Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Kok Bisa Ada Warga Jogja Bangga sama Spot Foto ala Squid Game? Ra Isin?

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
30 Oktober 2021
A A
Kok Bisa Ada Warga Jogja Bangga sama Spot Foto ala Squid Game? Ra Isin?
Share on FacebookShare on Twitter

Kok bisa ada warga Jogja yang membela spot foto cringe ala Squid Game? Ra isin?

Sepertinya pelaku wisata Jogja adalah golongan manusia bebal. Bahkan setelah dihujat kiri kanan karena “Jogja rasa Ubud”, mereka masih saja bikin gebrakan ra mashok blas. Yah mungkin lagunya Tulus yang berjudul “Manusia Kuat” itu memang ditujukan kepada para pelaku wisata Jogja. Terbukti mereka kuat untuk dihujat bahkan dicaci maki warganet. Maklum ya, uang wisatawan itu memang menambah kekuatan.

Salah satu bukti kebebalan itu adalah munculnya spot wisata berbasis viral. Yaitu spot foto bertema Squid Game. Spot foto yang jelas berbayar ini viral di Tiktok lalu berlanjut ke media sosial lain. Tentu viralitas menjadi alasan yang menambah vitalitas mental eksploitatif pelaku wisata. Dan ketika akun-akun wisata Jogja mulai berebut mengiklankan spot foto ra cetho ini, tentu gunjingan menyambar.

Cukup banyak yang merasa kagum dan ingin mendatangi spot foto Squid Game tadi. Tidak sedikit pula yang menghujat spot foto yang saya enggan sebut di mana lokasinya ini. Ada yang bilang cringe. Ada juga yang merasa muak dengan viralnya Squid Game. Sisanya memandang spot foto ala serial Korea ini tidak menunjukkan pribadi dan budaya Jogja.

Tapi, suara kontra ini bertemu balasannya. Salah satu komentar negatif tentang spot foto ini dibalas dengan membabi buta. Ada yang menuntut penulis komentar untuk tidak ikut campur. Ada yang bilang ini demi mendongkrak pariwisata. Ada yang memuji Jogja penuh kreativitas. Bahkan ada yang balik menyerang si penulis komentar yang tidak berkontribusi bagi pariwisata Jogja.

Kalau menghadapi kebebalan pelaku wisata, saya sih sudah capek. Selama uang wisata menjadi sumber energi mereka, telinga pelaku wisata akan setebal tembok Beteng Kraton yang segera menggusur warga. Tapi, yang kini menarik perhatian saya adalah para warga Jogja sendiri.

Tentu yang saya tunjuk adalah mereka yang seperti pembela spot foto Squid Game. Mereka yang merasa apa pun di Jogja selalu baik. Bahkan lebih baik daripada daerah manapun meskipun UMR mereka lebih manusiawi. Pokoknya mereka yang selalu merasa diri istimewa karena warga daerah istimewa. Apalagi yang anggota grup aspal gronjal bimbingan Om Yanto itu.

Satu pertanyaan sederhana, “Nggak malu membela spot foto Squid Game?” Saya tidak habis pikir ketika ada warga Jogja yang mau membela eksploitasi ruang kreativitas itu. Kok bisa ada yang pede untuk bangga pada spot foto yang memalukan karena minim inovasi itu? Bahkan membanggakan sebagai jawaban dari krisis yang menelanjangi Jogja ini.

Baca Juga:

Bukan Cuma Sambal yang Manis, Chinese Food di Jogja Juga Ikutan Jadi Manis

Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu

Saya pikir, perilaku membela berlebihan ini punya alasan kuat. Warga Jogja sangat malu untuk mengakui realitas negerinya. Mungkin ini beban moral label “keistimewaan” yang tersemat di dada mereka. Oleh karena sudah dilabel istimewa bahkan dapat dana keistimewaan, mereka harus bangga dengan Jogja. Meskipun bobrok dan tidak pernah mencicipi manfaat dana keistimewaan, harus bangga pada Jogja.

Maka saya mulai maklum ketika artikel saya dihujat karena mengkritik Jogja dan Kraton. Bukan karena mereka ingin menjaga harga diri penduduk, namun menjaga label keistimewaan yang terlanjur dipamer-pamerkan. Apa lacur, mau tidak mau mereka harus selalu membela Jogja.

