Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Program Wisata Unggulan: Investor Makin Kaya, Warga Lokal (Dibikin) Makin Miskin

Tiara Uci oleh Tiara Uci
12 November 2022
A A
Program Wisata Unggulan: Investor Makin Kaya, Warga Lokal (Dibikin) Makin Miskin

Program Wisata Unggulan: Investor Makin Kaya, Warga Lokal (Dibikin) Makin Miskin (Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Pemerintah Indonesia melalui Kemenparekraf sedang menggarap program wisata unggulan (prioritas) atau 10 Bali baru yang katanya untuk meningkatkan perekonomian daerah dan menyejahterakan warganya. Daerah pariwisata prioritas tersebut adalah Pulau Morotai (Maluku Utara), Mandalika (Nusa Tenggara Timur), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Tanjung Kelayung (Bangka Belitung), Danau Toba (Sumatra Utara), Tanjung Lesung (Banten), Bromo (Jawa Timur), Labuan Bajo (NTT), dan Borobudur (Jawa Tengah).

Jika kalian kebetulan tinggal di 10 daerah tersebut, bersiap-siaplah mendapatkan fasilitas “istimewa” dan pembangunan infrastruktur. Misalnya, jika sebelumnya sinyal telekomunikasi buruk, pasti sebentar lagi akan dibangun BTS baru. Kalau akses jalannya jelek, tenang saja, tak lama lagi akan diperbaiki. Kalau sebelumnya tidak ada bandara atau bandaranya masih skala lokal, jangan khawatir, selama daerah kalian masuk destinasi super prioritas, pemerintah dengan senang hati akan merubahnya menjadi bandara internasional.

ADVERTISEMENT

Demi cuan, negara akan membuat keindahan alam kita menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan. Kadang, berkedok wisata.

Tanah-tanah akan dipatok untuk pembangunan resort, pantai-pantai direklamasi, suku asli direlokasi dan semuanya dilakukan atas nama menyejahterakan rakyat atau demi kebaikan rakyat. Pertanyaannya, rakyat yang mana? Apakah warga lokal pernah diajak rembukan dalam program wisata unggulan? Apakah warga lokal akan menjadi majikan di tanahnya sendiri? Jika kita berkaca pada Pulau Komodo, tepatnya Taman Nasional Komodo, yang terjadi adalah sebaliknya.

Negara memang hadir di Pulau Komodo, namun dalam bentuk “pengusiran” warga asli Pulau Komodo. Ata Modo (orang asli Komodo) yang selama ini hidup berdampingan dengan kadal purba “dipaksa” pergi dari tanahnya sendiri. Mereka direlokasi ke tempat lain dan dilarang berburu dan bertani di Pulau Komodo.

Ata Modo kemudian beralih menjadi nelayan. Namun, pemerintah kembali memperluas wilayah konservasinya sampai ke laut, sehingga Ata Modo beralih profesi ke sektor pariwisata, menjadi pekerja resort, pengrajin souvenir, atau pekerjaan lain yang mengandalkan upah dari majikan. Mereka kehilangan alat produksinya sendiri yaitu tanah, hutan di sekitar dan tercerabut dari ruang hidup alaminya. Negara secara tidak langsung telah merampas kehidupan Ata Modo dan menjadikan penduduk lokal sebagai budak di kampungnya sendiri.

Padahal, kalau memang ingin menyejahterakan rakyat, membangun wisata berbasis konservasi dengan Ata Modo bukanlah hal yang sulit. Ata Modo sudah puluhan tahun hidup di Pulau Komodo, dan hidup harmonis dengan kadal purba bahkan sebelum UNESCO menetapkan TNK sebagai situs warisan dunia pada 1991. Bicara soal menjaga habitat asli komodo, mereka jelas sudah teruji. Tapi, ya tetap saja pemerintah mengabaikan suara mereka dan bersikukuh melakukan relokasi.

