Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Beda China dan Indonesia saat Mengambil Kebijakan

Aliurridha oleh Aliurridha
9 April 2020
A A
Beda China dan Indonesia saat Mengambil Kebijakan

Beda China dan Indonesia saat Mengambil Kebijakan

Share on FacebookShare on Twitter

Ada berbagai hal yang membuat China dan Indonesia sangat berbeda dalam proses pengambilan kebijakan, dan ini bukan hanya soal kemampuan China yang dalam situasi gawat darurat mampu membangun 2 Rumah Sakit besar dalam hitungan 14 hari seperti sihir.

Dalam buku Billions Entrepreneurs yang menceritakan bagaimana China dan India menata kembali masa depan perekonomian mereka. Tharun Khanna penulis buku ini menjelaskan bahwa China mampu membangun fasilitas publik dalam semalam karena dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan pemerintahan China terhadap kepentingan pribadi. China menggunakan kekuasaannya demi kepentingan publik, sekalipun harus merusak kepentingan pribadi.

ADVERTISEMENT

Di China, sebagai pengaruh dari satu partai penguasa di pemerintahan, semua kebijakan juga diambil dengan tidak berbelit-belit karena tidak membutuhkan musyawarah. Selain itu, sistem negara yang otoriter juga membuat hampir tidak ada kebijakan yang mendapatkan penolakan. Tapi karena kebijakan China selalu atas nama “kepentingan publik” rakyat China jadi lebih mudah menerimanya.

Sementara di Indonesia, kebijakan negara cenderung mendahulukan kepentingan pribadi dibandingkan dengan kepentingan publik. Hal ini bisa terlihat dari banyak kebijakan yang sebenarnya mendapat “perlawanan” dari publik, tapi tetap disahkan. Hal ini terjadi karena keberadaan oligarki atau segelintir orang yang menguasai eknomi juga menguasai pemerintah. Makanya tidak heran kalau ehmm pemerintah selalu menomorsatukan kepentingan pemilik modal bahkan jika pemilik modal ini bermain “curang”.

Salah satu kasus terjadi di kampung halaman saya Maluk, Sumbawa Barat, di mana terjadi proses divestasi “haram” dari saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) yang diakuisisi PT Medco Energy Internasional. Kenapa saya bilang haram, karena melanggar Pasal 112 Undang Undang (UU) Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Minerba.

Dalam UU tersebut diatur bahwa setelah lima tahun berproduksi, badan usaha pemegang izin pertambangan (IUP) dan izin usaha pertambangan khusus (IUPK) yang sahamnya dimiliki oleh perusahaan asing wajib melakukan divestasi saham atau penjualan saham asing pada Pemerintah, Pemda, BUMN, BUMD, atau badan usaha swasta nasional. Dengan demikian berdasarkan ketentuan UU Minerba PT NNT wajib menjual sahamnya kepada Pemerintah, Pemda, BUMN, BUMD, atau badan usaha swasta nasional. Namun faktanya saham perusahaan ini jatuh kepada badan usaha swasta nasional dengan proses yang kurang transparan.

Tapi tentu saja tidak apa-apa jika ketika diakuisisi sahamnya ke perusahaan swasta nasional nasib para pekerja lebih untung. Justru yang terjadi adalah kebalikan, pemutusan hak kerja yang cukup besar-besaran, sebagian yang bertahan mendapat gaji yang jauh lebih kecil ketika perusahaan itu masih PT NNT bukan dengan nama barunya PT Aman Mineral Internasional (AMI).

Itu belum apa-apa yang paling parah adalah ikatan kontrak PT NNT yang memungkinkan setelah kontrak berakhir maka lahan tambang ini akan dikembalikan seperti sebelum masuk tambang tidak akan pernah dilakukannya. Karena ia sudah hengkang dari tanah Sumbawa digantikan oleh perusahaan swasta, AMI. Apakah AMI akan melakukan itu?

Baca Juga:

Saya Meninggalkan Drakor Sejak Kenal Dracin yang Ceritanya Lebih Seru

Apa yang Sebenarnya Perlu Kita Lakukan untuk Mengatasi Kemacetan?

Tentu saja tidak!

Mana mungkin mereka akan melakukan itu karena merugikan sama sekali. Modal yang dikeluarkan sangat besar untuk itu dan setiap kapitalis cuma punya satu tujuan dalam hidup, keuntungan. Mereka yang tidak terikat kontrak yang sama, tidak mungkin mau melakukan itu.

Logikanya seperti ini, jika A mengontrakkan rumahnya kepada B dan B berjanji akan memperbaiki apa saja yang rusak selama ia menempati rumah tersebut namun di tengah jalan datang si C yang menggantikan B untuk mengontrak di sana, maka si C tidak terikat kontrak perjanjian antara A dan B. Lantas siapa yang bodoh di sini?

