Cocoklogi: Adakah Relevansi Golongan Darah dengan Perilaku Tertentu Manusia?

Sebuah akun Instagram yang lagi hype di kawula muda, sering mengunggah gambar yang berisi informasi cocoklogi antara golongan darah dengan sifat seseorang.

Artikel

Avatar

Ilmu cocoklogi di zaman kekinian memang semakin kondang. Belum lagi rasa keingintahuan socio homonicus zaman now. Kurang komplit rasanya jika kita-kita yang serba melibatkan media sosial ini tidak menyebutkan Instagram sebagai media daring bagi wadah kepo-kepo—setelah Mbah Google.

Ya namanya manusia yang haus rasa ingin tahu, namun bekal untuk memenuhi kekepoannya masih minim, jadilah para manusia instan menggali informasi tercepat dan terpraktis melalui Instagram. Mengapa saya katakan Instagram lebih cepat dan praktis? Karena dalam mengelolanya, dengan memencet logo kaca pembesar alias kolom explore di Instagram, kita semua dapat mencari beragam informasi dari seluruh dunia.

Salah satu yang sering muncul adalah akun Instagram dunia remaja yang berisi seputar pernak-pernik ala ABG. Sebagai contoh, informasi yang berisi tentang ilmu cocoklogi antara golongan darah dan sifat-sifat manusia. Akun seperti ini akan menarik perhatian dan kekepoan (wabilkhusus ABG yang lagi pedekate, atau punya pacar), sebab kita dapat memprediksi sifat seseorang hanya dengan informasi umum seputar golongan darah.

Namun yang saya herankan, apakah informasi semacam ini memilki kerelevansian terhadap pengalaman-pengalaman faktual? Sebuah akun Instagram yang lagi hype di kawula muda, sering mengunggah gambar yang berisi informasi cocoklogi antara golongan darah dengan sifat seseorang. Jelas, informasi itu mengedarkan cocoklogi para netizen dengan dirinya sendiri dan juga mantan, gebetan, selingkuhan,serta dosen orang-orang terdekatnya.

Pengalaman ini saya alami sendiri ketika saya berselancar di kolom explore Instagram. Sebuah akun seputar dunia remaja yang lagi hype di kalangan teman-teman, dan bahkan bagi kakak saya sendiri. Akun tersebut sering mengunggah gambar yang berisi informasi seputar golongan darah beserta sifat-sifatnya. Di bawah ini adalah kutipan dari akun tersebut:

Golongan darah A

Orang yang bergolongan darah A adalah sosok yang introvert, malu untuk memperlihatkan emosi dan perasaan. Mereka perfeksionis, namun mereka juga sosok yang setia terhadap orang-orang terdekatnya. Namun mereka ini adalah sosok yang keras kepala. (Nah lho!)

Golongan darah B

Orang yang bergolongan darah B adalah sosok yang sangat percaya diri dan juga sosok yang individualis. Mereka kreatif, optimis, dan pecinta binatang. Namun mereka adalah sosok yang egois.

Golongan darah O

Orang yang bergolongan darah O adalah orang yang sangat percaya diri, mudah berteman dengan siapa saja, dan mereka sosok yang ambisius. Mereka adalah orang yang takut mengambil resiko. Namun dalam beberapa waktu, orang dengan golongan darah O akan menonjol dalam sebuah forum diskusi.

Golongan darah AB 

Orang yang bergolongan darah AB adalah orang yang terlahir untuk menjadi sosok yang pintar atau bahkan jenius. Sama seperti golongan darah A, mereka juga cenderung introvert. Mereka suka menyendiri, namun kritis dalam menyikapi sebuah hal. Mereka dengan golongan darah AB seringkali kebingungan dalam mengambil keputusan.

Baca Juga:  Menyanyikan Maesaroh: Cara Jitu Untuk Menyuruh Anak Pulang Kampung

 

Dari nukilan informasi di atas, saya menyoroti klasifikasi kedua yaitu pada golongan darah B karena saya memiliki bloodtype ini. Golongan darah yang saya turuni dari Ibu saya itu, (dalam artikel ini) dapat menjadikan saya sosok yang penuh optimisme, percaya diri, pecinta binatang, kreatif, dan (terlebih) sosok individualis.

Pada dasarnya, saya berada dalam sebuah dilema. Dilema ini dikarenakan antara cocoklogi pada diri saya dengan informasi tersebut. Beberapa karakter memang ada pada diri saya seperti, pecinta binatang, dan kreatif (sepertinya ini penilaian subjektif saya, my lov hehe). Selebihnya sifat-sifat itu sepertinya tidak ada pada saya, padahal saya adalah orang dengan tipe darah B.

