Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Jangan-jangan Negara yang Sering Disindir Film India Itu Indonesia?

Fernando Galang Rahmadana oleh Fernando Galang Rahmadana
25 Januari 2021
A A
Jangan-jangan Negara yang Sering Disindir Film India Itu Indonesia? terminal mojok.co

Jangan-jangan Negara yang Sering Disindir Film India Itu Indonesia? terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Apa yang ada di benak kita ketika membicarakan film India? Tidak jauh dari joget-joget, bertele-tele, dan durasinya yang terlalu lama dibandingkan film luar lainnya. Namun, yang jelas itu tidak pernah menyurutkan kekaguman saya atas film-film India. Pasalnya, ia sering kali mengangkat isu-isu sosial hingga politik layaknya musik-musik Indonesia pada masa orde baru.

Ketika orang minta rekomendasi film ke saya, dengan tegas nan lugas pasti saya akan merekomendasikan salah satu film India yang saat itu juga terlintas di pikiran. Bajrangi Bhaijaan barangkali menjadi film yang sering saya rekomendasikan ke orang lain.

Bukan tanpa alasan, film itu berhasil menguras habis tenaga saya entah untuk tertawa, kagum, bahkan menghabiskan tisu di meja kerja. Bahkan terakhir kali nonton film itu bareng teman-teman, saya justru tidak bisa lagi nangis saking tidak bisa menahan ketawa karena teman-teman saya justru nangis sambil teriak-teriak bak anak kecil meronta minta dibelikan es krim.

Masih banyak film India lainnya yang menurut saya bagus, banyak pelajarannya, dan sudah banyak dikenal khalayak umum seperti 3 Idiots, Lagaan, Taare Zameen Par, Barfi, Dangal, Peekay, Andhadhun, dan lain sebagainya. Hampir semua film India bagi saya selalu punya korelasi kuat dengan kehidupan di Indonesia. Makanya tidak jarang saya menaruh curiga, jangan-jangan emang film India diproduksi untuk menyindir Indonesia.

Film India yang terakhir saya tonton adalah Johaar. Film ini dirilis bulan Agustus tahun 2020 lalu. Setelah menontonnya, saya justru menjadi semakin cemas kalau film India semakin sulit laku di Indonesia. Lantaran Johaar menurut saya memperpanjang daftar film India yang patut diduga paling berkorelasi dengan sadis nan beringas menyindir Indonesia.

Bagaimana tidak, film Johaar mengangkat banyak isu yang sangat relevan di kehidupan Indonesia. Biasanya film India cuma mengangkat satu hingga tiga isu utama, ini lima isu bahkan lebih sekaligus! Lantaran tidak mungkin saya tuliskan semua, maka akan saya coba beberkan beberapa hal saja, tentu dengan menaruh penuh kecurigaan dan dugaan.

#1 Atlet potensial yang tak terfasilitasi

Digambarkan dalam film tersebut seorang anak (sebut saja si A) yang ikut banting tulang membantu ayahnya menjadi pemeran sirkus jalanan. Lantaran kebiasaannya selain bermain sirkus ialah lari, tak jarang A mengikuti arahan pelatih atlet dari kejauhan dan berlari layaknya atlet lain yang berada di trek lari.

Sampai sang pelatih pun dibuat terkesima kemudian membinanya hingga pada akhirnya A berhasil masuk ke semacam pelatihan untuk ajang olimpiade. Lalu, A diserahkan ke pelatih barunya di kamp pelatihan.

Baca Juga:

Lebaran Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati

Pulang dari Jepang Bikin Sadar Betapa Bobrok Daerah Asal Saya

Si A ini dikeluhkan manajemen pelatihan karena asupan kalsiumnya yang kurang hingga berakibat kurang bagus kondisi tubuhnya. Namun, anehnya ketika di kamp pelatihan si anak justru diberikan asupan apa adanya, sampai pada akhirnya si anak ini mendatangi pelatih barunya kemudian menampar pelatihnya di depan teman-temannya. *Plakkk!!!* Telak sekali, Bung!

Si A emosi sembari menyampaikan keluhannya terkait asupan selama pelatihan yang diabaikan karena dana pelatihan sebagian dimakan oleh manajemen kepelatihannya. Sambil bergegas pergi karena malu, sang pelatih membalasnya dengan mengancam A. Benar saja, A jatuh tumbang di medan perlombaan karena kondisi fisiknya tidak fit.

Isu atlet dalam film Johaar menjadi pembuka sentilan kecil kepada negara melalui Kemenpora. Kemenpora India, sih, maksudnya. Tenang, semoga saja hal itu tidak pernah terjadi di Indonesia, ya. Kan gawat nanti kalau sampai ada yang kesindir beneran lalu mengangkat isu perlawanan terhadap film India dengan dalih tidak nasionalis seperti yang sudah-sudah. Eh.

