Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Beratnya Merantau di Jogja karena Harus Berjuang Melawan Gaji Rendah dan Rasa Kesepian

Muhammad Nazarrudin oleh Muhammad Nazarrudin
11 Januari 2026
A A
Jogja Kombinasi Bunuh Diri Upah Rendah dan Kesepian

Jogja Kombinasi Bunuh Diri Upah Rendah dan Kesepian

Share on FacebookShare on Twitter

Jogja adalah kota yang istimewa, tapi tidak bagi kelas pekerja.

Merantau bukan hal baru bagi saya. Sejak lulus SMA, saya lebih banyak menghabiskan waktu di luar daerah. Saya lahir dan besar di Jombang, lalu merantau untuk kuliah ke Bangkalan selama enam tahun. Pulang-pergi, hidup pas-pasan, dan menyesuaikan diri dengan kota orang lain sudah menjadi rutinitas. 

Setelah lulus, saya sempat bekerja sebentar di kampung halaman. Namun, kontrak habis, dan seperti banyak lulusan baru lainnya, saya harus kembali ke titik awal, yaitu mencari kerja.

Memang saya berniat untuk merantau lagi. Entah mengapa saya tidak betah di rumah. Awalnya saya punya standar. Saya mengirim lamaran ke daerah dengan UMR yang relatif tinggi dan masih dekat dari rumah, seperti Surabaya dan sekitarnya. 

Logikanya sederhana. Upah lebih masuk akal dan jika sewaktu-waktu ingin pulang ke rumah, jaraknya dekat.

Susahnya cari kerja dan keputusan menerima kerja di Jogja

Meskipun wapres kita sudah menjanjikan 19 juta lapangan kerja, realitanya mencari kerja bukanlah perkara mudah. Dari sekian banyak lamaran, hanya segelintir yang berujung wawancara. Selebihnya menguap begitu saja.

Bagi sebagian orang, apalagi yang tidak memiliki privilege, fase mencari kerja adalah salah satu fase terberat dalam hidup. Beberapa bulan tidak kunjung mendapat kerja, membuat saya akhirnya menyerah pada idealime awal. 

Hingga akhirnya standar mulai turun. Daerah tak lagi jadi soal, asal pekerjaan masih nyambung dengan minat, maka saya akan melamarnya.

Baca Juga:

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat

Singkat cerita, akhirnya panggilan itu datang dari Jogja. Keputusan menerima pekerjaan di Jogja adalah dilema yang nyata. UMR-nya rendah, jauh dari Surabaya dan sekitarnya, bahkan masih di bawah kota kelahiran saya. Selain itu, saya juga tidak punya kenalan di sana.

Namun setelah berbulan-bulan menganggur, logika lain muncul. Lebih baik menerima upah kecil daripada tidak punya penghasilan sama sekali. Berbekal restu orang tua dan sedikit kunci untuk menjawab soal matematika UMR Jogja dibagi 30 hari, akhirnya saya nekat berangkat juga.

Bunuh diri upah

Saya menganggap keputusan saya bekerja di Jogja adalah sebuah langkah “bunuh diri upah”. Selain itu, yang bilang Jogja serba murah, saya yakin mereka tidak pernah tinggal dalam waktu lama di sini. Faktanya, menurut BPS, standar hidup di Jogja justru berada di atas Surabaya. Aneh banget.

Kali ini saya sepenuhnya sepakat dengan BPS. Saya rasa harga kebutuhan pokok seperti sembako hampir sama di tiap daerah, khususnya di Pulau Jawa. Namun, harga kos dan makanan lain lagi. Masalahnya bukan semata harga, melainkan jurang antara biaya hidup dan upah.

Maka, Jogja tidak lagi menjadi kota yang istimewa, setidaknya bagi saya. Saya menganggap Jogja is tirakat. Untuk bertahan hidup, saya harus pandai menahan diri. Khususnya untuk menghitung pengeluaran dengan cermat, menekan keinginan, dan berdamai dengan kenyataan bahwa menabung adalah sebuah kewajiban.

Upah rendah dan biaya hidup tinggi adalah duet maut. Yang satu bikin kantong kempes, yang lain bikin hidup ngos-ngosan. Tidak berlebihan jika saya menyebutnya sebagai sebuah langkah “bunuh diri upah”

Rentan kesepian di Jogja itu nyata

Selain masalah UMR rendah dan biaya hidup tinggi, menurut survei Litbang Kompas 2025, Jogja adalah kota dengan tingkat kerentanan kesepian tertinggi di Indonesia. Jika data menunjukkan sekitar dua dari tiga orang yang tinggal di Jogja mengaku setidaknya merasakan kesepian sekali dalam seminggu, maka saya adalah satu dari dua orang tersebut.

Setelah beberapa bulan hidup di Jogja, saya berkali-kali merasakan yang namanya kesepian. Hidup di kota orang tanpa keluarga dan teman membuat kesepian terasa nyata. 

Meskipun ada ponsel, tetap saja tidak bisa menghapuskan rasa sepi yang saya alami. Ponsel memang menjanjikan sebuah keterhubungan. Namun kebutuhan untuk terhubung secara fisik tetaplah ada, dan ponsel tidak bisa memenuhi kebutuhan tersebut.

