Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

5 Alasan Banyak Perantau Belum Mau Angkat Kaki dari Jogja, sekalipun UMR-nya Tidak Masuk Akal

Ajie Prasetya oleh Ajie Prasetya
15 Agustus 2025
A A
Jogja Resah Ketika Parkir Liar Menggembosi Usaha Kopi Lokal (Unsplash)

Jogja Resah Ketika Parkir Liar Menggembosi Usaha Kopi Lokal (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Di Jogja ini, ada satu fenomena yang kalau dipikir-pikir pakai logika waras, rasanya kok ya anomali banget. Kamu bisa menemukan banyak sekali mahasiswa yang sudah selesai wisuda, sudah menyandang gelar sarjana, tapi belum juga angkat koper kembali ke kampung halaman. Mereka bertebaran di setiap sudut kota, sibuk cari kerja, kadang jadi freelancer, atau sekadar ngopi sambil mikir masa depan.

Padahal, kita semua tahu lah, kalau soal gaji, Jogja ini termasuk salah satu yang paling rendah se-Indonesia. UMR-nya sering kali jadi bahan ejekan teman-teman yang kerja di Jakarta atau kota besar lain. Tapi anehnya, mereka tetap bertahan. Seolah-olah ada magnet tak terlihat yang menarik mereka untuk tetap tinggal, menantang logika ekonomi, dan hidup dengan segala keterbatasannya. Lantas, kenapa sih mereka ini kekeuh banget bertahan di Jogja?

Seenggaknya, ada beberapa alasan fundamental yang mungkin tak terlihat oleh mata orang luar, tapi sangat dirasakan oleh para perantau yang memilih untuk menetap di kota ini.

Biaya hidup Jogja yang relatif masih masuk akal

Ini adalah alasan paling logis dan paling sering jadi pembelaan. UMR Jogja memang rendah, itu fakta. Tapi, biaya hidup di sini, dibandingkan kota besar lain, juga masih sangat terjangkau. Kalau di Jakarta uang segitu cuma cukup buat bayar kos dan makan Indomie, di Jogja kamu masih bisa beli nasi kucing di angkringan, nongkrong cantik di warung kopi lokal, dan sesekali healing ke pantai selatan dengan ongkos yang tidak bikin dompet menjerit.

Uang sewa kosan pun masih jauh lebih murah. Transportasi tidak sebrutal di Jakarta. Semua serba “terjangkau.” Jadi, para perantau ini sadar betul, meskipun gajinya kecil, daya beli mereka di Jogja masih cukup untuk bertahan hidup walau kepala pusing tujuh keliling juga.

Lingkaran sosial yang sudah jadi “rumah” kedua

Bayangkan, kamu sudah menghabiskan 4 sampai 5 tahun masa kuliah di sini. Semua teman, semua komunitas, semua kenanganmu ada di Jogja. Kamu sudah punya “keluarga” kedua yang siap sedia membantu. Pergi ke sana-sini ada teman, butuh bantuan ada yang bisa dihubungi, bahkan saat galau pun ada tempat curhat yang terdekat.

Kalau tiba-tiba harus pindah ke kampung halaman, itu artinya kamu harus memulai semuanya dari nol lagi. Mencari teman baru, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan membangun lingkaran sosial yang mungkin sudah tidak sama lagi. Bagi sebagian orang, beratnya perpisahan sosial ini jauh lebih besar daripada tantangan finansial di Jogja. Mereka memilih tetap di sini karena di sinilah “rumah” mereka.

Peluang kerja di Jogja fleksibel & banyak lowongan

UMR Jogja memang rendah, itu sudah harga mati. Tapi, kota ini adalah surga bagi pekerja kreatif, freelancer, dan mereka yang bergerak di industri digital. Banyak sekali start-up kecil, agensi kreatif, dan komunitas-komunitas yang menawarkan pekerjaan yang fleksibel, meskipun gajinya tidak seberapa. Belum lagi tawaran jadi barista karena kofisyop yang tersebar di mana-mana seantero Jogja. 

