Bagi Kami di Sulawesi Barat, Menjadi PNS dan Polisi adalah Cita-Cita Kami. Kalau Gagal? Balik Lagi Jadi Petani dan Nelayan

Jangankan untuk sekedar bergaya layaknya hypebeast kalangan menengah, beli N-Max saja kami petani ataupun nelayan di sini masih sanggup.

Artikel

Avatar

Kemarin salah seorang teman saya yang berhasil masuk universitas ternama Indonesia (dibaca: UI)  via jalur gacha SNMPTN baru saja mengikuti tes Sekolah Tinggi Administrasi Negara alias STAN. Hasilnya sih, ya belum beruntung. Belum bisa melewati standar nilai untuk tes karakteristik pribadi.

Padahal kalau dipikir-pikir dia berhasil lolos di fakultas dan universitas yang cuma bisa diimpikan oleh ratusan lulusan SMA diluar sana. Tapi kenapa dia sendiri masih coba daftar STAN?

Eits, nggak, saya nggak bilang daftar STAN itu salah lo, cuman sekedar heran, apa motif seseorang yang sudah berada di tempat yang ia mimpikan namun masih mencoba daftar ke tempat lain, gitu doang kok.

Bukan itu saja, ada juga seorang teman yang karena gagal seleksi Akpol, akhirnya memutuskan mengambil gap year, sementara membantu usaha ayahnya yang sukses sebagai pengepul dan pemasar ikan nelayan.

Rasa-rasanya cukuplah ya, dua cerita ini. Tapi camkan bukan karena saya introvert anti-sosial yang cuma punya dua orang teman jadinya hanya bisa memberi dua cerita. Masih banyak cerita lain dengan kronologis berbeda tapi latar belakang sama. Lalu kemudian kenapa banyak sekali teman-teman saya di provinsi Sulawesi Barat yang menyerbu sekolah-sekolah kedinasan dan akademi kepolisian?

Ini terjadi masih ada hubungannya dengan kondisi geografis, utamanya geografi manusia di provinsi saya ini. Sedikit sejarah singkat, kami orang-orang mandar secara historis merupakan seorang petani atau nelayan. Sosiokultur kami masih mirip dengan orang-orang bugis yang mungkin sedikit lebih dikenal daripada kami orang-orang mandar.

Ketika pada akhirnya modernisasi dan birokrasi masuk tidak terelakkan. Maka muncullah dua profesi yang dicap elit bagi masyarakat disini, ya itu tadi Polisi dan PNS. Mengapa polisi dan PNS? Ya sederhana saja, karena profesi itu lah yang sangat dekat dengan rakyat.

Baca Juga:  Sudah Saatnya Berhenti Menggunakan Istilah Pelakor dan Pebinor

Kita lihat dari PNS dulu. Ketika program bantuan pemerintah mengucur atau ada administrasi yang harus diselesaikan, pertama-tama yang akan kita temui siapa? Ya orang-orang di kantor kelurahan, kecamatan atau Disdukcapil yang rata-rata seorang PNS. Mengurus surat miskin, ke PNS. Mengurus E-KTP, ke PNS. Mengurus KK, ke PNS.

Ini yang membuat kami merasa sangat dekat tapi juga merasa sangat berbeda dengan profesi Pegawai Sipil Negara ini. Karena semua keperluan administrasi, ada di tangan para PNS.

Kemudian kenapa Polisi? Sederhananya setiap tindakan yang memerlukan tindakan represif dan preventif akan kami serahkan kepada Polisi. Tindakan kriminal, keamanan, dan mengatur lalu lintas akan kita serahkan kepada bapak Polisi yang tercinta. Kehilangan ternak, Kecelakaan lalu-lintas, dan pencurian kita laporkan ke Polisi.

Jadi kalau diawal kalian berpikiran bahwa motif yang membuat pekerjaan sebagai aparatur sipil Negara dan Polisi laku keras karena motif ekonomi, kalian salah besar. Ya memang ada sedikit  faktor gaji yang menunjang hingga pensiun, tapi bukan, bukan karena itu motif dasarnya. Mau bukti?

Politisi adalah pekerjaan yang dari segi ekonomi menjanjikan sangat besar. Gaji bulanan serta tunjangan nya sangat menggiurkan. Tapi kenapa kami di Sulbar tidak begitu tertarik? Karena kalau istilah kerennya, hype politisi hanya berlangsung sebulan, dua bulan atau paling lama setahun pada saat jelang pemilihan legislatif. Selebihnya yang bersentuhan langsung dengan masyarakat ya tetap PNS dan Polisi itu.

Lagipula kalau kalian pikir bahwa kami tidak semakmur itu karena orangtua kami hanya seorang petani atau nelayan, kalian salah besar. Jangankan untuk sekedar bergaya layaknya hypebeast kalangan menengah, beli N-Max saja kami petani ataupun nelayan di sini masih sanggup. Tapi buat apa juga bergaya macam hypebeast setengah jadi, karena siapa yang peduli dengan gaya seperti itu disini?

Baca Juga:  Ketika Menggunakan Bahasa Indonesia dengan Baik dan Benar Malah Ditertawakan

Berdasarkan catatan statistik luas panen padi mencapai 61,79 ribu hektar dengan potensi luas panen padi 67.84 ribu hektar, dan potensi produksi padi mencapai 326,17 ribu ton gabah kering giling. Sedangkan di perikanan, hasil tangkapan ikan di Sulawesi Barat, utamanya komoditi macam Tuna atau Cakalang, bisa mencapai 600 ribu ton pertahunnnya.

Catatan ini bisa jadi dasar pemikiran bahwa kami ini bukan petani kaleng-kaleng, bos. Kami tetap bisa makmur dan mencukupi kebutuhan sandang, pangan, papan, hingga tersier dengan menjadi petani.

Jadi kami para siswa-siswa di Sulawesi Barat, selalu punya plan lain ketika kami tidak bisa menjadi PNS atau Polisi. Kami akan kembali meneruskan profesi yang sudah sangat lekat dengan kami secara historis dan sumber penghidupan kami, petani dan nelayan. Makanya angan-jangan sekali meremehkan profesi petani dan nelayan, kalian mau makan apa tanpa kami? Beras impor?

Dan, ngomong-ngomong kalau hal seperti ini terjadi juga di tempat-tempat atau di provinsi lain, anggap saja tidak sengaja. Seperti di sinetron,ceritanya tidak fiktif tapi kesamaan nama, tempat atau kejadian hanya “kebetulan” semata. (*)

BACA JUGA Kampung PNS dan Pudarnya Pesona Merantau atau tulisan Muhammad Harits Hikmawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
1.269 kali dilihat

7

Komentar

Comments are closed.