Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Belajar Tidak Ketergantungan Nasi dari Masyarakat Indonesia Timur

Erma Kumala Dewi oleh Erma Kumala Dewi
17 Juli 2022
A A
Belajar Tidak Ketergantungan Nasi dari Masyarakat Indonesia Timur

Belajar Tidak Ketergantungan Nasi dari Masyarakat Indonesia Timur (Diyanto Sarira via Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Tanpa nasi, orang Indonesia Timur masih bisa makan dengan bahagia. Dan kita harus belajar ke mereka

Ungkapan “belum makan kalau belum makan nasi” sering sekali digunakan untuk menggambarkan perilaku khas orang Indonesia. Rasanya kurang afdal kalau belum makan nasi. Bahkan dulu setiap liburan sekolah, kalau saya lagi masak Indomie dua bungkus masih aja ditambahin nasi sama almarhum simbah. Katanya makan mi kenyangnya nggak awet.

ADVERTISEMENT

Di Indonesia Timur, ungkapan “belum makan kalau belum makan nasi” nggak berlaku. Menurut pengalaman saya, masyarakat di sana termasuk yang paling konsisten menerapkan keberagaman pangan pada menu sehari-hari. Selain nasi mereka juga makan sagu, jagung, dan umbi-umbian.

Pola makan masyarakat Indonesia Timur ini mungkin akan membuat Soekarno yang pernah mencanangkan program Revolusi Menu Makan Orang Indonesia pada 1964 bangga. Tujuan dari program ini adalah mengenalkan keragaman pangan pada masyarakat Indonesia agar lepas dari ketergantungan beras, sehingga tidak perlu bergantung pada impor beras dari luar negeri.

Pada akhirnya diharapkan Indonesia bisa mencapai perekonomian yang berdikari. Sayangnya program yang baik ini pelaksanaannya belum tuntas betul karena keburu meletus geger 65 yang membuat program ini terlupakan seiring berjalannya waktu. Bisa dibilang cita-cita Si Bung Besar ini gagal karena nyatanya masyarakat Indonesia masih belum bisa lepas dari ketergantungan nasi sampai saat ini.

Dari segi gizi, keberagaman menu makanan pengganti nasi memungkinkan tubuh untuk mendapat asupan kandungan gizi yang lebih bervariasi dan lengkap. Kadar gulanya juga tidak setinggi nasi, baik untuk menurunkan diabetes. Tidak makan nasi setiap hari sebaiknya tidak lagi diidentikkan dengan kemiskinan, karena mengurangi nasi terbukti baik untuk kesehatan.

Kalian mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa orang Indonesia Timur tidak “ketergantungan” nasi? Saya beri jawabannya.

Kondisi geografis dan iklim yang sama sekali berbeda dengan daratan besar seperti Jawa dan Sumatera membuat budidaya padi tidak populer di Indonesia Timur. Kebutuhan akan beras sangat bergantung pada wilayah-wilayah dari barat. Kalau cuaca tidak memungkinkan untuk berlayar, maka pasokan bahan pokok termasuk beras juga akan terhambat. Beras menjadi langka dan harganya mahal. Untuk menyiasati kondisi yang serba tidak pasti itu, masyarakat di sana memiliki menu makan yang lebih beragam sesuai kondisi daerah masing-masing.

Baca Juga:

Nasi Megono Wonosobo, Olahan Nasi Terbaik yang Pernah Saya Cicipi dan Layak Dikenal Lebih Banyak Orang

Nasi Godog Magelang, Makanan Aneh yang Nggak Ramah di Lidah Pendatang

Lagian kan sebenarnya kita tuh nggak wajib-wajib amat makan nasi. Tapi, kalau tanya kenapa makanan satu ini bisa jadi kayak dogma, ya dogma itu selalu dekat dengan propaganda, bukan? Xixixi.

Awalnya saya belum terbiasa dengan pola makan seperti ini. Maklum, saya nggak pernah keluar dari Jawa, yang otomatis bikin saya ketergantungan sama beras. Di Ambon saya mulai belajar makan sagu. Ya, papeda dengan ikan kuah kuning. Mula-mula rasanya aneh seperti lem, tapi lama-kelamaan saya sangat menikmatinya dan bisa kenyang dengan makan sagu. Bahkan terkadang saya kangen dengan makanan itu.

Tapi, di Pulau Moa saya tidak pernah makan sagu lagi. Ternyata walaupun sama-sama wilayah Maluku, tidak semua wilayah membudidayakan sagu. Di sana umbi-umbian jadi makanan favorit pengganti nasi karena wilayahnya tandus. Hanya umbi-umbian yang mudah dibudidayakan. Masak nasinya pun seringkali dicampuri dengan kacang merah atau jagung. Bukan seperti di Jawa yang umbi-umbiannya diolah menjadi penganan manis atau dicolek dengan sambal, di Moa umbi-umbian ini benar-benar digunakan untuk menggantikan nasi. Iya, singkong dan ubi rebus itu dimakan dengan ikan dan sayur.