Baca Juga:

Dear Wisatawan, Jangan Bangga Berhasil Membawa Oleh-oleh Bakpia Kukus, Itu Cuma Bolu Menyaru Kuliner Jogja yang Salah Branding

5 Masjid Unik Jogja yang Patut Dikunjungi biar Nggak ke Masjid Jogokariyan Melulu

Dibandingkan dengan kembali ke kampung halaman yang mungkin tidak punya ekosistem pekerjaan seperti itu, bertahan di Jogja adalah pilihan yang realistis. Mereka bisa tetap produktif, mengasah skill, dan mendapatkan pengalaman kerja, meskipun secara nominal gaji belum bisa menyaingi ibu kota. Mereka memilih peluang dan pengalaman di atas nominal gaji yang besar.

Kemudahan akses lebih masuk akal dibanding kota lain

Kalau di kota-kota besar lain, jarak dari rumah ke kantor bisa menghabiskan waktu dua jam di jalanan yang macet, di Jogja ceritanya beda. Karena kotanya relatif kecil dan padat, semua serba dekat. Dari ujung utara ke ujung selatan, atau dari timur ke barat, bisa ditempuh dalam waktu yang wajar. Jarak 10 kilometer bisa ditempuh dalam waktu 20-30 menit, tergantung nasib di lampu merah.

Ini bukan cuma soal menghemat waktu, tapi juga menghemat uang. Biaya bensin tidak membengkak karena perjalanan yang jauh. Stres karena macet pun jauh berkurang. Semua serba “cepat sampai” dan “efisien”. Bagi para perantau yang sudah lelah dengan kerasnya dunia, Jogja menawarkan sebuah solusi praktis. Mereka memilih efisiensi waktu dan uang, yang secara tidak langsung, mengkompensasi gaji yang kecil.

Pulang kampung pun, belum tentu dapat pekerjaan yang lebih baik

Dan ini, mungkin, adalah alasan paling pragmatis sekaligus paling menyakitkan. Setelah menghabiskan berpuluh-puluh juta rupiah untuk biaya kuliah, banyak yang sadar bahwa pulang kampung bukanlah solusi ajaib. Di kampung halaman, lapangan pekerjaan yang “proper” dan sesuai dengan gelar sarjana sering kali terbatas. Kalaupun ada, persaingannya ketat dan gajinya bisa jadi tidak jauh beda, atau bahkan lebih rendah dari UMR Jogja.

Alhasil, daripada pulang dan jadi pengangguran bergelar sarjana, lebih baik bertahan di Jogja. Meskipun gajinya pas-pasan, setidaknya ada pekerjaan. Setidaknya masih bisa mandiri, tidak merepotkan orang tua. Ini adalah sebuah keputusan realistis yang diambil setelah melihat situasi yang serba sulit, baik di Jogja maupun di kampung halaman. Mereka memilih bertahan di “zona nyaman” dengan gaji rendah, daripada mengambil risiko besar di “zona tidak pasti” yang mungkin lebih parah.

Pada akhirnya, fenomena perantau yang betah di Jogja meskipun UMR-nya rendah bukanlah sebuah keanehan. Ini adalah perpaduan antara perhitungan rasional dan kesadaran pahit akan realitas. Mereka memilih untuk hidup dengan segala keterbatasannya di sini, daripada hidup dengan segala ketidakpastiannya di tempat lain. Mungkin benar kata orang, Jogja itu memang pelik. Saking peliknya, ia bahkan membuat kita nyaman dengan gaji yang serba pas-pasan, daripada kenyataan yang lebih keras di tempat lain.

Penulis: Ajie Prasetya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Bagi Warga Bantul Ajakan Bukber di Sleman Adalah Bentuk Diskriminasi dan Ketidakadilan, Apa Orang Jogja Utara Memang Egois?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Agustus 2025 oleh

Tags: biaya hidup di jogjaJogjatinggal di jogjaumr jogja
Ajie Prasetya

Ajie Prasetya

Buruh agensi dari Bantul yang menaruh perhatian atas isu-isu sosial, industri kreatif, dan lika-liku percintaan. Bukan perokok, tapi pecandu Americano.

