4 Pengalaman Duka yang Dirasakan saat Rumah Dijadikan Tempat Nongkrong – Terminal Mojok

4 Pengalaman Duka yang Dirasakan saat Rumah Dijadikan Tempat Nongkrong

Artikel

Kita pernah membayangkan, kalau mempunyai banyak teman dan selalu bisa nongkrong itu menyenangkan. Kita bisa mengobrol setiap hari sehingga kita bisa menjauh dari kesepian dan kepedihannya. Tetapi, bayangan itu tidak sepenuhnya benar. Ada juga beberapa hal yang tidak menyenangkan. Apalagi, jika di rumah kita dijadikan tempat nongkrong.

Ketika kita berkumpul dengan teman-teman, tentunya kita akan membutuhkan satu tempat yang mana itu akan menjadi sentral atau menjadi titik kumpul. Dan tempat itu kalau tidak kafe, restoran, rumah makan, atau hiks, bisa juga di rumah salah satu dari kita dan teman kita. Kalau saya dan teman-teman, dari beberapa rumah kami, rumah sayalah yang dirasa enak buat nongkrong. Makanya, teman-teman senang datang ke rumah saya.

Awalnya saya senang karena saya tidak perlu jauh-jauh pergi mencari tongkrongan. Tetapi lambat-laun saya merasakan hal yang tidak menyenangkan. Kesan tidak menyenangkan itu hanya bisa tersimpan di hati, menggumpal menjadi kedongkolan. Tidak mungkin saya akan memberitahu mereka tentang kesan itu. Alangkah baiknya, saya menyimpan rasa itu sendirian.

Ternyata, semakin bertambahnya hari, bertambah pula kedongkolan saya, maka saya akan menuliskan 4 pengalaman duka saat rumah menjadi tempat nongkrong.

Satu: Jadi orang yang paling repot karena harus membereskan dan bersih-bersih dulu ketika semua sudah pulang.

Kita tahu ketika teman-teman datang dan nongkrong di rumah, mereka pasti membawa sesuatu yang nantinya akan menjadi sampah. Misalnya membawa plastik es teh dan rokok. Kalian pasti mengamati tingkah laku teman kalian, kalau misal mereka membawa es teh, kalau es itu habis, pasti plastiknya akan diletakkan begitu saja di atas meja dan tidak mungkin mereka akan membuangnya langsung. Begitu juga dengan bungkus rokok. Rokok habis.

Baca Juga:  Es Cincau, Es Cendol, dan Es Goyobod: Mana yang Paling Segar?

Sialnya, ketika mereka pulang, mereka tanpa berdosa hanya berpamitan dengan cara say hello. Mereka lupa atau entah sengaja, tidak membawa sampah yang mereka letakkan begitu saja di atas meja. Saya hanya basa-basi tersenyum begitu saja membalas mereka, sambil melirik sampah-sampah yang mereka tinggal. Namun, mereka tidak sadar dan langsung pergi.

Mau tidak mau, saya terpaksa membereskan dulu teras rumah yang dijadikan tempat nongkrong. Menyapu, menata kursi yang berantakan karena dipindah-pindah, dan membuang plastik serta puntung rokok.

Dua: Menyiapkan bahan-bahan memasak dan mencuci peralatan dapur sendirian.

Pengalaman kedua ini, biasanya terjadi ketika di rumah dijadikan tempat masak-masak bareng teman-teman. Biasanya, kami menyepakati h-1 mau masak apa dan di mana. Sialnya, rumah saya yang selalu disetujui untuk masak-masak.

Kami iuran dua puluh ribu untuk membeli bahan-bahan. Dana yang kadang mepet dan peralatan yang tidak lengkap, memaksa tuan rumah harus menyediakan bahan-bahan dan peralatan yang kurang. Sudah iuran, disuruh tambah lagi.

Kalau tidak, pasti teman-teman akan menyindir. Jika kalian bertanya kenapa tidak saya pukul saja? Saya tentu akan menjawab, cara itu mirip dengan cara anak-anak bermain. Jadi saya mengalah saja karena bukan takut, tetapi karena ingin menyikapi dengan dewasa, hitung-hitung latihan menjadi orang dewasa.

Menjengkelkannya lagi, ketika selesai masak-masak dan makan-makan, mereka pamit tanpa mau membantu saya membereskan dan mencuci piring. Piring, sendok, garpu, tergeletak begitu saja di teras. Saya kesal dan hanya bisa mengumpat berkali-kali sembari membereskan semuanya.

Baca Juga:  Micin dan Mama Muda yang Tidak Percaya Diri

Tiga: Kalau ketiduran suka difoto.

Tidak enaknya kalau rumah dijadikan tempat nongkrong itu kita tidak bisa bebas tidur. Apalagi, kamar kalian di depan dan ada jendelanya. Kamar saya termasuk kategori yang mengerikan dan tidak baik dijadikan kamar untuk anak perempuan. Karena kamar saya berada di paling depan, ada jendelanya dan tidak ada pintunya.

Ditambah lagi, di rumah saya itu dibebaskan. Teman-teman saya, teman-teman adik boleh masuk begitu saja asalkan nyapa atau minta izin. Lah, pengalaman duka sekaligus sial ini terjadi ketika saya ketiduran.

Tidur saya terus terang saja ngowoh. Dan ketika saya ketiduran kamera-kamera teman-teman mengabadikan kengowohan saya lalu di-share ke grup kampung, status WA, hingga status media sosial. Oh sial, martabat saya hancur seketika. Tetapi saya tidak membalasnya, saya hanya membalas dengan perilaku yang setimpal. Siklus semacam ini terus berjalan entah sampai kapan. Kalau ada yang lengang sedikit, pasti akan terkena jepretan kamera-kamera nakal.

Empat: Tidak bisa izin nggak ikut main walaupun tidak punya uang.

Dan pengalaman terakhir inilah pengalaman terparah. Rencana main itu selalu diagendakan setiap setahun kira-kira tiga kali atau empat kali. Sialnya, kadang rencana itu diagendakan bertepatan dengan keringnya kantong saya.

Sebenarnya saya mau izin, tetapi tempat berkumpulnya sebelum keberangkatan ada di rumah saya. Mau tidak mau saya yang hanya menggantungkan hidup pada honor tulisan harus utang. Jadi, setiap saya menerima honor tulisan, uangnya bukan untuk senang-senang tapi buat bayar utang.

Baca Juga:  Berapa Pajak yang Harus Dibayar GM Irene dan Dewa Kipas?

Menyedihkan bukan?

BACA JUGA Pengalaman Ngekos di Kamar Kos yang Tak Ada Jendela dan tulisan Muhammad Khairul Anam lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.