendidikan di Jogja Sejak Masa Kolonial

12 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ironi Puncak Pulek Cilacap: Ramai Dikunjungi karena Viral, padahal Area Privat

Ironi Puncak Pulek Cilacap: ramai dikunjungi karena viral, padahal area privat

15 Juli 2026
Kecewa pada teman yang tidak mengucapkan selamat ulang tahun, saya jadi belajar tidak berekspektasi pada manusia Mojok.co

Kecewa pada teman yang tidak mengucapkan selamat ulang tahun, saya jadi belajar tidak berekspektasi pada manusia 

16 Juli 2026
Nanas madu Pemalang sering diremehkan karena ukurannya, padahal inilah oleh-oleh yang paling layak dibawa pulang

Nanas madu Pemalang sering diremehkan karena ukurannya, padahal inilah oleh-oleh yang paling layak dibawa pulang

18 Juli 2026
Pengakuan orang Semarang, lidah Jawa saya menyerah pada kuliner Jakarta yang nggak bikin selera Mojok.co

Pengakuan orang Semarang, lidah Jawa saya menyerah pada kuliner Jakarta yang nggak bikin selera

19 Juli 2026
Membayangkan Jatinangor Tanpa Unpad, ITB, IPDN, dan Ikopin: Nggak Terkenal, Nggak Berkembang, Pokoknya Menyedihkan sumedang, bandung

Berhentilah menyebut Jatinangor sebagai Bandung coret, tolong hormati Sumedang

15 Juli 2026
Sendang Senjoyo dulu jadi primadona, kini banyak orang nggak sudi buat ke sana!

Sendang Senjoyo dulu jadi primadona, kini banyak orang nggak sudi buat ke sana!

19 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.