Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja: Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega

Muhammad Iqbal Habiburrohim oleh Muhammad Iqbal Habiburrohim
14 Agustus 2024
A A
Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja : Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega

Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja : Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Menurut studi yang dilakukan oleh Rumah Sakit Pusat Mata Nasional Cicendo pada tahun 2017-2021, prevalensi buta warna parsial di Indonesia adalah sebesar 10% dari keseluruhan populasi. Artinya, dari setiap 100 orang yang kita temui, 10 orang di antaranya adalah penderita buta warna parsial.

Dengan prevalensi tersebut, saya sebagai penderita buta warna parsial masih merasa dianggap “tidak normal” di dunia kerja. Memang benar sih, buta warna parsial adalah penyakit keturunan yang membuat penderitanya punya kepekaan yang lebih lemah terhadap warna-warna tertentu. Kekurangan tersebut membuat para penderitanya begitu terpinggirkan di dunia kerja, bahkan jarang sekali mendapatkan kesempatan.

ADVERTISEMENT

Tentu saya nggak menyangkal terdapat beberapa pekerjaan yang memerlukan kepekaan begitu tajam terhadap warna. Masalahnya adalah, banyak sekali perusahaan yang sebenarnya nggak butuh-butuh amat kemampuan tersebut, tapi tetap memberikan persyaratan tidak buta warna untuk para kandidat. Sudah lah sekarang kandidat di atas 25 tahun makin sulit mendapat pekerjaan, ditambah orang-orang seperti kami yang menderita penyakit ini mendapat sentimen buruk. Makin nelangsa saja rasanya.

Persyaratan yang nggak substansial

Persyaratan sehat jasmani dan rohani tentu menjadi syarat umum yang dicantumkan pada lowongan pekerjaan. Masalahnya, penderita buta warna begitu sulit untuk lolos rekrutmen terutama pada tahapan tes kesehatan karena kebanyakan perusahaan mencantumkan tes buta warna sebagai syarat.

Kalau pekerjaan yang memiliki risiko tinggi seperti tambang atau kelistrikan mungkin wajar lah memberikan tes tersebut. Atau pekerjaan yang berkutat dengan katalog warna seperti desain atau fashion. Tapi, saya nggak sekali dua kali harus rela dicoret saat tahapan tes kesehatan karena kekurangan yang saya miliki ini, padahal pekerjaannya tidak butuh keahlian yang berhubungan dengan warna.

Menurut saya, persyaratan tidak buta warna pada beberapa kasus menjadi nggak substansial. Contohnya pada kasus saya, jobdesc pekerjaan yang ditawarkan sama sekali nggak mengharuskan kita membedakan palette warna dengan perbedaan yang begitu tipis. Kebanyakan pekerjaannya di depan komputer dan menggunakan aplikasi-aplikasi biasa, yang lagi-lagi, tidak ada hubungannya dengan warna.

Persyaratan buta warna menjadi nggak relevan karena banyak pekerjaan yang sebenarnya nggak membutuhkan kompetensi tersebut. Namun, asumsi liar sepertinya sudah terlanjur menyebar. Nggak sedikit orang awam yang menganggap kami sama sekali nggak bisa melihat warna. Seakan-akan kami penderita buta warna begitu inkompeten dan menjadi nggak bisa melihat apa-apa.

Demi Tuhan, penderita warna itu masih bisa lihat warna. Warna dunia yang kami lihat nggak cuma hitam dan putih.

Baca Juga:

Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout

Pekerjaan Apa pun Itu, Dekat dengan Kematian, dan Kita Tidak Perlu Menambah dengan Risiko yang Tak Perlu

Jangankan dapat kesempatan kerja, dilirik saja nggak

Penolakan demi penolakan yang saya alami membuat saya memutar otak. Daripada saya harus meluangkan waktu, tenaga, dan ongkos untuk proses rekrutmen sampai tes kesehatan, saya pun memilih berterus terang sejak awal kepada HRD saat proses wawancara. Tentu saya berharap bisa diberikan kesempatan setelah bisa menjelaskan bahwa sebenarnya penderita buta warna parsial masih punya kompetensi yang sama dengan orang normal lainnya.

