Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Anggaran Perpustakaan Itu Mahal, tapi Kita Tak Pernah Peduli karena Maunya Terima Jadi

Ferika Sandra oleh Ferika Sandra
22 Juni 2026
A A
Saya Lulusan Ilmu Perpustakaan, tapi Saya Nggak Mau Jadi Pustakawan Sekolah, Isinya Cuma Makan Hati! perpusnas

Saya Lulusan Ilmu Perpustakaan, tapi Saya Nggak Mau Jadi Pustakawan Sekolah, Isinya Cuma Makan Hati!

Share on FacebookShare on Twitter

Ada satu kalimat sakti yang hampir selalu muncul setiap kali Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dikritik, yaitu “anggarannya kecil.” Dan seperti mantra yang sudah terlalu sering dibaca, kalimat itu mulai kehilangan daya magisnya. Orang-orang menguap. Publik mendengus. Ada yang sinis, ada yang skeptis, ada pula yang langsung memvonis bahwa itu semua hanya alasan klasik.

Padahal, anggaran kecil di perpustakaan itu bukan dongeng pengantar tidur. Bukan pula karangan pustakawan. Hal tersebut adalah fakta. Apalagi di tahun 2026 ini Pemerintah Pusat resmi memotong anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dengan besaran hingga 47,6%, sejumlah kolega saya yang ada di sana menyebut angka itu menjadi yang terendah dalam 5 tahun terakhir.

Padahal pemerintah pusat jika tahu, pemotongan anggaran itu tentu akan langsung pada beragam hal fundamental yang ada di Perpusnas. Sebab kalau pemerintah pusat tahu apa saja yang sebenarnya dibiayai dari anggaran itu dan apa saja yang selama ini luput dari kacamata pemangku kebijakan mereka akan tahu jika pemotongan itu akan berimbas pada Perpusnas.

Anggaran perpustakaan itu banyak yang tak kelihatan, faktanya mahal

Kurangnya koleksi memang kekurangan paling kasat mata. Semua orang bisa melihat. Semua orang bisa menunjuk. Tapi ada biaya-biaya krusial lain yang tak kasat mata, jarang dibicarakan, dan sering dianggap tidak penting. Padahal justru menyedot anggaran paling banyak. Salah satunya, sistem otomasi dan server.

Perpustakaan yang baik hari ini bukan cuma yang raknya rapi, tapi yang mudah diakses. Kapan pun. Di mana pun. Zaman sudah berubah. Pemustaka tidak lagi rela datang jauh-jauh hanya untuk mengecek apakah buku tersedia atau tidak. Sekarang cukup buka browser. Tinggal klik. Beres.

Masalahnya, kemudahan itu tidak turun dari langit. Perpustakaan harus punya sistem otomasi katalog online. Sistem itu semua, butuh hosting. Hosting itu bayar. Domain itu bayar. Maintenance server itu bayar. Kalau tidak punya tim IT sendiri? Ya tambah bayar lagi. Sampai sini, bayangkan saja dulu jika pustakawan hanya satu atau 2 orang.

Hosting untuk perpustakaan jelas tidak bisa asal murah. Ini sistem layanan publik. Harus stabil, aman, orang bisa mengaksesnya. Belum lagi biaya perpanjangan tahunan. Belum lagi kalau server error. Lalu belum kalau sistem perlu upgrade.

Tapi coba jujur, berapa banyak pengunjung perpustakaan yang tahu soal ini? Hampir tidak ada.

Baca Juga:

Setengah anggaran Perpusnas RI dipangkas, bukti pemerintah memang tidak ingin mencerdaskan rakyat

Perpustakaan Kota Pekalongan berbenah, akhirnya ada ruang publik yang bikin betah 

BACA JUGA: Pustakawan Membela Layanan iPusnas yang Dikeluhkan Banyak Orang

Niat hati bertransformasi tapi kendala di sana-sini

Sekarang kita naik level menuju harapan perpustakaan digital. Permintaannya tinggi. Semua ingin perpustakaan punya e-book yang bisa dibaca kapan saja, di mana saja. Masalahnya, membangun perpustakaan digital itu bukan perkara klik-klik lalu jadi.

ADVERTISEMENT

Pertama, perpustakaan harus membangun sistem sendiri atau bekerja sama dengan vendor. Dua-duanya mahal. Sama-sama bersinggungan dengan teknologi. Sama-sama menyedot anggaran. Kedua, soal hak cipta. Publik sering menganggap remeh hal ini. E-book itu bukan file PDF gratisan. Satu copy ebook = satu harga buku. Tinggal dikalikan. Mau punya 100 copy digital? Ya bayar 100 kali. Tidak ada cerita copy–paste demi literasi.

Kalau mau lebih praktis, ya kerja sama dengan vendor besar. Misalnya layanan perpustakaan digital milik penerbit besar. Koleksinya populer, tampilannya menarik, fiturnya lengkap. Tapi jangan tanya soal harga. Langganan tahunan. Belum lagi biaya kustomisasi fitur sesuai kebutuhan perpustakaan. Singkatnya, menuju perpustakaan digital itu mahal. Dan ini bukan keborosan, tapi konsekuensi zaman.

