Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Pak Polisi, Apakah Demonstran Juga Harus Belajar Jurus Smackdown?

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
14 Oktober 2021
A A
Pak Polisi, Apakah Demonstran Juga Harus Belajar Jurus Smackdown? terminal mojok.co

Pak Polisi, Apakah Demonstran Juga Harus Belajar Jurus Smackdown? terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Waktu kecil saya pernah dikasih tahu sama ibu bahwa jurus-jurus smackdown itu hanyalah setting belaka. Bohongan, bahasa kasarnya. Belasan tahun setelah saya amini apa yang ibu bilang, nyatanya kata-kata itu salah. Salah besar. Jurus smackdown ini nyata, kawan-kawan. Bahkan digunakan oleh salah satu oknum polisi.

Tersebar sebuah video seorang polisi sedang membanting salah satu demonstran. Adegan dalam smackdown memang settingan, tapi si oknum polisi ini malah menggunakan gerakan itu untuk “melumpuhkan” massa aksi.

#polisisesuaiprosedur membubarkan aksi mahasiswa dengan cara mahasiswa dibanting sampai kejang-kejang.

Mantap pak Polisi! pic.twitter.com/zppgO1AONQ

— #ReformasiDikorupsi (@AksiLangsung) October 13, 2021

Ada nggak kata-kata yang lebih sakti dari “ndlogok”? Karena apa yang terhimpun dalam video ini, ndlogok saja belum cukup. Tapi ya jangan “pekok” atau “goblok” juga, sih. Ya sudah, kita sepakat pakai ndlogok saja, ya? Ealaaah cen ndlogok!

Ya, seperti biasa, cuci tangan sebelum viral. Oknum polisi ini sudah minta maaf secara resmi. Namun, inti permasalahannya bukan itu, kejadian macam ini selalu berulang dari aksi massa ke aksi massa lainnya. Pada 2016 silam kepala saya pernah dikepruk pakai botol. Ya, nggak sakit sih, tapi puyengnya itu berhari-hari.

Pak polisi, apakah para demonstran ini selain memahami isu dan menuntut sesuatu, harus belajar dulu apa yang namanya kung fu? Ha asu po, sudah susah-susah hafalin apa yang diperjuangankan, pula harus lihai ngosak-ngasik menghindari water cannon, mosok ya harus belajar jurus Tapak Buddha ala Shaolin Soccer segala? Sing nggenah, Pak.

Kalau nggak belajar, keselamatan para demonstran yang terancam. Ini harus kebetulan di video dulu baru minta maaf? Lantas, bagaimana nasib para demonstran lain yang mendapatkan kekerasan, tapi nggak terekam oleh kamera? Sedang tujuan demonstran itu bukan untuk gelut seperti yang oknum polisi dalam video tersebut lakukan, melainkan ya menuntut apa yang harusnya menjadi adil sejak dalam pikiran.

Atau para demonstran jangan-jangan diberikan kode alami dari oknum-oknum polisi nyebai macam ini, ya? Misalnya, para demonstran disuruh pelajari jurus-jurus smackdown. Pun disuruh juga pelajari bagaimana cara menghindari kuncian. Soalnya, yang dilakukan oleh oknum polisi ini awalnya melakukan semacam kuncian di leher sebelum akhirnya membanting demonstran tersebut, lho.

Baca Juga:

Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi

Ujian SIM Perlu Direvisi, Harusnya Lebih Fokus pada Etika dan Pengambilan Keputusan di Jalan

Menurut sebuah penelitian mendalam, jurus yang dilakukan oleh oknum polisi itu merupakan salah satu varian dari neckbreaker. Dalam arti harfiah dalam sudut pandang gulat, neckbreaker adalah teknik lemparan atau lemparan yang memfokuskan serangannya pada leher lawan.

Secara lebih rinci lagi—pengamatan saya—neckbreaker ini masuk dalam sub arm trap neckbreaker yang membuat demonstran tersebut nggak bisa gerak lengannya. Ha bajingan, ini demonstran mau menuntut suara dan keadilan, malah diajak main gulat layaknya John Cena lawan Edge.

Apa yang dilakukan oleh oknum polisi itu, sudah layak untuk masuk daftar panjang neckbreaker terbaik. Walau profesinya polisi, neckbreaker yang dilakukan oleh oknum ini lumayan menyakitkan juga. Bahkan sampai membuat demonstran tersebut mengguk-mengguk dan kejang-kejang.

Nah, lucunya, si oknum tersebut malah ngibrit begitu saja meninggalkan demonstran yang habis ia banting tadi. Tanpa dosa, tanpa perasaan (kecuali pas klarifikasi, itu sudah pasti hatinya berubah menjadi malaikat, nggak seperti pas di lapangan kala “menjinakkan” massa aksi).

