Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Culture Shock Orang Surabaya Meski Sudah 4 Tahun di Jogja

Taufik oleh Taufik
11 Agustus 2022
A A
Culture Shock Orang Surabaya Meski Sudah Menetap di Jogja (Unsplash.com)

Culture Shock Orang Surabaya Meski Sudah Menetap di Jogja (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Per Mei 2022 yang lalu, saya sudah genap empat tahun mukim di Jogja. Rasanya, bisa menghabiskan tahun-tahun tersebut di daerah yang istimewa ini adalah sebuah kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri. Terlebih, sebelumnya, ketika masih tinggal di Surabaya, mendapatkan KTP Jogja adalah sebuah cita-cita agung.

Namun di sisi lain, sebagai pendatang, tentu saya punya sejuta hal yang menjadi pertanyaan penting, “Di sini ternyata begini to?” Maksud saya, sebagai orang yang sudah sering mengunjungi banyak kota sejak kuliah, rasanya memahami culture shock setelah tinggal beberapa waktu lamanya di suatu daerah itu bikin saya sendiri juga kaget.

Nah, pindah ke Jogja dari Surabaya (bahkan setelah sekian lama), ada beberapa hal yang membuat saya mengalami culture shock berikut ini.

#1 Bahasa

Rasanya, bicara dengan mode “cak-cok” khas Suroboyoan itu adalah sesuatu hal yang mantap sekali. Saya menganggap orang Jawa pada umumnya juga melakukan hal ini. Anggapan ini saya bawa ke mana saja bahkan setelah pindah ke Jogja.

Walau tidak se-cak-cok Surabaya, di Jogja dan beberapa daerah lain di sekitarnya toh mengenal diksi “kotor” ini. Hanya saja, cak-cok versi Suroboyo itu selalu dianggap lebih kasar.

Dan itu, rupa-rupanya juga melekat dalam segi bahasa Jawa secara keseluruhan. Bahasa Jawa Surabaya dan Jogja itu punya hal yang cukup berbeda. Dan itu menjadi culture shock yang cukup bikin kepala saya pening.

Satu ketika misalnya, saya ditanya teman perihal pekerjaan kantor. Oleh karena redaksional pertanyaan yang berbahasa Jawa, ya saya jawab pake bahasa Jawa juga dong. Gila kali udah tinggal di Jawa (Surabaya) selama sewindu, masih tidak bisa bahasa Jawa. Namun ternyata jawaban saya justru bikin si teman bingung. “Wes mari,” yang dalam bahasa Jawa Surabaya berarti sudah selesai, di Jogja diartikan berbeda, yakni “sudah sembuh.” Mumet nggak, kon?”

Belum lagi tutur “halus” kebanyakan orang-orang Jogja yang jarang sekali saya temukan di Surabaya di waktu-waktu lalu. Maksudnya, saya cukup khawatir dengan culture ini. Saya takut bahwa suatu ketika, bahasa keras khas Surabaya yang sudah melekat dalam lidah saya suatu waktu luntur begitu saja. Kan ya saya juga yang repot.

Baca Juga:

Setahun Hidup di Jogja Bikin Saya Rindu Jalan Berlubang di Bekasi

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

#2 Makanan

Sampai empat tahun lebih di Jogja, ada beberapa jenis makanan yang bikin saya shock ketika memesannya (udah tahu bakal shock malah dipesan, orang Indonesia banget ini mah). Saya membandingkan nasi goreng khas Surabaya dan Jogja dan menemukan “keunikan” berikut ini.

Di Surabaya, nasi goreng biasanya dimasak cukup kering. Maksudnya, nasi goreng Suroboyoan itu tidak cukup berair dan sedikit berwarna pink (kebanyakan saus). Bandingkan dengan nasi goreng di Jogja yang berwarna cokelat sampai agak hitam sebagai akibat “kebanyakan” kecap, dengan tekstur yang cukup berair. Ini saja sudah cukup bikin saya pening, karena tidak terbiasa makan nasi goreng dengan mode “jemek” ini.

Jika di Surabaya, nasi goreng biasanya tidak dicampur potongan cabai di dalamnya dan hanya diberi cabai utuh, nasi goreng khas Jogja biasanya bercampur dengan cabai yang sudah dipotong-potong. Sebagai manusia yang tidak terbiasa dengan makanan pedas, kebiasaan penjual nasi goreng ini cukup membuat saya jengkel.

Selain nasi goreng, ada beberapa makanan di Jogja yang membuat lidah saya shock ketika mencicipinya. Nasi kucing misalnya, adalah jenis nasi dengan porsi yang tidak bisa saya toleransi. Di Surabaya saya terbiasa dengan makanan yang porsi kuli. Lalu di sini, makan seporsi makanan yang walau harganya juga menyesuaikan, tetap saja bikin perut saya meronta-ronta untuk nambah lagi dan lagi. Ada juga makanan yang (masih) mengusung tema “jemek” lainnya, misalnya gudeg.

