Didi Kempot Adalah Bapak Kesehatan Mental Nasional

Featured

Aly Reza

Sekitar tiga tahun yang lalu, di daerah saya ada kasus lelaki yang nekat gantung diri lantaran ditinggal nikah oleh pacarnya setelah hampir lima tahun menjalin hubungan. Kasus ini hanya satu dari sekian deretan kasus bunuh dari karena patah hati yang pernah terjadi di Indonesia. Kalau Anda sedang gabut, coba ketik kalimat ini di Google: Bunuh diri karena patah hati. Maka akan muncul daftar panjang kasus-kasus tersebut dari tahun ke tahun.

Bagaimanapun, diblenjani (dihianati) dalam konteks asmara adalah satu keadaan yang menyakitkan. Maka nggak heran jika banyak yang memilih mengakhiri hidupnya ketimbang harus hidup dengan terus menahan perih yang tak berkesudahan. Saya juga pernah menjumpai kasus, salah satu kawan perempuan saya bahkan sempat menjadi gila dan terpaksa dikurung di rumah. Penyebabnya, seperti yang sudah Anda tebak; batal menikah padahal undangan sudah disebar ke mana-mana. Pernikahan terpaksa dibatalkan karena dari pihak lelaki kabarnya ketahuan main hati di belakang si calon istri.

Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Sederhana, terlalu banyak rasa sakit dan kecewa yang ditahan. Kebanyakan kita—jujur saja—pasti lebih memilih untuk pura-pura kelihatan tegar dan tatag, alih-alih menunjukkan tanda-tanda keambyaran, menangis misalnya. Kita terlalu gengsi buat mengakui kalau hati kita dalam keadaan yang remuk seremuk-remuknya. Atau mungkin juga karena takut dan malu bakal dicengin sama geng seperkopian. Dikatain sebagai seseorang yang cengeng dan lemah, lebih-lebih di lingkaran anak cowok.

Tapi tangis, sedih, kecewa, kalau nggak diluapin, efeknya bisa jadi stres dan depresi. Karena terlalu banyak beban dalam pikiran dan hati. Dan kondisi inilah yang kalau nggak bikin orang jadi gila, kemungkinan paling ngaudubillah ya gantung diri, kalau nggak menenggak racun tikus. Ibaratnya gini, orang patah hati ini kan sedang memangkul beban. Beban tersebut kalau didiemin (((nggak dikurangin satu-satu))) jadinya malah bikin kita yang ketindih, akhirnya mati.

Cara ngurangin beban tersebut salah satunya dengan jalan menangis. Siapa nyana, menangis yang sering kali dikonotasikan sebagai tindakan cengeng dan lemah, sebenarnya menyimpan manfaat bagi kesehatan mental dan akal waras kita. Mengutip dari Tirto, seorang dokter ahli saraf bernama Dr. Willam H. Frey menyebut, “Menangis adalah respons manusia terhadap kesedihan dan frustasi. Menangis adalah respons yang menyehatkan.”

Baca Juga:  Pesan Moral dari Film Akhir Kisah Cinta Si Doel: Jangan Cari pasangan yang Terlalu Baik

Tapi agaknya kita—masyarakat Indonesia atau sobat ambyar, sad boys, dan sad girls di belahan dunia mana pun—nampaknya nggak perlu njlimet memahami teori mengapa menangis bisa begitu menyembuhkan. Meski luka diputus pacar sudah sedemikan menganga seperti Kawah Candradimuka.

Adalah Didi Kempot, Sang Pendekar Campursari, Bapak Patah Hati Seluruh Umat, yang memberi pemahaman sederhana, bahwa sebagaimana kemenangan, kekalahan (((dalam kontestasi asmara))) pun sangat layak untuk dirayakan. Dan cara paling epic untuk merayakannya adalah dengan menangis masal, sambil tetap berjoget ritmis ke kiri dan ke kanan.