Sudah jelaskan. Tidak perlu saya jelaskan lagi siapa yang bodoh di sini. Lantas kenapa A mau melakukan itu padahal dialah yang dirugikan dari kontrak ini?

Jawabannya karena A bukanlah individu, A adalah sebuah negara di mana banyak penunggang yang bermain untuk mencari untung dari proses divestasi saham ini. Mereka tidak terlalu peduli dengan lubang besar yang dikatakan sebesar kota Mataram, bahkan ada yang mengatakan sebesar pulau Lombok. Bagi mereka yang penting adalah keuntungan bukanlah perbaikan alam. Jika alam yang mereka pedulikan maka sedari awal pertambangan sudah ditolak.

Saya punya dua orang dekat yang di PHK setelah proses divestasi saham ini. Salah satunya Abah saya sendiri, salah duanya sepupu Abah saya. Keduanya hanyalah dua dari begitu banyak jumlah karyawan yang terpaksa di PHK. Meski begitu saya tidak menyesalinya, saya tidak punya romantisasi dari tambang ini. Bahkan saya cenderung menentangnya. Satu-satunya yang saya sesalkan adalah nasib dari alam di kampung halaman saya, pulau Sumbawa yang mungkin tidak akan pernah diperbaiki sesuai kontrak perjanjian di awal dengan PT NNT.

Saya bukan pengin Indonesia seperti China—menganut ideologi komunis, atau kemudian menerapkan sistem pemerintah otoriter—tapi pemerintah harus belajar dari China yang membuat kebijakan untuk kepentingan publik. Masa sebagai negara dengan ideologi pancasila yang salah satu silanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia pemerintah terus menerus mengabaikan apa yang diinginkan dan dibutuhkan rakyat, sih? Apa tidak malu?

BACA JUGA Kuba, Negara Kecil Bernyali Besar yang Ada di Garis Depan Hadapi Corona atau tulisan Aliurridha lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 9 April 2020 oleh

Tags: chinakebijakan barupemerintahan china
Aliurridha

Aliurridha

Pekerja teks komersial yang sedang berusaha menjadi buruh kebudayaan

ArtikelTerkait

Yuk Sama-Sama Siaga Sebelum Virus Corona Memasuki Indonesia!

Yuk Sama-Sama Siaga Sebelum Virus Corona Memasuki Indonesia!

29 Januari 2020
mahasiswa pertanian vietnam bus sleeper mojok

Naik Bus Sleeper Vietnam yang Lebih Ngeri dari Sumber Kencono

27 November 2020
Sama-sama Aksi Solidaritas, Produk Prancis Diboikot kok Produk China Nggak? terminal mojok.co

Sama-sama Aksi Solidaritas, Produk Prancis Diboikot kok Produk China Nggak?

3 November 2020
7 Hal di Kampus China yang Tidak Ditemukan di Indonesia

7 Hal di Kampus China yang Tidak Ditemukan di Indonesia

16 Maret 2022
batu bara

Wacana Pindah Ibu Kota di Tengah Tekanan Bisnis Sawit dan Batu Bara

28 Agustus 2019
Saya Berpaling dari Drakor Sejak Kenal Dracin yang Ceritanya Lebih Seru Mojok.co

Saya Meninggalkan Drakor Sejak Kenal Dracin yang Ceritanya Lebih Seru

18 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Desa Jangkar, Desa Paling Nyaman di Bangkalan Madura. Menetap Sehari, Langsung Ingin Datang Lagi

Desa Jangkar Bangkalan: desa paling anomali di Madura saat musim kemarau, tapi bikin desa lain cemburu

12 Juli 2026
Pengakuan jujur saya sebagai orang Semarang menghadapi kuliner kambing Tegal yang garang Mojok.co

Pengakuan orang Semarang yang kalah mental menghadapi garangnya kuliner kambing Tegal

7 Juli 2026
Orang Madura syok saat mengetahui rupa dan rasa gado-gado dari daerah lain Mojok.co

Orang Madura syok saat mengetahui rupa dan rasa gado-gado dari daerah lain

9 Juli 2026
Nasib Stasiun Karawang: Terasing di Rel Sendiri, Kalah Mentereng dari Stasiun Cikarang

Nasib Stasiun Karawang: Terasing di Rel Sendiri, Kalah Mentereng dari Stasiun Cikarang

8 Juli 2026
Culture Shock Anak Jombang Tinggal di Bogor: Makan Bubur Ayam Malam Hari Itu Aneh dan Nggak Kenyang!

Culture Shock Anak Jombang Tinggal di Bogor: Makan Bubur Ayam Malam Hari Itu Aneh dan Nggak Kenyang!

10 Juli 2026
Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar” Mojok.co Surabaya

Berhenti membandingkan Malang dan Surabaya: karakteristiknya beda, kenapa berusaha (terlalu) keras untuk membandingkannya?

10 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.