Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Betapa Nggak Enaknya Ikut dalam Sirkel Nongkrong Orang Lain

Siti Halwah oleh Siti Halwah
20 November 2019
A A
Betapa Nggak Enaknya Ikut Dalam Sirkel Nongkrong Orang Lain
Share on FacebookShare on Twitter

Setiap kali pergi keluar, saya biasanya menghabiskan waktu dengan teman-teman. Saya membagi teman-teman saya ke dalam beberapa kelompok nongkrong. Kelompok tersebut di antaranya, teman satu organisasi, teman jurusan, teman SMA, teman SMP, dan teman SD.

Tiap kali ada agenda berkumpul, saya biasanya diam-diam memperhatikan apa saja topik yang diobrolkan oleh mereka. Ternyata, tiap teman dalam masing-masing tongkrongan memiliki jenis obrolan yang berbeda. Misalnya, tiap berkumpul dan bertemu dengan teman SD, topik obrolan kami hanya seputar dunia parenting dan karier. Maklum, hampir semua teman SD saya sudah menikah. Hanya tersisa saya dan beberapa lainnya. Hehehe.

ADVERTISEMENT

Jika terdapat agenda reuni dengan teman-teman SMA, topik obrolan kami biasanya seputar pencapaian apa saja yang sudah berhasil didapatkan. Khususnya selama masa kuliah. Wajar saja, teman-teman SMA saya sebagian besar adalah para pemimpi yang terobsesi mewujudkannya di tingkat universitas.

Semakin lama membaur, saya menyadari bahwa lingkungan sosialisasi saya dengan teman-teman di berbagai kategori tersebut membentuk sebuah tatanan yang orang-orang zaman sekarang menyebutnya sebagai sirkel pertemanan—bahasa jadulnya genk. Sirkel nongkrong atau pertemanan tersebut membuat saya memahami apa saja yang menjadi prioritas serta bagaimana cara menempatkan diri dalam suatu obrolan. Intinya adalah tetap menjaga komunikasi antar sesama teman.

Nah, masalahnya, menurut saya, setiap orang dari teman-teman saya pasti memiliki sirkel nongkrong atau pertemanannya masing-masing di tempat yang lain—seperti saya. Dan, tentunya sangat nggak enak banget kalau harus digabungkan atau nggak sengaja ikut dalam sirkel nongkrong atau pertemanan lainnya dari teman-teman saya.

Saya memiliki pengalaman kurang menyenangkan saat secara nggak sengaja ikut dalam sirkel nongkrong orang lain. Saat itu, saya dengan seorang teman lainnya berniat untuk menghabiskan malam Minggu bersama hanya dengan jalan-jalan di sekitar kampus. Eh, nggak disangka, teman saya justru bertemu dengan teman sesama organisasinya. Dia kemudian dicegat dan dipaksa untuk ikut ngumpul, sekadar untuk membahas tentang suatu event yang sebentar lagi akan diadakan oleh organisasinya.

Teman saya dengan tampang penuh penyesalan, memohon pada saya untuk mau ikut dengannya sebentar, berkumpul dengan sirkel teman organisasinya. Saya tentu saja setuju. Lagi pula, kami berdua memang nggak punya agenda malam itu.

Namun, pendapat tersebut hanya bertahan sebentar saja. Selang beberapa lama, saya sadar bahwa saya telah membuat kesalahan fatal dengan bersedia menemaninya. Dalam kepala, saya mencatat lamat-lamat apa saja hal-hal menyebalkan yang saya dapatkan ketika ikut dalam sirkel nongkrong orang lain.

Baca Juga:

Strategi Nongkrong di Usia 40, Perlu Pertimbangkan Pilihan Tempat sampai Ritual Minum Obat

Nongkrong Masih Dianggap Tabu di Sragen, Nasib Kafe di Sana Kian Suram 

Pertama, rasanya betul-betul nggak dianggap

Hal pertama yang saya rasakan adalah perasaan nggak dianggap. Ya iyalah, teman saya sibuk berdiskusi dengan teman-teman organisasinya. Sedangkan saya? Melihat langit. Bertanya kepada semesta, mengapa di malam minggu ini nggak turun hujan saja? Kasian saya yang jomblo dan terjebak di dalam sirkel orang lain ini.

Selama teman saya sibuk membuat konsep acara, saya hanya bisa diam. Kadang pura-pura tersenyum—dengan terpaksa—ketika teman saya menoleh ke arah saya. Selebihnya, saya cuma nunduk-nunduk aja. Saya ada, tapi merasa tiada karena nggak dianggap. Hiks.

Apalagi, saat itu saya lupa nggak membawa gawai. Hish, benar-benar bikin bete, deh!

Kedua, merasa seperti alien

Saat itu, saya tahu dan paham bahwa mereka sedang berdiskusi mengenai konsep suatu acara. Tapi, ya sudah. Hanya sebatas itu yang saya pahami, selebihnya saya nggak tahu apa-apa. Ya jelas karena saya bukan bagian dari sirkel pertemanan organisasi mereka.