Mungkin di belakang layar, warga Jogja Pride ini mengeluhkan gaji kecil. Mereka mungkin sesak dengan gelombang wisatawan. Mereka mungkin benci klitih. Tapi kalau ada orang lain yang menyuarakan itu, jiwa keistimewaan mereka berkobar. Apalagi yang komentar warga luar Jogja dan pakai “lu gua”. Sudah pasti disemprot pertanyaan “KTP mana bos?”

Tanpa sadar, warga Jogja yang model demikian hanyalah kelompok munafik. Kelompok yang mati-matian melindungi keistimewaan, namun membenci bagaimana daerah istimewa ini memperlakukan warganya. Bahkan jika tidak mau mengaku, segala keluh kesah warga Jogja Pride ini bermuara pada perkara yang sama. Tapi hebat juga lho. Sudah diperkosa birokrasi tumpang tindih, ditelanjangi pandemi, bahkan dihajar “perampasan” tanah kas desa oleh Kraton, ada jiwa istimewa yang harus dibela.

Ironis sih, warga Jogja yang cenderung ndlogok ini membela keistimewaan ini salah sasaran. Ketika keistimewaan jadi spirit, yang dibela adalah ide-ide hasil daur ulang dari bangsa lain. Ketika membela pariwisata dengan semangat keistimewaan, yang dibela adalah para investor yang tidak berniat melindungi budaya Jogja. Pekok sekali, bukan?

Sumber gambar: Pixabay

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 30 Oktober 2021 oleh

Tags: cringeJogjaspot fotoSquid Game
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

3 Tips untuk Wisatawan Jogja biar Mudah Pahami Jalanan Jogja terminal mojok.co

4 Tips untuk Wisatawan Jogja biar Mudah Pahami Jalanan Jogja

22 November 2021
Penutupan Plengkung Gading Adalah Kecemasan Terbesar Saya Sebagai Penglaju Bantul-Sleman Mojok.co

Penutupan Plengkung Gading Adalah Kecemasan Terbesar Saya sebagai Penglaju Bantul-Sleman

23 September 2025
Orang Jawa Timur Kaget dengan Soto Bening di Jogja, tapi Lama-Lama Bisa Menerima dan Doyan Mojok.co

Orang Jawa Timur Kaget dengan Soto Bening di Jogja, tapi Lama-Lama Bisa Menerima dan Doyan

25 April 2026
Jogja City Mall, Tempat yang Cocok untuk Melepas Penat Tanpa Takut Terlihat Melarat  Mojok.co

Jogja City Mall, Tempat yang Cocok untuk Melepas Penat Tanpa Takut Melarat 

24 April 2025
5 Hal yang Tidak Ditemukan di Malioboro Jogja. Baca Ini Sebelum Berkunjung!

5 Hal yang Tidak Ditemukan di Malioboro Jogja. Baca Ini Sebelum Berkunjung!

18 Oktober 2023
5 Hal yang Bikin Saya Menderita ketika Pindah dari Jogja ke Semarang

5 Hal yang Bikin Saya Menderita ketika Pindah dari Jogja ke Semarang

6 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Alasan Wonogiri Masih dan Akan Selalu Jadi Ibu Kota Bakso Indonesia, Malang Minggir Dulu!

20 Mei 2026
4 Kelebihan Kuliah di Samarinda yang Bikin Kuliah di Jogja Jadi Kelihatan Biasa Saja

Samarinda Tidak Ramah buat Mahasiswa yang Tidak Bisa Naik Motor karena Tidak Ada Transportasi Umum yang Bisa Diandalkan!

21 Mei 2026
Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau Mojok.co

Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau

16 Mei 2026
Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan Terminal

Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan

15 Mei 2026
Peribahasa Ada Harga Ada Rupa Tidak Berlaku untuk “MBG” Superindo yang Wujudnya Meyakinkan, Rasa Enak, dan Harganya Tetap Murah Mojok.co

Peribahasa Ada Harga Ada Rupa Tidak Berlaku untuk “MBG” Superindo yang Wujudnya Meyakinkan, Rasa Enak, dan Harganya Tetap Murah

17 Mei 2026
Jadi MUA di Desa Sulit Cuan karena Selalu Dimintai “Harga Tetangga” kalau Menolak Dicap Pelit Mojok.co

Jadi MUA di Desa Sulit Cuan karena Selalu Dimintai “Harga Tetangga” kalau Menolak Dicap Pelit

18 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.