Cerita Ketika Bepergian: Berangkat Terasa Lebih Lama, Pulang Terasa Lebih Cepat

Artikel

Seto Wicaksono

Bepergian, mau ke mana pun destinasinya, sekarang sudah lebih banyak opsi dalam memilih kendaraan apa yang akan ditumpangi—entah kendaraan pribadi atau transportasi umum. Pilihannya pun beragam dan semakin nyaman, melalui jalur darat, laut, juga udara. Semua tergantung kebutuhan atau keinginan. Sebab, tidak semua orang mau sekaligus mampu untuk bermewah-mewah dalam memilih transportasi ketika melancong ke suatu tempat.

Hal itu bukan masalah yang besar, mengingat banyak orang kini lebih menyukai bepergian secara backpacker, apa adanya dan sederhana, juga tidak perlu sibuk membawa banyak barang bawaan. Tidak perlu bermewah-mewah ketika jalan-jalan, yang penting merasa senang dan tiba ke tempat tujuan dengan aman tanpa mengesampingkan keselamatan diri.

Mau sesederhana apa pun ketika jalan-jalan, sedikit apa pun barang dibawa saat bepergian, yang masih menjadi misteri adalah sewaktu pulang entah kenapa tas selalu terasa lebih berat. Padahal barang yang dibawa sama banyaknya seperti saat berangkat. Ada yang bilang, katanya sih karena pada saat pulang, baju dan kelengkapan lain tidak ditata secara rapi dan teratur. Sehingga barang bawaan menumpuk—tak jarang kelebihan kapasitas. Belum lagi kalau membawa oleh-oleh.

Kemudian dalam proses perjalanan menuju suatu tempat, yang masih menjadi hal menyebalkan lain adalah perasaan ketika berangkat perjalanan akan terasa lebih lama dibanding perjalanan pulang, padahal jarak yang ditempuh sama. Ditambah melewati jalan yang sama pula. Jadi, apa yang membuat perjalanan pergi atau berangkat terasa lebih lama dibanding perjalanan pulang—khususnya ketika bepergian ke tempat baru?

Dari sudut pandang saya dan setelah mengalami kejadian ini berulang kali—ketika bepergian ke tempat baru—hal tersebut tidak terlepas dari karena kita belum familiar dengan suasana jalanan yang ditempuh, juga belum bisa memperkirakan dengan tepat waktu tiba di tempat tujuan. Memang, google maps dapat memberi estimasi waktu, tapi kembali lagi, jika tempat tujuan baru kali pertama dikunjungi, semuanya belum terasa familiar.

Baca Juga:  Jogja Berkata: Rene-Rene Sambat!!!

Jika pergi ke tempat yang biasa dikunjungi kita akan segera mengetahui sebentar lagi sampai mana dan setelahnya beberapa menit lagi sampai, tentu sensasinya berbeda ketika pergi ke tempat baru. Setelah ini kondisi jalan seperti apa, bagaimana situasi juga keadannya, dan lain sebagainya.

Meskipun begitu, untuk menikmati perjalanan yang terasa lama ketika bepergian—khususnya saat berangkat—salah satunya dapat diatasi dengan cara mengobrol dengan teman dalam perjalanan. Biasanya, perjalanan akan terasa lebih singkat ketika satu dengan yang lain membuka topik obrolan. Selain itu, mendengarkan musik atau radio pun dapat menjadi pilihan. Setidaknya, tidak hanya diam begitu saja. Cari cara untuk menikmati perjalanan.

Hal tersebut juga berguna ketika ingin menuju ke suatu tempat dan di luar dugaan terjebak macet. Dengan mengobrol, mendengarkan musik sekaligus bernyanyi, permasalahan dan jenuh saat berkendara atau selama di perjalanan akan teratasi sendirinya. Dengan catatan, semua akan berjalan dengan baik ketika bersama dengan orang yang tepat dan menyenangkan menurut masing-masing individu. Hehe

Coba bayangkan, jika kita sudah menjadi orang yang semenyenangkan mungkin dalam menghadapi macet juga perjalanan jauh, tapi lawan bicara kita adalah orang yang sukanya misuh sekaligus sambat dalam waktu bersamaan, perjalanan malah menjadi kurang menyenangkan bahkan menjengkelkan. Niatnya mau membuat suasana nyaman dan menyenangkan, eh, malah mangkel sendiri. Perjalanan dengan jarak yang terbilang jauh, malah makin terasa jauh dan lama.

Jika memang sedang dalam perjalanan yang terbilang jauh, seringkali saya menggunakan Google Maps atau aplikasi sejenis untuk dapat memperkirakan waktu tiba. Jika memang masih lama dan sedang sendiri, biasanya yang saya lakukan mendengarkan musik sambil melihat pemandangan sekitar.

Baca Juga:  Dilemanya Naik Trans Jakarta: Berdiri Capek, Duduk Merasa Bersalah

Kalau mulai bosan melakukan hal seperti itu, ya cek saja media sosial atau streaming video. Toh, katanya, Twitter selalu memiliki hal menarik untuk dilihat dan dibaca, kan? Saat yang tepat untuk membuktikan hal itu, ya lakukan selama di perjalanan agar terasa lebih singkat, daripada selama perjalanan selalu misuh dengan berkata, “lama banget sih ini, kapan nyampenya?”.

Saya pun hampir selalu melakukan hal tersebut selama di perjalanan menuju kantor. Mulai dari naik kereta sampai dengan transjakarta. Mengobrol dengan teman, mendengarkan musik, juga cek media sosial menjadi pilihan utama agar perjalanan—baik pergi maupun pulang—terasa lebih singkat dan cepat.

Eh, tapi ini kok macetnya kebangetan, ya?! Daritadi udah sejam berdiri di transjakarta belum sampai di kantor juga. Udah telat ini. Susah memang berhadapan dengan macetnya Jakarta. Lama banget ini. Kalau begini terus, kapan sampainya?!!!1!1!1! (*)

BACA JUGA Rekomendasi Makeup dan Skincare Buat Aksi atau tulisan Seto Wicaksono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
0


Komentar

Comments are closed.