Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Ada Apa dengan Anak SD Zaman Sekarang?

Devi Mutia Alissa oleh Devi Mutia Alissa
17 Desember 2019
A A
Ada Apa dengan Anak SD Zaman Sekarang?
Share on FacebookShare on Twitter

Akhir-akhir ini, marak beredar foto dan video anak SD yang melakukan hal-hal tidak senonoh di media sosial, seperti berciuman di kelas atau berpelukan di depan teman-temannya. Anehnya, banyak dari mereka yang melakukannya sambil tertawa-tawa, seolah-olah hal itu sudah lumrah. Dari yang awalnya saya syok sendiri melihatnya, sekarang ketika video-video itu sudah semakin banyak, rasa syok itu hilang dan berganti dengan miris.

Ada apa dengan moral anak SD zaman sekarang?

Dulu, ketika saya SD, jika ada laki-laki dan perempuan yang mengobrol berduaan saja sudah di ‘cie-cie’ in sama teman-teman mereka. Kemudian teman-teman mereka itu langsung mengambil asumsi bahwa mereka saling suka. Alhasil, mereka berdua diledekin sampai teman-temannya bosan sendiri. Tapi, sekarang tampaknya melakukan skinship ala-ala pacaran orang dewasa saja sudah merupakan hal yang biasa untuk ditiru anak SD.

Apakah ini karena efek tayangan sinetron-sinetron menye di Indonesia dengan ratusan episode yang terlalu banyak bumbu cintanya dengan scene romantis yang kurang mendidik untuk anak-anak? Apakah karena mereka mendapat paparan gadget dan internet sejak kecil sehingga bebas untuk menonton tayangan apa saja tanpa filter? Apakah memang standar pergaulan anak SD zaman sekarang yang sudah berbeda dengan zaman dulu? Atau karena alasan-alasan tersebut saling terintegrasi satu sama lain dan mengubah moral anak bangsa hingga seperti ini?

Tentunya, tidak semua anak SD seperti itu. Masih sangat banyak anak SD yang memiliki moral dan terhindar dari perilaku melenceng. Namun, bagaimana dengan anak-anak yang melakukan perilaku menyimpang tersebut, sedangkan Sekolah Dasar merupakan lembaga formal paling dasar yang berfungsi membentuk kepribadian dan kualitas generasi penerus bangsa?

Kita tidak bisa hanya menyalahkan globalisasi dan teknologi yang membuat anak dapat mengakses apa saja. Memang sulit untuk menghindari anak dari gadget, tapi bagaimana jika orang tua mengatasinya dengan memilih dan merekomendasikan beberapa tayangan kepada si anak sembari menontonnya bersama dan mengedukasinya. Apabila tidak sempat menonton bersama karena banyak hal yang harus dikerjakan, bagaimana jika kita menyuruh si anak menceritakan atau me-review tayangan yang sudah ia tonton hari ini di gadget atau televisi. Selain memberikan pengawasan, hal itu juga dapat melatih anak dalam skill bercerita.

Lalu, ketika anak sudah mulai dewasa, tidak ada salahnya memberikan sex education sebelum anak mendapatkan pelajaran mengenai hubungan reproduksi di sekolah. Orang tua dapat memberikan pengertian kepada anak mengenai kapan hal itu dapat dilakukan dan larangan apa mengenai hal tersebut yang diatur oleh agama dan norma di masyarakat. Itu dapat membuat anak jadi tidak penasaran dan mencari tahu sendiri mengenai hal tersebut.

Dari sisi sekolah juga perlu untuk andil berperan. Penting bagi sekolah menciptakan environment yang dapat mengedukasi murid. Guru bukan hanya mendidik di bidang pelajaran, tapi juga kepribadian. Anak sebaiknya dibuat seproduktif mungkin dengan kegiatan yang mengasyikkan dan mengedukasi di kelas, sehingga pikiran untuk berbuat perilaku menyimpang tidak terlintas di benak mereka. Saya pikir, sangat penting membuat anak merasa nyaman dengan guru, sehingga apabila anak sedang tidak bisa bercerita kepada orang tuanya, maka si anak dapat menceritakannya pada guru. Jadi, anak tidak merasa sendirian dan terhindar dari pikiran untuk punya pacar sebagai pelampiasan yang takutnya menjerumuskan anak ke koridor yang salah.

