Cerita Happy Ending dan Sad Ending Orang-orang yang Menggunakan Aplikasi Tantan

Artikel

Aly Reza

Nggak punya pasangan alias jomblo menahun—bagi sebagian orang—di satu titik kadang menjadi satu perkara yang amat pelik. Status jomblo akut sampai di usia 20-an ke atas bisa bikin seseorang jadi pusat bulan-bulanan di antara temen-temen setongkrongan. Seperti lirik lagu “Lagi-lagi Sendiri”-nya Tipe-X: “Percuma banyak orang bilang nggak usah bersedih kalau nyatanya berat kualami. Sendiri setiap hari cuma bengong sambil gigit jari.”

Beberapa orang bisa jadi memilih bodo amat, tapi beberapa yang lain ada lah yang sampai ngerasa tekanan batin. Akhirnya ngerasa insecure sama diri sendiri: Apa, sih, yang kurang dari dirinya sampai nggak laku-laku? Padahal ya nggak jelek-jelek amat. Siapa sangka, seret jodoh ini ternyata menyasar tanpa pandang bulu. Mau jelek, rupawan, tajir, melarat, semua bisa saja mengalaminya. Termasuk orang-orang yang sudi berbagi cerita sama saya ini sebenernya kalau boleh dibilang ya cakep-cakep semua, loh.

Kalau orang zaman dulu, nih, opsi paling mentok mungkin minta dicariin jodoh sama temen sendiri atau malah juga orang tua, setelah dirasa segala daya upaya yang dilakukan tak kunjung membuahkan hasil. Bahkan kalau sudah ngerasa berada di titik nadir betul, memasang susuk kecantikan juga nggak ada salahnya buat dicoba. Ngeri, Nder. Tapi beda kasusnya dengan serba-serbi online seperti sekarang ini. Jika nyari pasangan di dunia nyata agak keteteran, masih ada peluang buat nyari-nyari pasangan jalur maya—melalui beragam jenis aplikasi kencan yang tersedia, Tantan salah satunya.

Apakah dengan begitu urusan pelik ini bakal begitu saja teratasi? Nyatanya tidak demikian, Diajeng. Nggak semua pengguna Tantan bisa ketiban ndaru (nasib mujur): nemu pasangan yang bener-bener idaman. Tapi lebih banyak lagi yang nyatanya masih saja berkalang kemalangan. Cerita ini saya dapat dari beberapa teman saya, yang kebetulan—dari yang iseng sampai yang serius bertekad nyari jodoh—merupakan pengguna aplikasi Tantan. Saya akan membaginya ke dalam dua kelompok, kelompok pertama (kelompok happy ending) dan kelompok kedua (kelompok sad ending).

Cerita happy ending pengguna aplikasi Tantan

Teman cowok saya ini, sebut saja Naryo, sempat suatu kali iseng mengunduh aplikasi Tantan, sekadar buat iseng-iseng berhadiah. Sebab, Naryo ini bukannya nggak laku, sih, tapi kadang suka gonta-ganti pasangan. Katanya belum nemu yang sesuai selera. Hla ndilalah, si Naryo malah bener-bener dapet hadiah. Lewat aplikasi ini dia ditemukan dengan gadis impiannya, gadis yang seperti dalam penggalan lirik lagu “Lubang Hati”-nya Letto, “Selama ini kucari tanpa hati.” Maka mongkoklah hati Naryo. Sekarang dia bisa belagu ngalor-ngidul bawa ceweknya. Sementara sebagian kami, teman tongkorongannya, cuma bisa gigit jari.

Baca Juga:  Rasulullah Iseng Ngeprank? Afwan Akh @Hawaariyyun, Nabi Muhammad Bukan Atta Halilintar

Ada juga teman cewek saya, sebut saja Popon, yang ceritanya agak drama dikit. Mulanya—melalui Tantan—dia mengenal salah seorang cowok yang kemudian langsung dipacari. Tapi eh tapi, hubungan mereka nggak berlangsung lama. Si cowok ketahuan selingkuh. Maka, pupuslah harapan Popon. “Sebenere tatu, kecewa. Tapi kudu piye maneh, pancen iki wis nasibe, kudu nandhang lara kaya mengkene (Tapi harus gimana lagi, emang sudah begini nasibnya, terluka kayak gini),” ratap Popon.

