Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Ekonomi

Nostalgia Masa Kejayaan Bata, Sepatu Jadul yang Membuat Saya Sombong saat Lebaran

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
12 Oktober 2025
A A
Nostalgia Masa Kejayaan Bata, Sepatu Jadul yang Membuat Saya Sombong saat Lebaran Mojok.co

Nostalgia Masa Kejayaan Bata, Sepatu Jadul yang Membuat Saya Sombong saat Lebaran (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sepatu Bata bukan sekadar alas kaki. Bagi saya, dan mungkin orang lain yang sebaya dengan saya, alas kaki ini menjelma jadi simbol atau penanda pada masing-masing orang. Kalau untuk saya, sepatu Bata lebih seperti penanda momentum Lebaran telah tiba. 

Orang-orang mungkin mengingat Lebaran dengan kue nastar, sirup merah, salam tempel, kumpul keluarga, dan masih banyak lagi. Saya juga,  tapi ditambah dengan satu hal: sepatu Bata baru. 

Masih lekat betul dalam ingatan, bagaimana saya menjajal sepatu baru sebelum berangkat salat Ied. Kadang ukurannya masih agak sempit, tapi siapa peduli, yang penting keren dulu. Sepatu itu bukan cuma melindungi kaki, tapi juga melindungi ego bocah yang ingin tampak hebat di depan sepupu-sepupu yang lain.

Sedihnya, sepatu yang dulu membuat saya merasa paling “wah”, sekarang justru sedang terseok-seok menapak jalan hidupnya sendiri. PT Sepatu Bata Indonesia, perusahaan yang dulu menguasai rak sepatu di mal dan pasar tradisional, kini menutup pabrik Purwakarta. Pabrik yang sudah beroperasi hampir 30 tahun itu resmi berhenti memproduksi alas kaki sendiri. Bata lebih memilih jalan outsourcing ke pihak ketiga.

Krisis sepatu Bata

Krisis sebenarnya sudah menghadang sepatu Bata sejak bertahun-tahun lalu. Pada 2020 misalnya, tercatat penjualnya melorot hingga hampir separuhnya sejak pandemi. Dari Rp931 miliar sejak 2019 menjadi Rp459 miliar di 2020. Angka itu terus menurun hingga akhirnya catatan paling buruk di 2024. 

Krisis Bata bukan cuma soal ekonomi, tapi juga soal identitas. Dulu, ia punya posisi emosional di hati konsumen Indonesia: sepatu keluarga, sepatu sekolah, sepatu pertama anak kecil, sepatu kerja bapak-bapak, sandal rumah ibu-ibu. Kini, di tengah gempuran e-commerce dan gaya hidup cepat, Bata tampak seperti orang tua yang bingung menghadapi anak-anaknya yang terlalu digital. Ia mencoba ikut tren, tapi kehilangan keanggunan jadulnya.

Sempat melawan sebelum akhirnya menyerah

Bata pernah mencoba rebranding dengan mengeluarkan desain modern hingga gencar masuk ke pasar online. Mereka melakukan banyak penyesuaian, bahkan menyesuaikan harga. Tapi, mungkin yang hilang bukan sekadar daya saing produk, melainkan jiwa nostalgia yang dulu membuatnya spesial. 

Generasi sekarang tak lagi punya ikatan emosional dengan sepatu yang dulu jadi simbol naik kelas sosial. Mereka tak tumbuh dengan memori disuruh cuci sepatu Bata setiap minggu. Tak lagi punya kenangan memoles sepatu dengan semir hitam sampai berkilat seperti kaca. Dan, mungkin di situ letak tragedinya, bukan karena perusahaan kalah bersaing, tapi karena kehilangan relevansi dalam ingatan.

Baca Juga:

Kapok Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Trauma dan Menderita

Bandung Setelah Lebaran Adalah Surga Wisatawan, tapi Mimpi Buruk bagi Warlok

Kalau dipikir, Bata adalah potret kecil dari industri lama yang gagal menyesuaikan diri dengan kecepatan dunia baru. Pandemi cuma mempercepat proses yang sudah berjalan lama. Orang-orang mulai belanja online, merek global menurunkan harga, sepatu lokal lain tumbuh dengan gaya sneakers streetwear yang lebih menggoda. Bata masih bicara soal “kualitas tahan lama”, sementara dunia sedang tergila-gila dengan “yang cepat dan viral”.

Jadi memori yang sulit terhapus

Saya jadi teringat, di lemari masih ada satu pasang sandal Bata. Warna cokelat tua, agak kusam, tapi masih nyaman dipakai. Sandal itu bukan lagi soal gaya, tapi soal kenangan. Ia seperti saksi kecil bahwa dulu pernah ada masa ketika kesederhanaan bisa terasa begitu elegan.

Dan mungkin, itu yang hilang dari dunia sekarang, kemampuan untuk merasa cukup hanya dengan sepasang sepatu yang awet bertahun-tahun. Sekarang kita ganti sepatu seperti ganti notifikasi yang cepat, impulsif, tanpa makna panjang. Bata dulu mengajarkan kesetiaan, kalau rusak, dijahit; kalau pudar, disemir; kalau talinya putus, diganti. Sekarang, kalau rusak sedikit saja, langsung check out yang baru.

Entah nanti apakah Bata bisa bangkit lagi atau hanya tinggal kenangan di rak toko nostalgia. Tapi, buat saya, Bata sudah jadi bagian dari ingatan yang sulit dihapus, seperti bunyi kletak-kletak sepatu baru di lantai ubin hari Lebaran, atau bau karet yang khas dari sandal yang selalu dibersihkan ibu sebelum pergi ke masjid.

Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 5 Alasan Mal Jadul, Galeria Mall, Masih Digemari Orang Jogja

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Oktober 2025 oleh

Tags: BataiedLebarannostalgia sepatupabrik batasepatusepatu batasepatu jadul
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa semester akhir Universitas Ahmad Dahlan, jurusan Sastra Indonesia. Pemuda asli Sleman. Penulis masalah sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta.

ArtikelTerkait

Suasana Ramadan di Kampung Saya yang Zona Merah. #TakjilanTerminal25

25 April 2021
Lebaran Tahun Ini: Meski Raga Tak Bersama, Silaturahmi Tetap Harus Terjaga Berlutut dan Pakai Bahasa Jawa Kromo Adalah The Real Sungkeman saat Lebaran Selain Hati, Alam Juga Harus Kembali Fitrah di Hari yang Fitri Nanti Starter Pack Kue dan Jajanan saat Lebaran di Meja Tamu Mengenang Keseruan Silaturahmi Lebaran demi Mendapat Selembar Uang Baru Pasta Gigi Siwak: Antara Sunnah Nabi Atau Komoditas Agama (Lagi) Dilema Perempuan Ketika Menentukan Target Khataman Alquran di Bulan Ramadan Suka Duka Menjalani Ramadan Tersepi yang Jatuh di Tahun Ini Melewati Ramadan dengan Jadi Anak Satu-satunya di Rumah Saat Pandemi Memang Berat Belajar Gaya Hidup Eco-Ramadan dan Menghitung Pengeluaran yang Dibutuhkan Anak-anak yang Rame di Masjid Saat Tarawih Itu Nggak Nakal, Cuma Lagi Perform Aja Fenomena Pindah-pindah Masjid Saat Buka Puasa dan Salat Tarawih Berjamaah 5 Aktivitas yang Bisa Jadi Ramadan Goals Kamu (Selain Tidur) Nanti Kita Cerita tentang Pesantren Kilat Hari Ini Sejak Kapan sih Istilah Ngabuburit Jadi Tren Ketika Ramadan? Kata Siapa Nggak Ada Pasar Ramadan Tahun Ini? Buat yang Ngotot Tarawih Rame-rame di Masjid, Apa Susahnya sih Salat di Rumah? Hukum Prank dalam Islam Sudah Sering Dijelaskan, Mungkin Mereka Lupa Buat Apa Sahur on the Road kalau Malah Nyusahin Orang? Bagi-bagi Takjil tapi Minim Plastik? Bisa Banget, kok! Nikah di Usia 12 Tahun demi Cegah Zina Itu Ramashok! Mending Puasa Aja! Mengenang Kembali Teror Komik Siksa Neraka yang Bikin Trauma Keluh Kesah Siklus Menstruasi “Buka Tutup” Ketika Ramadan Angsle: Menu Takjil yang Nggak Kalah Enak dari Kolak Nanjak Ambeng: Tradisi Buka Bersama ala Desa Pesisir Utara Lamongan

Mengenang Keseruan Silaturahmi Lebaran demi Mendapat Selembar Uang Baru

19 Mei 2020
AeroStreet Black Classic, Sepatu Lokal Harga 100 Ribuan yang Awet Mojok.co

AeroStreet Black Classic, Sepatu Lokal Harga 100 Ribuan yang Awet

11 Desember 2025
5 Kebiasaan Orang Indonesia tiap Habis Nerima THR mojok.co

5 Kebiasaan Orang Indonesia tiap Habis Nerima THR

28 April 2022
lebaran di sulawesi utara

Suasana Lebaran di Sulawesi Utara yang Perlu Kalian Tahu

6 Juni 2019
Bandung Setelah Lebaran Jadi Surga Wisatawan, tapi Mimpi Buruk Warlok Mojok.co semarang

Bandung Setelah Lebaran Adalah Surga Wisatawan, tapi Mimpi Buruk bagi Warlok

25 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

6 Pelatihan untuk Awardee LPDP yang Lebih Penting Dibanding Pembekalan dari TNI, Ada Academic Writing hingga Literasi Finansial Mojok.co

6 Pelatihan bagi Awardee LPDP yang Lebih Penting Dibanding Pembekalan dari TNI, Ada Academic Writing hingga Literasi Finansial 

11 Mei 2026
Slow Living di Gamping Itu Nyata, Asal Kamu Tidak Jadi Warga Lokal Mojok.co

Slow Living di Gamping Itu Nyata, Asal Kamu Tidak Jadi Warga Lokalnya

11 Mei 2026
Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan Terminal

Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan

15 Mei 2026
Gresik Ternyata Bisa Bikin Arek Surabaya Kaget (Wikimedia Commons) sidoarjo

Hunian di Gresik dan Sidoarjo Memang Murah, Tapi Sulit Wira-wiri: Jauh ke Mana-Mana, Bikin Bosan dan Stres

12 Mei 2026
Jalan Keloran Selatan Bantul, Ujian Terberat Pengendara Bermata Minus seperti Saya

Bantul Selatan: Surga Tersembunyi buat Pekerja yang Malas Tua di Jalan dan Ogah Akrab sama Lampu Merah

12 Mei 2026
Alumni UT Nggak Ribut Soal Almamater, Tahu-tahu Hidupnya “Naik Kelas” Terminal

Alumni UT Nggak Ribut Soal Almamater, Tahu-tahu Hidupnya “Naik Kelas”

11 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.