Lagi-lagi, kenyataan ternyata nggak seindah harapan. Jangankan diberikan kesempatan, raut wajah yang berubah dan pertanyaan skeptis lah yang justru saya dapatkan dari para HRD. Sambil menunjuk sebuah benda, pertanyaan template pun muncul “Kalau ini warnanya apa?”

Tai lah.

Ya, tentu saya bisa menjawab dengan mudah karena untuk warna yang terlihat sehari-hari nggak ada kesulitan untuk membedakannya. Meski begitu, rasa skeptisme yang terlanjur tinggi mengalahkan itu semua. Ujungnya, nggak ada panggilan lanjutan juga dari perusahaan. Ya, sisi positifnya, saya jadi nggak berharap diterima kerja yang akhirnya zonk karena sudah sampai pada tahapan tes kesehatan, hehehe.

Persepsi buruk dari kolega gara-gara buta warna

Setelah banyak mimpi terkubur karena menjadi penderita buta warna, ya saya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bisa bekerja. Tentunya setelah banyak lamaran berujung penolakan. Meskipun belum settle dengan titel pegawai tetap, setidaknya masih ada tempat yang mau menampung orang-orang seperti kami.

Perjuangan nggak sampai di situ. Kolega yang sebagian besar masih belum familiar dengan penyakit ini sudah menunggu dengan persepsi buruk di dalam kepala mereka. Saya pun harus meluruskan kepada banyak orang bahwa buta warna tentu berbeda dengan nggak bisa melihat warna sama sekali.

Awalnya, sama seperti para HRD, teman kerja pun tentu cukup sungkan untuk berbagi pekerjaan dengan saya. Terlebih kami bergerak di industri survei, pemetaan, dan perencanaan tata ruang. Pasti lah kami bertemu dengan banyak warna. Pemikiran bahwa saya akan kesulitan membedakan warna tentu sering dirasakan. Contohnya jobdesc layouting peta awalnya diberikan pada kolega lain.

Perlu waktu sampai mereka benar-benar yakin bahwa saya memang nggak ada masalah dengan membedakan warna. Toh, warna yang saya temui juga nggak “semirip itu” dari segi spektrum warnanya. Akhirnya, mereka pun paham dan mengerti bahwa penyakit ini sebenarnya nggak “menyeramkan” sebagaimana persepsi orang awam lainnya. Bahkan, banyak kolega yang berkata, “Ternyata kamu bisa-bisa saja membedakan warna”. Ya memang dari dulu bisa, kalian saja yang denial!

Buta warna tetap bisa perform

Kalau ditanya, “Apakah tetap bisa perform di dunia kerja?”. Ya, jawabannya tentu bisa. Bahkan, di beberapa negara Asia Tenggara,  pendidikan kedokteran nggak memerlukan tes buta warna. Hanya Indonesia yang nggak memperbolehkan penderita buta warna mendaftar pendidikan kedokteran.

Hal tersebut menunjukkan betapa nelangsanya penderita buta warna di Indonesia. Sejak bangku perkuliahan, kami harus memilih jurusan yang nggak mencantumkan persyaratan tersebut. Eh, setelah lulus, persyaratan buta warna justru makin ketat, bahkan untuk pekerjaan yang sebenarnya nggak begitu membutuhkan kompetensi membedakan warna.

Menurut saya, sudah saatnya penderita buta warna parsial punya kesempatan lebih besar. Buktinya, saya sendiri tetap bisa bekerja dengan baik dan perform di dunia pekerjaan. Saya sama sekali nggak terganggu dan tetap bisa membedakan warna primer dengan cukup baik.

Setidaknya mbok ya diberikan kesempatan dulu untuk menjalani tes bekerja agar mengetahui apakah buta warna yang dialami berdampak besar pada proses bekerja. Kalau skeptis terus, lalu kami yang punya penyakit ini bagaimana? Sampai kapan 10% dari populasi Indonesia harus terlempar sana-sini di dunia kerja hanya karena ketakutan kalian semua?

