Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Argumentasi Ulama Oposisi ala Babe Haikal Hassan yang Ramashook

Khasbi oleh Khasbi
2 Agustus 2019
A A
babe haikal

babe haikal

Share on FacebookShare on Twitter

Memang, pernyataan dari Babe Haikal Hassan akan selalu bergerak-gerak menyusup dan mengiris-iris kesadaran masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam.

Baru-baru ini, pernyataan yang bak pedang tajam itu kembali dilontarkan ke permukaan lewat acara ILC. Dia menyatakan bahwa ulama itu harus oposisi, kalau tidak oposisi berarti bukan ulama. Hmm, radikal sekali memang! Mohon maaf, bukan orangnya yang berlaku radikal yak. Ungkapannya itu loh yang radikal; mendalam dan radik.

ADVERTISEMENT

Untuk memperkuat argumentasinya itu, Babe Haikal menyebut beberapa tokoh penting dalam dinamika Islam. Ia—secara implisit—mengidentifikasi pernyataannya itu dengan menyebut beberapa nama nabi sebelum Nabi Muhammad SAW. Bahkan, ia juga mengatakan bahwa Rasulullah adalah oposisi.

Hmm, saya jadi merasa aneh dengan argumentasi yang dipakai oleh Babe Haikal ini. Oke, saya sepakat kalau oposisi dalam suatu kepemerintahan itu penting. Tentunya untuk mencapai keseimbangan dan hasil akhir ‘yang baik.’

Tapi, mohon maaf nih. Saya juga punya pertanyaan untuk Babe Haikal yang penuh semangat itu. Pertama, mohon maaf, oposisi tidak ada di zaman nabi. Loh, kok bisa tidak ada? Sebentar-sebentar, jangan ngamuk dulu. Kata oposisi itu apakah berasal dari bahasa Arab? Kata oposisi itu dari mana sih asal-usulnya?

Jadi, tidak mungkin para tokoh yang disebut oleh Babe Haikal menjadi oposisi. Loh, jangan marah toh. Silahkan dicari di literatur yang ada, apakah Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan bahwa dia oposisi? Tidak, toh!

Oke deh, jika kalian tetap memaksa kalau para tokoh itu melakukan oposisi pada zamannya. Kalian mungkin akan mengatakan oposisi sebenarnya ada, hanya saja menggunakan kata atau kalimat yang berbeda.

Baik, saya akan melanjutkan dengan menganalisis lebih dalam lagi. Pernahkah kalian belajar bagaimana caranya membentuk argumentasi yang persuasif? Di dalam sana, kita akan menjumpai sebuah pembahasan tentang logika sepintas lalu. Dalam pembelajaran argumentasi, logika sepintas lalu adalah logika yang menyesatkan.

Baca Juga:

Upin Ipin Serial TV yang Tampak Aman untuk Anak-Anak, tapi Aslinya Bisa Merusak kalau Ditonton Tanpa Dampingan Orang Dewasa

10 Hari di Taiwan Bikin Sadar kalau Kualitas Hidup di Indonesia Sudah Tertinggal Jauh

Syahdan, dan logika yang dipakai Babe Haikal sebenarnya adalah jebakan Batman. Logika yang sederhana namun menjebak. Jika kita berpikir hanya sepintas lalu, dengan argumentasi yang dibuat oleh Babe Haikal, dapat dipastikan kita mengiyakan pernyataan Babe Haikal.

Ulama memang harus oposisi, kalau tak oposisi dia bukan ulama lagi. Hmm, keras, gaes!

Padahal kita tak bisa menelan mentah-mentah pernyataan itu. Ada yang perlu diselidiki lebih dalam tentang argumentasi yang dibuat. Apakah argumentasi itu relevan dengan pernyataan yang dibuat? Atau justru secara maknawi berbeda tujuan?

Misalnya, Nabi Muhammad SAW beroposisi dengan para pemimpin Quraisy yang ‘kafir’. Iya, argumentasi itu benar dan valid. Namun, jika kondisi itu dibuat analogi dan disandingkan dengan kenyataan sekarang sangat-sangat ramashoookkk! Siapa Nabi itu? Siapa ulama itu? Kedua mahluk ini berbeda, baik secara kedudukan dengan Allah atau dengan manusia pada umumnya.

Lebih jauh lagi. Ulama itu kan warasatul anbiya, bukan nabi. Jelas toh, logika yang dibangun menyesatkan.

