Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Balada Kuda Startup: Kerja, Kerja, Tifus

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
5 Oktober 2022
A A
Balada Kuda Perusahaan Startup: Kerja, Kerja, Tifus

Balada Kuda Startup: Kerja, Kerja, Tifus (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Bekerja di perusahaan startup kini jadi impian banyak orang. Terutama semenjak generasi milenial menuntut iklim kerja yang lebih bersahabat. Maklum, bekerja kantoran dan berseragam terlihat menjemukan. Apalagi kalau pekerjaannya hanya main Zuma, apel pagi, dan pakai PDH yang gerah itu.

Bekerja dengan kaos oblong dan celana jeans jadi spirit para karyawan perusahaan startup. Di tengah kesibukan, mereka bisa flexing lingkungan kerja yang seru dan tidak kaku. Kalau jenuh di kursi kerja, mereka sering melakukan outing bersama. Atau saat bosan melihat ruang kantor, mereka bekerja sambil menyesap kopi kekinian.

Tapi perusahaan startup ini tidak lebih dari romantisasi belaka. Apa yang jadi konten Tiktok atau reels tidak lebih dari kebanggaan semu belaka.

Saya sampaikan hal tersebut bukan karena iri. Toh saya juga kerja di sebuah perusahaan startup. Namun, saya melihat sendiri bagaimana si paling kerja milenial ini tidak lebih dari kuda yang dikalungi perhiasan. Terlihat indah, namun tetap dipacu untuk bekerja lebih dan lebih keras.

Banyak perusahaan startup menuntut karyawannya bekerja lebih cepat. Tentu dengan alasan perusahaan sedang dalam fase pertumbuhan. Tentu work pace ini lebih keras daripada perusahaan klasik yang sudah lebih senior. Namun, dengan balutan lingkungan kerja yang nyaman, tuntutan atasan terkesan lebih manusiawi.

Urusan lembur apalagi. Meskipun tidak ada tuntutan untuk lembur, tapi banyak karyawan startup yang saya temui memutuskan lembur secara sukarela. Alasannya klise: agar beban kerja bisa terselesaikan. Padahal jika kita pakai logika, berarti beban kerja ini sudah offside dari jam kerja wajib mereka.

Berarti ada beban kerja lebih yang ditanggungkan pada pundak karyawan. Dan beban kerja lebih ini tidak dikonversi sebagai rupiah. Namun hebatnya, karyawan startup memandang ini sebagai hal biasa.

Kontrak kerja juga sering menyebalkan. Kadang karyawan bisa terjebak sistem kontrak sampai waktu yang tidak ditentukan. Pekerja kontrak tentu lebih rentan dipermainkan perusahaan. Belum lagi penggunaan vendor dalam recruitment. Sudah kontrak abadi, masih kena potongan gaji sebagai pemasukan vendor.

Baca Juga:

Pekerjaan Apa pun Itu, Dekat dengan Kematian, dan Kita Tidak Perlu Menambah dengan Risiko yang Tak Perlu

Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang

Sistem pengupahan di perusahaan startup sering keterlaluan. Terutama startup kecil yang belum terpantau langsung oleh otoritas. Fleksibilitas kerja ternyata berarti fleksibilitas gaji. Banyak karyawan startup kecil yang mengeluhkan penggajian tidak sesuai waktu yang disepakati. Apalagi ketika pemilik perusahaan sangat dekat dengan karyawan.

Kedekatan pemilik atau jajaran tinggi perusahaan juga sering melahirkan micromanagement. Bahkan bisa jadi nanomanagement. Anda mengumpat sedikit saja bisa kena ceramah dengan alasan tidak sesuai kultur perusahaan. Belum lagi pengawasan super ketat sampai melanggar hak privasi karyawan di ruang kerja.

Tapi, itu semua tidak separah kultur satu ini: grow up. Dengan dalih perusahaan menjadi ruang untuk bertumbuh, sering kali banyak hak dasar karyawan yang dilewatkan. Kelas self-upgrading menjadi makanan wajib, tapi BPJS Ketenagakerjaan belum tentu diberikan. Jika diberikan, kadang molor sampai lebih dari setahun setelah bekerja. Padahal urusan self-upgrading bisa diperoleh sendiri. Kalau BPJS Ketenagakerjaan, hanya perusahaan yang bisa menolong.

