Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Bagi Saya, Lamongan Adalah Bali Versi Lite

M. Afiqul Adib oleh M. Afiqul Adib
1 Januari 2021
A A
Bagi Saya, Lamongan Adalah Bali Versi Lite terminal mojok.co

Bagi Saya, Lamongan Adalah Bali Versi Lite terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa hari lalu saya bersama keluarga berkesempatan mengunjungi Bali. Ini menjadi kesan tersendiri karena merupakan pengalaman pertama saya. Saya sudah membayangkan betapa ciamik pulau ini. Mulai dari pantai, budaya, turis asing, sampai keramahan warga sekitar. Namun, alih-alih terkesima, saya justru merasa seperti pulang kampung hingga saya bis menyimpulkan bahwa Lamongan adalah Bali versi lite.

Iya, bagi saya, Bali lebih terasa seperti Lamongan, meski tentu saja tidak persis, namun sangat mirip. Mulai dari kondisi jalan yang sama-sama sempit dan jarang ada penerangan ketika malam, sampai suhu udara yang sama-sama panas. Setidaknya itu kesan pertama yang saya rasakan.

Hal mengejutkan lainnya adalah ketika saya sampai di Pantai Kuta. Bagi anak pesisir seperti saya, pantai adalah hal yang default. Mengunjungi Pantai Kuta malah mengingatkan saya dengan Pantai Kutang yang berada di daerah utara Lamongan. Iya, namanya memang pantai Kutang, saya tidak sedang bercanda. Jika tidak percaya, kunjungi saja pantai tersebut.

Terlepas dari pelaku bom Bali yang merupakan orang Lamongan, memang ada beberapa kesamaan antara Bali dan Lamongan. Oleh karena itu bagi Anda yang ingin berkunjung ke Bali, tapi terkendala beberapa hal, sepertinya Lamongan adalah pilihan yang bagus.

Bagi saya, Lamongan adalah Bali dengan versi lite. Berikut saya paparkan beberapa kemiripan antara Lamongan dan Bali.

#1 Desa pancasila

Saya dikagetkan ketika dibawa ke Puja Mandala di daerah Nusa Dua. Saya memang pengin diantarkan ke tempat ibadah karena hendak salat, namun tidak menyangka bakal dibawa ke tempat yang ada lima tempat ibadah agama berbeda di satu lokasi.

Di sana ada masjid, gereja katolik, vihara, gereja kristen, serta pura, yang dibangun secara berjajar dan memiliki satu tempat parkir bersama. Warbiyasah.

Kekagetan saya sebenarnya bukan karena melihat ada banyak tempat ibadah yang berada di satu lokasi, namun karena bentuk toleransi seperti itu juga ada di Bali.

Baca Juga:

Kereta Api Jayakarta, Kereta yang Wajib Dicoba, Cocok buat Introvert yang Kebelet Traveling

3 Hal yang Perlu Dipahami dari Tips Traveling Low Budget

Di Lamongan sendiri juga ada tempat yang seperti itu, namanya Desa Pancasila. Tepatnya berada di Desa Balun, kecamatan Turi. Di sana juga ada tempat ibadah agama yang berbeda dalam satu lokasi.

Di desa tersebut setidaknya ada 3 tempat ibadah, yaitu masjid, gereja, dan pura. Tidak hanya itu, di sana ketika ada perayaan ogoh-ogoh (perayaan umat Hindu), semua warga yang berbeda agama pun tetap hadir.

Begitu juga ketika umat Islam melaksanakan takbiran, masyarakat di sana mengaku tidak ada yang terganggu. Menurut keterangan warga sekitar, bahkan ada satu keluarga yang tinggal dan hidup di satu rumah dengan tiga agama yang berbeda.

Yah, meskipun jumlah tempat ibadahnya tidak sebanyak di Bali, namun pada dasarnya konsep toleransi yang diterjemahkan menjadi bangunan tempat ibadah beda agama juga ada di Lamongan.

