Honda Vario 160 sedang jadi topik pembicaraan hangat di grup WhatsApp saya. Kendaraan ini diunggulkan dibanding motor matic lain. Heran juga bukan motor matic bertema retro atau ala-ala vespa yang jadi unggulan. Mungkin grup WA saya yang berisi wali murid anak-anak SD sudah bukan pasarnya kali ya.
Secara bentuk, motor ini sebenarnya layaknya motor matic pada umumnya. Tapi, ada aura dan detail yang membuat orang-orang menoleh. Lekukan bodinya terlihat tegas namun tetap elegan, lampu depan LED yang runcing memberi kesan modern.
Awalnya saya tidak begitu terpengaruh akan gengsi yang dibawa oleh Honda Vario 160. Namun, ketika ada kesempatan untuk menukar motor lama dengan motor baru. Entah kenapa Honda Vario 160 langsung terlintas di kepala. Dan, jujur saja ada kesombongan terselip di dalamnya. “Supaya nggak kalah sama tetangga,” batin saya.
Ternyata tidak cocok naik Honda Vario 160
Ada harga ada rupa, begitulah Vario 160. Harganya yang ada di kisaran Rp30 juta memang sesuai dengan performanya. Mesin 160cc bertenaga, suspensi nyaman, panel digital, lampu LED, dan keyless membuatnya terasa premium. Desainnya yang menarik perhatian memberi rasa bangga bagi pemiliknya.
Akan tetapi, saya harus mengakui kalau motor ini tidak cocok untuk semua orang. Terutama ibu-ibu kepala tiga yang menggunakan motor untuk ke pasar dan tempat-tempat lain yang nggak begitu jauh dari rumah. Salah satu tulisan Mojok juga pernah mengulasnya dengan apik dalam tulisan Daripada Jadi Balerina di Jalan, Sebaiknya Orang Mungil Jangan Mengendarai Honda Vario 160, Motornya Nyusahin kayak Peme….. Kurang lebih itulah yang saya rasakan. Kehebatan mesin dan keunggulan-keunggulan lainnya ternyata tidak saya butuhkan. Motor yang saya beli demi gengsi kini jadi kendaraan yang siap merepotkan saya setiap hari.
Baca halaman selanjutnya: Kemakan gengsi dan …



















