Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Beberapa Logical Fallacy dalam Pernyataan Yasonna Laoly Mengenai Tanjung Priok dan Menteng

Aliurridha oleh Aliurridha
27 Januari 2020
A A
Beberapa Logical Fallacy dalam Pernyataan Yasonna Laily Mengenai Tanjung Priok dan Menteng
Share on FacebookShare on Twitter

Pernyataan Yasonna Laoly tentang kejahatan terjadi lebih banyak di derah-daerah miskin dikecam oleh banyak pihak. Pasalnya ia menyatakan bahwa kejahatan lebih cenderung terjadi di derah-daerah slum areas seperti Tanjung Priok, tidak di Menteng. Meski ia sudah meminta maaf pada warga Tanjung Priok setelah didemo tentunya namun pernyataannya itu menarik untuk dibahas karena ada banyak sekali bentuk logical fallacy yang dibuatnya.

Saya akan menunjukkan logical fallacy dari pernyataan bapak yang terhormat ini dengan mengutip secara verbatim pernyataan-pernyataan yang disampaikan agar tidak dianggap mengada-ada. Saya hanya fokus pada pernyataan-pernyataan yang mengandung logical fallacy baru kemudian menjelaskannya.

“Itu sebabnya kejahatan lebih banyak terjadi di daerah-daerah miskin. Slum areas. Bukan di Menteng. Anak-anak Menteng tidak. Tapi coba pergi ke Tanjung Priok di situ ada kriminal. Lahir dari kemiskinan.”

Pernyataan Yasonna di atas menunjukkan kesalahan logika berupa Circular Reasoning Fallacy. Jenis kesalahan logika ini merupakan kesalahan logika di mana klaim kesimpulan dibuat dengan berputar pada premis awal yang sebenarnya belum tentu benar. Apakah benar kejahatan lebih banyak terjadi di Tanjung Priok daripada Menteng? Pernahkah ada penelitian yang membandingan tingkat jumlah kejahatan yang terjadi di Menteng dan Tanjung Priok?

Yasonna saat itu membuat klaim kesimpulan yang merujuk pada premis bahwa kejahatan lebih banyak di daerah miskin maka kejahatan banyak terjadi di Tanjung Priok yang ia sebutkan sebagai slum areas, tempat kumuh yang miskin ketimbang daerah Menteng. Lalu ia membuat kesimpulan kriminal lahir dari kemiskinan. Saya tidak perlu menjelaskan lebih detail karena saya rasa semua pembaca paham bahwa argumen bapak ini memang muter-muter.

“Saya ini kriminolog. Profesor kriminologi. Jadi jelas apa yang saya sampaikan itu sesuai kaidah keilmuan saya, jangan diputar balik.”

Logical fallacy selanjutnya adalah jenis kesalahan logika yang disebut Appeal to Authority. Jenis kesalahan logika ini ditunjukkan dengan pembuatan klaim yang tidak didasarkan pada kualitas dari argumen tapi menggunakan otoritas untuk mendukung klaim. Pada pernyataan tersebut Yasonna menggunakan otoritasnya sebagai seorang kriminolog, terlebih profesor kriminologi. Jadi apa yang ia sampaikan bisa disimpulkan sudah benar karena sesuai kaidah keilmuannya bukan karena kualitas dari argumennya. Iya deh profesor memang selalu benar meski banyak cacat dalam argumennya tetap benar.

“Berikan saya dua orang anak. Satu anak yang lahir di Menteng, kaya. Ibu kaya, bapak doktor atau profesor. Berikan saya. Dan ambil satu anak dari Tanjung Priok. Lahir dari ibu pelacur, bapak seorang preman. Kasih ke saya.

Baca Juga:

Tol Cibitung-Cilincing: Udah Sepi, Mahal, Nyusahin Warga Sekitar doang

Jakarta Utara, Perwujudan Nyata “Jakarta Keras”, Tempat Paling Tepat untuk Membentuk Mental

Dan kemudian anak Menteng itu saya kasih tinggal di tempat mamanya pelacur. Dan anak dari pelacur dan bapaknya preman saya kasih ke Menteng. Next twenty years. Look at them, who will be a criminal. Anak Menteng-kah atau Tanjung Priok? Biological factor only contribute (tak terdengar jelas), semua masyarakat harus paham soal ini.”

Terdapat dua kesalahan logika dari pernyataan Yasonna di atas. Yang pertama adalah kesalahan logika yang disebut dengan The Texas Sharpshooter Fallacy. Jenis kesalahan logika ini mengambil satu informasi yang dianggap signifikan dan mengklaim bahwa data itu otomatis adalah pembenar absolut dari pernyataan tanpa melihat variabel lainnya.

Yasonna dalam membangun klaim dari hasil penelitian, menyimpulkan bahwa kejahatan lahir dari kemiskinan. Parahnya Yasonna tidak mencoba menunjukkan bahwa penelitian itu benar adanya, dilakukan oleh siapa, dan kapan. Okelah karena dia seorang kriminolog kita asumsikan dia benar soal eksistensi penelitian tersebut. Namun jika suatu informasi diklaim benar tanpa melihat variabel lain maka klaim ini menjadi The Texas Sharpshooter Fallacy.

Jenis kesalahan logika yang kedua adalah Burden of Proof Fallacy. Jenis logika ini menganggap klaim benar jika tak ada pihak yang bisa membuktikan ia salah. Yasonna membuat klaim bahwa jika ia mendidik anak dari Tanjung Priok yang miskin dan lahir dari rahim seorang pelacur sekalipun akan bisa menjadi orang baik-baik jika ia dididik dengan pendidikan ala orang kaya di Menteng. Berkebalikan dari anak orang kaya dari Menteng yang bapaknya seorang profesor atau doktor tapi jika dididik dan dibesarkan dengan kemiskinan kemungkinan akan menjadi kriminal.