Si demonstran yang kejang-kejang, bukannya dibaringkan dan diberi penanganan yang tepat, kok ya malah disuruh duduk dan ditepuk-tepuk punggungnya. Sek, sek, ini kejang-kejang, lho, bukannya keselek biji nangka. Saya jadi penasaran, apa ya polisi nggak diajari penanganan pertama setelah nganu demonstran?

Coba, sebelum makin kuat “melumpuhkan” para demonstran, mbok ya o lihat dulu video ini. Biar nggak sekadar membanting orang sampai kejang, tetapi juga paham konsekuensi yang akan didapat oleh korban ketika “dilumpuhkan”. Kalau sudah kejang-kejang, ya jangan disuruh duduk dan ditepuk-tepuk, emangnya kerasukan macan?

Biar ga sama gobloknya kyk mereka, silahkan tonton ini.

Pertolongan pertama buat orang yg sedang mengalami kejang-kejang.https://t.co/B5CrFhlJBk

— Jean Bauwell | Upworker (@lastpushh) October 13, 2021

Kembali lagi membahas tagar #PercumaLaporPolisi yang lantas dilawan oleh tagar #PolriSesuaiProsedur. Saling lawan tagar ini amat menggelikan lantaran tagar #PercumaLaporPolisi adalah bentuk masyarakat menyampaikan apa yang ia alami selama ini, sedang tagar #PolriSesuaiProsedur hadir dalam rangka cuci tangan sebelum viral.

Dengan adanya kejadian “pelumpuhan” demonstran yang dilakukan oleh oknum polisi ini, secara nggak langsung justru membuat masyarakat yakin satu hal: buat apa lapor polisi lha wong orang yang sedang menyuarakan aksi malah dibanting?

Jadi, Pak Polisi, saya ingin bertanya serius, selain harus hafal apa yang akan disampaikan dalam narasi demonstrasi, apa ya para peserta aksi massa ini harus membekali diri dengan jurus-jurus smackdown juga?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Oktober 2021 oleh

Tags: demonstrasiJurus smackdownpolisi
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Ujian SIM Perlu Direvisi, Harusnya Lebih Fokus pada Etika dan Pengambilan Keputusan di Jalan

Ujian SIM Perlu Direvisi, Harusnya Lebih Fokus pada Etika dan Pengambilan Keputusan di Jalan

27 Februari 2025
Konflik Grup Pencak Silat Tiap Tahun Selalu Terjadi, Nggak Bisa Selesai atau Nggak Mau Selesai?

Konflik Grup Pencak Silat Tiap Tahun Selalu Terjadi, Nggak Bisa Selesai atau Nggak Mau Selesai?

26 Juli 2024
Diusir dari Kantor Polisi karena Pakai Sandal Jepit. Emang Ada Aturannya? terminal mojok.co

Polisi yang Menyiksa Lalu Nggak Dihukum Itu karena Kebal Hukum atau Males Ngurusin?

29 Agustus 2020
Menanti Demonstrasi Besar yang Dilakukan oleh Pasukan Revolusi One Piece terminal mojok.co

Menanti Demonstrasi Besar yang Dilakukan oleh Pasukan Revolusi One Piece

15 Oktober 2020
jagabaya polisi anarki

Jagabaya Tunabrata dan Kemarahan yang Sia-sia

14 Oktober 2021
Polresta Banyuwangi Launching Hotline Wadul, Bagaimana Nasib para Pelapor? Bisa Dijamin Aman?

Polresta Banyuwangi Launching Hotline Wadul, Bagaimana Nasib para Pelapor? Bisa Dijamin Aman?

29 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

17 Mei 2026
Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

18 Mei 2026
Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

15 Mei 2026
Peribahasa Ada Harga Ada Rupa Tidak Berlaku untuk “MBG” Superindo yang Wujudnya Meyakinkan, Rasa Enak, dan Harganya Tetap Murah Mojok.co

Peribahasa Ada Harga Ada Rupa Tidak Berlaku untuk “MBG” Superindo yang Wujudnya Meyakinkan, Rasa Enak, dan Harganya Tetap Murah

17 Mei 2026
6 Alasan Jatinangor Selalu Berhasil Bikin Kangen walau Punya Banyak Kekurangan Mojok.co

3 Alasan Kuliah di Jatinangor Adalah Training Ground sebelum Masuk Dunia Kerja

18 Mei 2026
Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung” yang Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman Mojok.co

Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung”: Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman

12 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.