Artinya dalam hal kerukunan umat beragama, di Lamongan juga tidak mau kalah dengan Bali. Keduanya bisa disepakati sama-sama menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan agama.

#2 Pantai Kutang

Memang ada banyak pantai di Bali, namun yang paling fenomenal adalah Pantai Kuta. Pantai tersebut merupakan pantai yang sering sekali dikunjungi wisatawan.

Jika boleh berkomentar, bagi sayaPantai Kuta tanpa turis asing hanyalah pantai yang biasa saja. Pasirnya tidak terlalu putih, pantainya juga tidak terlalu bersih. Jika diibaratkan mungkin seperti Jogja tanpa romantisme, bakal biasa saja.

Mari bandingkan dengan Lamongan, di sana juga memiliki banyak pantai, namun yang paling fenomenal tentu saja Pantai Kutang. Sekali lagi, namanya memang Pantai Kutang.

Seperti namanya, konon pantai tersebut dinamai demikian karena dulu di sana banyak ditemui benda yang cukup tabu untuk dibahas secara gamblang, yaitu kutang.

Pantai tersebut tentu saja memiliki pasir yang tidak terlalu putih dan pantai yang tidak terlalu bersih. Iya, sama saja dengan Pantai Kuta. 

Yang membedakan hanyalah standar moral di daerah tersebut. Jika di Pantai Kuta Anda bebas berjemur dengan memakai kain tipis yang hemat bahan, di Pantai Kutang tidak demikian. Ada standar moral yang menolak pakaian seperti itu, meski tetap ada toleransi yang tidak berkerudung. Yah, sepantasnya saja lah.

Selebihnya sama saja. Anda sama-sama bebas untuk berjemur, salto, koprol, atau sekedar mencari kebutuhan konten saja.

Mungkin kebebasan tersebut adalah salah satu alasan Pantai Kuta banyak kedatangan wisatawan asing dan banyaknya wisatawan asing adalah alasan wisatawan lokal untuk berkunjung ke sana. 

Namun, di masa pandemi seperti sekarang, Pantai Kuta benar-benar menampakkan wajah berbeda. di sana hampir tidak ditemui turis asing yang berjemur dan bermesraan dengan panas matahari. Oleh karena itu jika Anda ingin mengunjungi pantai Kuta saat ini dengan alasan tersebut, maka bersiaplah untuk kecewa.

#3 Ketaatan beragama

Ketika berjalan-jalan di Bali, kita akan dibuat kagum dengan bangunan yang khas, yaitu banyaknya pura di sepanjang perjalanan. Sebab hampir tiap rumah pasti ada tempat ibadahnya maka saya pun bertanya pada masyarakat sekitar.

Menurut mereka, alasan kenapa banyak sekali pura di Bali adalah karena ada kewajiban orang Hindu untuk membuat tempat ibadah yang khusus untuk keluarga masing-masing dan karena orang Bali merupakan orang yang taat beragama maka tidak heran kalau banyak kita temui pura di sepanjang jalan.

Hal ini agak mirip dengan Lamongan. Saya katakan “hampir” karena di Lamongan adalah mayoritas Islam yang taat, jadi bangunannya adalah masjid atau musala, bukan pura.

Jika Anda berkesempatan ke Lamongan, tentu saja Anda tidak akan terlalu kerepotan mencari tempat ibadah umat Islam karena hampir tiap tempat ada masjid atau musala. Bahkan tiap rumah juga menyediakan satu ruang khusus yang difungsikan sebagai tempat ibadah.

Tidak hanya itu, di Lamongan juga sangat mudah kita temui pondok pesantren dengan berbagai jenis aliran. Setidaknya saya menghitung ada lebih dari 20 pondok di Kecamatan Paciran saja.

Terlepas dari kualitas religiusitasnya, paling tidak kuantitas tempat ibadah bisa merepresentasikan ketaatan agama yang ada di Bali maupun Lamongan.