Pertama, tentang pernyataan goldar B adalah sosok yang optimis. Saya seringkali merasakan rasa pesimistik, terlebih ketika harus berhadapan dengan berulang kali kegagalan (malah saya rada curcol ya ini?). Ya dalam hidup memang kita akan dihadapkan dengan kegagalan. Lha karena di informasi tersebut sosok bergoldar B termasuk orang yang optimis, saya rasa, informasi tersebut kurang relevan oleh saya pribadi.

Saya pernah bikin kalimat berkonotasi sambat pada sebuah artikel saya yang dimuat dalam terminal mojok ini. Itu bisa meliputi kalimat satire yang saya tulis sekaligus saya tujukan bagi diri saya sendiri (agar lekas termotivasi kembali). Sulitnya jadi saya, warganet yang hobi sambat dan serba pesimis, berkat unggahan akun hype tersebut saya jadi mengevaluasi diri. Benarkah saya sebenarnya adalah orang yang optimis?

Kedua, pernyataan tentang orang dengan goldar B adalah sosok yang individualis. Kalau saya pikir-pikir, pernyataan itu bertentangan dengan saya yang suka nggrumbul sana nggrumbul sini. Terserah dah mau nggrumbul di mana asal tidak ada unsur mudharatnya buat saya. hehe Tapi terkadang saya juga pengen sendiri. Contohnya ketika sedang berada dalam masa kedatangan tamu bulanan. Saya tidak ingin menjelma jadi singa saat orang lain menjenakai saya.

Ketiga, pernyataan tentang orang dengan goldar B adalah sosok yang sangat percaya diri. Begini MyLuv contoh kecilnya, ketika seorang wanita dihadapkan dengan musuhnya—jerawat, bisa jadi membuatnya yang tadinya berada pada sikap penuh percaya diri, seketika merasa jadi wanita terjelek seantero bumi! Dan itulah yang saya rasakan. Lalu dengan membaca informasi itu, saya jadi kembali mengintropeksi diri? Apakah sebenarnya saya bisa sangat percaya diri?

Itu satu masalah kecil yang berhubungan dengan jerawat. Masalah lain yang dapat menyiutkan kepercayaan diri saya yaitu, ketika saya berhadapan dengan seseorang yang setengah mati bahan pembicaraannya sangat intelek dan meroket dhuwur. Dibanding saya yang sekelas netizen remah rengginang, saya jadi meragukan diri saya sendiri. Apakah saya mampu mengikuti arah pembicaraannya yang serba dhuwur itu?

Baca Juga:  Sebagian Orang Indonesia yang Seringkali Mengaitkan Segala Sesuatunya dengan Hal Mistis

Keempat, tentang pernyataan bahwa seseorang dengan goldar B adalah sosok yang egois. Tunggu dulu, Bambang! Bukan berarti saya membela diri, tapi sebelumnya saya ingin bertanya pada sobat-sobat online saya. Apakah perasaan sungkan yang tuman pada diri saya ini dapat dikategorikan egois (meskipun egois pada diri saya sendiri)? Atau sebenarnya yang dimaksud egois adalah egois pada diri saya sendiri? Jika iya, memang benar adanya.

Dan masih banyak lagi versi artikel seputar cocoklogi antara golongan darah dan sifat atau perilaku seseorang. Namun dalam hal ini kita perlu mengotakkan beberapa aspek yang terkategori dalam faktor internal dan eksternal dari perilaku manusia. Anggap lah golongan darah termasuk dalam faktor internal; yakni genetik atau bawaan sejak lahir dan turunan.

Lalu bagaimana dengan faktor eksternal dari perilaku manusia? Manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan interaksi sesamanya, tentu dalam keterlibatan interaksi sosialnya, perilaku-perilaku bawaan bisa saja berubah seiring dengan berjalannya waktu. Salah satu contoh faktor eksternal yang paling krusial (bagi saya) adalah lingkungan.

Kita tentu kenal peribahasa berteman dengan tukang minyak wangi kita akan ikut wangi, berteman dengan tukang sampah, kita bisa ikut bau sampah. Singkatnya, perilaku kita dapat dipengaruhi oleh bagaimana lingkup pergaulan kita. Meskipun seseorang terlahir dari ayah dan ibu yang pendiam, kemungkinan jadi pecicilan bisa saja muncul jika pertemannya dalam lingkup orang yang pecicilan.

Kita juga tahu, salah satu tujuan belajar adalah untuk memperbaiki perilaku. Maka dengan seluruh pengalaman (yang merupakan guru terbaik bagi diri kita), seseorang dapat mengubah kebiasaan atau perilaku buruknya meskipun adanya perubahan tersebut terjadi secara bertahap. Namun pada dasarnya sifat atau perilaku seseorang bisa memiliki peluang untuk berubah, tidak melulu berpatokan dengan faktor genetik saja.

Jadi, sebenarnya apakah cocoklogi antara golongan darah dan perilaku manusia itu terdapat relevansi bagi diri kita? (*)

 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.

---
421 kali dilihat

7

Komentar

Comments are closed.