Jika kita pergi ke Labuan Bajo hari ini, hampir seluruh pesisir pantainya juga sudah dikuasai oleh BUMN dan korporasi swasta. Dulu, warga Manggaria Barat masih bisa menikmati keindahan Pantai Pede dengan leluasa karena pantai tersebut adalah pantai umum. Namun, beberapa tahun ke belakang, resort-resort dibangun, tembok dan pagar mulai bermunculan lengkap dengan sekuritinya. Akhirnya, melihat pemandangan alam dengan spot terbaik tak mungkin lagi kita nikmati secara bebas dan gratisan.

Baca Juga:

Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

Di Balik Sekolah Elit yang Eksploitatif dan Manipulatif Ada Guru yang Menderita karena (Terpaksa) Jadi Ojek dan ART untuk Yayasan 

Sekarang, mari kita lihat apa yang terjadi di Pulau Morotai yang juga sedang dalam proses pembangunan wisata unggulan. Daerah yang masuk 3T tersebut tengah dipoles wajahnya agar nampak lebih memesona di mata investor. Jaringan telekomunikasi ditingkatkan, resort-resort mulai dibangun, bahkan ada resort yang tarif per malamnya mencapai Rp20 jutaan. Jangan bertanya siapa pemiliknya, sudah tentu bukan rakyat jelata.

Kementerian PUPR bulan lalu juga baru saja menyelesaikan 170 unit homestay di Morotai dan mengatakan jika pengelolaannya akan melibatkan masyarakat setempat. Jangan senang dahulu wahai warga Morotai. Dulu, warga di sekitar Pulau Komodo dan Flores juga dijanjikan hal yang serupa, tapi ujung-ujungnya tetap korporasi besar yang berkolaborasi dengan pemangku kebijakan yang menjadi pemenangnya.

Melihat proses pembangunan wisata unggulan yang sudah berjalan, setidaknya ada tiga mekanisme atau pola yang selalu muncul. Pertama adanya regulasi dari pemerintah terkait kepemilikan sumber daya alam dan ijin usaha (resort, hotel dll) yang dibuat tidak untuk rakyat, tapi untuk mereka yang bermodal.

Kedua, adanya penguasaan lahan-lahan strategis. Biasanya warga lokal akan “dipaksa” menjual tanahnya ke pemodal dengan iming-iming harga mahal. Dan, dirayu kalau nantinya di daerah tersebut akan dibangun pariwisata unggulan yang kelak akan menguntungkan juga untuk warga. Warga juga bisanya dijanjikan akan diberi lapangan pekerjaan ketika sektor pariwisatanya telah berkembang.

Ketiga, pembanguan infrastruktur. Setelah adanya regulasi terkait kepemilikan SDA, lahan-lahan starategis dikuasai korporasi (swasta atau BUMN), pejabat setempat dan kelas elit lainnya. Infrastruktur akan digenjot besar-besaran agar banyak mendatangkan wisatawan. Untuk mengurangi risiko konflik atau protes masa, biasanya warga akan diajak terlihat dalam proses pembanguan entah menjadi pekerja bangunan atau pekerjaan lain yang sifatnya tidak dominan.

Dengan mekanisme pengelolaan wisata yang seperti ini, mengharapkan rakyat kecil menjadi majikan di kampungnya sendiri dan sejahtera dalam pengertian yang sesungguhnya adalah omong kosong.

Pada akhirnya, tanah-tanah yang telah dijual warga dan kini dimiliki korporasi dan pemodal, sangat menguntungkan secara ekonomi saat wisatawan sudah mulai berdatangan. Perlahan tapi pasti, warga yang awalnya memiliki tanahnya sendiri, justru menjadi manusia yang terperangkap pada sistem kerja upahan dan menggantungkan hidup dari pemilik resort. Sementara kesejahteraannya nggak akan jauh berbeda dengan sebelum-senyumnya. Mungkin saja lebih buruk lantaran sudah tak lagi memiliki tanah dan segala sesuatunya harus beli.

Pariwisata memang mampu mengangkat perekonomian, tapi tidak akan menjadi solusi untuk mengentaskan kemiskinan warga setempat selama negara tidak memposisikan dirinya menjadi pelindung untuk rakyat. Justru menyerahkan mekanisme pembangunan pariwisata unggulan sesuai kehendak pasar. Ha yo repot kalau begitu, bukannya kaya dan sejahtera, penduduk lokal malah miskin secara berjamaah.

