Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Alasan Mengapa Anak Madura yang Kuliah di Jakarta Lebih Sulit Menemukan Pasangan ketimbang yang Kuliah di Jogja

Elyatul Muawanah oleh Elyatul Muawanah
3 Agustus 2025
A A
Anak Madura Mudah Dapat Jodoh di Jogja ketimbang Jakarta

Anak Madura Mudah Dapat Jodoh di Jogja ketimbang Jakarta

Share on FacebookShare on Twitter

Anak Madura lebih mudah dapat jodoh di Jogja ketimbang Jakarta. Benarkah begitu?

Kata Dee Lestari, Jakarta itu terlalu mengiklankan mimpi bagi anak daerah. Setiap anak daerah yang merantau ke sana tentunya membawa banyak harapan untuk meraih mimpi. Selain mimpi, apakah Jakarta juga mengiklankan hal lain seperti pasangan hidup misalnya?

Sebagai anak rantau dari Madura yang sudah hampir 2 tahun di Jakarta, rata-rata semua teman yang saya temui di sini, baik yang satu daerah atau lintas daerah, merasakan betapa susahnya mencari pasangan. 

Bagaimana bisa?

Jakarta itu jelas kota padat penduduk, tapi kenapa mencari pasangan di sini justru sulit? Ketika saya membandingkannya dengan berbagai teman saya yang kuliah di Jogja, justru mereka lebih mudah mendapatkan pasangan.

Anak Jogja mempunyai kebiasaan nongkrong yang intens

Anak-anak Madura yang kuliah di Jogja mempunyai budaya nongkrong yang lebih intens daripada yang kuliah di Jakarta. Dalam seminggu, mereka bisa 3 sampai 5 kali ngopi bahkan bisa hampir setiap malam. Tempat ngopi yang sering kali dijadikan sebagai tempat tongkrongan mereka biasanya adalah kafe Basabasi, Mainmain, dan Lehaleha.

Ketiga tempat itu merupakan tumpuan anak-anak Madura untuk ngopi di Jogja. Selain karena harganya yang sangat terjangkau, kebetulan ketiga tempat itu pemiliknya adalah orang Madura juga. Sehingga, tidak ayal jika budaya nongkrong di Jogja semakin kuat karena memang sudah menjadi tradisi.

Sekitar 5 bulan yang lalu, saya berkunjung ke teman saya di Jogja sekalian liburan. Selama 4 hari di sana, saya seolah-olah menjelma sebagai anak tongkrongan. 

Baca Juga:

4 hal lazim di Jogja yang masih asing di Tulungagung, tapi perlu dicontoh demi jadi daerah lebih hidup 

Soto di Jogja adalah solusi terbaik di tanggal tua

Di tempat tongkrongan, saya bertemu dan mengobrol dengan teman-teman lama saya yang kuliah di sana. Di sana pula, saya diperkenalkan dengan orang-orang baru yang sesama anak Madura. Of course, jodoh bisa saja bertemu di tempat tongkrongan, entah itu dengan teman lama atau orang baru.

Setiap ikut ngopi di Jogja, teman saya sering bertemu dengan segerombolan anak tongkrongan Madura lain yang dikenalnya. Saya sempat berpikir, andai saja teman-teman saya yang di Jakarta kuliah di Jogja, mungkin mereka sudah bertemu jodohnya di tempat tongkrongan. Karena realitanya, anak-anak Madura yang kuliah di Jogja kebanyakan kenal dan akrabnya memang di tempat tongkrongan.

Hal ini berbeda dengan anak-anak Madura yang kuliah di Jakarta. Mereka hanya memiliki kebiasaan ngopi di setiap weekend. Maklum, budget sekali ngopi di Jakarta bisa buat 2 atau 3 kali ngopi di Jogja. 

Oleh karena itu, kebiasaan nongkrong di Jakarta tidak menjadi kebiasaan. Selain karena mode hemat, mereka justru lebih memilih main game di kosnya masing-masing. 

Tempat ngopi di Jakarta juga lebih bernuansa individualis. Sangat jarang bertemu sesama anak Madura yang tanpa disengaja di tempat ngopi. Teman tongkrongan di sana biasanya juga anak-anak lintas daerah.

Anak Jakarta banyak menghabiskan waktunya di transportasi umum

Dua hari yang lalu, teman saya dari Jogja main ke Jakarta. Dia tidak hanya syok dengan hawa panas yang bisa sampai 35 derajat dan polusi. Selain itu, dia juga culture shock dengan ibu kota yang super sibuk dan tidak bisa slow living. 

Orang-orang Jakarta sibuk kuliah sambil kerja. Rata-rata hidupnya cenderung memburu waktu agar tidak ketinggalan transportasi umum. Anak sana banyak menghabiskan waktunya untuk menunggu  KRL, TJ, angkot, MRT, dan RLT.

