Ada suatu fenomena menarik di dunia kerja saat ini. Gen Z dan anak-anak muda cenderung enggan untuk dapat promosi dan naik jabatan di tempat kerjanya. Sungguh berbeda dengan generasi tua yang rela sampai “sikut-sikutan” demi promosi kerja.
Sebelum kita bahas lebih lanjut, mari kita bahas garis besarnya terlebih dahulu. Terkait fenomena anak muda yang ogah naik jabatan, kta bisa menarik argumen sederhana, ada cara pergeseran cara pandang anak muda terhadap karier, pekerjaan, dan kehidupan secara lebih luas. Dan, dari argumen sederhana ini, kitab bisa membedahnya jadi beberapa bagian.
Jabatan tinggi tidak lagi dianggap sebagai prestise
Sebelum Gen Z, orang-orang cenderung melihat jabatan tinggi jadi suatu hal yang prestise. Bagi mereka, jabatan itu memengaruhi bagaimana eksistensi mereka di dunia luar. Makin tinggi jabatannya, makin kelihatan berwibawa, dan makin dianggap penting oleh masyarakat. Jabatan adalah sebuah hal yang prestise.Tidak heran banyak orang mengejar promosi jabatan hingga rela melakukan apa saja.
Akan tetapi, pemahaman jabatan sama dengan prestise sepertinya sudah mulai luntur di kalangan anak-anak muda. Generasi muda sudah nggak lagi menganggap bahwa jabatan itu sesuatu yang prestise sehingga layak dikejar sebegitunya. Bagi anak-anak muda, selama statusnya sama-sama pekerja/pegawai, jabatan itu ya sama saja. Mau itu staf bawahan, supervisor, hingga kepala divisi, semuanya sama-sama pekerja yang statusnya tetap rawan.
Jadi, bagi Gen Z dan banyak anak muda, mengejar jabatan tinggi bahkan sampai level bos juga dianggap jadi sesuatu yang agak sia-sia. Jangankan mengejar jabatan, ditawari naik jabatan saja kadang mereka tolak. Sebab, status mereka tetap pekerja. Posisi kita masih berada di bawah pemodal. Makanya, alih-alih saling berlomba mati-matian mengejar jabatan, mereka memilih untuk berkumpul sesama pekerja, dan berserikat.
Beban dan tanggung jawab yang kadang nggak seimbang dengan gaji
Kita semua tahu bahwa makin tinggi jabatan di sebuah pekerjaan, maka makin besar pula tanggung jawabnya. Dan, idealnya, ketika jabatan naik dan tanggung jawab membesar, maka gajinya juga ikut naik. Di manapun tempat kerjanya, mau itu di perusahaan swasta, BUMN, atau di creative agency, idealnya seperti itu. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Ada banyak yang masih sangat jauh dari kata ideal.
Inilah yang bikin Gen Z dan anak-anak muda enggan untuk naik jabatan atau bahkan jadi bos. Mereka enggan karena mereka tahu bahwa kalau mereka naik jabatan, tanggung jawab mereka akan makin besar. Sementara itu, dengan tanggung jawab yang semakin besar, kenaikan gaji mereka nggak terlalu signifikan, alias nggak seimbang dengan tanggung jawab yang akan mereka pikul nanti.
Ini sering banget terjadi. Misalnya, ada satu anak muda yang jabatannya supervisor. Lalu dia ditawari naik jabatan menjadi manajer di divisinya. Kelihatan menggiurkan. Namun, gajinya hanya naik sekian persen, nggak terlalu signifikan. Ya males juga jadinya. Jabatan naik kalau gajinya nggak beneran ikut naik ya sama saja bohong. Hal-hal seperti ini yang bikin anak-anak muda malas naik jabatan, atau bahkan jadi bos.
Gen Z dan anak muda lebih sadar akan kesehatan mental di dunia kerja
Hal terakhir yang bikin Gen Z atau anak-anak muda malas naik jabatan adalah soal kesehatan mental di dunia kerja. Kita semua paham, ketika anak-anak muda (Gen Z) sudah masuk dunia kerja, mereka membawa satu hal yang selama ini jarang disinggung di dunia kerja: kesehatan mental. Kehadiran dan keberadaan anak-anak muda ini bikin kesadaran akan kesehatan mental di dunia kerja mulai muncul.
Dan, karena meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental inilah banyak anak-anak muda yang enggan untuk naik jabatan, atau bahkan enggan jadi bos, jadi leader. Anak-anak muda ini beranggapan bahwa makin tinggi jabatan mereka, makin besar risiko mereka untuk burnout, untuk depresi. Sebab makin tinggi jabatannya, makin besar tekanannya. Nggak hanya tekanan fisik, tapi tekanan psikis dan batin juga makin besar.
Ini nyambung ke dua poin sebelumnya di atas. Pekerja yang terlalu mengejar jabatan hanya demi prestise, bisa saja lupa segalanya. Mereka bisa lupa dengan hak-haknya, mereka bisa lupa dengan kesehatannya. Apalagi kalau mereka berada di lingkungan kerja yang “zalim”, yang gajinya nggak sepadan dengan jabatan dan tanggung jawabnya. Makanya, di dunia kerja yang “jahat” ini, anak-anak muda lebih memilih sehat mental ketimbang jabatan tinggi. Nggak apa-apa jabatan dan gaji segitu-gitu aja, asalkan nggak stress dan burnout. Sebab anggapan bahwa stress dan burnout adalah “harga normal kesuksesan” itu sudah usang.
Itulah beberapa alasan mengapa Gen Z atau aanak-anak muda enggan nak jabatan, atau bahkan enggan jadi bos. Beberapa dari mereka mungkin ada yang heran, bahkan sinis dengan anak-anak muda yang seperti ini. Tapi, harusnya kalian bisa mengerti mengapa mereka jadi seperti ini, setidaknya dari membaca apa yang saya paparkan di atas.
Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