#2 Pendidikan menjadi pilihan investasi yang jarang diperhatikan

Isu pendidikan dalam film Johaar disampaikan melalui si anak (sebut saja B) yang tinggal di daerah lokalisasi PSK. Setiap hari B kesulitan konsentrasi belajar karena mendengar desahan ibunya yang sedang melayani pelanggan. Setiap hari pula B berada di bayang-bayang ketakutan karena digadang-gadang oleh ibunya untuk dijadikan pengganti posisinya setelah pubertas nanti.

Sampai pada satu pagi, B bangun tidur dengan darah di kasurnya sebagai penanda ia sudah pubertas. Panik bukan main, B memilih kabur dari rumah dan hidup bersama teman laki-lakinya yang kemudian ia cintai juga.

Pada mulanya B berhasil mendapatkan beasiswa untuk sekolah barunya, tapi nahas, beasiswa tersebut hanyalah prank pemerintah semata. Sedangkan teman yang ia cintai membantunya dengan berjualan teh susu, tak kalah nahas, ia dituduh terlibat perdagangan narkoba dan usahanya ikut hancur.

Di satu malam, B dan temannya ini terlibat pertengkaran hebat di tengah jalan karena kesalahpahaman yang mengakibatkan teman B tertabrak truk lalu divonis koma dan kecil kemungkinan untuk selamat. Si B yang tidak sanggup membiayai sekolah seorang diri ditambah harus kehilangan orang yang ia cintai, entah bagaimana nasib pendidikannya.

Mengerikan ya, kalau kata Prof Tadjuddin Noer, pendidikan ialah unsur penting dan menjadi fondasi penting pembangunan suatu negara. Tapi sayang, barangkali kita belum khatam soal ini, makanya sampai disampaikan melalui film gini. Pendidikan menjadi investasi penting itu memang benar, tapi Anda hidup di mana dulu? Kan, gitu.

#3 Pertanian, sanitasi, dan kesehatan yang terabaikan

Pangan menjadi unsur mutlak kebutuhan manusia, terutama melalui pertanian. Begitu juga dengan kesehatan. Diceritakan dalam film Johaar, sosok ibu dan anak (sebut saja C) semata wayangnya berjuang mati-matian hidup di daerah yang mengandung air beracun.

Ibu C berprofesi sebagai petani, sedangkan C punya cita-cita besar menjadi seorang ilmuwan hingga bisa membuat irigasi serta sanitasi air yang baik dan menghentikan momok air beracun di kampungnya itu yang membuat ayahnya meninggal.

Tak selang lama kemudian, C jatuh sakit dan divonis menderita penyakit sama seperti ayahnya yang membuatnya meninggal. Berita itu menjadi pukulan telak bagi ibunya. Si C musti menjalani cuci darah rutin.

Pada saat musim panen, malangnya sawah yang siap panen milik ibunya justru terendam banjir karena lagi-lagi soal irigasi hingga menyebabkan ibunya kesulitan membiayai pengobatan, dan berakhir C meninggalkan ibunya selamanya.

Tragis, barangkali jadi satu kata paling pantas untuk menggambarkannya. Membayangkan lagi itu sungguh terjadi di suatu negara. Untuk meminimalisir terjadinya hal yang serupa, bisa saja kementerian yang berkaitan berkolaborasi supaya tidak terjadi hal demikian.

Jelas, kalau di Indonesia hal tersebut (kesinambungan pertanian, sanitasi, dan kesehatan) sudah tertangani dengan baik. Coba tanya saja ke petani di daerah bantaran sungai jalan pantura Demak.

#4 Veteran terlupakan dan hak memiliki tempat tinggal

Terakhir, film Johaar juga mengangkat isu veteran yang dilupakan. Kakek yang menjadi veteran ini tinggal di gubuk penyot dan atapnya bocor di mana-mana ketika hujan turun. Padahal kakek ini punya jiwa yang mulia selain perjuangannya di masa lampau. Ia menampung anak-anak tuna wisma dan mendidik mereka hingga ada yang mencapai perguruan tinggi.

Malangnya, beberapa kali mengajukan dana bantuan untuk perbaikan rumah justru ditawari suap supaya bantuan segera diproses. Batin saya, “Wah film iki suwe-suwe ngawur tenan, ha kok persis karo negoro kono kae!”

Tak lama kemudian rumahnya roboh karena sudah tidak mampu menahan derasnya air dan anak-anak yang ditampung veteran ini menjadi korban runtuhannya. Lantaran iba dengan kondisi anak asuhnya, akhirnya si kakek menggunakan cara dengan memanfaatkan asuransi kecelakaan supaya mendapatkan uang.

