Alasan Kelompok Abangan Nggak Salat Lima Waktu tapi Nggak Pernah Absen Jumatan – Terminal Mojok

Alasan Kelompok Abangan Nggak Salat Lima Waktu tapi Nggak Pernah Absen Jumatan

Featured

Ada ungkapan menarik dari Taufik Abdullah (sejarawan Indonesia), “Tidak mungkin bicara soal Jawa kalau tidak membaca karya-karya Clifford Geertz,” seperti dilansir dari Tirto. Temuan Geerzt yang paling monumental pasti udah pada tahu, dong? Yap, The Religion of Java, sebuah karya masterpiece yang mengulik fenomena keagamaan masyarakat Jawa tempo dulu.

Secara garis besar, Antropolog kelahiran San Fransisco, 23 Agustus 1926 tersebut membagi kelompok keagamaan masyarakat Jawa ke dalam empat kategori; abangan, santri, dan priyayi. Saya coba jelasin dua saja ya, antara santri dan abangan.

Santri diidentikkan dengan kelompok masyarakat yang memperhatikan betul hal-hal doktrinal seputar agama (Islam). Mereka adalah kelompok yang bisa dibilang total dalam mengerjakaan ritual-ritual ibadah. Sementara anti tesisnya adalah abangan, yang cenderung longgar atau tebang pilih soal ibadah yang ingin dilakukan dengan alasan tertentu. Gampangnya gini, kalau golongan santri salat bisa full lima kali sehari, golongan abangan bisa saja cuma ngambil Subuh.

Meski persebaran Islam makin ke sini makin masif, namun di beberapa daerah di Jawa—khususnya di desa-desa—ada kok beberapa kelompok masyarakat yang masih eksis dengan pemahaman abangan mereka. Meski jumlahnya nggak terlalu banyak. Contoh yang saya ambil; dua desa di kabupaten saya (Rembang, Jawa Tengah). Namanya desa Labuhan dan Pandangan.

Pas libur semester lalu, saya sempet mampir ke beberapa orang yang menurut informasi masih berpaham abangan. Singkat cerita, dari hasil ngobrol dengan beberapa orang yang saya temui, saya menemukan tiga pandangan unik mereka soal ritual agama. Ada orang yang nggak mengerjakan salat lima waktu, tapi kalau salat jumat nggak pernah absen. Ada yang babar blas nggak salat lima waktu dan jumat, tapi punya amalan yaitu; sedekah sepanjang hayat. Ada lagi yang nggak salat lima waktu dan jumat, tapi selalu rutin ikut puasa tiap tahunnya.

Baca Juga:  Logika New Normal Jelas Nggak Cocok sama Kehidupan Pesantren, Titik!

Ternyata mereka punya argumen menarik untuk ngejelasin model ibadah mereka yang mungkin terdengar agak nyeleneh. Khususnya bagi umat Islam. Keterangan mereka saya himpun sebagai berikut, nih, mylov.

Alasan nggak salat lima waktu tapi nggak pernah absen dari salat jumat

Saya jadi inget dengan quote asik dari Pidi Baiq. “Hidupku cuma buat Jumatan. Senin-Kamis persiapan, sabtu-minggu buat evaluasi biar jumatan ke depan bisa lebih baik lagi,” katanya.

Nggak jauh berbeda dengan quote tersebut, kelompok ini berpaham bahwa yang wajib dikerjain hanyalah salat jumat. Alasannya, ini didasarkan pada nilai sakralitas dari hari Jumat itu sendiri. “Gini, Mas, Gusti Pengeran itu kan menciptakan alam semesta ini konon pas hari Jumat. Bapa Adam diciptakan, dimasukkan ke surga, diturunkan ke bumi, dan diterima taubatnya juga pas hari Jumat. Terus nanti kiamat juga konon bakal jatuh di hari Jumat. Jadi ya sudah, kami ngibadah sekalian pas di hari yang diistimewakan saja lah sudah cukup,” terang informan saya.

Secara ringkas bisa dikatakan, bahwa ibadah yang sebenar-benarnya wajib hanyalah hari Jumat. Menimbang aspek sakralitas hari Jumat yang dalam ajaran Islam sendiri juga disebut sebagai hari yang suci, hari yang dikhususkan Tuhan buat ibadah. Sedangkan salat lima waktu secara nggak langsung bagi mereka difungsikan sebagai salat sunnah saja (hanya pelengkap). Mau dikerjakan ya silakan, nggak juga nggak masalah.