Tapi, kenapa bekerja di startup jadi impian dan kebanggaan? Sekali lagi karena adanya romantisasi. Karena kampanye iklim kerja milenial, kesempatan grow-up, sampai mimpi jadi kutu loncat antar-startup, para karyawan ini siap dan ikhlas menjadi kuda yang harus terus berlari. Hak dasar sebagai karyawan terbiaskan oleh mimpi dan kebanggaan semu ini.

Sialnya, kebanggaan ra mashok dari kerja di startup mereduksi keberanian untuk menuntut hak mereka. Banyak karyawan yang menghabiskan keluh kesah di meja kopi atau laman Twitter. Tapi ketika mereka kembali ke ruang kerja, karyawan startup kembali terjebak romantisasi semu ini.

Jebakan ini berimbas pada satu hal yang lucu tapi miris: para karyawan startup sering menilai demonstrasi sebagai perilaku karyawan udik. Protes dipandang buang-buang waktu. Dan mereka sendiri malah terjebak di situasi serba terhimpit, namun tidak punya nilai tawar untuk menuntut hak.

Tidak usah muluk-muluk membayangkan serikat pekerja startup. Disuruh lembur mendadak saja luluh dengan seloyang pizza. Itu saja bukan artisan pizza.

Jadi, selamat datang di kultur kerja baru. Anda bekerja seperti kuda, namun bisa bangga di tongkrongan. Keahlian modern dan artistik yang Anda kuasai kini laku, tapi jika Anda tifus, Anda bisa kena potong gaji.

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kata Siapa Kerja di Start Up itu Seru?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2022 oleh

Tags: pekerjaanromantisasistartup
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Work Life Balance Adalah Mitos Belaka Bagi Ibu Pekerja terminal mojok (1)

Work Life Balance Adalah Mitos Belaka Bagi Ibu Pekerja

21 Mei 2021
Pengalaman Jadi Maskot: Walau Malu dan Gerah tapi Bikin Bahagia terminal mojok.co

Pengalaman Jadi Maskot: Walau Malu dan Gerah tapi Bikin Bahagia

9 Oktober 2020
5 Alasan Pabrik Asal Jepang Selalu Jadi Primadona Jobseeker

5 Alasan Pabrik Asal Jepang Selalu Jadi Primadona Jobseeker

20 Maret 2022
4 Oleh-oleh Khas Solo yang Sebaiknya Jangan Dibeli revitalisasi Solo kaesang pangarep

Revitalisasi, Langkah Pertama Meromantisasi Solo

30 Januari 2023
memulai

Betapa Sulitnya Untuk Memulai Sesuatu

13 Mei 2019
Diskriminasi Kolom Identitas Aplikasi Online untuk Status Ibu Rumah Tangga terminal mojok.co

Diskriminasi Kolom Identitas Aplikasi Online untuk Status Ibu Rumah Tangga

21 Desember 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Di Tasikmalaya, jadi tukang parkir liar itu wajar, sebab lapangan kerja di kota ini begitu langka!

Di Tasikmalaya, jadi tukang parkir liar itu wajar, sebab lapangan kerja di kota ini begitu langka!

3 Agustus 2026
5 hal yang paling dirindukan orang Kebumen seperti saya saat merantau ke kota Mojok.co

5 hal yang paling dirindukan orang Kebumen saat merantau ke kota

7 Agustus 2026
Jalan Nasional Purworejo vs Kulon Progo Ketimpangannya Begitu Terasa: Dalam Hitungan Meter, Dunia Begitu Berbeda

Purworejo, kota yang menyambutmu bukan dengan gapura selamat datang, tapi dengan jalan berlubang

5 Agustus 2026
Kerja di Bekasi nggak bikin cepat kaya, justru bikin saya capek dan kangen kampung halaman

Kerja di Bekasi nggak bikin cepat kaya, justru bikin saya capek dan kangen kampung halaman

2 Agustus 2026
Punya tetangga yang suka nyetel musik keras-keras itu adalah ujian hidup paling berat

Punya tetangga yang suka nyetel musik keras-keras itu adalah ujian hidup paling berat

4 Agustus 2026
Ketika Buku Menebang Pohon

Ketika buku menebang pohon

4 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.