Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Beban Berat Menjadi Sarjana di Kampung

Sigit Candra Lesmana oleh Sigit Candra Lesmana
26 Januari 2021
A A
Beban Menjadi Salah Satu dari Segelintir Sarjana di Kampung Terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Lulus kuliah, jadi sarjana, langsung kerja, lalu beli rumah. Setelah itu menikah dengan si dia, beli mobil, dan jalan-jalan keluar negeri. Itu impian yang setidaknya sebagian besar di antara kita menginginkannya. Tapi, apa daya ketika kenyataan berkata lain. Setelah lulus bukannya langsung dapat kerja, malah ternyata gelar yang kita dapatkan tidak berharga sama sekali. Cari kerja sulit, mau mulai usaha juga nggak punya modal. Mau buka lahan kerja dengan skill, eh skill yang dikuasai cuma rebahan.

Padahal tuntutan untuk sukses sangat besar. Bukan hanya demi diri sendiri dan keluarga, tapi bisa dikatakan juga demi semua warga di kampung saya. “Lah? Kok bisa kesuksesan elu berpengaruh sama warga desa?” Jika kalian punya pertanyaan seperti itu, mari saya ceritakan beban jadi salah satu dari tiga orang sarjana di kampung saya.

Kesadaran akan pendidikan di kampung saya itu masih sangat rendah. Juga dipengaruhi sebagian besar warga yang berprofesi sebagai buruh tani. Untuk memenuhi kebutuhan sandang, papan, dan pangan saja sudah susah, apalagi masih ditambah dengan biaya pendidikan. Meskipun saat ini sudah lumayan banyak bantuan dari pemerintah, tetap saja warga di kampung saya masih tidak yakin untuk berinvestasi pada pendidikan.

Hanya ada tiga orang yang memberanikan diri untuk sekolah sampai ke tingkat perguruan tinggi. Secara tidak langsung, kami bertiga seakan mengambil sebuah tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab ini bertahun-tahun terbengkalai dan tidak ada yang berani untuk mengambil peran. Jujur saja di awal-awal perkuliahan, kami bertiga belum sadar bahwa warga desa menaruh harapan dan menunggu hasil dari tempaan yang kami jalani selama berkuliah.

Sampai saat ketika kami sama-sama sudah lulus, jadi sarjana, dan tak kunjung mendapat pekerjaan, semua mata warga desa seakan terarah pada kami dan menuntut hasil dari proses perkuliahan kami. “Nah kan, sudah dibilang kalau kuliah itu nggak ada hasilnya. Mending kerja di sawah.” Suara-suara seperti itu mulai sayup-sayup terdengar. Padahal kami memang tidak menjanjikan apa-apa setelah kami selesai kuliah dan jadi sarjana, namun ekspektasi warga kampung sudah telanjur tinggi.

Kami ingin warga kampung sadar akan pendidikan. Ingin memberi contoh bahwa pendidikan bisa membawa kehidupan yang lebih baik. Mau sampai kapan tenaga warga kampung kami hanya digunakan untuk garap lahan orang? Kapan mereka akan punya lahan sendiri kalau terus-terusan begini? Kami sebagai contoh mau tidak mau harus sukses. Kalau tidak sukses, warga kampung kami akan semakin tidak percaya pada pendidikan.

Beban yang lebih berat ada di pundak saya. Saya punya seorang keponakan yang berprestasi di sekolahnya. Saat SMA selama tiga tahun berturut-turut, dia selalu dapat peringkat 1 atau 2 di kelasnya. Jadi, sayang kalau tidak melanjutkan studi ke jenjang perkuliahan. Saya berusaha untuk membujuk orang tuanya agar mau menguliahkan sang anak. Semua informasi tentang beasiswa sudah saya berikan, tapi mereka tetap dengan keputusan awal bahwa setelah lulus SMA anaknya akan langsung bekerja.

Saya yang secara prestasi akademik biasa-biasa saja pengin kuliah bahkan sampai S3, lah dia yang prestasinya bagus kan eman jika tidak kuliah. Seakan menyia-nyiakan bakat yang sudah diberi Tuhan. Tapi yah bagaimana lagi, memang rasa percaya tidak bisa tumbuh begitu saja. Harus ada contoh yang bisa menjadi sebuah inspirasi, dan inspirasi yang terdekat adalah saya sendiri. Tidak mungkin kan saya ngasih contoh orang lain seperti Jerome Polin atau Maudy Ayunda, yang selain sukses karier juga sukses di bidang akademik.

Baca Juga:

Derita Jadi Satu-satunya Sarjana di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serba Bisa dan Sempurna

Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Lebih Menjanjikan daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” Selama Bertahun-tahun

Oleh kerena itu, saya harus memberi contoh dengan menjadi sukses. Memang sih sukses itu punya beragam penafsiran di mata setiap orang. Pengertian sukses di kampung saya adalah menjadi orang kaya. Jadi, semua prestasi akademik hanya dianggap omong kosong jika tak dibarengi dengan prestasi secara ekonomi. “Percuma kuliah kalau nggak jadi kaya” memang terdengar aneh. Apa korelasinya kuliah dan menjadi kaya? Kuliah hanya sebuah cara, hasilnya ya tetap tidak terprediksi. Sayangnya, pemikiran sederhana seperti itu yang memang ada di otak warga kampung. Mereka sudah muak dengan kehidupan keras di bawah garis kemiskinan. Mereka sudah capek dengan yang namanya sabar, proses, dan segala tetek bengeknya. Yang mereka inginkan adalah keluar dari kekangan kemiskinan dan mendapat hidup yang lebih baik.

