Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Andai Pekalongan Punya Banyak Tempat Nongkrong Seperti Jogja

Muhammad Arsyad oleh Muhammad Arsyad
21 November 2019
A A
Andai Pekalongan Punya Banyak Tempat Nongkrong Seperti Jogja tongkrongan

Andai Pekalongan Punya Banyak Tempat Nongkrong Seperti Jogja tongkrongan

Share on FacebookShare on Twitter

Andai saja Pekalongan punya tempat nongkrong sebanyak Jogja.

Setiap kali membuka laman Terminal Mojok, saya selalu di hadapkan dengan tulisan-tulisan yang menawarkan rekomendasi tempat nongkrong di Jogja. Tak hanya tempat nongkrong, rekomendasi makan dan minuman di Jogja juga ditawarin di Terminal Mojok.

Meskipun tidak tiap hari tulisan-tulisan rekomendasi semacam itu hadir, tapi membuat saya berpikir bahwa Terminal Mojok adalah bagian dari staff Dinas Pariwisata Jogja. Lha wong isine Jogja maneh, Jogja maneh je.

Yang membikin saya makin sebel adalah artikel-artikel yang ngebahas tempat nongkrong di Jogja. Dari yang mulai katanya ngetren lah, ngetren pada zamannya lah, dan sebagainya. Pliisss! Kota yang ada tempat nongkrongnya nggak hanya di Jogja kali. Tempat domisili saya (Pekalongan) juga ada kok.

Tapi perlu diakui, kalau tempat nongkrong di Pekalongan nggak sebanyak Jogja. Jangankan Jogja, jika dibandingkan dengan Semarang, atau Jepara pun, tempat nongkrong di Pekalongan jauh lebih sedikit.

Makanya, saya agak iri sama Jogja yang punya banyak tempat nongkrong. Kecemburuan saya pada Jogja semakin membuncah ketika lagi-lagi Terminal Mojok menerbitkan artikel yang menunjukkan kalau Jogja tempatnya mahasiswa nongkrong.

Pekalongan bukannya tak punya mahasiswa, tapi kampusnya saja cuman ada empat. IAIN Pekalongan, Universitas Pekalongan, STMIK Widya Pratama Pekalongan, Akademi Analis Kesehatan Pekalongan. Ada sih satu lagi, Politeknik, tapi itu pun menginduk ke Semarang. Jadi, kampus yang jelas-jelas ada di Pekalongan secara struktural dan teritorial hanya empat tadi.

Dari keempat kampus tadi, IAIN Pekalongan memiliki mahasiswa terbanyak, ya sekitar 9 ribuan mahasiswa. Disusul Universitas Pekalongan dan STMIK Widya Pratama yang masing-masing hanya sekitar 5 ribuan mahasiswa. Jumlah tersebut jelas sangat jauh jika dibandingkan dengan Jogja atau Semarang yang notabene kota besar.

Baca Juga:

Sebagai Warga Jogja, Saya Punya Empat Permintaan Kecil untuk Pendatang agar Bisa Beradaptasi dengan Baik

Bekas Pasar Burung dan Hal-hal Lain yang Jarang Dibicarakan Soal Pasar Ngasem, Tempat Sarapan Paling Kalcer di Jogja

Karena jumlah kampus dan mahasiswa yang tak begitu banyak itu pula berpengaruh pada minimnya tempat nongkrong di Pekalongan, apalagi yang harganya terjangkau dan wajar di kantong mahasiswa. Mahasiswa Pekalongan biasanya mengandalkan angkringan pinggir jalan sebagai tempat nongkrong, walaupun jumlahnya sedikit dan areanya terbatas.

Angkringan-angkringan tadi juga nggak seperti di Jogja yang buka hingga lewat tengah malam. Saya pernah menjumpai angkringan di Jogja dan Solo yang buka pukul 03.00 pagi padahal bukan bulan puasa.

Rata-rata angkringan di Pekalongan sudah mulai tutup sekitar pukul 12 malam. Paling mentok jam 01.00 pagi, padahal kami mahasiswa Pekalongan, terutama anak kos bisa saja lapar di jam-jam lebih dari itu. Kalau sudah begitu, mahasiswa yang kebetulan ngekos dan pingin makan lewat jam 12 malam harus mencari warung nasi goreng yang harganya bisa tiga kali lipat dari nasi di warung angkringan.

