Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Perlu Diketahui kalau S.Ag. Itu Bukan Sarjana Agama tapi Sarjana Abangan

Muhammad Dzal Anshar oleh Muhammad Dzal Anshar
14 April 2020
A A
Perlu Diketahui kalau S.Ag. Itu Bukan Sarjana Agama tapi Sarjana Abangan
Share on FacebookShare on Twitter

Akhir-akhir ini saya melihat ada tren membandingkan penderitaan dan kengenesan para sarjana yang ditulis oleh beberapa pengikut jamaah Mojokiyyah. Mulai dari S.Pd. yang berarti Sarjana Penuh Derita, S.E. Sarjana Edan, dan Sarjana Perbankan Syariah yang tak kalah ngenesnya.

Orang Indonesia memang suka membanding-bandingkan penderitaan mereka. Selain itu, terkesan ada kebanggaan tersendiri jika berhasil membuktikan bahwa merekalah yang paling menderita di antara yang lain. Saya sebagai pembeli gelar Sarjana Agama, tentu tidak mau kalah, dalam arti kalah ngenesnya. Namun, di sini saya tidak sedang membahas tentang nihilnya prospek sarjana agama dalam dunia kerja.

Pada dasarnya, kesulitan mendapat pekerjaan yang linear dengan titel atau sekadar mendapat pekerjaan saja adalah penderitaan standar yang dialami semua sarjana. Bahkan untuk sekadar mendaftar sebagai driver grab atau kasir Indomaret pun, saat ini tidak kalah sulit seperti mengikuti seleksi CPNS. Pasalnya, persaingan yang begitu bebas dan terbuka, sebebas pergaulan remaja laki-laki dan “se-terbuka” pergaulan remaja perempuan.

Para peraih titel S.Ag. adalah mereka yang menempuh studinya di Jurusan Aqidah Filsafat, Ilmu Al Quran dan Tafsir, Ilmu Hadis dan Studi Agama-agama. Setidaknya ini yang berlaku di kampus saya UIN Alauddin Makassar dan di UIN SUSKA Riau. Entah bagaimana dengan kampus yang lain.

Dilihat dari jurusan yang ditawarkan, sudah cukup menggambarkan bahwa mata kuliah dan materi yang didapat oleh mahasiswa di jurusan ini, lebih terpaku pada kajian kepustakaan, baik berupa teori, sejarah, bahasa, dan sastra. Pada dasarnya, semua kajian ini hanya sekadar teori dan bersifat normatif. Hal ini menggambarkan bahwa para S.Ag. sebenarnya adalah mereka yang terlalu banyak dibekali kemampuan softskill dan sedikit sekali atau bahkan tidak sama sekali dibekali dengan kemampuan hardskill.

Di semester awal, mahasiswa yang masih polos dan bisa jadi salah jurusan ini, tak jarang akan dicekoki dengan pemikiran-pemikiran kontemporer yang ditawarkan oleh dosen (tentu saja tidak semuanya) dalam perkuliahan. Untuk menarik perhatian mahasiswa yang sedang mengantuk, biasanya dosen akan memulai dengan pertanyaan filosofis semisal: Apakah Tuhan ada? Jika Tuhan ada, lalu di mana Tuhan? Atau pertanyaan serupa yang efektif memancing diskusi hingga perdebatan dalam kelas dan pada akhirnya membawa perkuliahan pada kesimpulan sepakat untuk tidak sepakat.

Bagi mereka yang mengkaji tentang agama dan dasar agama berupa Alquran dan Hadis, biasanya akan mengkaji dari berbagai pendekatan dan metode mulai dari aspek ontologi, epistemologi, aksiologi, sampai cocoklogi.

Para S.Ag. terlalu dalam tenggelam di laut perdebatan teoritis. Setelah kenyang dengan materi tentang kebenaran dan pengamalan agama (dari aspek fiqih, aqidah, dan sejarah yang sebenarnya telah mereka dapat sebelum tidur di bangku kuliah) dan sebagai konsekuensi dari jurusan yang mereka pilih atau pilihkan. Lalu mereka akan mulai diperkenalkan dengan para orientalis maupun tokoh dengan pemikiran-pemikiran kiri dan kontroversial sejalan dengan jiwa pemberontak anak muda. Sehingga tak jarang mereka akan terbawa, terpengaruh, dan meyakini kebenaran pemikiran itu.

Baca Juga:

Sarjana Agama Jangan Mau Dicap Cuma Bisa Terima Setoran Hafalan, Ini 5 Profesi Alternatif yang Butuh Keahlian Agama Kamu

Ternyata Label Islami Tak Bisa jadi Jaminan: Pengalaman Pahit Jadi Guru Honorer Serasa Jadi Pegawai Serabutan

Selanjutnya mereka mulai ikut-ikutan mempertanyakan dan meragukan kebenaran agama. Hal ini mengarahkan mereka untuk mencari sendiri kebenaran agama dan bersikap skeptis terhadap praktik keber-agama-an yang dijalani orang-orang saat ini.

Bagi yang sudah stadium 4, mereka mulai menciptakan cara beragama sendiri yang sesuai dengan seleranya. Biasanya, yang paling standar dari golongan ini adalah mereka yang mulai meninggalkan salat karena memahami salat adalah tentang mengingat Tuhan. Sehingga jika mereka sanggup dengan khusyuk untuk mengingat Tuhan tanpa salat, maka itu sudah cukup.