#3 Kondisi Jalanan

Saya pernah membahas perbandingan kondisi jalanan di Jogja, Surabaya, dan Wakatobi. Layaknya daerah yang metropolis atau menjelang metropolis sekaligus wisata, jalanan Jogja bersolek sana-sini. Tentu saja hal yang sama ada di Surabaya. Jalanan di Surabaya dilebarkan, dilengkapi rambunya dan penataan lainnya. Sayangnya, untuk kedua hal ini saya masih menganggap kedua daerah punya tujuan yang tidak jangka panjang. Jadi mungkin tidak menimbulkan culture shock yang besar. Yang cukup berbeda mungkin ukuran jalanan di Jogja yang tidak sebesar (sebagian) jalanan di Surabaya.

Lalu apa masalahnya jika jalanan sempit seperti di Jogja? Saya yang terbiasa meliuk-liuk dengan motor saat berkendara di Surabaya, tidak menemukan kesenangan itu di Jogja. Jalanan sempit Jogja selalu membuat saya was-was kalo mau salip sana-sini. Dengan perhitungan-perhitungan cukup matang untuk menyalip atau menerobos lampu merah misalnya, kadang saya kaget bahwa ternyata perhitungan itu justru salah.

Belum lagi kondisi pengendara di Jogja yang kadang begitu sungkannya untuk sekadar membunyikan klakson, padahal misal seinci-dua inci lagi terjadi tabrakan atau kecelakaan lainnya. Saya yang terbiasa membunyikan klakson sekaligus mengumpat ketika kecelakaan mengawe-awe di depan mata ketika di Surabaya, jadi sedikit menahan diri. Dan itu tentu saja bikin hati saya tenang sekaligus shock.

Kadang pengin sekali saya teriak ke orang yang nggak berani klakson itu begini, “Klakson itu dibikin untuk dipencet biar bunyi dan memberi isyarat, kenapa nggak dipake? Takut rusak atau gimana?”

Tentu saja masih banyak culture shock yang saya alami ketika pindah ke Jogja dari Surabaya. Tapi kayaknya tiga ini saja sudah cukup.

Penulis: Taufik

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA 5 Kuliner Surabaya yang Terancam Punah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2022 oleh

Tags: gudegJogjaklaksonnasi gorengSurabaya
Taufik

Taufik

Ide adalah ledakan!

ArtikelTerkait

Lapangan Kodam V Brawijaya, Lapangan Militer yang Disulap Jadi Pasar Malam di Surabaya

Lapangan Kodam V Brawijaya, Lapangan Militer yang Disulap Jadi Pasar Malam di Surabaya

5 Februari 2024
Wacana Parkir Bus di Giwangan Jogja Nggak Masuk Akal (Unsplash)

Wacana Bus Parkir Abu Bakar Ali Pindah ke Terminal Giwangan itu Cuma Nyusahin Wisatawan di Jogja dan Bikin Malioboro Nggak Eksis Lagi

13 September 2025
Unesa Ketintang Punya 4 Aturan Tak Tertulis, Awas Dikucilkan! (Unsplash)

4 Aturan Tidak Tertulis di Unesa Ketintang yang Sebaiknya Nggak Disepelekan karena Bisa Membuat Kalian Dikucilkan

25 Mei 2024
Jogja Katanya Romantis, tapi kok Kisah Cinta Saya Kandas Melulu?

Jogja Katanya Romantis, tapi kok Kisah Cinta Saya Kandas Melulu?

3 Agustus 2022
Hal yang Saya Rasakan Tinggal di Kota Surabaya: Wilayah Terpanas di Indonesia terminal mojok.co

Hal yang Saya Rasakan Tinggal di Kota Surabaya: Wilayah Terpanas di Indonesia

21 September 2021
Gejayan Jogja dan Gejayan Magelang: Namanya Sama, tapi Nasibnya Jauh Berbeda  Mojok.co

Gejayan Jogja dan Gejayan Magelang: Namanya Sama, tapi Nasibnya Jauh Berbeda 

4 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik Mojok.co

4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik

7 Februari 2026
4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan (Unsplash)

4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan

4 Februari 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

Tips Hemat Ngopi di Point Coffee, biar Bisa Beli Rumah kayak Kata Netijen

3 Februari 2026
Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026
5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi

6 Februari 2026
Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Lawson Slamet Riyadi Solo dan Sekutu Kopi: Jadi Tempat Ngopi, Jeda selepas Lari, dan Ruang Berbincang Hangat
  • Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan & Vita Rilis Video Klip “Rayuanmu” yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!
  • Nasi Bekal Ibu untuk Saya yang Balik ke Perantauan adalah Makanan Paling Nikmat sekaligus Menguras Air Mata
  • Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 
  • Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba
  • Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.