Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Dongeng Klasik Hansel dan Gretel: Pelajaran Sederhana tentang Jadi Orang Tua

Paula Gianita Primasari oleh Paula Gianita Primasari
9 Mei 2022
A A
Dongeng Klasik Hansel dan Gretel: Pelajaran Sederhana tentang Jadi Orang Tua Terminal Mojok.co

Dongeng Klasik Hansel dan Gretel: Pelajaran Sederhana tentang Jadi Orang Tua (Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Belajar, tak harus hanya dengan mengenyam bangku sekolah atau melahap setumpuk buku berbau akademis. Banyak pula pelajaran hidup yang bisa diambil dari cerita serta pengalaman orang lain. Bahkan, kisah yang bergulir lewat dongeng pun tak luput dari sumber yang bisa dijadikan pandangan hidup bagi pembacanya. Tak sedikit ajaran moral yang dapat dipetik dari sebuah dongeng, yang lekat dengan dunia anak, untuk diterapkan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Bukan hanya dongeng yang berasal dari tanah air, dongeng mancanegara pun tak jarang yang bisa dikulik dan dijadikan pelajaran. Salah satu cerita dongeng klasik yang relate dengan isu populer dan fenomena sosial masyarakat, khususnya di Indonesia, adalah kisah mengenai sepasang kakak dan adik bernama Hansel dan Gretel.

Hansel dan Gretel bertemu penyihir (Shutterstock.com)

Walaupun tak sepopuler kisah para putri Disney yang banyak dibuat dalam berbagai versi, cerita Hansel dan Gretel ini pun telah beberapa kali dibuat versi live action-nya. Salah satunya adalah film yang dirilis pada 2013 dan dibintangi oleh Jeremy Renner serta Gemma Arterton. Judul lengkap film bertema action horror tersebut adalah Hansel and Gretel: Witch Hunters. Sayangnya, versi Hansel dan Gretel yang sudah dewasa ini sedikit mencelakai naskah aslinya. Bukannya mengekspos kepiluan para bocah piatu, versi Hollywood ini justru mengedepankan aksi heroik dua saudara dalam memberantas sosok antagonis berupa penyihir.

ADVERTISEMENT

Versi yang lebih kelam pun hadir dengan tajuk Gretel and Hansel: A Grim Fairy Tale yang lebih mendekati dengan cerita orisinalnya. Jika film sebelumnya lebih ke arah action, versi terbaru dari cerita rakyat Jerman ini bergenre horror fantasy. Film besutan Osgood Perkins tersebut menyajikan teror dari imej penyihir yang mengerikan serta sinematografi yang menampilkan hutan dengan segala misterinya.

Bisa dikatakan, film versi Gretel dan Hansel kali ini mengandalkan visualisasi sebagai senjata untuk menghadirkan nuansa seram. Di sisi lain, cerita asli Hansel dan Gretel yang dibukukan oleh Grimm Bersaudara sesungguhnya sudah cukup kelam meskipun tanpa dukungan visual ala layar lebar. Dikenal sebagai cerita rakyat yang dituturkan untuk anak-anak, kisah kedua saudara tersebut nyatanya lebih cocok ditujukan untuk orang dewasa karena kengerian yang terkandung dalam setiap tulisannya. Menurut opini masyarakat pada umumnya, tokoh jahat pada kisah lama ini adalah si penyihir yang gemar memakan daging anak manusia. Namun, ada figur yang lebih jahat daripada si nenek sihir, yaitu ayah kandung dari kedua anak tokoh utama itu sendiri.

Hansel dan Gretel bertemu penyihir di rumah kue (Shutterstock.com)

Dikisahkan, Hansel dan Gretel adalah dua bersaudara yang sepanjang hari terlihat murung semenjak ditinggal mati oleh ibu kandung mereka. Berpikir praktis, ayahnya berinisiatif menikah lagi dengan pikiran bahwa kedua anaknya akan kembali ceria setelah mendapat ibu baru. Awal cerita saja sudah membuat kening berkerut. Bagaimana mungkin seorang ayah bisa mempunyai pemikiran sedangkal itu? Adalah omong kosong bila kehadiran ibu kandung mereka bisa digantikan dengan wanita lain yang bahkan di saat luka batin mereka belum benar-benar sembuh atas kehilangan orang terkasih. Di samping itu, semenjak masih ada ibunya pun, mereka hidup dalam kesederhanaan kalau tak boleh dibilang kemiskinan. Entah impulsif atau sang ayah menyimpan motif lain, menikah lagi jelas bukan solusi membahagiakan anak-anaknya yang tengah berduka.

Sebaliknya, mempersunting perempuan lain artinya si ayah akan mengemban tanggung jawab lebih karena menambah satu anggota lagi dalam keluarganya. Alih-alih membuat dua buah hatinya gembira, ia justru menjatuhkan mereka dalam bencana. Secara matematika sederhana saja, menghidupi tiga mulut yang tak lain dirinya sendiri dan kedua anaknya, ia masih bisa dikatakan belum mampu benar. Eh, lha, kok malah nambah satu mulut lagi untuk diberi makan. Tak ayal, menurut penutur Grimm Brothers, ketika musim panas tiba, ibu tiri mereka membujuk ayahnya untuk membawa Hansel dan Gretel ke dalam hutan dengan alasan persediaan makanan telah habis dan ia tak mau kelaparan. Ambigu memang. Entah mereka berencana mencari sumber makanan di hutan atau berpikir untuk mengeliminasi makhluk terlemah dalam lingkup keluarga agar tidak menghabiskan pasokan makanan.