Di muka bumi ini, sepertinya hanya Didi Kempot yang mampu melakukannya; mengomandoi geromboloan manuisa yang hampir sekarat karena cinta untuk tetap melanjutkan hidup mereka. “Hidupmu jauh lebih berharga dari seseorang yang telah tega menciderai kesetiaan dan pengorbanan kekasihnya sendiri!”

Nggak usah pakai teori ndakik-ndakik, Pak Dhe Didi langsung mengajak kita untuk langsung praktik, betapa menangis adalah jalan ninja untuk merdeka. Merdeka dari kenangan bersama mantan, merdeka dari kekecewaan, dan merdeka dari sakit hati yang berkepanjangan.

Lewat tembang-tembangnya, pria bernama asli Dionisius Prasetyo tersebut juga mengampanyekan kepada kita semua, agar nggak usah gengsi dan malu-malu lagi buat menangis. Seolah menegaskan, menangis itu bukan perkara laknat. Menangis itu bukan tanda cengeng, rapuh, dan lemah. Menangis justru menunjukkan bahwa kita adalah manusia yang dilengkapi dengan jalinan rasa, termasuk di dalamnya adalah duka lara.

Secara nggak langsung, Lord Didi juga mengajak kita sama-sama bersyukur atas karunia bernama air mata, yang bisa kita tumpahkan sewaktu-waktu. Hla saiki bayangke wae, umpama kowe ora isa nangis? Dikira ora manungsa mestine.

Di atas panggung, blio menghempaskan jauh-jauh stigma minor soal seseorang yang menangis. Khususnya bagi para sad boys.“Lhossskeeee wae luuurrr,” demikian tagline yang selalu mengiringi di tiap konsernya. Ya, lhoske wae, tumpahkan segala kecewamu, jeritkan setiap laramu. Sepulang konser nanti, biar hanya kelegaan yang tersisa.

Baca Juga:  Selamat Kamu Tidak Juara Kelas, Dik!

Suatu kali, selepas konser Didi Kempot beberapa bulan yang lalu di Kota Blora, saya sempat mendatangi teman saya yang sedang ambyar-ambyarnya diputusin pacar. “Bar konser rasane payee?” tanya saya. “Hari ini dia boleh jadi milik orang lain. Tapi lihat saja suatu saat nanti, dia pasti jadi milikku kembali. Tak enteni rondoneee!!!” jawabnya dengan sorot mata kemenangan. Ah, seandainya bukan karena Lord Didi, mungkinkah teman saya ini bakal berani mikir sejauh itu? Salah-salah bisa gantung diri di hutan jati.

Jika dalam beberapa tahun terakhir sejak tembang-tembang Didi Kempot kembali mengudara terjadi penurunan drastis terhadap angka bunuh diri karena patah hati di Indonesia, nggak bisa lain, itu pastilah berkat peran penting Sang Juru Bicara Kesedihan tersebut.

Lord Didi memang sudah terlalu gagah dengan jubah kebesarannya sebagai The Godfather of Broken Hearth. Tapi kalau boleh saya usul, ada satu gelar lagi yang ingin saya berikan kepada blio; Bapak Kesehatan Mental Nasional. Pengahargaan tersebut sangat layak dia sandang. Sumbangsihnya dalam dunia psikologi—meskipun nggak secara langsung—tetap patut diapresiasi.

Nggak ada yang menghendekai Didi Kempot pergi secepat ini. Nggak ada yang menyangka, dan tentu lebih banyak lagi yang nggak rela. Tapi percayalah, Tuhan—barangkali—tengah membutuhkan tenaga Pak Dhe Didi untuk menangani arwah-arwah orang mati bunuh diri oleh sebab patah hati di akhirat sana. Kalau memang demikian, silakan Tuhan, awak dewe lilo.

BACA JUGA Selamat Jalan, Didi Kempot, Bapak Patah Hati Kami dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
12


Komentar

Comments are closed.