Saya punya cerita menarik soal mencari makan di dini hari. Waktu itu sehabis menghadiri sarasehan bareng Sujiwo Tejo sekitar pukul 12 malam, saya dan teman-teman berniat mencari makan. Ketika itu kebetulan belum makan malam, cacing di perut sudah memberontak. Lantas kami pun memutuskan untuk pergi mencari angkringan dengan harapan masih ada yang buka.

Eh, apes, jangankan angkringan, warung nasi goreng sekitar kampus saja sudah habis jam segitu. Alhasil kami pun harus mencari ke tempat yang lebih jauh lagi dari kampus. Woila! Bak hujan di siang bolong, kami akhirnya menemukan satu angkringan yang masih buka sekitar pukul 01.00 pagi. Alhamdulillah.. kami nggak jadi kelaparan sampe matahari terbit.

Ada sih tempat nongkrong selain angkringan, seperti kafe gitu. Tapi jangan bayangkan kafe-kafe di Pekalongan sama seperti Kafe Basa Basi, Lembayung Kopi, atau kafe-kafe lain di daerah Jogja, seperti di Nologaten, Glagahsari, dan Condong Catur. Jelas kafe-kafe di Pekalongan tampilannya lebih modern, lebih hedon, lebih vintage, dan lebih Instagram-able.

Jangan harap menemukan kafe dengan rak buku tertata di Pekalongan. Kalaupun ada, buku-buku yang tertata di kafe di Pekalongan dapat dipastikan hanya fiktif, bukan buku beneran. Kamu harus bawa buku sendiri dari rumah, itu pun kalau mampu bayar minuman sama makanannya.

Mahasiswa Pekalongan kudu merogoh kocek sedalam-dalamnya ketika memilih nongkrong di kafe. Mereka yang memilih nongkrong di kafe daripada angkringan ini biasanya mahasiswa yang punya duit dan membutuhkan stok Instastory. Bagi mahasiswa Pekalongan dengan pengiritan ekonomi tingkat dewa pasti lebih memilih nongkrong di angkringan atau kampus, paling mentok ya di rumah temen.

Mahasiswa Pekalongan yang budgetnya minim, tapi tak enak hati diajak ke kafe, harus mengeluarkan uang sedikitnya lima ribu, itu pun hanya dapat segelas es teh. Atau kalau ndilalah mung punya uang seribu, ya cuman air putih yang didapat. Malu pasti sama temen-temen yang mana kalau pesen di kafe minimal Capuccino seharga lima belas ribu. Mahal tho? Bisa buat makan dua hari tuh.

Kebetulan saya ikut organisasi dan selayaknya mahasiswa organisatoris di Jogja, pasti kalau kumpul sampe malam. Nah di situlah perbedaan Pekalongan dan Jogja sangat kentara. Di Jogja, geser 100 meter saja sudah ada angkringan, sementara di Pekalongan, satu kilometer baru nemu angkringan. Itu kalau belum tutup.

Kami pun harus nomaden tempat nongkrong. Diusir karena warungnya mau tutup sudah sering kami alami. Lagi enak-enak ngobrol, tiba-tiba pemilik angkringan sudah mengibas-ngibaskan alas duduk, dan mulai mengambil tempat makanan dan minuman kami. Seolah pemilik warung hendak berkata, “Maaf, Mas, kami mau tutup,” sayangnya kalimat itu belum pernah saya dengar, mungkin karena si pemilik angkringan sungkan.

Tapi kami lebih sering sadar diri untuk lekas mencari tempat nongkrong lain. Kadang kami memilih cari tempat selain angkringan, karena duit sudah ludes. Atau kami kembali ke kantor Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus yang lebih aman, terutama menghindari Satpol PP.

Saya berharap semoga sih, Pekalongan bisa seperti Jogja, tidak susah lagi mencari tempat nongkrong. Mudah, murah, dan nyaman tempatnya. Terserah mau ada buku atau nggak, terpenting bisa buat nongkrong sembari ngemil.