Saya pun merasa aneh karena belum terbiasa, agak seret-seret gimana gitu saat makan. Tapi lama-lama enak juga kok, dan bisa kenyang. Saat pagi, tidak setiap hari kami makan nasi. Biasanya hanya makan kue dan teh manis saja. Kalau di rumah tentunya sarapan semacam itu nggak bikin saya kenyang. Tapi karena di tempat orang, saya harus menyesuaikan diri. Akhirnya bisa terbiasa juga.

Keragaman pangan semacam itu bukan hanya diterapkan di level rumah tangga. Pemerintah setempat juga sangat mendukung swasembada pangan lokal. Di acara-acara hajatan yang diadakan pemerintah daerah, katering yang disajikan tidak melulu berisi nasi kotak standart yang lauknya ayam, mi, sambal goreng, dan sayur capcay itu.

Tidak jarang juga kotak makan cateringnya berisi umbi-umbian rebus, olahan ikan, babi, atau kerbau, serta tumis daun dan bunga pepaya. Sebisa mungkin pemerintah di sana berusaha memberdayakan potensi pangan lokal. Di Papua saya rasa kebiasaan makannya tidak terlalu jauh berbeda dengan orang-orang Maluku.

Sayangnya saat kembali lagi ke Jawa, ketergantungan saya pada nasi kambuh lagi. Saya yang masih tinggal sendiri merasa repot mengukus umbi. Lagipula beras lebih mudah didapat di sini. Ah, mungkin suatu saat nanti saya juga mau meniru lagi kebiasaan makan keluarga-keluarga di Indonesia Timur yang nggak terpaku pada nasi.

Penulis: Erma Kumala Dewi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Duka Pengidap Fobia Nasi yang Hidup di Indonesia

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 17 Juli 2022 oleh

Tags: Indonesia TimurketergantunganNasisaguumbi
Erma Kumala Dewi

Erma Kumala Dewi

Penggemar berat film kartun walaupun sudah berumur. Suka kulineran dan kekunoan.

ArtikelTerkait

Unhas Makassar Si Jago Kandang: di Indonesia Timur, Ia Juara, di Luar Itu, Bukan Siapa-siapa

Unhas Makassar Si Jago Kandang: di Indonesia Timur, Ia Juara, di Luar Itu, Bukan Siapa-siapa

10 Juli 2025
Makan Sate Padang Itu Pakai Ketupat, Bukan Lontong Apalagi Nasi

Makan Sate Padang Itu Pakai Ketupat, Bukan Lontong Apalagi Nasi

16 April 2023
3 Alasan Nasi Instan Susah Laku di Indonesia

3 Alasan Nasi Instan Susah Laku di Indonesia

19 Maret 2023
Pakistan Nggak Cocok untuk Kalian yang Tiap Pagi Harus Sarapan Nasi Mojok.co

Pakistan Nggak Cocok untuk Kalian yang Tiap Pagi Harus Sarapan Nasi

24 Januari 2025
Nasi Rames, Menu Makanan Paling Populer di Jawa Tengah jogja

Nasi Rames, Menu Makanan Paling Populer di Jawa Tengah

31 Agustus 2023
Kenapa ya Nasi Jadi Makanan Pokok Orang Indonesia?

Kenapa ya Nasi Jadi Makanan Pokok Orang Indonesia?

13 Agustus 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Perpustakaan Kota Pekalongan berbenah, akhirnya ada ruang publik yang bikin betah Mojok

Perpustakaan Kota Pekalongan berbenah, akhirnya ada ruang publik yang bikin betah 

21 Juli 2026
Pengakuan orang Semarang, lidah Jawa saya menyerah pada kuliner Jakarta yang nggak bikin selera Mojok.co

Pengakuan orang Semarang, lidah Jawa saya menyerah pada kuliner Jakarta yang nggak bikin selera

19 Juli 2026
Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang Mojok.co

Sleman semakin mahal, tetapi narasi kota mahasiswa murah tetap dipelihara

15 Juli 2026
Orang desa paham prioritas, nggak tergoda beli mobil murah seharga motor, lebih pilih motor mahal dan bagus karena kebutuhan Terminal

Orang desa paham prioritas, nggak tergoda beli mobil murah seharga motor, lebih pilih motor mahal dan bagus karena kebutuhan

15 Juli 2026
Alasan buku fisik tidak akan lenyap hanya karena buku digital merajalela Mojok.co

Alasan buku fisik tidak akan lenyap hanya karena buku digital merajalela

15 Juli 2026
Sendang Senjoyo dulu jadi primadona, kini banyak orang nggak sudi buat ke sana!

Sendang Senjoyo dulu jadi primadona, kini banyak orang nggak sudi buat ke sana!

19 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.