RFID, teknologi mahal yang baru disadari saat buku hilang

Lalu ada satu teknologi yang sering dipuji, tapi jarang dipahami biayanya yaitu Radio Frequency Identification atau RFID. Kalau kamu pernah masuk perpustakaan yang pintunya berbunyi ketika ada buku keluar tanpa izin, itu bukan sihir. Itu RFID. Teknologi ini menjaga koleksi agar tidak lenyap satu per satu dari tangan-tangan iseng.

Masalahnya, RFID itu super duper mahal. RFID tag saja bisa mencapai 15 juta per 1.000 tag. Tinggal kalikan dengan jumlah koleksi. Padahal, butuh RFID reader lebih dari satu. Satu alat bisa menyentuh angka 20 juta. RFID security gate? Bisa tembus 80 juta. Dan itu baru perangkat. Belum instalasi, integrasi sistem, dan perawatan.

Tapi publik baru sadar pentingnya RFID saat koleksi hilang. Saat buku lenyap, yang disalahkan pustakawan. Saat alat pengaman tidak ada, yang disebut pemborosan justru anggarannya. Ironis, kan? Jelas, besty.

Sampai sini, tahu kan sekarang kenapa pemotongan anggaran bikin Perpusnas menderita. Pada akhirnya negara memaksa Perpusnas untuk berhenti bukan karena kurang ide. Melainkan karena terlalu lama dipaksa bertahan hidup dengan logika jalan di tempat dengan paradigma selalu untung.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Hal tentang Perpustakaan Sekolah yang Patut Diragukan Kebenarannya

ADVERTISEMENT

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 Juni 2026 oleh

Tags: anggaran perpusnasperpusnasPerpustakaan
Ferika Sandra

Ferika Sandra

Seorang pustakawan dari Kota Malang yang mencoba menulis untuk menertibkan pikiran. Gemar dengan isu-isu literasi dan kebudayaan.

ArtikelTerkait

3 Spot Terbaik Melihat Kesenjangan Kota Jakarta dari Ketinggian Mojok.co

3 Spot Terbaik Melihat Kesenjangan Kota Jakarta dari Ketinggian

29 Maret 2024
Ide Membangun 10 Ribu Perpustakaan Desa Bukti Perpusnas Gagal Paham dengan Kondisi Literasi di Desa Mojok.co

Ide Membangun 10 Ribu Perpustakaan Desa Bukti Perpusnas Gagal Paham dengan Kondisi Literasi di Desa

24 Februari 2024
3 Hal yang Bikin Saya Merasa Ngenes Saat Ikut Program Kampus Mengajar

3 Hal yang Bikin Saya Merasa Ngenes Saat Ikut Program Kampus Mengajar

10 Maret 2024
Alasan Saya Kecewa dengan Perpustakaan UI, Jam Operasional Nggak Jelas hingga Koleksi Ilang-ilangan Mojok.co

Alasan Saya Kecewa dengan Perpustakaan UI, Jam Operasional Nggak Jelas hingga Koleksi Ilang-ilangan

13 Mei 2024
Haramkah Memutar Musik di Perpustakaan?

Haramkah Memutar Musik di Perpustakaan?

7 Juli 2023
Pinjam Buku di Perpustakaan Itu Menyenangkan, yang Menyebalkan Cari Bukunya

Pinjam Buku di Perpustakaan Itu Menyenangkan, yang Menyebalkan Cari Bukunya

10 November 2023
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Malah Paling Jarang Srawung Mojok.co

Ra srawung rabimu suwung adalah jokes tongkrongan yang sudah tidak relevan dan sebaiknya tidak usah disampaikan

16 Agustus 2026
Bali bisa kehabisan air, tapi tenang, kolam vila masih penuh (Unsplash)

Bali bisa kehabisan air, tapi tenang, kolam vila masih penuh

16 Agustus 2026
5 hal berkesan selama jadi peneliti lapangan yang bikin saya bersyukur telah memilih pekerjaan ini (Mojok.co)

5 hal berkesan selama jadi peneliti lapangan yang bikin saya bersyukur telah memilih pekerjaan ini 

16 Agustus 2026
Kuliah S2 itu cuma lanjutan, kualitas asli seseorang justru terlihat saat kuliah S1 Mojok.co

Kuliah S2 itu cuma lanjutan, kualitas asli seseorang justru terlihat saat kuliah S1

18 Agustus 2026
Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju langsung dicap nakal (Unsplash)

Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju sedikit saja langsung dicap nakal

15 Agustus 2026
Untuk Warga Surabaya, Stop Menormalisasi Bayar Parkir kepada Juru Parkir di Toko Atau Minimarket yang Bertuliskan 'Parkir Gratis'!

Ganti pemimpin Surabaya ternyata nggak makin berbenah: lahan parkir selalu saja jadi masalah pelik meski berkali-kali dikritik

15 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.