Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Benarkah Dongeng Klasik Tidak Layak untuk Anak-anak?

Erma Kumala Dewi oleh Erma Kumala Dewi
5 Agustus 2022
A A
Benarkah Dongeng Klasik Tidak Layak untuk Anak-anak Terminal Mojok

Benarkah Dongeng Klasik Tidak Layak untuk Anak-anak (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Siapa yang nggak kenal kisah Cinderella, Putri Salju, Ariel si Putri Duyung, dan Putri Tidur? Harus diakui, kisah-kisah dongeng tersebut telah berkontribusi mewarnai masa kecil jutaan anak di dunia. Bahkan kisah-kisah dongeng klasik tersebut sampai diadaptasi oleh Disney dan membuat kepopulerannya makin melejit ke luar Eropa.

Akan tetapi, belakangan ini banyak orang memperdebatkan kelayakan dongeng klasik sebagai bacaan anak-anak. Orang-orang menganggap kisah sebenarnya sama sekali tidak ramah anak. Saat masih kecil dulu, saya sama sekali tidak kepikiran kalau ternyata kisah dongeng klasik menyimpan keburukan. Bukan karena kisah kelamnya, melainkan karena kisah yang dikenal anak-anak saat ini adalah versi Disney yang sudah disunting sedemikian rupa sehingga berakhir bahagia dan jauh dari kata seram. Dalam pikiran saya sebagai anak-anak, kisah-kisah tersebut sangat menghibur dan memuat pesan-pesan terpuji.

Bagi saya, yang membuat kisah dongeng klasik ini perlu dipertimbangkan ulang sebagai konsumsi anak-anak adalah muatan nilai-nilainya yang tidak lagi relevan terhadap zaman. Sekalipun dongeng itu adalah versi Disney yang sudah mengeliminasi unsur kelam dari kisah aslinya. Usaha mempermanis kisah seram itu tidak berhasil membuat dongeng klasik ini selaras dengan perkembangan zaman.

Latar dongeng klasik

Dongeng klasik yang kita kenal kebanyakan berlatar Eropa abad pertengahan. Ingat, pada masa itu Eropa yang katanya beradab masih ada dalam bayang-bayang abad kegelapan. Masyarakatnya masih mabuk agama dan sangat percaya pada hal-hal mistis. Tak heran jika kita sering menjumpai hal-hal ajaib di luar nalar dalam dongeng klasik. Karakter peri, kurcaci, dan penyihir dimunculkan sebagai sosok yang punya kemampuan sihir ajaib untuk menolong atau mengutuk manusia.

Bisa jadi fenomena itu merupakan gambaran cara pandang orang-orang di zaman tersebut terhadap fenomena yang tidak bisa dijelaskan secara logis. Maklum saja ilmu pengetahuan kan belum berkembang. Sekelas Galileo Galilei saja harus dihukum mati karena penemuannya tidak sesuai dengan doktrin gereja.

Mari kita ambil contoh adegan ratu jahat yang dihukum menari seumur hidup dalam kisah Twelve Dancing Princesses atau anak-anak Kota Hamelin yang dikisahkan lenyap dari kota setelah terhipnotis menari-nari mengikuti Si Peniup Seruling dalam dongeng Pied Piper of Hamelin. Saya menduga, adegan menari tanpa henti dalam 2 dongeng tersebut terinspirasi oleh wabah menari yang melanda Perancis di tahun 1518. Beberapa abad kemudian diketahui bahwa penyebab wabah itu bukanlah sihir ajaib, melainkan keracunan ergot, jenis jamur yang tumbuh sebagai parasit pada tanaman serealia.

Lagi pula nilai-nilai sosial dalam masyarakat Eropa abad pertengahan sangat berbeda dengan zaman sekarang. Yang paling kentara adalah cara pandang terhadap peran perempuan. Masyarakat pada abad-abad itu—yang masih sangat menjunjung tinggi budaya patriarki—selalu menganggap perempuan sebagai warga negara kelas dua yang tidak punya peran di ruang publik. Perempuan hanya diberi tugas dalam ranah-ranah domestik. Makanya putri-putri dalam dongeng klasik digambarkan harus cantik, berbudi luhur, dan cukup bersuamikan pangeran agar bisa hidup enak. Karakter putri yang menyadari pentingnya ilmu pengetahuan baru bisa kita temukan dalam sosok Belle dari dongeng Beauty and The Beast ke belakang.

Perempuan jadi sosok jahat dalam dongeng

Selain itu, karakter jahat dalam dongeng klasik kebanyakan disematkan pada sosok perempuan. Biasanya berjenis penyihir perempuan seperti Maleficent, ibu tiri, dan ratu yang iri. Kalaupun ada pertempuran antar penyihir, penyihir perempuan yang jahat akan dikalahkan oleh penyihir laki-laki yang baik. Penjahat laki-laki baru banyak bermunculan di waktu yang lebih belakangan.

