Mengukur Tingkat Kepercayaan Diri Melalui Aplikasi Zoom

Artikel

Avatar

Jadi begini, semua berawal dari kekosongan hakiki kaum pencinta rebahan seperti saya namun menolak untuk dilihat tidak produktif ketika melakukan karantina mandiri di masa pandemi.

Hitung-hitung bisa dijadikan modal screenshot untuk dijadikan status Whatshapp, akhirnya saya mengikuti sejumlah diskusi online yang diadakan secara cuma-cuma oleh berbagai komunitas yang tersebar di sosial media.

Dari perspektif psikologi, hukum, ekonomi, politik, sosial budaya sampai kesehatan semua sudah saya masuki demi membuat otak saya sedikit bekerja keras di masa pandemi ini.

Apalagi status saya yang masih menyandang mahasiswa fresh graduate seperti ini, paling tidak sisa-sisa semangat menyalahkan dan mencurigai pemerintah masih terbilang ada-lah untuk sekedar nimbrung diskusi. Hehehe…

Berbicara soal diskusi online yang mengharuskan kita untuk menggunakan sebuah aplikasi khusus untuk melakukan video conference, membuat saya harus mengunduh sebuah aplikasi yang tengah familiar di tengah netizen +62 yang maha benar itu ketika wabah Covid-19 menyerang , yakni aplikasi Zoom.

Menurut data yang dikeluarkan oleh Statqo Analitycs per maret 2020 menunjukkan bahwa Zoom merupakan aplikasi yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia, di mana angkanya mencapai 257.853 pengguna. Angka ini mengungguli aplikasi Skype yang berada di posisi kedua dengan 17.115 pengguna saja. Jauh bukan?

Meskipun pada akhirnya jagat dunia maya sempat dihebohkan dengan kelakuan hacker internasional yang berhasil meraup keuntungan dari para pengguna aplikasi yang dirancang di negara Trump tersebut, namun dengan fitur pendukung yang mudah digunakan, Zoom masih mempunyai tempat khusus di hati para warganet +62.

Sebagai sebuah aplikasi yang dapat melakukan panggilan berbentuk video conference, Zoom dapat digunakan lebih dari sepuluh orang dalam waktu sekali panggil. Sehingga mempermudah para penggunanya untuk berdiskusi.

Dalam fitur layanan yang diberikan aplikasi ini memberikan keleluasaan para penggunanya untuk memilih menampilkan video dirinya dan tidak. Sehingga penggunanya dapat memutuskan dengan leluasa untuk dapat dilihat oleh lawan bicara atau tidak.

Baca Juga:  Menghargai Waktu dan Menyikapi Kata OTW Saat Membuat Janji

Dari pengalaman saya, meskipun ini bukan kali pertama saya terlibat dalam komunikasi dalam bentuk video, namun harus diakui bahwa nyatanya saya tetap menahan tawa sepersekian detik ketika melihat wajah saya sendiri terpampang nyata di depan layar.

Jujur saja ada rasa malu dan sedikit rasa tidak percaya diri ketika melihat wajah sendiri. Padahal tidak ada bedanya dengan ketika saya melihat cermin. Tapi bagaimana pun melalui Zoom ini tetap terasa berbeda karena ada juga orang lain yang melihat saya.

Memastikan kondisi muka untuk tetap nyaman dilihat oleh lawan bicara adalah sesuatu yang penting bagi saya pribadi. Karena di posisi seperti ini kita tidak bisa ngeles untuk melakukan hal yang lain di mana membuat lawan bicara tidak terfokus pada wajah kita.

Ketika ada momen seperti itu, mulai dari jerawat, komedo, bentuk alis, bentuk hidung, bibir, mata semua akan nampak sangat jelas. Hingga terkadang membuat tidak percaya diri tampil di depan kamera.

Selanjutnya selain menahan tawa melihat wajah sendiri, saya juga menahan tawa karena melihat wajah teman-teman saya yang ternyata lucu-lucu juga kalau dilihat di layar. Ya, benar mana yang tampan dan cantik asli tidak dapat lagi dipalsukan. Heheh…

Adapun hal yang paling membuat saya tidak percaya diri selanjutnya adalah melakukan eye contact dengan lawan jenis. Meskipun komunikasi kita dihubungkan oleh sebuah medium dan tidak menatap langsung, tapi kalau mata ketemu mata lebih dari lima detik itu, aduh yang bergetar tetap saja hati. Heheh..

Dari sini saya menyadari sebuah hal baru bahwa sebagai manusia kita memang tidak akan benar-benar menjadi diri sendiri selama ada orang lain yang memerhatikan kita meskipun melalui medium khusus sekalipun.

Baca Juga:  Bagaimana Zoom Meeting Menguras Energi Kita

Memastikan wajah nyaman untuk dipandang, baju yang rapi, kondisi kamar dan ruang tamu yang tidak berantakan adalah sejumlah manipulasi yang harus dilakukan untuk tetap mendapatkan kesan terbaik.

Selain mengukur tingkat kepercayaan diri, efek samping dari penggunaan aplikasi seperti Zoom juga dapat menggantikan kehadiran ruang sosial nyata saya yang telah terenggut. Buktinya ya itu tadi, saya tetap harus memastikan lawan bicara saya nyaman memandang dan berbincang-bincang dengan saya. Tidak ada bedanya dengan dunia nyata semuanya harus serba terencana dan terukur Guys.

Lebih dari itu efek samping yang paling saya suka selanjutnya adalah informasi dan pengetahuan saya bertambah karena diskusi-diskusi online gratisan itu. Saya sangat berterima kasih pada teman-teman komunitas yang telah menginisiasi diskusi tersebut dan diperuntukkan bagi siapa pun dan di mana pun.

Hingga akhirnya saya tersadar bahwa saya tidak sendiri melewati ini semua. Kehadiran teman lama atau pun teman baru di diskusi yang pernah saya ikuti menandakan bahwa sebenarnya ada orang lain juga yang merasakan bosan yang sama karena terlalu lama tinggal di rumah. Namun bagaimana pun negara tengah membutuhkan kerja sama kita di kondisi seperti ini.

Pada akhirnya rasa bosan itu pasti dan manusiawi, namun dengan siapa dan bagaimana mengatasinya adalah sebuah pilihan yang keputusannya berada di tangan kita masing-masing.

BACA JUGA Fenomena Zumping, Diputusin Online via Zoom karena Sedang Physical Distancing atau tulisan Ona Mariani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
8


Komentar

Comments are closed.