Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Loker

Bahaya Laten Lingkungan Kerja Kekeluargaan

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
19 Oktober 2022
A A
Bahaya Laten Lingkungan Kerja Kekeluargaan

Bahaya Laten Lingkungan Kerja Kekeluargaan (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Lingkungan kerja kekeluargaan itu hanya kedok eksploitasi

Pagi ini, ruang kerja sudah riuh oleh musik RnB. Beberapa karyawan yang baru saja datang terlihat cekikikan membahas sesuatu. Ada yang menuliskan motivasi di secarik post it, lalu ditempelkan di meja kerja karyawan lain. Bos mereka pun datang sambil membawa sekotak donat. Semua berebut dan tertawa riang dalam situasi yang hangat. Sang bos selalu mengingatkan bahwa dirinya akan pasang badan demi kebahagiaan tim.

ADVERTISEMENT

Mengidamkan suasana kerja semacam ini? Pikir lagi.

Di balik tawa tadi, ada kekhawatiran gaji terlambat dibayar. Musik jedag-jedug tadi menutup gerutuan akan target yang mustahil dicapai. Tulisan motivasi itu menjadi semangat mereka yang harus lembur tanpa upah. Donat dari si bos adalah harga yang dibayarkan dari loyalitas karyawan yang selalu pulang telat lewat mahgrib. Dan bos tadi menuntut setiap karyawan menjadi problem solver dari keputusan besar.

Skenario ini, meskipun terkesan dramatis, tapi nyata terjadi. Tuntutan untuk mendapat lingkungan kerja kekeluargaan kini makin tinggi. Bahkan banyak lowongan kerja yang menawarkan lingkungan kerja kekeluargaan sebagai nilai jual. Ini lucu sekaligus ironis. Lingkungan kerja kini lebih dimanfaatkan sebagai daya tarik daripada benefit seperti upah tinggi atau jaminan kesehatan.

Brengseknya, banyak orang membanggakan kekeluargaan ini sampai taraf memuakkan. Salah satunya adalah video viral ketika seorang bos berpidato di depan karyawan. Dengan menyebut ekosistem kantor sebagai keluarga, bos ra mashok ini sampai menyebut keluarga asli dan biologis mereka “kalah” dengan keluarga di kantor.

Pertama, saya perlu memaklumi kebutuhan atas lingkungan kerja kekeluargaan. Habit baru di lingkungan kerja modern menuntut kreativitas tinggi. Softskill lebih dihargai daripada ilmu kaku warisan bangku pendidikan. Maka perlu lingkungan yang bisa mengakomodir kreativitas ini. Jelas bukan meja dingin ala PNS. Toh terbukti, bikin spanduk acara saja mereka tidak kreatif.

Bahkan bagi karyawan dengan jobdesc paling konvensional sekalipun, suasana riang dan penuh rasa kekeluargaan ikut membantu. Suasana kerja ini mengurangi tingkat stress sekaligus meningkatkan efisiensi kerja. Minimal, koordinasi antarkaryawan tidak kaku dan lambat. Bos juga bisa mengetahui dinamika perusahaan atau jajaran yang dipimpin dengan lebih mudah.

Baca Juga:

Di Balik Sekolah Elit yang Eksploitatif dan Manipulatif Ada Guru yang Menderita karena (Terpaksa) Jadi Ojek dan ART untuk Yayasan 

Cari Kerja Memang Susah, tapi Bertahan di Lingkungan Kerja Toxic Juga Nggak Ada Gunanya

Tapi seperti makan junk food, kita lupa bahaya di balik segala hal menyenangkan ini. Ada bahaya mengincar di balik semangat kekeluargaan yang indah.

Sebentar. Bukan berarti saya memukul rata seluruh perusahaan yang mengedepankan semangat kekeluargaan. Tapi jujur saja, terlalu banyak perusahaan yang menjadikan kekeluargaan sebagai kedok dan alat eksploitasi. Entah dalam skala kecil antardivisi, atau skala besar sampai satu perusahaan. Seperti artikel saya tentang kuda startup, bukan berarti semua bisa dipukul rata. Tapi jika mayoritas demikian, bisa jadi.

Semangat kekeluargaan ini sering merebut hak karyawan. Namun, tidak ada tuntutan atau sekadar protes personal. Semua takluk di depan semangat kekeluargaan. Rasa sungkan menjadi tameng bagi perusahaan untuk mendapat efisiensi kerja yang lebih dari upah karyawan.

Salah satunya adalah perkara lembur. Omnibus Law yang nggatheli itu saja menegaskan hak karyawan yang bekerja lembur. Tapi dalam semangat kekeluargaan, surat lembur yang berkekuatan hukum diganti sambat memelas bos. Keluh kesah tentang kondisi perusahaan membuat karyawan ikut jatuh iba.

Perkara sambat, semangat kekeluargaan juga sering jadi alat bos untuk lempar tanggung jawab. Karyawan dituntut ikut berpikir keras tentang kondisi perusahaan, bahkan di luar tanggung jawab mereka. Dari situasi cashflow sampai strategi bisnis dibebankan pada karyawan yang punya posisi paling rendah sekalipun.

Padahal gaji bos dan karyawan jelas berbeda. Tapi ketika karyawan biasa yang mengambil keputusan serta memformulasi strategi, untuk apa bos harus ada? Mungkin kita memandang ini sebagai demokrasi positif dengan musyawarah. Tapi, gajinya beda lho, Bos! Karyawan gaji mengkis-mengkis diminta ngerjain kerjaan bos, ha enak men uripmu. Nggak sekalian disuruh ngecat rumah?