Bukannya trauma, Popon kembali mengundi peruntungan, masih lewat aplikasi yang sama. Hasilnya, dia justru dipertemukan dengan seorang pegawai bank yang nggak cuma ganteng, tapi juga nyah-nyoh kalau urusan duit. Maka, sekarang nggak heran jika terjadi perubahan dari diri Popon. Dari segi fisik, dia kelihatan makin subur dan glowing aja. Maklum, kebutuhan pangan dan skincare lancar, og, piye? Dia juga kelihatan selalu semringah, tanda bahagia. Oke, selamat, deh, Pon.

Cerita sad ending pengguna aplikasi Tantan

Cerita pertama yang saya dengar adalah dari Titin, bukan nama asli. Dia mengaku sudah sangat kepayahan buat nyari pasangan dari dunia nyata. Bukannya nggak laku, dia sih sudah beberapa kali berpacaran, tapi menurutnya, belum ada satu cowok yang bener-bener punya komitmen seperti yang dia harapkan. Maka, jatuhlah keputusan untuk menggunakan layanan Tantan, siapa tahu nemu satu aja cowok yang lulus sensor.

Nggak berselang lama, Titin berkenalan dengan seorang cowok yang kalau diamati sekilas dari profilnya sepertinya oke. Lama ngobrol, bertukar pesan via chatting, mereka berdua akhirnya menjadwalkan untuk dinner. Dan bedebah, sial betul nasib Titin. Ketika tiba waktu kencan yang sudah ditentukan, betapa kagetnya dia karena ternyata cowok yang dikencaninya adalah tetangganya sendiri. “Lhah pekoknya saya, saya kok pangling gitu, loh, nggak mengenali wajahnya di profil,” keluh Titin. “Maklum, saya kan emang jarang di rumah.” Maka, kandaslah hubungan mereka bahkan sebelum melangkah lebih jauh. Karena, si cowok yang ternyata tetangga Tintin sendiri ini kata Titin nggak masuk kriteria banget.

Baca Juga:  Sok Lucunya Dosen yang Nggak Lucu

Kisah pun berlanjut. Masih dengan  gigih Titin mencoba mengeliminasi satu per satu cowok yang mengantre. Akhirnya, pilihan jatuh pada sosok cowok yang dari profilnya kelihatan gagah gedhe dhuwur. Mereka akhirnya bertukar WA, sering chat dan video call, sampai akhirnya mengagendakan kencan pertama. Sayang sekali, belum juga kencan itu terlaksana, Titin kembali harus memupus harapan, kali ini dengan marah bersungut-sungut.

“Hla kurang ajar, tho, masa iya minta VCS. Hajingaaannn!!!” dengus Titin. “Kenal aja baru kemarin eh udah berani kurang ajar. Sekarang cuma VCS, besok-besok bisa jadi malah booking hotel beneran.” Ya udah lah, Tin, cari lagi, gaaasss~

Selanjutnya ada Santi, juga nama samaran, yang mengaku bukannya dapet lelaki yang bertanggung jawab, eh malah dapet cowok yang kerjaannya cuma morotin dan manfaatin dia. Baru tiga bulan berpacaran sejak pertama kali berkenalan di Tantan, Santi langsung milih putus karena kalau dirasa-rasain, dia ini kayak jadi mesin ATM buat si cowok. Mumet, Pakdhe.

Sementara kalau teman saya yang terakhir ini, panggil saja Bagiyo, kasusnya malah konyol. Dari hasil seleksi, dia menjatuhkan pilihan pada seorang perempuan yang kalau dilihat dari foto profilnya, lagi-lagi kelihatan kayak mahasiswi kedokteran yang cerah dan semringah kayak mataharinya Teletubbies. Pas ketemu, baru dah tuh dia tahu, kalau ternyata si cewek ini adalah janda beranak satu. “Walaupun cantik, tapi aku ogah. Nggak ikut bikin anak, eh kebagian ngurusin.” Hmmm, dasar si Bagiyo ini masih suka main.

BACA JUGA Alih Fungsi Tinder: dari Aplikasi Kencan Jadi Aplikasi Pesan dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
1


Komentar

Comments are closed.