Tips Jadi Petani Pemula bagi Sarjana Pengangguran yang Peduli Agraria – Terminal Mojok

Tips Jadi Petani Pemula bagi Sarjana Pengangguran yang Peduli Agraria

Artikel

Irvan Hidayat

Selepas lulus kuliah masa depan seorang sarjana tidak selalu mulus, pekerjaan yang didambakan pun tidak mudah didapatkan. Situasi politik dan pandemi bikin keadaan tidak stabil, kita perlu cari cara lain menyambung hidup. Ingat perkataan orang tua dahulu, “Kerja itu apa saja yang penting halal.” Menjadi petani pemula adalah pilihan yang tepat untuk masa depan seorang sarjana yang kebingungan. 

Selain pekerjaan ini halal, Indonesia juga butuh regenerasi petani-petani muda untuk menggantikan petani-petani yang sudah sepuh. Bisnis dunia pertanian pun masih terbuka lebar dan tidak akan tutup selama manusia masih ada.

Namun, sebelum berpikir menjadi petani yang sukses dengan penghasilan jutaan bahkan miliaran, seorang sarjana yang berminat jadi petani pemula harus mulai menanam tumbuh-tumbuhan yang mudah perawatannya. Di samping itu, juga harus belajar siklus pertumbuhan dan eksosistem di sekitarnya. Berikut ini lima tumbuhan yang mudah dirawat, tips untukmu yang meniti karier jadi petani pemula.

#1 Tauge

Hah tauge? Itu mah gampang! Anda jangan asal bicara, tauge memang gampang ditanam. Tapi tahukah Anda tidak semua orang bisa menanam tauge. Ada yang menanam toge, tapi jadinya pohon kacang hijau.

Untuk menghasilkan tauge, kacang hijau yang dibeli dari warung, pasar, swalayan, atau olshop dipilih terlebih dahulu. Pilih kacang hijau yang bentuknya sempurna, tidak ada somplak sedikit pun. Menjadi petani pemula memang sederhana, tapi jangan abai dengan detail kecil begini.

Kemudian kacang hijau itu dicuci dan ditiriskan sampai kering. Setelah kering, sediakan media tanamnya, bisa dari apa pun yang penting lembab. Bisa menggunakan kapas yang diberi air, bisa menggunakan botol bekas air mineral, dan wadah lainnya.

Syaratnya mengandung sedikit air (yang penting lembab), dan udara. Kalau menggunakan botol air mineral, beri lubang kecil-kecil untuk sirkulasi udaranya. Tauge akan muncul 2-3 hari setelah ditanam. 

#2 Singkong

“Kayu dan batu jadi tanaman”, lirik lagu “Kolam Susu” itu benar loh. Kayu yang dimaksud ternyata batang pohon singkong. Anda bisa menanam singkong dengan cara memotong batang singkong yang sudah tua sepanjang 30 cm. Batang singkong bisa didapat dari kebun warga yang sudah dipanen.

Saya sarankan izin dulu, jangan ambil diam-diam nanti dikejar warga. Bukan jadi petani pemula malah masuk penjara.

Sebelum batang singkong yang sudah dipotong itu ditancapkan, tanah yang mau ditanam lebih dahulu digemburkan pakai garpu tanah dan pacul. Jangan lupa kasih juga pupuk kandang, Anda bisa pakai tahi ayam dari peternakan terdekat.

Biasanya mereka menyediakan, kita tinggal bayar jasa kirimnya saja. Nah, setelah gembur tanahnya, batang singkong tersebut baru bisa ditancapkan. Beri jarak 50-100 cm di setiap pohon supaya umbinya bisa berkembang. Setelah itu tunggu 6-12 bulan baru bisa dipanen. Bisa ditinggal berkelana ke 10 negara juga kok, nggak usah dipelototin terus.

#3 Kangkung

Cah Kangkung adalah makanan bergizi dan murah yang bisa kita temui di setiap warteg pinggir jalan. Artinya, kangkung adalah sayuran yang bisa didapatkan dengan mudah karena perawatannya pun mudah. Untuk menanam kangkung, belilah bibit kangkungnya di toko online atau toko offline. Harganya beragam, mulai kisaran Rp3.000 sampai Rp50.000, tergantung beratnya. Pastikan tanahnya juga sudah gembur dan diberi pupuk kandang.

Setelah bibitnya tersedia dan tanahnya sudah gembur, baru biji kangkung bisa ditanam. Ada juga yang bibitnya direndam dalam air semalaman supaya bijinya agak lembek dan kecambah mudah muncul. Setelah ditanam di tanah, jangan lupa rutin disiram pagi dan sore. Kalau ada hama serangga bisa pakai pestisida, penulis sarankan pestisida organik.

Kangkung siap dipanen saat berusia 21 hari sampai satu bulan. Nggak kebayang kalau menanamnya satu hektar, stok warteg satu kabupaten bisa terpenuhi. Cuan… bos… cuan. Jdilah petani pemula yang kaya-raya.

#4 Daun mint

Kalau kita minum es teh lemon di kafe-kafe, pasti ada daun mint di gelasnya. Kabarnya sih untuk hiasan dan penambah rasa segar. Nah, daun mint itu gampang untuk dibudidayakan dan baru sedikit di Indonesia. Kalau berhasil membudidayakan, kita bisa menstok daun mint di kafe-kafe, cuan lagi kan? Tapi, mulai dulu dari menanamnya.

Daun mint bisa ditanam hanya dengan memotong batang pohon yang sudah keras. Batang pohon dipotong sepanjang 10-15 cm, kemudian tancapkan ke tanah yang sudah gembur. Daun mint bisa ditanam di pot, polybag, talang air, dan wadah-wadah bekas yang sudah tidak terpakai.

Sebelum akar baru tumbuh, sebaiknya simpan daun mint di tempat yang teduh, tidak terkena hujan dan sinar matahari langsung.

#5 Terong

Bagi Anda yang suka lalapan tentu tidak asing dengan terong yang berbentuk bulat berwarna hijau pudar dan sedikit warna putih di buahnya. Terong untuk lalapan ini sangat mudah ditanam, bahkan bagi petani pemula sekalipun. Pertama, beli bibitnya di toko online, kemudian sediakan tanah yang sudah gembur.

Setelah itu sebar bibit dan berikan jarak. Terong adalah tumbuhan yang kuat terhadap hama sehingga tidak terlalu ribet perawatannya.

Meski terbilang mudah, semua tanaman di atas harus dirawat dengan baik-baik, disiram rutin pagi dan sore, diberi pupuk, dan jangan lupa bersihkan tanah sekitarnya dari gulma. Sebab, meski mudah, mereka tidak akan tumbuh hanya karena doa dan puisi-puisi yang dipanjatkan si petani pemula. Selamat mencoba!

BACA JUGA Setelah Masuk Oseanografi, Saya Jadi Tahu kalau Hal Mistis di Laut Bisa Dinalar

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Baca Juga:  Starter Pack Wajib Saat Lockdown dengan Kearifan Lokal alias Menjemur Padi

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
18


Komentar

Comments are closed.