Hal yang mengerikan di sini adalah ayah mereka tidak melakukan investigasi terhadap maksud perkataan istri barunya seolah ia setuju dan sadar akan makna tersirat dalam kalimat istrinya. Pun, ketika rencana awal tersebut gagal, esoknya kedua orang tua bocah malang tersebut mengulangi lagi modus yang sama untuk menyingkirkan Hansel dan Gretel. Ditambah lagi, ketika rencana pertama gagal, ayah mereka tidak ada inisiatif untuk mencari darah dagingnya yang jelas-jelas berada di belantara hutan. Artinya, tak sekelebat pun rasa sedih dan bersalah hinggap di hati sosok yang semestinya menjadi pelindung tersebut.

Hingga pada akhirnya, Hansel dan Gretel menemukan sebuah rumah kue yang tentunya sangat menarik hati anak-anak seperti mereka, apalagi jika berada dalam kondisi perut lapar. Padahal, itu adalah permulaan petaka bagi mereka karena pada akhirnya Hansel serta Gretel terjebak oleh penyihir dan akan dijadikan santapan. Bagian ini seperti analogi anak yang ditelantarkan dan menemukan kemewahan dari iming-iming pelaku kejahatan yang hendak memanfaatkan kemalangan anak kecil sebagai ladang uang mereka.

Baca Juga:

GTM pada anak, drama paling menguji kesabaran dan kreativitas orang tua

Pesan dari orang tua untuk sesama orang tua, stop paksa anak yang baru masuk SD jadi juara kelas

Rumah kue (Shutterstock.com)

Lalu, bagaimana dengan ayah keduanya? Dalam dongeng aslinya, tak diceritakan tentang perjuangan sosok ayah dalam mencari anaknya. Walaupun di penghujung cerita, mereka bertiga pada akhirnya dikumpulkan kembali. Tetapi itu pun atas perjuangan Hansel dan Gretel sendiri untuk lepas dari jerat penyihir. Sepertinya memang si ayah tak peduli pada nasib putra dan putrinya. Keterkejutan dan tangisan si ayah di ujung kisah bisa jadi sebenarnya adalah ungkapan kekagetan dan ketidaksukaannya untuk memikul kembali tanggung jawab atas hidup dua anaknya.

Moral dari cerita rakyat lawas ini sepertinya lebih pantas ditujukan bagi orang dewasa. Yang pertama yaitu untuk tidak menjadikan anak sebagai alasan kebahagiaan orang tua, salah satunya yakni dengan menikah lagi. Yang kedua, mempunyai anak sepaket dengan timbunan tanggung jawab yang sangat besar termasuk dalam hal finansial seiring dengan pertambahan usia mereka. Yang ketiga, seburuk apa pun perlakuan kita kepada anak yang masih polos, mereka akan selalu memaafkan dan mencari kita sebagai orang yang paling dicintainya. Oleh sebab itu, ada baiknya sebelum memutuskan mengarungi bahtera perkawinan, calon orang tua membekali diri dengan berbagai ilmu, termasuk ilmu parenting serta finansial.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Audian Laili

BACA JUGA 3 Tips Makan di Restoran All You Can Eat biar Nggak Rugi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 9 Mei 2022 oleh

Tags: Dongeng KlasikHansel dan GretelOrang Tua
Paula Gianita Primasari

Paula Gianita Primasari

ArtikelTerkait

4 Jenis Ujian Kesabaran untuk Pasutri yang Memutuskan Tinggal Beda Rumah dengan Orang Tua (Pixabay)

4 Jenis Ujian Kesabaran untuk Pasutri yang Memutuskan Tinggal Beda Rumah dengan Orang Tua

8 November 2022
orang tua

Cara Melawan Keinginan Orang Tua

9 Mei 2019
Menahan Sakit Melahirkan dan Rasa Rindu Setelahnya mojok.co/terminal

Menahan Sakit Melahirkan dan Rasa Rindu Setelahnya

11 Maret 2021
Orang Tua Menggugat Pihak Sekolah ke Meja Hijau, Akibat Sistem Pendidikan yang Kompetitif, pertanyaan di kelas

Orang Tua Menggugat Pihak Sekolah ke Meja Hijau, Akibat Sistem Pendidikan yang Kompetitif

31 Oktober 2019
Alasan Orang Tua Tidak Memasukkan UT sebagai Pilihan Kampus Anaknya

Alasan Orang Tua Tidak Memasukkan UT sebagai Pilihan Kampus Anaknya

13 April 2020
anak pancingan new normal mojok

Istilah Anak Pancingan Sebaiknya Nggak Perlu Digunakan Lagi

16 Juli 2021
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Awalnya Bangga Beli Honda Scoopy, Lama-lama Malu karena Sering Bermasalah, Motor dan Pemiliknya Jadi Kelihatan Payah Mojok.co lamongan

Sudah tahu jalan di Lamongan jelek, kok malah beli Honda Scoopy, aneh!

21 Agustus 2026
Bandung Kulon, kecamatan medioker Kota Bandung yang ternyata punya potensi besar Terminal

Bandung Kulon, kecamatan medioker Kota Bandung yang ternyata punya potensi besar

21 Agustus 2026
Tegalrejo, kecamatan uderrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita Mojok.co

Tegalrejo, kecamatan underrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita

20 Agustus 2026
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyepelekan mahasiswa Administrasi Pemerintahan bukti dia keliru memahami jurusan ini Mojok.co

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyepelekan mahasiswa Administrasi Pemerintahan bukti dia keliru memahami jurusan ini 

22 Agustus 2026
Kaza Mal Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi Mojok.co

Kaza Mall Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi

19 Agustus 2026
Tradisi lek-lekan di hajatan perkawinan diam-diam bikin biaya bengkak  Mojok.co

Tradisi lek-lekan di hajatan pernikahan diam-diam bikin biaya bengkak 

18 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.