Teman saya juga nggak mungkin berdiskusi dengan saya, soalnya saya nggak tahu apa-apa tentang acara yang akan diadakan organisasinya. Jadi, yang bisa saya lakukan hanya diam seperti patung, meratapi malam minggu saya yang sangat nestapa.

Di saat-saat itu, saya merasa diri ini seolah alien. Nggak paham apa topik obrolan yang mereka bahas dan guyonan-guyonan receh yang saling mereka lontarkan. Saya merasa berasal dari planet lain.

Ketiga, merasa nggak nyaman

Ini adalah perasaan yang paling mendominasi. Perasaan nggak nyaman. Selain punya masalah di bidang komunikasi, saya juga selalu merasa cemas dan nggak nyaman kalau harus bergabung dengan orang-orang asing—meskipun saat itu ada teman saya di sana.

Perasaan nggak nyaman itu muncul karena saya tahu bahwa sebenarnya saya bukanlah bagian dari sirkel mereka. Keberadaan saya pastinya juga membuat mereka nggak nyaman, kan?

Saya menyadari, mereka nggak leluasa dalam berdiskusi dan mengobrol karena keberadaan saya di sana. Mungkin, mereka berniat membuat saya nyaman—meskipun jatuhnya justru membuat saya nggak nyaman.

Mereka sepertinya juga sengaja memilih untuk mengobrol tentang hal-hal yang umum agar saya dapat ikut dalam obrolannya—meskipun itu gagal. Pada akhirnya, mereka tetap saling bercanda dan tertawa mengenai hal-hal yang tentu saja hanya mereka yang tahu—saya tetap nggak akan paham. Hehehe.

BACA JUGA Mau Nongkrong Takut Kere, Tak Ikut Nongkrong Malah Dighibahin, Tuman! atau tulisan Siti Halwah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 November 2019 oleh

Tags: bergaulnongkrongsirkel pertemanan
Siti Halwah

Siti Halwah

menulis untuk eksis

ArtikelTerkait

Berlagak Tuli dan Benci Pengamen di Tongkrongan Adalah Budaya Bajingan para Tukang Nongkrong terminal mojok.co

Berlagak Tuli dan Benci Pengamen di Tongkrongan Adalah Budaya Bajingan para Tukang Nongkrong

25 September 2021
Setelah Nikah, Alasan Balik Duluan dari Nongkrong Bukan Sekadar karena Dibatasi Pasangan! terminal mojok.co

Setelah Nikah, Alasan Balik Duluan dari Nongkrong Bukan Sekadar karena Dibatasi Pasangan!

5 April 2021
Andai Pekalongan Punya Banyak Tempat Nongkrong Seperti Jogja tongkrongan

Andai Pekalongan Punya Banyak Tempat Nongkrong Seperti Jogja

21 November 2019
Tips Nongkrong Hemat Cukup dengan Biaya Goceng terminal mojok.co senja dan kopi indie cafe barista

Kita Memang Harus Pilih-Pilih dalam Berteman

6 November 2019
Nongkrong Masih Dianggap Tabu di Sragen, Nasib Kafe di Sana Kian Suram  Mojok.co

Nongkrong Masih Dianggap Tabu di Sragen, Nasib Kafe di Sana Kian Suram 

7 Juni 2025
5 Jenis Teman Nongkrong yang Sebaiknya Diajak biar Ngumpulmu Nggak Wagu Terminal Mojok.co

5 Jenis Teman Nongkrong yang Sebaiknya Diajak biar Ngumpulmu Nggak Wagu

27 April 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nongkrong sama teman yang lagi mabuk dan banyak bacot benar-benar bikin emosi

Nongkrong sama teman yang lagi mabuk dan banyak bacot benar-benar bikin emosi

20 Juli 2026
Alasan orang Jombang jarang ada yang bangga dengan daerahnya sendiri Mojok.co

Alasan orang Jombang jarang ada yang bangga dengan daerahnya sendiri

18 Juli 2026
Liburan idaman orang dewasa itu sederhana, bisa rebahan tanpa diganggu notifikasi kerja Mojok.co

Liburan idaman orang dewasa itu sederhana, bisa rebahan tanpa diganggu notifikasi kerja

21 Juli 2026
Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout Mojok.co

Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout

17 Juli 2026
Untuk Warga Surabaya, Stop Menormalisasi Bayar Parkir kepada Juru Parkir di Toko Atau Minimarket yang Bertuliskan 'Parkir Gratis'!

Jangan cintai Surabaya secara berlebihan, ia juga punya kekurangan yang patut dibicarakan

21 Juli 2026
Mengapa banyak pengangguran di Jogja enggan merantau? (Unsplash)

Mengapa banyak pengangguran di Jogja enggan merantau?

15 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.