Baca Juga:

4 Hal Menyebalkan yang Membuat Ibu-ibu Kapok Pergi ke Posyandu

Alasan Banyak Nama Anak Zaman Sekarang Semakin Rumit

Menurut saya, karakter penjahat perempuan ini muncul sebagai cerminan ketakutan masyarakat pada masa itu terhadap perempuan yang punya kemampuan setara laki-laki. Lihat saja kasus Pengadilan Penyihir Salem yang terjadi di Amerika di akhir abad ke-17. Kebanyakan pesakitannya perempuan, kan? Jadi, pembuatan karakter penjahat perempuan dalam dongeng klasik adalah cara orang tua di zaman itu untuk membuat anak-anak perempuannya tetap menjadi anak yang anteng dan tidak perlu menonjol di masyarakat. Biar saja laki-laki yang yang berilmu, jago bertarung, dan piawai memerintah kerajaan. Perempuan cukup dikenal karena kecantikan dan kelembutan hatinya saja.

Dan lagi konstruksi pemikiran terhadap standar kecantikan yang ditanamkan dongeng klasik itu nyatanya sungguh mengerikan. Anggapan bahwa cantik itu harus putih, tinggi, langsing, dan tetek bengeknya masih bertahan hingga berabad-abad lamanya. Anak-anak sudah terdoktrin sedari kecil bahwa cantik itu ya harus seperti putri-putri dalam dongeng yang dibacanya. Celakanya, doktrin itu ikut-ikutan dimanipulasi oleh industri kosmetik dan fesyen demi mendulang untung. Sampai sekarang masih banyak lho yang tidak bisa move on dari standar kecantikan kuno itu walaupun standar kecantikan perlahan sudah bergeser ke arah yang lebih baik.

Tapi, apakah kita pantas mencela berbagai kekurangan dari dongeng klasik? Tentu saja tidak, karena begitulah kondisi zaman pada saat itu. Dongeng klasik hanya menjadi media yang merekam fenomena sosial sesuai zamannya. Toh, memang pesan-pesan yang termuat dalam dongeng klasik itu sifatnya tak lekang oleh waktu seperti hormatilah orang tua, jangan serakah, dsb. Hanya pengemasannya yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman.

Jadi, dongeng klasik sebenarnya tetap layak jadi konsumsi anak-anak. Syaratnya, kita sebagai orang dewasa ikut hadir untuk meluruskan hal-hal yang diskriminatif dan tidak relevan dengan perkembangan zaman. Kalau kamu merasa kurang sreg menceritakan kisah-kisah putri Cinderella dan kawan-kawannya karena takut anakmu jadi kemayu dan suka halu, ya tinggal pilih saja cerita-cerita yang sesuai dengan nilai kehidupan yang kamu anut. Gitu saja ndak perlu dibuat repot.

Penulis: Erma Kumala Dewi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Gelapnya Cerita Dongeng Klasik Pas Dibaca Ulang Saat Dewasa.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 4 Agustus 2022 oleh

Tags: AnakDongeng Klasik
Erma Kumala Dewi

Erma Kumala Dewi

Penggemar berat film kartun walaupun sudah berumur. Suka kulineran dan kekunoan.

ArtikelTerkait

Cukai Minuman Berpemanis Ditambah: Kurangi Konsumsi Gula atau Keruk Uang Rakyat?

Minuman Kemasan untuk Anak: Tampilannya Menarik Hati, Kandungan Gulanya Bikin Ngeri

17 November 2022
musim permainan di sd anak 2000an tren remaja anak-anak di indonesia mojok.co

Pengalaman Saya Sekolah di SD yang Punya 6 Musim

16 Juli 2020
Alasan Banyak Nama Anak Zaman Sekarang Semakin Rumit Mojok.co

Alasan Banyak Nama Anak Zaman Sekarang Semakin Rumit

21 Januari 2025
pasangan yang belum dikaruniai anak

3 Kalimat yang Tidak Boleh Diucapkan kepada Pasutri yang Belum Dikaruniai Anak

23 September 2021
Stop Nyinyirin Tumbuh Kembang Anak Orang Lain, Kondisi Tiap Anak Berbeda-Beda!

Stop Nyinyirin Tumbuh Kembang Anak Orang Lain, Kondisi Tiap Anak Berbeda-Beda!

22 Juni 2022
dibully

Apa yang Harusnya Orang Tua Lakukan kalau Anaknya Dibully?

20 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Tanya Rekomendasi Tempat Wisata ke Orang Bandung karena Orang Bandung Asli Biasanya Nggak Tahu

Derita Menikah dengan Orang Bandung: Tidak Pernah Merasakan Drama Mudik hingga Selalu Diejek

21 Maret 2026
Normalisasi Utang Koperasi demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah Seperti Keluarga Mojok.co

Normalisasi Utang Koperasi Kantor demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah seperti Keluarga

18 Maret 2026
7 Barang Indomaret yang Semakin Laris Manis Saat Mudik Mojok.co

7 Barang Indomaret yang Semakin Laris Manis Saat Mudik

17 Maret 2026
Suzuki Satria Pro Aib Terbesar Suzuki yang Tak Perlu Lahir (Wikimedia Commons)

Suzuki Satria Pro: Aib Terbesar Suzuki yang Seharusnya Tak Perlu Lahir

18 Maret 2026
Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co

Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini

19 Maret 2026
Toyota Avanza Sering Dihina, padahal Mobil Paling Ideal untuk Keluarga Kelas Menengah yang Ingin Sehat Finansial Mojok.co

Toyota Avanza Sering Dihina, padahal Mobil Paling Ideal untuk Keluarga Kelas Menengah yang Ingin Sehat Finansial

16 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.