Merantau untuk bekerja tidak sama dengan merantau untuk kuliah. Jika dulu saat kuliah, mencari teman itu sangat mudah. Selain karena banyak dari mereka sama-sama merantau, usia kita juga relatif sama. 

Di tempat saya kerja kali ini, mayoritas rekan kerja adalah asli Jogja. Jika bukan warga lokal, setidaknya mereka sudah lama tinggal di Jogja sehingga sudah punya teman atau keluarga. Selain itu, saya adalah yang paling muda dan selisih usia terpaut cukup jauh dengan yang lainnya.

Selain di tempat kerja, di kos saya juga mencoba untuk “grapyak” dengan penghuni yang lain. Karena sama-sama perantau, saya berpikir siapa tahu mereka mau berteman akrab. 

Namun, sikap mereka terlihat seperti tidak ingin bersosialisasi. Penghuni kos saya kebanyakan lebih suka berada di dalam kamarnya masing-masing. Akhirnya, saya hanya bertegur sapa sekedarnya setiap berpapasan dengan mereka.

Terpaksa menikmati

Pada akhirnya, pilihan rasional agar tetap bisa menikmati hidup di Jogja adalah dengan menerima dan bersyukur. Setidaknya untuk sementara, saya bebas dari status menganggur. Paling tidak dengan bekerja, kita belajar untuk bertanggung jawab atas diri sendiri dan tidak merepotkan orang tua.

Untungnya, sejauh ini, saya masih bisa menyiasati berbagai masalah yang datang. Salah satu pegangan hidup saya adalah pelajaran dari Ki Ageng Suryomentaram. 

Pelajaran dari beliau berbunyi: “Sabutuhe, saperlune, sacukupe, sabenere, samesthine, dan sapenake.” Intinya adalah hidup secukupnya, sewajarnya, dan tidak berlebihan. Pelajaran ini lumayan membantu, meski tidak selalu ampuh.

Barangkali memang begitu takdir kelas pekerja di Jogja hari ini. Kami harus mau hidup sederhana, menerima, dan menikmati keterbatasan tanpa harus protes. Sayangnya, yang sering disederhanakan bukan gaya hidup saja, melainkan hak untuk hidup lebih layak.

Penulis: Muhammad Nazarrudin

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA 5 Alasan Banyak Perantau Belum Mau Angkat Kaki dari Jogja, sekalipun UMR-nya Tidak Masuk Akal

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Januari 2026 oleh

Tags: gaji JogjaJogjaJombangkerja di jogjaSurabayaUMP Jogjaumr jogjaumr surabayaupah jogja
Muhammad Nazarrudin

Muhammad Nazarrudin

Pekerja Sosial. Tertarik dengan isu kesehatan mental. Suka membantu sesama.

ArtikelTerkait

jogja

Ada Apa dengan Jogja?

6 Juli 2019
Lamongan Destinasi Liburan yang Logis ketimbang Jogja (Unsplash)

Ketimbang Jogja, Lamongan Adalah Destinasi Paling Logis untuk Liburan Tahun Baru

30 Desember 2024
kenapa UMP Jogja rendah titik kemacetan di jogja lockdown rekomendasi cilok di Jogja Sebenarnya Tidak Romantis Jika Kamu Cuma Punya Gaji UMR dawuh dalem sabda pandita ratu tugu jogja monarki mojok

Tugu Jogja: Destinasi Wisata serta Destinasi Proyek Tahunan yang Minim Kreativitas

25 Oktober 2020
Ironis, Parkir Nuthuk di Malioboro Jogja Sudah Jadi Hal Biasa, yang Kemarin Belum Padam Sekarang Kembali Bikin Geram Mojok.co

Ironis, Parkir Nuthuk di Malioboro Jogja Sudah Jadi Hal Biasa, yang Kemarin Belum Padam Sekarang Kembali Bikin Geram

30 Juli 2025
Klaten, Kota Kecil yang Terlupakan di Tengah Pesona Jogja-Solo (Unsplash)

Klaten, Kota Kecil yang Terlupakan di Tengah Pesona Jogja dan Solo

24 September 2024
Mikrolet Biru Peterongan-Brangkal Lenyap Tergerus Perkembangan Zaman

Mikrolet Biru Peterongan-Brangkal Lenyap Tergerus Perkembangan Zaman

4 Juli 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Sudah Saatnya Soreang Punya Mal supaya Nggak Bergantung sama Mal di Kota Bandung

Sudah Saatnya Soreang Punya Mal supaya Nggak Bergantung sama Mal di Kota Bandung

30 Januari 2026
Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali

1 Februari 2026
3 Makanan Sunda yang Namanya Aneh dan Bikin Nggak Nafsu Makan Mojok.co

3 Makanan Sunda yang Namanya Aneh dan Bikin Nggak Nafsu Makan

29 Januari 2026
Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh Mojok.co

Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Perjuangan Ojol sambil Kuliah: Pernah Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan, Kini Lulus Jadi Sarjana Hukum UGM
  • Misteri Adik Saya yang Berakal Sehat dan Mengerti Dunia Otomotif, tapi Rela Menebus Suzuki APV yang Isinya Begitu Mengenaskan
  • Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja
  • Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan
  • Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana
  • Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.