Jika kalian tetap membela. Bahwa, zaman sekarang yang menjadi panutan kalau bukan ulama mau siapa lagi? Iya, saya sepakat soal itu. Tapi, saya ingin mengajukan pertanyaan lagi. Ulama yang dimaksud oleh kalian ini ulama yang mana? Ulama yang hidup pada zaman klasik? Atau ulama yang hidup pada zaman kontemporer? Jika ulama yang dimaksud adalah ulama kontemporer, kenapa kalian tak mengikuti ulama itu? Bukankah ulama adalah panutan?

Ada argumentasi yang salah dalam hal ini. Generalisasi yang terlalu cepat dalam mendefinisikan ulama adalah penyebabnya. Bukankah ulama ada banyak sekali macamnya? Lalu, jika kalian mengatakan bahwa ulama harus oposisi dan kalau tak oposisi maka bukan ulama, maka kalian memaksakan keseragaman. Padahal jelas, ulama ada banyak macamnya toh?

Loh, jangan berbelok arah begitu, dong. Kalian kemudian mengatakan bahwa ulama yang tidak oposisi adalah ulama yang su’ (buruk), itu sama saja dengan pengingkaran pada premis primer yang kalian buat. Sudah jelas sebenarnya, kalian kan mengkategorikan ulama? Sementaranya tadi, kalian mengatakan kalau ulama harus seragam dan sama (oposisi).

Mana yang benar? Ambivalen sekali. Lebih baik ditelaah dulu jika ingin berargumentasi.

Kami orang awam yang tak tahu arah. Tanpa para ulama kami akan kebingungan, seperti domba yang lepas dari kawanannya. Tanpa ulama, kami juga tak akan mengenal kekasih-Nya. Tanpa ulama juga, kami tak akan kenal siapa Muhammad dan siapa Tuhan?

Satu lagi, tanpa huruf ‘u’ dalam kata ‘ulama’, hidup akan terasa ‘lama’ dan membosankan. Iya, seperti kamu yang lama tak membalas chattinganku~

Terakhir diperbarui pada 25 Februari 2022 oleh

Tags: babe haikalhaikal hassanIndonesiakarni ilyasPolitikulama
Khasbi

Khasbi

Seorang Ayah satu anak, Guru PAI di sebuah SD Negeri dan Guru Ngaji. Senang menulis, membaca ngopi dan berdiskusi serta aktif berorganisasi.

ArtikelTerkait

Bedah Suzuki Fronx Versi Indonesia, India, dan Jepang: Duel 3 Negara, Siapa Paling Gahar?

Suzuki Fronx Versi Indonesia: Jauh Melampaui India, Negara yang Jadi “Anak Emas” Suzuki

17 Mei 2025
bahasa slang g

Nostalgia Bahasa Slang Iginigi

7 Juli 2019
hagia sophia mojok

Melihat Hagia Sophia dengan Perspektif Pancasila

25 Juli 2020
Di Balik Wajah Indah Indonesiaku

Di Balik Wajah Indah Indonesiaku

3 Mei 2019
Dear INews, Masih Niat Jadi The New Home of Badminton Nggak, sih?

Dear iNews, Masih Niat Jadi The New Home of Badminton Nggak, sih?

3 Juni 2023
warna pasir pantai

Ini Loh, 8 Warna Pasir Pantai Serta Asal Muasalnya

29 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 hal lazim di Jogja yang masih asing di Tulungagung, tapi perlu dicontoh demi ruang publik yang lebih hidup  Mojok.co

4 hal lazim di Jogja yang masih asing di Tulungagung, tapi perlu dicontoh demi jadi daerah lebih hidup 

17 Juli 2026
Advan 360 Stylus: Laptop Lokal yang Bisa Jadi Tablet tapi Kurang Laris di Pasaran

Saya menyesal membeli laptop Advan, sebetulnya niat nggak sih bikin produk lokal yang bagus?

16 Juli 2026
Kenapa orang Jogja nggak suka makan gudeg? (Unsplash)

Kenapa orang Jogja nggak suka makan gudeg, padahal tahu gudeg yang enak, gurih, dan murah?

19 Juli 2026
Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng Mojok.co

Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng

16 Juli 2026
Alasan orang Jombang jarang ada yang bangga dengan daerahnya sendiri Mojok.co

Alasan orang Jombang jarang ada yang bangga dengan daerahnya sendiri

18 Juli 2026
Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout Mojok.co

Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout

17 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.