“Lagian yo, Mas, hari Jumat itu terkenal sebagai hari mustajab. Hari di mana doa-doa bisa dikabulkan. Jadi cukuplah kami ini bekerja di hari-hari lain. Khusus hari Jumat kami libur buat ngibadah dan doa sama Pengeran,” imbuhnya menyudahi obrolan kami.

Baca Juga:  UIN Malang, Kampus Buat Santri dan yang Pengin Jadi Santri

Alasan nggak salat sama sekali tapi hobi sedekah

Informan lain yang mewakili kelompok ini menuturkan, ibadah vertikal (kepada Tuhan) itu cuma sebatas formalitas. Sementara yang wajib dilakukan adalah ibadah horizontal (ibadah sosial).

Dasarnya, mereka memegang teguh keyakinan; jika seandainya kita bikin salah sama Tuhan dan segera mohon ampun kepada-Nya, Tuhan pasti dengan ‘besar hati’ bakal mengampuni, tanpa syarat apa pun. Karena sejatinya Tuhan adalah Maha Pengampun. Jadi, urusan manusia dengan Tuhan di sini dianggap sudah beres.

Sementara seandainya kita bikin salah sama sesama, urusannya bisa panjang. Sebab konon, Tuhan nggak bakal mengampuni seseorang sebelum dia dimaafkan oleh orang yang pernah disakiti. “Nggak salat nggak masalah sebab Tuhan pasti maklum. Yang nggak maklum itu kalau kita nggak rukun sama sesama. Pokoknya harus guyub rukun, Mas. Itu kunci biar dapat pengampunan dan masuk surga,” terang informan saya.

Jadi itulah alasan kenapa kelompok ini terkenal nyah-nyoh sama siapa pun. Ada yang ngutang ya diutangi dengan senang hati. Ada yang minta bantuan ya bergegas buat nyumbang tenaga, pikiran, dan kekayaan yang dimiliki. Nggak jarang pula mereka ini bagi-bagi makanan buat tetangga sekitar, mau ada hajatan di rumahnya atau nggak.

Alasan nggak salat sama sekali tapi rajin puasa

Untuk yang satu ini kasusnya lebih plural dan sufistik. Kelompok ini beranggapan bahwa satu-satunya ibadah yang bisa mencakup umat banyak hanyalah puasa. Baik dalam Islam, Yahudi, Katholik, Budha, Hindu, bahkan Konghuchu juga mengenal adanya konsep puasa. Sementara untuk ritual seperti salat lima waktu dan salat Jumat, hampir nggak dijumpai model yang seragam antara satu agama dengan agama lain.

Baca Juga:  Vicky Prasetyo adalah Kami Para Lulusan Pesantren yang Pemalu

Artinya, kelompok ini ingin menegaskan bahwa puasa adalah satu-satunya ibadah yang universal, nggak cuma buat umat tertentu. Informan saya juga menjelaskan, lewat kesamaan konsep berpuasa ini bisa dikatakan bahwa semua agama itu benar. Dalam Islam ada Ramadan, Budha ada Uposatha, Katholik ada berpantang dan berpuasa pra Paskah, Hindu ada Upawasa, Yahudi ada Taanit, dan Konghuchu dengan puasa Imleknya.

Secara sufistik dan esensial bisa dikatakan, puasa yang dilakukan oleh masing-masing agama sekalipun dilakukan pada waktu yang berbeda, pada dasarnya memiliki maksud yang sama; menahan diri dari hasrat-hasrat tertentu. Kelompok ini percaya betul bahwa dunia ini cobaan. Untuk masuk surga, manusia harus lulus dari cobaan-cobaan dunia yang berupa macam tersebut. Maka, agar bisa lolos kuncinya cuma satu; puasakan diri dan nafsu.

Berbeda dengan dua kelompok sebelumnya yang kebanyakan berasal dari kelas menengah ke bawah, kelompok ini rata-rata diisi oleh orang-orang berpendidikan. Ya maklum saja, mengingat konsepnya yang membuat kita agar mikir.

Tulisan ini nggak punya otoritas apapun buat membenarkan atau menyalahkan pihak mana pun. Hanya Tuhan yang lebih otoritatif buat itu. Dan tentu, saya kembalikan ke keyakinan Anda masing-masing. So, jangan salahkan saya jika setelah baca ini iman Tuan jadi goyah, heuheuheu.

BACA JUGA Kemiskinan dan Kesusahan itu Cuma Berlangsung 40 Hari Saja, kok dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.