Fenomena Zumping, Diputusin Online via Zoom karena Sedang Physical Distancing – Terminal Mojok

Fenomena Zumping, Diputusin Online via Zoom karena Sedang Physical Distancing

Artikel

Ketika imbauan untuk jaga jarak bahkan lockdown diberlakukan orang ramai memanfatkan teknologi untuk saling terhubung. Belakangan aplikasi Zoom banyak dipakai untuk melakukan video call sebagai pengganti pertemuan secara langsung. Banyak orang merasa tertolong dengan aplikasi buatan Amerika Serikat ini karena mulai dari urusan kerja, menyapa teman hingga pacar, semua bisa dilakukan via Zoom.

Sampai bosan rasanya melihat aktivitas Zoom dari netizen yang di-capture lalu unggah di media sosial. Salah satu yang viral karena lain daripada yang lain adalah kisah Mbak Julia Moser pemilik akun @juliamoserrrr di Twitter, jurnalis BuzzFeed. Mbaknya curhat diputus pacar via Zoom. “Am I the first person who’s been dumped via zoom?” (Apakah aku orang pertama yang diputuskan lewat Zoom?)

Kok ya pas physical distancing malah hubungan percintaan itu kandas, capek ati dua kali euy, mau merayu-rayu biar mantan berubah pikiran gitu juga susah kan. Ibarat nastar yang adonannya kurang kalis dan tidak dioles kuning telur di permukaannya sebelum dipanggang. Hasilnya selain retak-retak juga ambyar, lalu dimakan sendiri, nggak jadi buat kue lebaran.

Tentu saja Mbak Julia adalah nastar yang terpuruk itu. Diputus via Zoom dan nggak bisa berbuat apa-apa. Apalagi momen “ati cidro kelara-lara” seharusnya menjadi melankolia yang perlu dihayati bersama teman dan handai taulan, mbaknya ini malah harus menghadapinya sendirian karena sedang pandemi, curhat ke adiknya pun hanya bisa via FaceTime tanpa bisa ketemu langsung buat tangis-tangisan.

Baca Juga:  3 Cara Menjadi Penggiat Teori Konspirasi

Selain putus via Zoom ini kekinian sekali, makanya viral di Twitter, curhat setelah patah hati adalah kewajaran untuk mendapat dukungan dari pihak lain dan niscaya pasti ramai tanggapan jika mengunggahnya di media sosial karena relatable dengan pengalaman (hampir) semua orang.

Banyak alasan kenapa momen patah hati memerlukan dukungan dari orang lain sehingga curhat di medsos menjadi perilaku yang wajar, di antaranya:

#1 Punya pacar sudah menjadi kebiasaan

Melakukan aktivitas dan kebiasaan yang disukai itu menyenangkan, saat kesenangan terpaksa berhenti wajar jika merasa sakit dan patah hati. Penelitian menunjukkan bahwa ketika jatuh cinta, pusat kecanduan pada otak akan aktif, ini adalah pusat yang sama ketika seseorang kecanduan heroin atau kokain. Putus cinta juga membuat seseorang merindukan kenangan manis saat bersama pacar.

#2 Menganggap cinta berjalan selamanya tapi ternyata hanya sementara

Ada harapan yang kandas di sini. Harus disadari bahwa jatuh cinta punya tempo karena itu akan ada jatuh tempo. Saat jatuh cinta banyak harapan tumbuh seperti menikah atau sekadar punya teman berbagi yang lebih intim daripada teman. Harapan inilah yang akhirnya menimbulkan rasa kecewa dan sakit hati saat putus cinta.

#3 Cinta membuat seseorang menjadi tidak realistis

Cinta itu soal perasaan. Membuat seseorang mengabaikan kenyataan yang sebenarnya sedang dihadapi. Jadi ketika perasaan cinta itu hilang seseorang tiba-tiba bisa melihat segala sesuatunya lebih realistis. Inilah yang menimbulkan kekecewaan.

Baca Juga:  Bagi Beberapa Orang Indonesia, Tidak Tergolong Makan Jika Belum Menyantap Nasi

Curhatan Mbak Julia yang diputus via Zoom dan harus menghadapi beratnya patah hati sendirian karena physical distancing diceritakan kembali oleh The Guardian, dari sanalah istilah “zumping” mulai dipakai pertama kali, gabungan antara nama aplikasi Zoom dan “dumping” yang artinya diputus.

***

Putus cinta lewat perantara bukanlah hal baru. Jaman baheula nenek moyang kita pakai media surat, pacaran bisa surat-suratan, putus pun demikian. Setelah ada teknologi telepon mulai bisa langsung ngobrol saat memutus pacar. Kemudian era SMS, lebih singkat dan menguntungkan untuk ghosting, sampai-sampai ada artis yang menjadi istri simpanan diceraikan via SMS. Bahkan di masa kini ada yang lewat Facebook, seperti salah satu cuitan yang menanggapi curhatan Mbak Julia, bercerita diceraikan mantannya via Facebook.

Cerai via Facebook lebih ngenes ketimbang putus cinta lewat Zoom yang sebenarnya meski nyesek, tapi nggak malu-malu amat. Karena pakai jalur pribadi—seperti halnya WhatsApp—jadi nggak jauh beda dengan surat atau telepon dan SMS. Beda ceritanya, jika lewat media sosial, kata pisah diucap lewat postingan status Facebook atau di kolom komentar, duh! Makanya Mbak Julia merasa terhibur setelah tahu ada yang lebih ngenes ini, hahaha.

Seandainya Anda juga mengikuti thread putus via Zoom Mbak Julia, saya akan ceritakan bahwa di negara +62 ada cara yang lebih dahsyat untuk memberinya penghiburan: putus via baliho! Terjadi di Semarang pada Juli 2019, seorang pria mengakhiri hubungan percintaan dengan kekasihnya karena diselingkuhi lewat baliho besar lengkap dengan foto sang pacar dipasang di pinggir jalan.

Baca Juga:  Daftar Kegiatan Setya Novanto jika Jadi Dibebaskan Berkat Revisi PP 99/2012

Jika putus cinta via baliho itu membuat saya tepok jidat, membaca kisah putus cinta Mbak Julia yang kemudian menjadi kosakata baru ini membuat tercenung sejenak.

Sepertinya kita sekarang sudah mulai beranjak ke cara hidup yang baru, penggunaan teknologi bahkan memasuki ruang pribadi seseorang, dipakai untuk membicarakan segala urusan termasuk percintaan, peruntukannya menjadi tanpa batas.

Tapi seperti halnya work from home, it’s time for the new normal. Setelah ada pandemi corona memang kita dipaksa memaknai ulang kata normal di keseharian.

BACA JUGA Makna Baru ‘Ok Sip’ di Chat WA Terungkap di Persidangan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dan tulisan Aminah Sri Prabasari lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.