Ia meninggalkan amplop asuransi di depan rumah lalu pergi ke jalan raya dan “duaaarrr”, kecelakaan terjadi.

Kira-kira isu-isu tersebut yang dibawakan dalam film Johaar. Kalian bisa menganalisisnya lebih jauh dengan menontonnya sendiri. Mengerikannya lagi, isu-isu tersebut diangkat untuk mempertanyakan isu utama yaitu pembangunan yang membuang begitu banyak dana sehingga memaksa pemangkasan dana pada sektor-sektor fundamental lainnya.

Loh, kok? Loh, kok? Alhamdulillah, dugaan saya salah. Jelas, bukan Indonesia banget, sih, ini.

Konon, film Johaar diangkat untuk mengkritik pemerintah India atas pembangunan patung tertinggi di dunia yang diresmikan di negara bagian Gujarat pada 2018 lalu. Patung berketinggian 182 meter tersebut menghabiskan dana 30 miliar rupee. Gileee!!!

Kan, nggak perlu suuzan ke film India, ya! Itu mengkritik pemerintah India, kok, bukan Indonesia. Di awal film-film India juga selalu dituliskan kurang lebih, “Jika ada kesamaan tempat, nama, dan juga cerita adalah hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.” Waduh, kok, ada Tukang Baks….

BACA JUGA Polisi di Kampung Saya Nggak Kayak Inspektur Vijay di Film India dan tulisan Fernando Galang Rahmadana lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 24 Januari 2021 oleh

Tags: film indiaIndonesiaJohaar
Fernando Galang Rahmadana

Fernando Galang Rahmadana

Alumni Sosiologi FISIPOL UGM. Aktif berkegiatan di bidang CSR dan menaruh ketertarikan pada keunikan lokal serta dinamika masyarakat.

ArtikelTerkait

Sisi Gelap Eropa Menghapus Perasaan Inferior terhadap Bule, Ternyata Mereka Nggak Sesempurna Itu Mojok.co

Sisi Gelap Eropa Menghapus Perasaan Inferior terhadap Bule, Ternyata Mereka Nggak Sesempurna Itu

5 Februari 2024
4 Rekomendasi Film Bollywood Underrated yang Nggak Ada Salahnya Ditonton Terminal Mojok.co

4 Rekomendasi Film Bollywood Underrated yang Nggak Ada Salahnya Ditonton

14 April 2022
Sistem Pendidikan Finlandia; Belajar Cara Belajar. Menyadarkan Saya Betapa Bobrok dan Tertinggal Sistem Pendidikan Indonesia Mojok.co

Buku Sistem Pendidikan Finlandia; Belajar Cara Belajar, Menyadarkan Saya Betapa Bobrok dan Tertinggal Sistem Pendidikan Indonesia

1 Juli 2024
3 Cara Minta Maaf Terbaik yang Bisa Dilakukan Panitia All England 2021 kepada Rakyat Indonesia terminal mojok

3 Cara Minta Maaf Terbaik yang Bisa Dilakukan Panitia All England 2021 kepada Rakyat Indonesia

22 Maret 2021
vaksinasi vaksin berbayar covid-19 Hoaks Vaksin Mengandung Virus Itu Wagunya Sampai Ubun-ubun terminal mojok.co

Kok Bisa Ada Negara yang Menggratiskan Vaksin? Contoh Indonesia, dong!

14 Desember 2020
5 Hal Nggak Enaknya Jadi Lulusan Ekonomi Syariah

5 Hal Keliru tentang Ekonomi Syariah yang Dipercaya Banyak Orang

2 Juli 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

27 April 2026
Kalau Mau Ketemu Orang Baik, Coba Naik Trans Jogja (Unsplash)

Kalau Mau Ketemu Orang Baik, Coba Naik Trans Jogja

27 April 2026
Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah Mojok.co

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah

28 April 2026
Klaten Tulang Punggung dan Masa Depan Dapur Indonesia

Klaten: Bukan Sekadar Kota untuk Mampir Menikmati Sop Ayam, tapi Tulang Punggung dan “Dapur” Masa Depan Indonesia

1 Mei 2026
Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang Mojok.co

Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang

29 April 2026
kecamatan pedan klaten tempat tinggal terbaik di jawa tengah (Wikimedia Commons)

Kecamatan Pedan Klaten: Tempat Tinggal Terbaik di Kabupaten Klaten yang Asri, Nyaman, Penuh Toleransi, dan Tidak Jauh dari Kota

29 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Dilema Pekerja Perempuan: Upah Murah “Dilegalkan”, Sementara Biaya Daycare Tak Terjangkau
  • Pelatihan SKill Digital IndonesiaNEXT Ubah Mahasiswa Insecure Jadi Skillfull, Bisnis Digital pun Tak Kalah Saing
  • Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 
  • Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik
  • Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi
  • Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.