Penulis: Muhammad Iqbal Habiburrohim
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Tes Buta Warna: Cara, Biaya, dan Mengapa Perlu Dilakukan?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 Agustus 2024 oleh

Tags: buta warnadunia kerjaHRDjob descriptionpekerjaan
Muhammad Iqbal Habiburrohim

Muhammad Iqbal Habiburrohim

Seorang lokal Yogyakarta yang menjalani hidup dengan rute yang dinamis. Berpindah dari satu koordinat ke koordinat lain demi tuntutan profesi, sembari merawat kewarasan dengan menumpahkan segala keluh kesah ke dalam barisan kata.

ArtikelTerkait

Ormawa Lebih Tepat Jadi Tempat Melatih Kesabaran daripada Berorganisasi. Terlalu Banyak Masalah! Mojok.co

Ormawa Sepi Peminat, Mahasiswa Gen Z Lebih Pilih Magang dan Side Job, Salah Siapa?

2 Maret 2026
Alasan Kantor Pemerintahan Adalah Tempat Magang Terbaik bagi Mahasiswa yang Ingin Coba Dunia Kerja Mojok.co

Alasan Kantor Pemerintahan Adalah Tempat Magang Terbaik bagi Mahasiswa yang Ingin Coba Dunia Kerja

14 Agustus 2025
Penjilat Atasan Adalah Borok dalam Dunia Kerja yang Bikin Pekerja Keras Tersingkir dan Menderita Mojok.co

Penjilat Atasan Adalah Borok dalam Kantor yang Bikin Pekerja Lain Tersingkir dan Menderita

21 Mei 2026
35 Shortcut Microsoft Excel dan Fungsinya yang Paling Dibutuhkan dalam Dunia Kerja

35 Shortcut Microsoft Excel dan Fungsinya yang Paling Dibutuhkan dalam Dunia Kerja

14 November 2023
Pengalaman Jadi Maskot: Walau Malu dan Gerah tapi Bikin Bahagia terminal mojok.co

Pengalaman Jadi Maskot: Walau Malu dan Gerah tapi Bikin Bahagia

9 Oktober 2020
3 Hal yang Sebaiknya Jangan Diunggah di LinkedIn kalau Tidak Ingin Menyesal Mojok.co

3 Hal yang Sebaiknya Jangan Diunggah di LinkedIn kalau Tidak Ingin Menyesal

30 Maret 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kebodohan konsumen Indomaret yang merusak kenyamanan belanja (Unsplash)

Akulah pelanggan Indomaret yang resah itu gara-gara konsumen nggak ada akhlak yang merusak kenyamanan belanja

17 Juli 2026
Kenapa orang Jogja malas wisata naik gunung ke Gunung Merapi? (Unsplash)

Kenapa orang Jogja malas wisata naik gunung ke Gunung Merapi?

20 Juli 2026
Alasan buku fisik tidak akan lenyap hanya karena buku digital merajalela Mojok.co

Alasan buku fisik tidak akan lenyap hanya karena buku digital merajalela

15 Juli 2026
Perpustakaan Kota Pekalongan berbenah, akhirnya ada ruang publik yang bikin betah Mojok

Perpustakaan Kota Pekalongan berbenah, akhirnya ada ruang publik yang bikin betah 

21 Juli 2026
Rezeki memang tak melulu soal uang, tapi senang juga rasanya kalau dapat duit bertubi-tubi Mojok.co

Rezeki memang tak melulu soal uang, tapi senang juga rasanya kalau dapat duit bertubi-tubi

18 Juli 2026
Alasan orang Semarang seperti saya menghindari nonton di bioskop XXI, lebih memilih Cinepolis walau kalah populer Mojok.co

Alasan orang Semarang seperti saya menghindari nonton di bioskop XXI, lebih memilih Cinepolis walau kalah populer

19 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.