Narasi ini ia bangun untuk mendukung pernyataannya dan tidak bisa dibantah karena pernyataan ini bersifat apriori. Namun bukan berarti ia benar hanya karena tidak bisa dibuktikan salah. Lagian mana ada orang tua yang rela anaknya dibuat jadi subjek penelitian eksperiemental. Inikan sama saja melanggar kode etik penelitian.

Narasi ini dibangun dari pseudo sains dalam penelitian-penelitian yang menyangkut parenting yang sedari awal cacat prosedur. Stephen Pinker, The Blank Slate (2002) menjelaskan telah begitu banyak penelitian-penelitian yang menguji korelasi antara apa yang orang tua lakukan dan bagaimana hasilnya pada anak menyimpulkan parenting membentuk anak.

Pinker membahas penelitian yang menyimpulkan orang tua yang bicara banyak menghasilkan anak yang vokal, orang tua yang memukul anaknya membuat anaknya menjadi kasar. Hal ini tidaklah terlalu berbeda dari apa yang disampaikan Yasonna. Namun penelitian ini seringkali melupakan variabel bahwa orang tua mewariskan gen kepada anaknya.

Penelitian ini jenis ini hanya bisa dijadikan rujukan hanya jika ia memamsukan variable gen. Jadi menguji korelasi antara apa yang dilakukan orang tua terhadap anak angkatnya di mana tidak ada pengaruh dari faktor genetis barulah ia bisa disimpulkan bahwa parenting membentuk perilaku anak. Itu pun jika jika hipotesis diterima.

Narasi yang dibangun Yasonna sama sekali tidak berdasar dan bersifat apriori. Ia berasumsi tentang sesuatu sebelum bertemu dengan pengalaman tapi dengan seenaknya mengambil kesimpulan. Namun, karena ia menteri paling cerdas dalam pemerintahan Jokowi jadi tentu saja ia selalu benar. Beliau kan menteri lulusan Nort Carolina State University, semua lulusan Nort Carolina State University adalah orang yang cerdas.

Ngomong-ngomong saya juga membuat logical fallacy jenis Circular Reasoning Fallacy dalam tulisan ini. Apakah kalian bisa mendeteksi logical fallacy yang saya buat?

BACA JUGA Yasonna Laoly dan “Azab” karena Sudah Menghina Dian Sastrowardoyo atau tulisan Aliurridha lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Februari 2020 oleh

Tags: Logical FallacyMentengTanjung Priokyasonna laoly
Aliurridha

Aliurridha

Pekerja teks komersial yang sedang berusaha menjadi buruh kebudayaan

ArtikelTerkait

setya novanto bebas revisi pp 99 2012 yasonna loaly bebas umur 64 tahun penjara sukamiskin

Daftar Kegiatan Setya Novanto jika Jadi Dibebaskan Berkat Revisi PP 99/2012

7 April 2020
Jakarta Utara, Perwujudan Nyata "Jakarta Keras", Tempat Paling Tepat untuk Membentuk Mental

Jakarta Utara, Perwujudan Nyata “Jakarta Keras”, Tempat Paling Tepat untuk Membentuk Mental

14 November 2024
Ide Ngawur Yasonna yang Pengin Bebaskan Napi Korupsi karena Corona

Ide Ngawur Yasonna yang Pengin Bebaskan Napi Korupsi karena Corona

3 April 2020
Tol Cibitung-Cilincing: Udah Sepi, Mahal, Nyusahin Warga Sekitar doang

Tol Cibitung-Cilincing: Udah Sepi, Mahal, Nyusahin Warga Sekitar doang

3 November 2025
Yasonna Laoly dan "Azab" karena Sudah Menghina Dian Sastrowardoyo

Yasonna Laoly dan “Azab” karena Sudah Menghina Dian Sastrowardoyo

22 Januari 2020
Panduan Singkat buat Kamu yang Mau Pergi ke Priok

Panduan Singkat buat Kamu yang Mau Pergi ke Priok

21 Januari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya Mojok.co

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya

29 Januari 2026
4 Cara Mudah Menikmati Mie Ayam untuk Sarapan ala Warga Lokal Jakarta Mojok.co

Mie Ayam Tengah Malam, Kuliner yang Akan Membuatmu Kecewa Setengah Mati, Berkali-kali

28 Januari 2026
Kawali, Kecamatan Istimewa di Kabupaten Ciamis yang Jarang Dilirik. Hanya Dilewati Wisatawan yang Fokus ke Pangandaran

Kawali, Kecamatan Istimewa di Kabupaten Ciamis yang Jarang Dilirik. Hanya Dilewati Wisatawan yang Fokus ke Pangandaran

26 Januari 2026
4 Sisi Terang Mahasiswa Kupu-Kupu yang Selama Ini Dipandang Sebelah Mata Mojok.co

Mahasiswa Kupu-Kupu Jangan Minder, Kalian Justru Lebih Realistis daripada Aktivis Kampus yang Sibuk Rapat Sampai Lupa Skripsi dan Lulus Jadi Pengangguran Terselubung

27 Januari 2026
Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

31 Januari 2026
Pengalaman Menginap di Bobocabin Pacet Mojokerto: Tenang dan Nyaman, tapi Nggak Cocok buat Penakut

Pengalaman Menginap di Bobocabin Pacet Mojokerto: Tenang dan Nyaman, tapi Nggak Cocok buat Penakut

28 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis
  • DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF
  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.