Teman saya sempat bergumam. Pantesan anak Jakarta kebanyakan jomblo, wong waktunya cuma dihabiskan dengan menunggu transportasi umum lalu berjalan dari peron ke peron atau dari halte ke halte. 

Nyatanya, dunia ini tidak seperti di film-film, yang bisa bertemu jodohnya di kereta atau bus. Orang Jakarta terlalu sibuk untuk sekadar berkenalan dengan orang asing di KRL atau TJ.

Itulah kira-kira alasan anak Madura yang kuliah di Jakarta lebih sulit mendapatkan pasangan daripada yang kuliah di Jogja. Tapi, kita tidak bisa menggeneralisir hal tersebut. Mau di mana kotanya, toh jodoh tidak ada yang tahu. Kalau jodohmu tidak ada di tempat tongkrongan, mungkin dia lagi di sleep call-an dengan pacarnya di kos.

Penulis: Elyatul Muawanah

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Sebagai Orang Madura, Saya Sebenarnya Agak Segan Belanja di Warung Madura

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 5 Agustus 2025 oleh

Tags: budaya ngopiCari JodohJakartajodohJogjakafe basabasikafe lehalehakafe mainmainmadura
Elyatul Muawanah

Elyatul Muawanah

Perempuan Madura yang enggan menyebut diri penulis paruh waktu, karena menulis adalah undangan momentum. Hanya menulis di waktu-waktu tertentu—saat isi kepala sudah terlalu penuh dan jemari butuh ruang untuk bicara.

ArtikelTerkait

Sebagai Warga Bangkalan, Saya Iri pada Sampang Madura yang Diam-diam Mulai Berbenah. Bangkalan Lewat!

Sebagai Warga Bangkalan, Saya Iri pada Kabupaten Sampang yang Diam-diam Mulai Berbenah. Bangkalan Lewat!

25 Oktober 2024
Membayangkan Betapa Nelangsa Jogja kalau UGM Tidak Pernah Berdiri Mojok.co

Membayangkan Betapa Nelangsa Jogja kalau UGM Tidak Pernah Berdiri

3 April 2025
Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu Mojok.co

Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu

17 Mei 2026
Stasiun Lempuyangan Lebih Pantas Dikenal karena 3 Hal Ini, Bukan karena Meme Roti'O

Stasiun Lempuyangan Lebih Pantas Dikenal karena 3 Hal Ini, Bukan karena Meme Roti’O

23 September 2024
Nggak Usah Mengubah Sifat Pasangan, Bisa Jadi Itu Tanda Kalian Nggak Jodoh Terminal Mojok

Nggak Usah Repot Mengubah Sifat Pasangan, Bisa Jadi Itu Tanda Kalian Nggak Jodoh!

30 Januari 2021
Fitnah Keji Hanya Orang Kaya Jambi yang Mampu Kuliah di Jogja (Unsplash)

Stigma “Hanya Anak Orang Kaya Jambi yang Bisa Kuliah di Jogja” Itu Sangat Menyakitkan dan Terkesan Fitnah yang Dilestarikan

30 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pucang Surabaya, kawasan di kota pahlawan yang tak pernah kenal tidur

Pucang Surabaya, kawasan di kota pahlawan yang tak pernah kenal tidur

16 Juli 2026
3 alasan yang membuat saya nggak ikhlas kalau Jaklingko harus berbayar, sebaiknya benahi hal-hal ini dahulu Mojok.co

3 alasan yang membuat saya nggak ikhlas kalau JakLingko harus berbayar, sebaiknya benahi hal-hal ini dahulu

11 Juli 2026
8 keresahan guru agama, pekerjaan tidak maksimal karena dianaktirikan Kemendikdasmen Mojok.co

8 keresahan guru agama, pekerjaan tidak maksimal karena dianaktirikan Kemendikdasmen 

11 Juli 2026
Kredit Motor Memang Jauh Lebih Menyiksa daripada Kredit yang Lainnya, bahkan Bikin Kredit Rumah Keliatan Masuk Akal

Kredit Motor Memang Jauh Lebih Menyiksa daripada Kredit yang Lainnya, bahkan Bikin Kredit Rumah Keliatan Masuk Akal

12 Juli 2026
Harga Makanan di Surabaya Lebih Murah dari Banyuwangi: Untung bagi Pembeli, tapi Derita bagi Penjualnya

Harga Makanan di Surabaya Lebih Murah dari Banyuwangi: Untung bagi Pembeli, tapi Derita bagi Penjualnya

11 Juli 2026
Membayangkan Jatinangor Tanpa Unpad, ITB, IPDN, dan Ikopin: Nggak Terkenal, Nggak Berkembang, Pokoknya Menyedihkan sumedang, bandung

Berhentilah menyebut Jatinangor sebagai Bandung coret, tolong hormati Sumedang

15 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.