Baca Juga:

Anak SD Zaman Sekarang Sudah Punya Skincare Routine Lengkap dan Tampilan Layak Selebgram: Padahal Saya Pas Bocah Bangga Punya Kaos Sablon dari Pasar Malam

Stop Romantisasi Pengiriman Anak ke Barak Militer, Cukup Jabar Aja, Provinsi Lain Nggak Usah, Jogja Nggak Usah Ikut-ikutan Juga!

Saya sendiri cukup miris jika melihat kelakuan beberapa anak SD zaman sekarang lewat media sosial. Mengenang zaman dulu ketika masih SD, rasanya asyik keluyuran di warnet sampai malam tanpa memberi kabar ke orang tua sudah merupakan level kenakalan yang cukup tinggi. Tapi sekarang, level kenakalan yang seperti itu tampaknya sudah bukan apa-apa. Entahlah, saya tidak tahu sejak kapan level kenakalan anak SD bertambah, tapi yang jelas saya cukup miris dengan situasi ini.

Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua untuk berjuang mendidik anaknya di tengah pesatnya teknologi yang membuat anak merasa bebas melakukan apa saja. Oleh karenanya, dalam proses pembentukan moral anak, dibutuhkan kolaborasi yang baik antara orang tua, lingkungan, sekolah, dan tentunya anak itu sendiri sebagai subjek yang paling penting.

BACA JUGA Pas Kecil Lihat Orang Dewasa Pacaran, Pas Dewasa Lihat Anak Kecil Pacaran atau tulisan Devi Mutia Alissa lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Desember 2019 oleh

Tags: anak nakalanak SDmoralOrang Tua
Devi Mutia Alissa

Devi Mutia Alissa

Saya adalah mahasiswa tahun pertama yang mempelajari bidang hukum dan sangat tertarik pada film, musik, dan mental health issues yang terjadi di masyarakat. Saya ingin menjadi content writer yang dapat memberikan influence yang baik kepada pembacanya.

ArtikelTerkait

one piece

Belajar dari One Piece: Tak Semua Orangtua Mengerti Passion Anaknya

15 Agustus 2019
Berfoto dengan Orang Tua Eh Anggur Merah Nggak Bikin Kalian Keren

Berfoto dengan Orang Tua Eh Anggur Merah Nggak Bikin Kalian Keren

5 Desember 2019
Kebebasan Memilih Panggilan Orang Tua Adalah Privilese

Kebebasan Memilih Panggilan Orang Tua Adalah Privilese

8 Juli 2023
warisan balas budi kepada orang tua mojok

Kita Tidak Perlu Sok Dewasa di Depan Orang Tua

24 November 2020
Salah Kaprah Orang Tua dalam Menggunakan Emoticon untuk Berkirim Pesan

Salah Kaprah Orang Tua dalam Menggunakan Emoticon untuk Berkirim Pesan

13 Februari 2020
Menahan Sakit Melahirkan dan Rasa Rindu Setelahnya mojok.co/terminal

Menahan Sakit Melahirkan dan Rasa Rindu Setelahnya

11 Maret 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

8 Alasan Jurusan Psikologi Pantas Disebut sebagai Jurusan Paling Green Flag Mojok.co

8 Alasan Jurusan Psikologi Pantas Disebut Jurusan Paling Green Flag

27 Januari 2026
5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang Mojok.co

5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

31 Januari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Mengapa Nasi Berkat Tahlilan Terasa Nikmat padahal Lauknya Sederhana?

Mengapa Nasi Berkat Tahlilan Terasa Nikmat padahal Lauknya Sederhana?

28 Januari 2026
Jalan Mayjen Jonosewojo Surabaya Kawasan Elite, Kualitas Jalan Sulit: Daerah Mahal kok Aspalnya Rusak!

Jalan Mayjen Jonosewojo Surabaya Kawasan Elite, Kualitas Jalan Sulit: Daerah Mahal kok Aspalnya Rusak!

29 Januari 2026
Kuliah di UT Sudah Paling Benar, Belajarnya Nggak Instan tapi Terstruktur dan Nggak Bikin Manja

Kuliah di UT Sudah Paling Benar, Belajarnya Nggak Instan tapi Terstruktur dan Nggak Bikin Manja

29 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis
  • DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF
  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.