Tes Ishihara tidak ada ubahnya membunuh mimpi manusia dengan cara yang paling konyol
Selama ini saya kira buta warna itu cuma soal tidak bisa membedakan merah dan hijau. Hal yang terasa sepele, bahkan sering tidak disadari dalam kehidupan sehari-hari. Sampai akhirnya saya melihat sendiri bagaimana satu kondisi itu cukup untuk menutup satu pilihan. Adik saya gagal masuk jurusan kelistrikan karena dinyatakan mengalami buta warna parsial. Cerita ini sebenarnya sederhana, bahkan terlalu sering terjadi untuk dianggap luar biasa. Tapi justru dari situ, ada satu hal yang terasa janggal: keputusan sebesar itu ditentukan oleh sesuatu yang sangat kecil.
Semua drama ini bermuara pada satu musuh besar: Tes Ishihara. Tes yang isinya kumpulan titik warna yang menyembunyikan angka. Kalau mata kamu bisa menangkap angka di balik titik-titik itu, kamu dianggap “layak” jadi manusia produktif. Kalau tidak? Ya sudah, game over. Di situlah semuanya ditentukan—lulus atau tidak, layak atau tidak, boleh atau tidak. Padahal, bagi kami yang spektrum matanya sedikit berbeda, tes ini bukan sekadar tes kesehatan, tapi algojo yang siap memenggal cita-cita dalam hitungan detik.
Pertanyaannya sederhana: apa hubungannya kemampuan seseorang dengan profesi yang dia pilih, dengan kemampuannya membaca angka samar di antara titik-titik warna?
Apa relevansinya?
Kalau ini soal pekerjaan yang benar-benar bergantung pada warna secara presisi, argumennya masih bisa diterima. Tapi apakah semua yang masuk jurusan tersebut akan berakhir di posisi itu? Apakah seluruh proses belajar di sana sepenuhnya bergantung pada kemampuan melihat warna dalam format seperti itu? Atau jangan-jangan, kita hanya sedang memakai satu alat ukur yang sama untuk semua orang, tanpa benar-benar peduli apakah alat itu relevan atau tidak?
Masalahnya bukan pada tesnya, tapi pada cara sistem kita memperlakukannya. Tes seperti Ishihara awalnya dibuat untuk mendeteksi kondisi penglihatan, bukan untuk menjadi penentu mutlak masa depan seseorang. Tapi dalam praktiknya, tes ini sering dipakai seperti gerbang mutlak: sekali gagal, selesai. Seakan tidak ada ruang untuk penerimaan lagi.
Bayangkan, adik saya yang mungkin sudah khatam soal arus AC/DC dan paham skema rangkaian listrik, harus pulang dengan tangan hampa cuma karena matanya gagal mengenali angka “74” di balik tumpukan warna yang mirip tumpahan sambal kacang. Apakah kabel listrik di lapangan dibuat dalam bentuk titik-titik samar seperti tes itu? Tentu tidak. Kabel itu nyata, punya label, punya tekstur, dan punya posisi. Tapi birokrasi pendidikan kita tampaknya terlalu malas untuk membuat penilaian yang lebih kontekstual dan manusiawi.
BACA JUGA: Tes Buta Warna: Cara, Biaya, dan Mengapa Perlu Dilakukan?
Kita tidak bertanya apa pun tentang ini
Dan yang lebih aneh, kita jarang mempertanyakan itu. Padahal ini bukan cuma soal kelistrikan. Banyak bidang lain yang menerapkan hal yang sama, bahkan yang tidak selalu membutuhkan ketepatan warna seperti yang dibayangkan. Semua diminta ikut tes Ishihara, padahal jurusannya nggak ada urusannya dengan warna. Maksudnya, untuk apa anak Sastra diminta ikut tes seperti itu?
Dari sini dampaknya mulai terasa. Banyak orang bukan benar-benar gagal karena bodoh, mereka hanya dipaksa berbelok karena matanya nggak cocok sama “standar” yang kaku. Banyak mimpi yang gagal karena tes Ishihara, yang mungkin tak relevan, atau bahkan tak logis digunakan.
Di titik ini, rasanya wajar kalau muncul pertanyaan: apakah memang tidak ada cara lain? Apakah kemampuan seseorang harus selalu diukur dari pola titik-titik warna seperti itu?
Mimpi terkubur karena tes Ishihara
Sebenarnya, opsinya bukan tidak ada. Penilaian bisa dibuat lebih kontekstual, disesuaikan dengan kebutuhan bidangnya. Bisa lewat simulasi langsung, bisa dengan alat bantu digital yang sudah sangat masif di tahun 2026 ini, atau setidaknya ada tahap lanjutan sebelum keputusan benar-benar ditutup.
Karena yang dibutuhkan dunia kerja sebenarnya bukan sekadar kemampuan melihat warna, tapi kemampuan bekerja, memahami risiko, dan beradaptasi. Dan itu semua tidak selalu bisa diwakili oleh satu lembar gambar berisi titik-titik peninggalan zaman dulu.
Masalahnya, sistem kita sering memilih cara paling mudah: menyederhanakan sesuatu yang kompleks menjadi hitam-putih. Lulus atau tidak, boleh atau tidak. Padahal manusia tidak pernah sesederhana itu. Banyak orang mungkin tidak lolos bukan karena tidak mampu secara intelegensi, tapi karena tidak cocok dengan cara sistem mengukurnya. Dan itu dua hal yang berbeda, tapi sering diperlakukan sama oleh para pengambil kebijakan yang kurang piknik soal isu inklusivitas.
Yang hilang bukan cuma satu pilihan bagi adik saya, tapi banyak rencana anak bangsa yang akhirnya disesuaikan, bukan diwujudkan. Selama tes Ishihara ini masih dianggap cukup untuk menentukan segalanya tanpa ada ruang debat, maka cerita seperti ini akan terus berulang. Kita kehilangan banyak talenta hanya karena kita malas menggunakan sesuatu yang lebih terukur, dan memilih menyederhanakan semuanya.
Penulis: Riko Prihandoyo
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja: Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