ArtikelTerkait

sumber suara drumband di jogja suara gamelan malam hari pendatang arti makna urban legend mitos klenik mojok.co

Suara Drumband di Jogja pada Malam Hari, Menurut 4 Teori

26 Maret 2021
Kerja Part Time di Jogja Adalah Jalan Pintas Menuju Perbudakan, Gaji Setengah UMR pun Nggak Ada! umr jogja gaji di jogja gaji umr jogja

Begini Cara agar Hidup Selamat di Jogja dengan Gaji UMR Jogja 2025: Harus Siap Menderita karena Itu Satu-satunya Pilihan

23 Mei 2025
Jogja Nggak Berubah Itu Bullshit! Cuma Omong Kosong Belaka! (Unsplash)

Setelah Merasakan Tinggal di Jogja, Ternyata Jogja Tidak Semurah yang Digembar-gemborkan

22 Januari 2026
Sri Sultan HB IX, Sultan Paling Sakti Sekaligus Raja Sakti Terakhir Tanah Jawa

Sri Sultan HB IX, Sultan Paling Sakti Sekaligus Raja Sakti Terakhir Tanah Jawa

12 Februari 2024
5 Rekomendasi Hotel Unik di Jogja buat yang Bosan ke City Hotel Terminal Mojok

5 Rekomendasi Hotel Unik di Jogja buat yang Bosan ke City Hotel

18 November 2022
5 Alasan Kenapa Tidak Semua Orang Bisa Tinggal di Jogja (Unsplash)

5 Alasan Kenapa Tidak Semua Orang Bisa Tinggal di Jogja

6 September 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Saya Kapok Ikut Bukber! Cuma Kenyang Dipameri Lanyard Kantor dan Kesuksesan Teman-teman Mojok.co

4 Alasan yang Bikin Saya Malas Datang Bukber, Bukan Cuma karena Jadi Ajang Pamer

21 Februari 2026
Ilustrasi Bus Bagong Berisi Keresahan, Jawaban dari Derita Penumpang (Unsplashj)

Di Jalur Ambulu-Surabaya, Bus Bagong Mengakhiri Penderitaan Era Bus Berkarat dan Menyedihkan: Ia Jawaban dari Setiap Keresahan

20 Februari 2026
Berharap Terminal Bawen Semarang Segera Berbenah agar Tidak Membingunkan Pengunjung Mojok.co

Berharap Terminal Bawen Semarang Segera Berbenah agar Tidak Membingungkan Pengunjung

20 Februari 2026
Innova Reborn, Mobil Zalim yang Mengalahkan Kesalehan Zenix (Wikimedia Commons)

Innova Reborn Mobil yang Nakal dan Zalim, tapi Tetap Laku karena Kita Suka yang Kasar dan Berisik, bukan yang Saleh kayak Zenix

15 Februari 2026
Cuan Jualan Takjil Memang Menggiurkan, tapi Cobaannya Nggak Kalah Besar Mojok.co

Cuan Jualan Takjil Memang Menggiurkan, tapi Cobaannya Nggak Kalah Besar

21 Februari 2026
Kalau Nggak Doyan Kuliner Sumenep, Cobalah Kuliner Orang Bangkalan Madura yang Ternyata Beragam Mojok.co

Kalau Nggak Doyan Kuliner Sumenep, Cobalah Kuliner Bangkalan Madura yang Rasanya Nggak Kaleng-kaleng

15 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Omong Kosong Menua Tenang di Desa: Menjadi Ortu di Desa Tak Cuma Dituntut Warisan, Harus Pikul Beban Berlipat dan Bertubi-tubi Tanpa Henti
  • WNI Lebih Sejahtera Ekonomi dan Mental di Malaysia tapi Susah Lepas Paspor Indonesia, Sial!
  • 3 Dosa Indomaret yang Membuat Pembeli Kecewa Serta Tak Berdaya, tapi Tak Bisa Berbuat Apa-apa karena Terpaksa
  • Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang
  • Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa
  • Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.