Dan satu lagi, semoga tulisan saya ini bisa jadi pionir bagi penulis lain untuk mengenalkan daerahnya. Entah itu mau kehidupan susahnya, atau senangnya. Jadi nggak Jogja melulu.

BACA JUGA Betapa Nggak Enaknya Ikut dalam Sirkel Nongkrong Orang Lain atau tulisan Muhammad Arsyad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Oktober 2021 oleh

Tags: Jogjanongkrongpekalongan
Muhammad Arsyad

Muhammad Arsyad

Warga pesisir Kota Pekalongan, penggemar Manchester United meski jarang menonton pertandingan. Gemar membaca buku, dan bisa disapa di Instagram @moeharsyadd.

ArtikelTerkait

Betapa Sulitnya Meromantisasi Kota Pekalongan Terminal Mojok

Kota Kreatif, Pembangunan Terbaik, dan Kebohongan Lain tentang Kota Pekalongan yang Harus Diluruskan

31 Agustus 2022
Jogja Kini Sudah Menjadi Kota Pendidikan Premium (Unsplash)

Jogja Kini Sudah Menjadi Kota Pendidikan Premium: Manis di Depan, Pahit di Tagihan

16 Desember 2024
Mengukur Panjang dan Tebal Ayam Olive Fried Chicken dan Rocket Chicken: Mana sih yang Lebih Memuaskan?

Mengukur Panjang dan Tebal Ayam Olive Fried Chicken dan Rocket Chicken: Mana sih yang Lebih Memuaskan?

15 Oktober 2023
Nasib Bandung dan Jogja, Kota Salah Urus yang Bersembunyi di Balik Romantisasi Mojok.co

Nasib Bandung dan Jogja, Kota Salah Urus yang Bersembunyi di Balik Romantisasi

25 November 2023
Wasapadi klitih Jogja di musim liburan sekolah. (Unsplash.com)

Klitih Jogja Tak Bakal Padam: Waspadai Masa Libur Sekolah!

8 Juli 2022
Ringroad Jogja, Jalan yang Amat Tidak Ramah untuk Pengendara Sepeda Motor

Ringroad Jogja, Jalan yang Amat Tidak Ramah untuk Pengendara Sepeda Motor

10 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Desa Telagamurni Bekasi Punya Semua Hal yang Dibutuhkan Warga kecuali yang Paling Penting, Kenyamanan Mojok.co

Desa Telagamurni Bekasi Punya Semua Hal yang Dibutuhkan Warga kecuali yang Paling Penting, Kenyamanan

5 Juni 2026
6 Alasan Kebumen Lebih Menarik daripada yang Terlihat di Brosur dan Dibayangkan Banyak Orang Mojok.co

6 Alasan Kebumen Lebih Menarik daripada yang Terlihat di Brosur dan Dibayangkan Banyak Orang

7 Juni 2026
5 Kuliner Semarang yang Namanya Nyeleneh dan Kerap Mengecoh Wisatawan Mojok.co

5 Kuliner Semarang yang Namanya Nyeleneh dan Kerap Mengecoh Wisatawan 

4 Juni 2026
Di Balik Sekolah Elit yang Eksploitatif dan Manipulatif Ada Guru yang Menderita karena (Terpaksa) Jadi Ojek dan ART untuk Yayasan  Terminal

Di Balik Sekolah Elit yang Eksploitatif dan Manipulatif Ada Guru yang Menderita karena (Terpaksa) Jadi Ojek dan ART untuk Yayasan 

8 Juni 2026
4 Saran dari Warlok Jogja untuk Para Pendatang Biar Cepet Betah (Unsplash)

Sebagai Warga Jogja, Saya Punya Empat Permintaan Kecil untuk Pendatang agar Bisa Beradaptasi dengan Baik

8 Juni 2026
Derita Di Balik Keindahan Brown Canyon Semarang: Kisah Warga yang Harus Berdamai dengan Truk Tronton dan Debu Tambang Mojok.co

Penderitaan Tinggal Dekat Tempat Wisata Brown Canyon Semarang, Warga (Terpaksa) Berdamai dengan Truk Tronton dan Debu Tambang

4 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.