Saya percaya bahwa pendidikan adalah salah satu jalan untuk keluar dari kemiskinan, tapi mereka kan tidak percaya. Tugas saya adalah membuat mereka percaya. Omongan dan bujukan tidak akan mempan, hanya sebuah hasil yang terlihat yang akan memberikan mereka inspirasi dan membuat mereka percaya.
Setidaknya, saya harus berjuang untuk mendapat pekerjaan dengan gaji yang lumayan tinggi. Sehingga memungkinkan untuk membeli sebuah rumah walaupun kecil dan sebuah mobil walaupun mobil tua.

Bukannya ingin pamer atau sombong, tapi kalau tidak ada buktinya, orang kampung tidak bakal percaya. Mereka gampaaang kagum dengan apa yang terlihat. Misalnya, ada ibu-ibu dengan kalung dan gelang emas yang mentereng, para warga kampung bakal berdecak kagum. Meskipun terkadang jadi bahan ghibah juga, sih.

Nah, misalnya saya ingin meyakinkan warga kampung bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk keluar dari kemiskinan, tapi setelah jadi sarjana saya masih tetap saja miskin atau tidak terlihat kayanya di mana, apa warga kampung saya bakal percaya? Dua teman saya yang kuliah tadi juga belum menjadi apa-apa di mata warga kampung sama seperti saya. Oleh karena itu, kami harus berusaha lebih keras agar bisa sukses dan membawa pulang hasil yang memuaskan, sehingga menginspirasi warga kampung dan mereka bisa mendapat kehidupan yang lebih baik. Atau setidaknya, bikin mereka sadar bahwa ilmu itu sangat penting.

BACA JUGA Tips Jadi Petani Pemula bagi Sarjana Pengangguran yang Peduli Agraria dan tulisan Sigit Candra Lesmana lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 27 Januari 2021 oleh

Tags: Pendidikansarjana
Sigit Candra Lesmana

Sigit Candra Lesmana

Lulusan S-1 yang sedang belajar menulis.

ArtikelTerkait

Mal Lebih Ramai dari Sekolah Adalah Bukti Nyata Pendidikan di Indonesia Nomor Dua terminal mojok

Mal Lebih Ramai dari Sekolah Adalah Bukti Nyata Pendidikan di Indonesia Nomor Dua

3 Mei 2021
Cara Menjadi Mahasiswa S2 yang Baik dan Benar

Cara Menjadi Mahasiswa S2 yang Baik dan Benar

4 Oktober 2022
Perempatan Jetis, Perempatan Paling Berpendidikan di Jogja Sejak Masa Kolonial

Perempatan Jetis, Perempatan Paling Berpendidikan di Jogja Sejak Masa Kolonial

12 Januari 2024
Guru Honorer Tetap Mengajar dengan Gaji Kecil Bukanlah Pengabdian, Itu Terjebak Keadaan Mojok.co

Guru Honorer Tetap Mengajar dengan Gaji Kecil Bukanlah Pengabdian, Itu Terjebak Keadaan

8 Desember 2023
Cerita KKN, Benar Nggak sih Mahasiswa Itu Agen Perubahan?

Cerita KKN, Benar Nggak sih Mahasiswa Itu Agen Perubahan?

16 Februari 2020
Informasi Bayar UKT yang Mepet Adalah Bukti Betapa Jeniusnya Birokrat Kampus perguruan tinggi negeri

Biaya Perguruan Tinggi Negeri yang Mahal: Katanya Pendidikan Adalah Hak untuk Setiap Warga, tapi Kenapa Biayanya Nggak Masuk Akal?

5 Juli 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dear Pemerintah Banyuwangi, Membatasi Jam Operasional Ritel Modern Itu Justru Mematikan Wisata Banyuwangi

Dear Pemerintah Banyuwangi, Membatasi Jam Operasional Ritel Modern Itu Justru Mematikan Wisata Banyuwangi

22 April 2026
Derita Gen Z Bernama Sri- Sering Dikira Bibi Kantin dan Pembantu (Unsplash)

Derita Gen Z Punya Nama Sri yang Sering Dikira Bibi Kantin dan Pembantu

21 April 2026
Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya Mojok.co

Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya

25 April 2026
4 Alasan Samarinda Ideal untuk Bekerja, tapi Tidak untuk Menua

Curahan Mahasiswa Baru Samarinda: Harus Mencicil Motor karena Tak Ada Kendaraan Umum di Samarinda, padahal Bukan Orang Berduit

22 April 2026
Harga Plastik Naik Bikin Kebiasaan Bawa Wadah Sendiri Diapresiasi Pedagang Pasar, padahal Dulu Sempat Dianggap Aneh

Harga Plastik Naik Bikin Kebiasaan Bawa Wadah Sendiri Diapresiasi Pedagang Pasar, padahal Dulu Sempat Dianggap Aneh

21 April 2026
Kabel Bangkalan Madura yang Semrawut Bikin Nggak Nyaman Dipandang Mojok.co

Kabel Bangkalan Madura yang Semrawut Bikin Nggak Nyaman Dipandang

22 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang
  • Anak Usia 30-an Tak Ingin FOMO Pakai FreshCare, Setia Pakai Minyak Angin Cap Lang meski Diejek “Bau Lansia”
  • Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang
  • Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat
  • Pasar Wiguna Sukaria Edisi 102 Padati Vrata Hotel Kalasan, Usung Semangat “Wellness” dan Produk Lokal
  • Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.