Oleh sebab itu, sekali lagi saya tegaskan bahwa Lamongan adalah Bali dengan versi Lite. Oleh karena itu Anda memang tidak perlu repot-repot pergi ke Bali, mending Anda ke Lamongan saja, biar saya yang ke Bali. Whehehe.

BACA JUGA Mengenal Kata Umpatan Jogja yang Nggak Ada Serem-Seremnya dan tulisan M. Afiqul Adib lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 30 Desember 2020 oleh

Tags: pantai balitraveling
M. Afiqul Adib

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

ArtikelTerkait

Tempe Kemul, Bukan Mendoan dan Tempe Tepung. Ini Tempe Aliran 'Keras' terminal mojok.co

7 Makanan Khas Wonosobo Selain Mi Ongklok yang Nggak Kalah ‘Nylekamin’

5 Oktober 2020
Enak Saja, Wisata Bandungan Itu Bukan Melulu soal Prostitusi ya! terminal mojok.co

Enak Saja, Wisata Bandungan Itu Bukan Melulu soal Prostitusi ya!

10 Maret 2021
Cara Membedakan Hotel Esek-esek dan Hotel Beneran biar Nggak Salah Masuk mojok.co/terminal

Cara Membedakan Hotel Esek-esek dan Hotel Beneran biar Nggak Salah Masuk

8 Maret 2021
Jawaban untuk Semua Orang yang Tidak Tahu tentang Kabupaten Lumajang terminal mojok.co

Jawaban untuk Semua Orang yang Tidak Tahu tentang Kabupaten Lumajang

6 Januari 2021
3 Hal yang Perlu Dipahami dari Tips Traveling Low Budget

3 Hal yang Perlu Dipahami dari Tips Traveling Low Budget

25 Februari 2023
warna pasir pantai

Ini Loh, 8 Warna Pasir Pantai Serta Asal Muasalnya

29 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sebaiknya Warga Malang Tidak Terlalu Marah kalau Matos Disebut sebagai Mall Terkecil, Masih Banyak Urusan Lain yang Lebih Penting

Sebaiknya Warga Malang Tidak Terlalu Marah kalau Matos Disebut sebagai Mall Terkecil, Masih Banyak Urusan Lain yang Lebih Penting

7 Maret 2026
Yamaha Vega Force: Takhta Tertinggi Motor Entry Level yang Tak Boleh Dilewatkan

Yamaha Vega Force: Takhta Tertinggi Motor Entry Level yang Tak Boleh Dilewatkan

9 Maret 2026
7 Rekomendasi Drama China yang Bisa Ditonton Tanpa Perlu Mikir (Pexels) tiktok

5 Alur Cerita Drama China Pendek di TikTok yang Monoton, tapi Sering Bikin Jam Tidur Saya Berantakan

12 Maret 2026
Cat Rambut di Desa Bukan Hal Sepele, Perubahan Kecil Itu Bisa Jadi Gosip Sekampung

Cat Rambut di Desa Bukan Hal Sepele, Perubahan Kecil Itu Bisa Jadi Gosip Sekampung

11 Maret 2026
Nasi Megono Wonosobo, Olahan Nasi Terbaik yang Pernah Saya Cicipi dan Tidak Pernah Mengecewakan Mojok.co

Nasi Megono Wonosobo, Olahan Nasi Terbaik yang Pernah Saya Cicipi dan Layak Dikenal Lebih Banyak Orang

11 Maret 2026
5 Fakta Menarik tentang Kebumen yang Tidak Diketahui (Unsplash)

Liburan di Kebumen Itu Aneh, tapi Justru Bisa Jadi Pilihan yang Tepat buat Kita yang Muak dengan Kota Besar

10 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit
  • Makanan Khas Jawa Timur yang Paling Tidak Bisa Dihindari, Jadi Pelepas Rindu ketika Mudik Setelah “Disiksa” Makanan Jogja
  • Blok M dan Jakarta Selatan Aslinya Banyak Jamet tapi Dianggap Keren, Kalau Orang Kabupaten dan Jawa Eh Dihina-hina
  • Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”
  • Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto
  • Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.