Bagi masyarakat awam ini mungkin terdengar sesat dan hanya sekadar omong kosong. Oke, mari kita lihat omong kosong yang lain. Sebagai contoh kasus, disertasi oleh Abdul Azis seorang dosen fakultas Syariah IAIN Surakarta tentang Konsep Milkul Yamin sebagai keabsahan hubungan seks nonmarital atau katanya menghalalkan seks di luar nikah.

Sekali lagi, bagi banyak orang ini terdengar sesat. Namun, jika kita melihat track record Abdul Azis yang merupakan seorang lulusan S-2 IAIN Semarang dan S-1 IAIN Alauddin Makassar, terlebih lagi dia adalah seorang dosen, tentu kita bisa memahami bahwa ia bukanlah orang yang tidak paham agama. Diketahui bahwa konsep itu dikembangkan dari pemikiran Muhammad Syahrur yang memang terkenal sebagai pemikir islam kontemporer dan kontroversial, menggunakan pendekatan hermeneutika. Eh, kok malah kayak ngasih kuliah, ya?

Sejujurnya di lingkungan kami para S.Ag., tak sedikit yang pro dengan konsep si Azis atau Syahrur ini. Tidak sedikit dari kami yang menganggap hal ini sah-sah saja sebagai bagian dari ilmu pengetahuan.

Kalian tentu boleh tidak setuju dengan yang saya ungkap ini atau menganggap saya hanyalah tusuk pentolan penganut teori konspirasi yang penuh dengan omong kosong. Namun, saya sebagai Sarjana Agama sekaligus calon Magister Agama (InsyaAllah hehehe), begitu dekat dengan realitas dan perdebatan seperti ini dan terbiasa bahkan menganggapnya hal biasa.

Sehingga tak jarang dalam pergaulan akademik, di belakang titel S.Ag. kami, biasanya akan diikuti titel lain seperti Liberalis, Pluralis, Sekuleris, bahkan Ateis. Hal ini pada poinnya membuat titel S.Ag, kami lebih cocok sebagai akronim dari “Sarjana Abangan”.

Jadi, jangan sampai kalian terlalu melambungkan ekspektasi mendapatkan calon pasangan idaman yang hafal Alquran dan rajin salat dari kami para S.Ag.. Pasalnya, kami adalah “Sarjana Abangan”. Meskipun tidak semuanya juga, ya.

BACA JUGA Bukti kalau Kepanjangan S.Pd. itu Bukan Sarjana Pendidikan, tapi Sarjana Penuh Derita atau tulisan Muhammad Dzal Anshar lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pengin gabung grup WhatsApp Terminal Mojok? Kamu bisa klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 16 November 2021 oleh

Tags: abanganS.AgSarjana agama
Muhammad Dzal Anshar

Muhammad Dzal Anshar

Orang lapar, disayang Tuhan.

ArtikelTerkait

Sarjana Agama Jangan Mau Dicap Cuma Bisa Terima Setoran Hafalan, Ini 5 Profesi Alternatif yang Butuh Keahlian Agama Kamu

Sarjana Agama Jangan Mau Dicap Cuma Bisa Terima Setoran Hafalan, Ini 5 Profesi Alternatif yang Butuh Keahlian Agama Kamu

6 November 2025
Guru Honorer Minggat, Digusur Negara dan Guru P3K (Unsplash) dapodik

Ternyata Label Islami Tak Bisa jadi Jaminan: Pengalaman Pahit Jadi Guru Honorer Serasa Jadi Pegawai Serabutan

21 September 2025
kejawen islam sufistik sufisme abangan kiai MOJOK.CO

Perkara yang Membuat Sebagian Orang Abangan Nggak Respek Sama Kiai (2)

11 Juli 2020
menghitung rakaat salat tarawih aktivis organisasi, kelompok abangan

Alasan Kelompok Abangan Nggak Salat Lima Waktu tapi Nggak Pernah Absen Jumatan

11 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah Mojok.co

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah

28 April 2026
3 Hal Sederhana yang Membuat Kami Cleaning Service Bahagia (Unsplash)

3 Hal Sederhana yang Membuat Kami Cleaning Service Bahagia

25 April 2026
Vario 125, Motor Honda yang Bikin Sesal, tapi Nggak Tergantikan (Wikimedia Commons)

Saya Menyesal Nggak Pakai Vario 125 dari Dulu karena Motor Honda Ini Nggak Bikin Bangga tapi Nyatanya Nggak tergantikan

1 Mei 2026
LCGC Bukan Lagi Mobil Murah, Mending Beli Motor Baru (Unsplash)

Tidak Bisa Lagi Disebut Mobil Murah, Nggak Heran Jika Pasar LCGC Semakin Kecil dan Calon Pembeli Jadi Takut untuk Membeli

25 April 2026
Normalisasi Tanya Kebutuhan Pengantin sebelum Memberi Kado Pernikahan daripada Mubazir Mojok.co

Normalisasi Tanya Kebutuhan Pengantin sebelum Memberi Kado Pernikahan daripada Mubazir

25 April 2026
Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja Mojok.co

Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja

26 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Pelatihan SKill Digital IndonesiaNEXT Ubah Mahasiswa Insecure Jadi Skillfull, Bisnis Digital pun Tak Kalah Saing
  • Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 
  • Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik
  • Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi
  • Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya
  • Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.