Akhir kata, kita tentu tak ingin kembali hidup di jaman purba dengan menolak pembanguan infrastruktur dan kemajuan teknologi. Namun, sebagai rakyat yang tak memiliki kuasa menentukan kebijakan, kita harus tetap waspada terhadap segala bentuk iming-iming yang kelihatan menarik dan gigantik. Sebab, dalam sistem ekonomi kapitalistik, tidak ada yang gratis.

Penulis: Tiara Uci
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Betapa Bahagianya Jadi Warga Gunungkidul, Jadi Turis di Kampungnya Sendiri

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 12 November 2022 oleh

Tags: eksploitasiinvestorKemiskinanwisata prioritaswisata unggulan
Tiara Uci

Tiara Uci

Alumnus Teknik Mesin Universitas Negeri Surabaya. Project Manager perusahaan konstruksi di Surabaya. Suka membaca dan minum kopi.

ArtikelTerkait

Katanya Mau Mengentaskan Kemiskinan, Kok Malah Ngurusin Soal Nikah, orang miskin

Orang Miskin yang Sebenar-benarnya Miskin Adalah Kaum Marjinal Tanpa KTP

9 Mei 2020
Bupati Sumenep Maju Jadi Wagub Jatim 2024: Benahi Dulu Sumenep, Baru Mikir yang Lain! ahmad fauzi

Sumenep: Pantainya Diserbu Investor, Rakyatnya Diratakan Kemiskinan

15 Maret 2023
Jurusan Ekonomi Pembangunan Menyadarkan Saya kalau Kemiskinan Itu Bukan Sekadar Orang yang Malas dan Tidak Punya Uang Mojok.co

Jurusan Ekonomi Pembangunan Menyadarkan Saya kalau Kemiskinan Itu Bukan Sekadar Orang yang Tidak Punya Uang

8 Januari 2026
Jogja Istimewa, Gunungkidul Merana

Wisata Gunungkidul: Warga Membangun, Pemodal Menggusur

14 Oktober 2022
Saya Justru Menyesal Tidak Jadi Kuliah di Jogja pariwisata jogja caleg jogja

Akui Saja, Pariwisata Jogja Memang Sudah Menemui Titik Jenuhnya

27 Mei 2023
Uang Kaget: Eksploitasi Orang Miskin Berkedok Memberi Bantuan

Uang Kaget: Eksploitasi Orang Miskin Berkedok Memberi Bantuan

22 Mei 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kontroversi [arfum Mykonos: ketika naluri “ingin gaul” anak SD dihakimi netizen yang kurang piknik

Kontroversi parfum Mykonos: ketika naluri “ingin gaul” anak SD dihakimi netizen yang kurang piknik

4 Agustus 2026
Fenomena “makan” tabungan yang ramai di medsos kini saya alami sendiri, betapa menyesakkan hidup di tengah ketidakpastian Mojok.co

Fenomena “makan” tabungan yang ramai di medsos kini saya alami sendiri, betapa menyesakkan hidup di tengah ketidakpastian

8 Agustus 2026
Kawasan Surabaya Utara: Dijuluki Mexico-nya Surabaya dan Identik dengan Hal Negatif

Jangan ke Surabaya Utara saat siang hari, jalannya bikin emosi, panasnya nggak masuk akal!

10 Agustus 2026
Jangan Lakukan 4 Hal Ini Saat Kuliah S2, Sudah Bukan Waktunya Lagi S1

Bukan karena jenius, tapi kuliah S2 memang jauh lebih gampang ketimbang S1

8 Agustus 2026
Kerja sambil kuliah program Ekstensi UI mengubah cara pandang terhadap pekerjaan saya sebagai ASN Kementerian Mojok.co

Kerja sambil kuliah program Ekstensi UI mengubah cara pandang terhadap pekerjaan saya sebagai ASN Kementerian

10 Agustus 2026
Kopdes mending jualan jasa aja ketimbang kalah sama Indomaret (Wikimedia Commons)

Kopdes mending jualan jasa aja ketimbang jualan barang entar pasti kalah sama Indomaret

7 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.