Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Gelapnya Cerita Dongeng Klasik Pas Dibaca Ulang Saat Dewasa

Vini Salma Fadhilah oleh Vini Salma Fadhilah
14 April 2020
A A
Unsur Sadis di Balik Dongeng Eropa yang Diadaptasi oleh Disney terminal mojok.co

Unsur Sadis di Balik Dongeng Eropa yang Diadaptasi oleh Disney terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Sejak pertengahan tahun 2017, setiap kali saya datang ke toko buku besar di mal, saya selalu menyempatkan diri untuk berdiri di depan rak buku-buku klasik. Karena biaya tugas kuliah yang bikin dompet serak karena keseringan teriak, saya nggak selalu ke toko buku buat beli buku. Kadang, saya datang keliling toko buku cuma buat hiburan kalau lagi sedih aja dan bikin daftar buku yang mau dibeli kalau saya sudah punya cukup uang.

Waktu itu, buku klasik pertama yang saya beli adalah “Alice’s Adventure in Wonderland” yang satu paket dengan “Alice Through The Looking Glass” dan buku Johanna Spyrie, “Heidi”. Alasan saya beli kedua buku itu adalah karena waktu pertama saya nonton Alice dan Heidi, saya masih sangat kecil. Saya sudah lupa plot intinya dan cuma ingat fragmen-fragmen memori tentang film-film itu yang berceceran. Jadi, saya mau bernostalgia saja.

Tidak disangka. Saya jadi sangat suka betapa Lewis Carroll menulis sebuah mimpi buruk yang indah banget. Juga wkatu saya baca Heidi, buat pertama kalinya saya ngerasa bahagia yang benar-benar bahagia di sepanjang saya baca buku itu. Sejak baca Heidi, saya jadi punya cita-cita buat menghabiskan masa tua tinggal di New Zealand sambil ngangon kambing aja.

Beberapa bulan kemudian waktu saya sudah punya cukup uang buat beli buku baru, saya beli kumpulan dongeng klasik berjudul “Classic Treasury Bedtime Stories.” Sampul bukunya berwarna biru muda. Waktu baca buku itu saya mulai ngerasa beberapa cerita dongeng klasik itu gelap dan sebaiknya memang dibaca kembali oleh orang dewasa.

Cerita pertama yang bikin saya semakin jatuh cinta sama buku dongeng klasik adalah dongeng dengan judul “The Wise Girl”. Dongeng itu manis banget tapi juga nggak menunjukkan karakter perempuan yang lemah. Terus di buku itu saya kenalan sama Nesreddin Hodja, karakter dari dongeng Turki. Juga Nicolas Flamel, yang dulu cuma pernah dengar di film Harry Potter pertama.

Antusiasme saya sama cerita dongeng klasik berlanjut sampai bulan-bulan berikutnya. Buku selanjutnya yang say abaca adalah buku kumpulan dongeng dengan judul “English Fairy Tales”. Di buku ini, baru deh beneran kerasa ngeri-ngerinya cerita dongeng klasik.

“Jack and The Beanstalk”, “The Three Pig”, “The Boy Who Cried Wolf”, dan “Hansel and Gretel” kayaknya nggak begitu asing di telinga kebanyakan orang seusia saya. Tapi “The Black Bull O’Norroway”, “The Rose Tree”, “Tomtitot (Rumplestiltskin)”, dan “Blue Beard” sepertinya tidak banyak dari orang-orang seumuran dengan saya yang tahu tentang cerita-cerita itu.

“The Rose Tree” bercerita soal seorang anak gadis cantik yang dibunuh ibu tirinya sendiri di suatu musim salju. Ayah dan kakak laki-laki gadis itu cuma diberitahu kalau gadis itu hilang di hutan waktu mencari kayu bakar. Daging gadis itu dijadikan bahan untuk makan malam keluarga tersebut dan belulangnya dikubur di halam belakang.

Baca Juga:

Mal-Mal Jombang Kelewat Jadul Bikin Warlok Lebih Senang Ngemal di Mojokerto atau Kediri

Jadi MUA di Desa Sulit Cuan karena Selalu Dimintai “Harga Tetangga” kalau Menolak Dicap Pelit

Di tanah tempat tulang tersebut dikubur, tumbuhlah sebuah pohon mawar. Cerita tersebut ditutup oleh sebuah sajak yang selalu membuat saya bergidik merinding ketika membacanya.

“The Black Bull O’ Norroway” bercerita soal seorang pangeran yang dikutuk menjadi manusia banteng yang buruk rupa. Seorang gadis kasihan dan menemani perjalanan manusia banteng tersebut untuk mencari penyihir yang mengutuknya. Di perjalanan, gadis tersebut mencium sang manusia banteng dan kutukan tersebut lenyap. Ia kembali ke sosok aslinya; seorang pangeran tampan.

Setelah kutukan tersebut hilang, ia izin kepada gadis itu untuk melanjutkan perjalanan sendiri mencari si penyihir jahat dan membunuhnya. Tapi bertahun-tahun pangeran yang dulunya manusia banteng tidak kunjung kembali. Sang gadis memutuskan untuk melakukan perjalanan ke seluruh negeri untuk mencari sang pangeran. Dan ketika bertemu, sang pangeran sudah menikah dengan seorang putri bangsawan. Setiap malam, sang gadis akan menyanyikan sajak. Sajaknya sedih banget.

Tidak cukup sampai di situ, rasa penasaran saya terus berlanjut dan saya akhirnya saya beli buku “The Land of Stories” dimana dongeng-dongeng klasik seperti dongeng karya Hans C. Andersen dan Brothers Grimm ada di sana.