Urusan gaji juga sering ditabrak dengan suasana kekeluargaan. Gaji telat bahkan dipotong dianggap sebagai loyalitas kerja. Ini adalah cacat logika yang dimaklumi. Gaji atau upah adalah hak karyawan, sebagaimana kinerja baik menjadi hak perusahaan. Kalau gaji harus ditunda sampai dipotong, berarti ada hak yang tidak diberikan!

Loyalitas semu ini juga sering menghambat karyawan berkembang. Mereka jadi iba pada perusahaan paling rusak hanya karena loyalitas. Terdengar baik, tapi karyawan juga berhak meniti karier sesuai aspirasinya. Akhirnya banyak karyawan yang terjebak dalam satu perusahaan dan berakhir melepas kesempatan untuk meningkatkan karier.

Tapi dari semua kebrengsekan tadi, yang paling bajingan adalah merebut ruang hidup karyawan. Beratus tahun pekerja memperjuangkan 8 jam kerja, akhirnya dipecundangi semangat kekeluargaan yang disuarakan bos. Mereka melepas ikatan dengan keluarga, teman, bahkan relasi asmara demi “keluarga baru” di kantor.

Karyawan dialienasi dari lingkungan sosial. Seolah hidup mereka hanya ada untuk kantor dan istirahat. Maka jangan kaget jika banyak lingkungan kantor melahirkan relasi tidak sehat. Jangan kaget juga banyak karyawan terjebak depresi meskipun ada di lingkungan kerja kekeluargaan. Karena mereka menjadi alien demi pekerjaan.

Bahkan iming-iming macam personal growth tidak cukup untuk menukar hak karyawan. Mereka manusia yang punya kehidupan selain kerja. Iklim seperti ini mengubah karyawan menjadi sebatas roda gigi ekonomi perusahaan. Jika rusak (baca: tifus), bisa diganti kapan saja!

Sekali lagi, saya tidak membenci lingkungan kerja kekeluargaan. Ini adalah lompatan besar dibanding iklim kerja ala budak di masa lalu. Tapi jangan sampai kekeluargaan menjadi alat perbudakan modern. Hargailah darah dan nyawa yang dikorbankan leluhur pekerja yang ingin kehidupan lebih layak.

Tapi jika Anda merasa nyaman dengan iklim ini, silakan. Namun jangan lupa, bahwa Anda manusia. Anda punya keluarga dan relasi sosial. Dan Anda bukan roda gigi perusahaan!

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sistem Kekeluargaan di Kantor Beneran Ada atau Nggak, sih?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 19 Oktober 2022 oleh

Tags: eksploitasikekeluargaanLingkungan Kerjaperbudakan
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Cari Kerja Memang Susah, tapi Bertahan di Lingkungan Kerja Toxic Juga Nggak Ada Gunanya

Cari Kerja Memang Susah, tapi Bertahan di Lingkungan Kerja Toxic Juga Nggak Ada Gunanya

30 Oktober 2025
Di Balik Sekolah Elit yang Eksploitatif dan Manipulatif Ada Guru yang Menderita karena (Terpaksa) Jadi Ojek dan ART untuk Yayasan  Terminal

Di Balik Sekolah Elit yang Eksploitatif dan Manipulatif Ada Guru yang Menderita karena (Terpaksa) Jadi Ojek dan ART untuk Yayasan 

8 Juni 2026
eksploitasi

Benarkah Kpopers Sering Jadi Objek Eksploitasi?

11 Oktober 2019
Saya Justru Menyesal Tidak Jadi Kuliah di Jogja pariwisata jogja caleg jogja

Akui Saja, Pariwisata Jogja Memang Sudah Menemui Titik Jenuhnya

27 Mei 2023
Jogja Istimewa, Gunungkidul Merana

Jogja Istimewa, Gunungkidul Merana

20 Juli 2022
marah

Bos, Muhasabahlah Sebelum Marah

8 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tentrem Mall Semarang, Mal Mewah yang Tetap Ramah untuk Semua Kalangan Mojok.co

Tentrem Mall Semarang, Mal Mewah yang Tetap Ramah untuk Semua Kalangan 

25 Juni 2026
Kecamatan Purwokerto Lebih Populer daripada Kabupatennya, Banyumas, Bikin Banyak Orang Salah Paham Mojok.co

Kecamatan Purwokerto Lebih Populer daripada Kabupatennya, Banyumas, Bikin Banyak Orang Salah Paham

21 Juni 2026
4 Kuliner Ayam Panggang Favorit di Klaten: Enak, Murah, dan Bikin Nagih!

4 Kuliner Ayam Panggang Favorit di Klaten: Enak, Murah, dan Bikin Nagih!

26 Juni 2026
Hidup di Desa Nggak Seindah Bayangan, Banyak Iuran yang Harus Dibayarkan kalau Nggak Mau Jadi Bahan Omongan

Hidup di Desa Itu Murah, yang Mahal Adalah Ongkos Sosialnya, dan Ini Rinciannya

21 Juni 2026
Sebagai Warga Jember, Saya Sudah (Amat) Muak dengan Warna Pink!

Sebagai Warga Jember, Saya Sudah (Amat) Muak dengan Warna Pink!

24 Juni 2026
Konsep Gramedia Jalma Semarang Menarik, tapi Jujur Agak Sedih ketika Tempat Favorit Saya Berubah Wajah Mojok.co

Konsep Gramedia Jalma Semarang Menarik, tapi Jujur Agak Sedih ketika Tempat Favorit Saya Berubah Wajah

26 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.