Di sana, ada tiga cerita yang ternyata cukup berbeda dengan apa yang selama ini kita tonton dari Disney.

The Little Mermaid di cerita Disney itu tidak mati. Di cerita aslinya, perjanjian ketika The Little Mermaid meminta sepasang kaki, selain lidahnya yang dipotong sehingga tidak bisa menyatakan perasaan ke pangeran adalah jika perasaan itu tidak terbalas, maka The Little Mermaid harus terjun ke lautan dan menjadi buih. Dan disaksikan oleh saudara-saudaranya yang memotong rambut, The Little Mermaid melompat, jadi buih di lautan, menuntun perempuan lain agar tidak mengulangi kesalahannya.

“Cinderella”. Selama ini, saya selalu mengira kalau Cinderella itu makhluk lemah dan manja. Ternyata, Cinderella nggak pernah bermimpi buat jadi istri pangeran. Mimpinya dia sesimpel pengin pergi ke pesta dansa.

Dongeng terakhir yang mau aku bahas di sini adalah “Rapunzel”—yang di film Disney menjadi “Tangled”. Di cerita aslinya, orangtua Rapunzel itu petani miskin biasa. Waktu ibunya lagi hamil, dia ngidam kol tetangga yang bagus banget. Ayahnya Rapunzel nyuri kol itu dari rumah tetangga karna dikira rumah itu kosong. Eh, taunya ada penyihir di dalemnya. Terus, penyihirnya marah soalnya kol yang dicuri itu namanya Rapunzel, obat buat orang buta dan botak.

Saya lupa kenapa Rapunzel sampai bisa dikurung di menara di cerita versi buku itu. Yang pasti, waktu proses Rapunzel kabur sama anak laki-laki dari menara, kejadian di buku itu nggak se-romantis dan se-heroik film Disney. Di sana, mereka jatuh dan mata anak laki-laki kena batu tajam dan jadi buta. Nah, lanjutannya saya lupa lagi hehe. Kalau mau lengkap, beli aja bukunya.

Dari semua buku dongeng yang saya baca selama tiga tahun terakhir, saya sampai di kesimpulan kalau buku dongeng itu sebenarnya buat orang dewasa. Atau, sebaiknya orang dewasa baca ulang buku dongeng klasik. Teman saya pernah bilang, “Pesan di buku dongeng itu klasik tapi basic.”

BACA JUGA Rasanya Punya Mantan yang Menikah dengan Sahabat Sendiri atau tulisan Vini Salma Fadhilah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 14 April 2020 oleh

Vini Salma Fadhilah

Vini Salma Fadhilah

Mahasiswi Desain Interior.

ArtikelTerkait

7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026
bondowoso kota sejuta julukan mojok

Bondowoso, Kota Sejuta Julukan

12 Agustus 2021
Mengutip Media Sosial Tanpa Izin Itu Hukumnya Makruh jurnalistik etika jurnalisme wartawan terminal mojok.co

Mengutip Media Sosial Tanpa Izin Itu Hukumnya Makruh

19 Oktober 2020
Jujur, Saya sebagai Mahasiswa Kaget Lihat Biaya Publikasi Jurnal Bisa Tembus 500 Ribu, Ditanggung Sendiri Lagi

Dosen Seenaknya Nyuruh Mahasiswa untuk Publikasi Jurnal, padahal Uang Mahasiswa Cuma Dikit dan Nggak Dikasih Subsidi Sama Sekali

17 Januari 2026
Bukit Menoreh, Tempat Wisata Kulon Progo yang Bikin Kapok untuk Kembali Lagi Mojok.co

Bukit Menoreh Memang Tidak Nyaman, dan Kamu Juga Nggak Harus Suka kok

5 Maret 2026
Hotel Amanjiwo Magelang Dekat di Mata, Jauh di Dompet. Keindahan yang Tidak Bisa Digapai Warga Lokal Mojok.co

Hotel Amanjiwo Magelang Dekat di Mata, Jauh di Dompet. Keindahan yang Tidak Bisa Digapai Warga Lokal

13 Mei 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mending Naik Bluebird daripada Taksi Online untuk Lanjut Perjalanan dari Stasiun atau Bandara, Lebih Minim Drama Mojok.co

Mending Naik Bluebird daripada Taksi Online untuk Lanjut Perjalanan dari Stasiun atau Bandara, Lebih Minim Drama

14 Mei 2026
Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau Mojok.co

Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau

16 Mei 2026
Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

18 Mei 2026
Mal-Mal Jombang Kelewat Jadul Bikin Warlok Lebih Senang Ngemal di Mojokerto atau Kediri Mojok.co

Mal-Mal Jombang Kelewat Jadul Bikin Warlok Lebih Senang Ngemal di Mojokerto atau Kediri

19 Mei 2026
4 Taman Semarang yang Cocok untuk Merenungi Hidup, Kursi Besi Indomaret Minggir Dulu Mojok.co

4 Taman Semarang yang Cocok untuk Merenungi Hidup, Kursi Besi Indomaret Minggir Dulu

12 Mei 2026
Peribahasa Ada Harga Ada Rupa Tidak Berlaku untuk “MBG” Superindo yang Wujudnya Meyakinkan, Rasa Enak, dan Harganya Tetap Murah Mojok.co

Peribahasa Ada Harga Ada Rupa Tidak Berlaku untuk “MBG” Superindo yang Wujudnya Meyakinkan, Rasa Enak, dan Harganya Tetap Murah

17 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.